FAZER LOGIN"Senyum," desak Rain setengah berbisik saat langkah kaki mereka mulai memasuki area ruang tengah rumah orang tuanya yang megah bak istana.
Liora mendengus tipis, melirik suaminya dari sudut mata. "Kenapa? Kamu takut aktingku akan membongkar kenyataan bahwa pernikahan kita..." Rain enggan meladeni rentetan kalimat kemarahan istrinya. Sebagai jawaban, jemari kokohnya justru bergerak kilat, menyergap pinggang ramping Liora lalu menyentaknya kuat hingga tubuh wanita itu merapat tanpa jarak ke dadanya. Langkah kaki Liora yang limbung akibat hentakan mendadak itu terpaksa membuatnya melemparkan kedua lengan untuk merangkul pundak tegap sang suami. Di jarak sekat ini, sepasang mata mereka saling mengunci pergerakan masing-masing. Deru napas yang saling beradu, debar jantung yang mendadak bertalu kencang seperti ketukan gendang, serta kepungan aroma maskulin parfum dari balik dekapan otot dada yang kekar seketika menguapkan setengah kewarasan Liora. "Kemarahan juga merupakan bumbu dalam sebuah pernikahan, bukan?" bisik Rain bersemat nada rendah yang dalam, seolah tahu betul tubuh Liora perlahan mulai melunak dan menyerah di bawah dominasinya. Sebuah senyum kemenangan terukir tipis di wajah tampan Rain. Wangi parfum lembut yang menguar dari balik cuping telinga sang istri terasa begitu memabukkan indra penciumannya. "Liora..." desah Rain lirih saat merasakan jemari lentik istrinya mulai bergerak turun, meraba permukaan dada bidangnya. Namun, sedetik berikutnya... "Ugh!" Sebuah suara mengaduh tertahan lolos begitu saja dari belah bibir Rain. "Li... o... ra..." Pria itu terengah, tubuhnya sedikit membungkuk menahan kesakitan yang menjalar hebat akibat bogem mentah sang istri tepat mengenai ulu hatinya. "Hentikan tingkah konyolmu yang tidak jelas bak roller coaster ini, Rain," desis Liora ketus sembari merapikan pakaiannya yang sedikit kusut. Sambil berusaha mengatur napas dan mengabaikan derit nyeri di perutnya, Rain memaksakan diri untuk kembali menegakkan punggung. Ia mengacuhkan rasa sakit itu, lalu dengan keras kepala kembali merengkuh posesif pinggang ramping sang istri. "Oh, sayangku... kita akan naik ke atas panggung sekarang. Kamu sungguh mau membuat Kakek bersedih lalu jatuh sakit hanya karena melihat kita bertengkar?" Liora hanya bisa mendelik geram, mengunci rapat mulutnya demi menahan makian yang sudah di ujung lidah. "Liora!" Sebuah suara lembut yang sarat akan keceriaan mendadak memutus ketegangan di antara mereka, membuat Liora refleks memalingkan wajah. "Mama," sapa Liora manis. Gurat dingin di wajahnya lenyap seketika berganti senyum tulus saat ia berlari kecil menghampiri wanita paruh baya yang berjalan ke arah mereka. Liora langsung menghambur, memeluk hangat tubuh sang ibu mertua. "Apa si kaku Rain ini mengganggumu lagi, Sayang?" tanya sang ibu sambil mengelus punggung Liora penuh kasih. Liora menggeleng cepat dengan raut wajah polos yang dibuat-buat. Tanpa wanita itu sadari, Rain sudah berdiri tegap tepat di belakang punggungnya. "Justru istrikulah yang merundungku di sini, Mah," rengek Rain tiba-kira dengan wajah memelas yang sangat berbanding terbalik dengan imej CEO-nya. "Lihat..." Tangannya menunjuk ke arah perut yang tadi menjadi sasaran empuk. " My-Lio baru saja memukulku di sana." Ibunya tidak bersimpati, melainkan justru terkekeh geli melihat tingkah sang anak. "Baguslah, kamu memang pantas mendapatkannya." "Mah, bela anak kandungmu sendiri, dong," protes Rain, pura-pura terluka. "Sudah, ayo kita ke ruang makan. Kakek sudah mengomel menunggu kedatangan kalian sejak tadi," titah sang ibu, mengabaikan protes putranya dan langsung menggandeng lengan Liora untuk berjalan masuk lebih dalam. "Mah..." Rengekan pelan Rain kembali terdengar saat memperhatikan punggung kedua wanita berbeda generasi itu mulai menjauh darinya. Di tengah langkahnya, Liora mendadak menoleh ke belakang. Ia melirik Rain sekilas lalu menjulurkan lidahnya, mengejek suaminya dengan gestur kekanakan yang menggemaskan. Melihat tingkah spontan itu, Rain tanpa sadar mengulum senyum tipis di sudut bibirnya. Harusnya kamu selalu bersikap lepas seperti itu di depanku, bukannya terus-terusan membangun tembok tebal yang tinggi, My-Lio, gumam Rain dalam hati, menatap lekat punggung istrinya sebelum melangkah lebar menyusul mereka. Ruang makan begitu ramai. Di tengah santap malam yang hangat, obrolan terus mengalir dengan riuh. Rain hanya terdiam, memilih untuk menatap sang istri lekat-lekat dan membiarkannya terus bercerita tanpa jeda. Di rumah inilah, di bawah atap kediaman orang tuanya, Liora bisa terlihat begitu lepas dan kembali hidup. Keluarga Winter dan keluarga Frost sudah saling mengenal sejak bertahun-tahun lalu. Hubungan mereka begitu dekat, namun ironisnya, justru pernikahan inilah yang mendadak mengubah total sikap Liora terhadapnya menjadi sedingin es. "Kalian menginap saja malam ini," tawar Esther, ibu Rain, memecah keriuhan dengan tiba-tiba. "Ma..." Liora hendak menyela. "Ide yang bagus," celetuk Rain cepat, memotong kalimat istrinya. Khh. Detik itu juga, ujung heels Liora menginjak punggung sepatu Rain di bawah meja tanpa ampun. Rain menahan ringisan di wajahnya, lalu menoleh ke arah Liora dengan binar jenaka. "Hanya semalam saja. Lagipula di luar sepertinya akan hujan lebat, jalanan pasti licin dan macet. Apa kamu tega membuat suamimu ini menyetir dalam kondisi kelelahan?" rajuk Rain dengan nada manja yang sengaja dibuat-buat. "Ya, menginaplah di sini. Kalian sudah terlalu lama tidak berkunjung karena sibuk bekerja. Pria tua ini juga ingin dimanja oleh cucunya," keluh Raver, kakek Rain, menimpali dengan raut memelas. Dihadapkan pada permohonan sang kakek, pertahanan Liora runtuh. Ia hanya bisa mengangguk pasrah. "Nah, kalau begitu, ayo ikut Mama," ajak Esther riang sembari bangkit dari kursi. "Kita akan menghabiskan uang suamimu lewat belanja online dan merencanakan pesta anniversary pernikahan yang megah." "Ma... jangan biarkan anak kandungmu ini menjadi gembel besok pagi!" teriak Rain setengah berseloroh, yang langsung diabaikan begitu saja oleh kedua wanita itu saat melangkah pergi. Setelah keheningan kembali tersisa di meja makan, Raver berdeham pelan. "Bagaimana perkembangan perusahaan?" "Semua baik dan terkendali, Kek," jawab Rain tenang. "Dan... istrimu?" Rain menjeda kalimatnya. Ia merenung sejenak, menatap ke arah pintu tempat Liora menghilang sebelum menjawab pelan, "Tidak ada masalah." "Hah, jangan mencoba membohongi sepasang mata tua kakekmu ini, Rain." Rain menghela napas samar, tidak ingin memperpanjang interogasi. "Ada beberapa berkas yang harus segera aku urus di ruang kerja, Kek." Ia pun bangkit untuk menghindari obrolan, melangkah masuk ke dalam ruang kerja pribadinya di rumah itu. Selama beberapa jam berikutnya, Rain menenggelamkan diri di hadapan tumpukan dokumen yang seolah tidak ada habisnya. Ketukan halus di daun pintu mendadak menyentakkan kesadarannya dari deretan file di layar komputer. "Nak, sudah waktunya istirahat," ujar Esther yang melongokkan kepalanya dari balik pintu. "Mama." Rain meregangkan otot-otot lehernya yang kaku. "Kapan Ayah pulang?" "Besok atau lusa. Urusan pembelian vila baru di luar kota sedikit mengalami kendala." Rain menaikkan sebelah alisnya. "Apa vila itu hadiah untuk My-Lio?" "Anggap saja sebagai persiapan untuk bulan madu kedua kalian," goda Esther lembut. "Ma..." "Mungkin... kehadiran seorang anak akan membuat segalanya berubah di antara kalian," cetus Esther tiba-tiba. Rain seketika membelalakkan matanya, terkejut mendengar ide sang ibu. "Mah!" "Kenapa? Kalian sudah menikah hampir lima tahun. Di awal pernikahan, kalian sangat saling memerhatikan. Tapi ulah dan sikap kakumu belakangan ini yang justru membuat Liora merasa tertekan." "Aku tidak pernah melakukan apa pun yang berniat membuatnya sengsara, Mah," bela Rain, suaranya merendah parau. "Harta dan kemewahan bukan segalanya, Rain. Perhatianmu yang berkurang, Sayang." Rain terdiam lama, menatap lurus ke arah meja kerjanya dengan sorot mata meredup penuh beban. "Mungkin... pernikahan ini sejak awal bukan ide yang bagus, Ma. Di hatinya... bisa saja sudah ada orang lain." "Siapa?" Tanya Esther kebingungan. "Sepanjang yang Mama tahu, Liora tidak dekat dengan pria mana pun sebelum ini." Rain memilih membisu, enggan menyebutkan nama Jade yang terus mengusik ketenangannya sejak siang tadi. Melihat bahu putranya yang tampak merosot turun penuh beban, Esther melangkah mendekat lalu memeluknya hangat dari belakang, meremas pelan pundak Rain. "Kejar kembali istrimu. Perlihatkan seluruh kasih sayangmu yang selama ini kamu sembunyikan di balik sikap kakumu itu... dan buatlah seorang anak." Mendengar desakan itu, Rain akhirnya mengulum senyum simpul yang samar. "Apa... My-Lio akan mau?" "Dicoba saja dulu," bisik Esther jenaka, mengedipkan sebelah matanya sebelum melangkah keluar dan menutup pintu ruang kerja. Kini, Rain kembali terpaku seorang diri di dalam keheningan kamar. Kata-kata sang ibu mendadak terus berputar-putar di dalam benaknya seperti mantra yang mengunci kewarasan. Anak. Seorang anak dari darah dagingku... dan Liora. Bayangan pelukan erat Liora di tengah badai semalam, rasa bengkak yang tertinggal di bibir istrinya pagi ini, hingga senyum manis wanita itu saat menatap Jade di restoran, mendadak berbaur menjadi satu, menyulut sebuah tekad baru yang posesif di dalam dadanya. Pria itu bangkit dari kursi kerjanya, mematikan lampu ruangan, lalu melangkah tegas menuju kamar tidur tempat istrinya berada dengan satu tujuan mutlak yang sudah tertanam di kepalanya."Liora, kenalkan ini Violet. Temanku sewaktu di luar negeri," ucap Rain saat Liora sudah berdiri di sampingnya.Benarkah hanya teman? bisik batin Liora, menepis rasa tak nyaman yang mendadak muncul."Liora," ucap Liora. Suaranya terdengar datar saat ia mengulurkan tangan."Violet," sambut wanita itu dengan gestur yang sangat berkelas. "Aku pemilik butik ini. Belanjaanmu cukup banyak, Rain. Biar kuberi diskon spesial," lanjutnya seraya melirik total tagihan yang sedang ditandatangani Rain."Menyenangkan sekali," lirik Rain pada Liora penuh makna sebelum kembali menghadap Violet. "Aku pikir kamu masih di luar negeri?" basa-basi Rain dengan senyum ramah.Liora hanya memperhatikan dalam diam. Namun, hatinya seketika terenyuh. Ada rasa pedih yang mendadak berdesir di dadanya."Hm, tapi rasanya gak menyenangkan kalau gak ada kamu, Rain," gumam Violet dengan senyum cerah, lalu beralih topik. "Katanya kamu memesan gaun untuk minggu ini?""Ya.""Biar aku bantu rancang, ya? Tentu sesuai dengan
"Kamu aneh! Biasanya paling malas repot-repot ke butik cuma buat beli baju. Apa yang kamu pikirkan sekarang, hah? Apa yang kamu rencanakan?" cecar Liora begitu mobil sedan mewah Rain terparkir sempurna di depan butik kelas atas itu."Bukan aku. Ini Mamah yang nyuruh," sanggah Rain santai. "Nih, telepon sendiri kalau gak percaya."Rain menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah sang istri. Tatapan Liora masih menyelidik tajam, mencoba membaca situasi. Namun, benteng ekspresi di wajah suaminya terlalu kokoh untuk ditembus."Selesaikan dengan cepat," ketus Liora. Ia menarik tuas pintu mobil, lalu keluar dengan helaan napas kesal yang kentara.Rain hanya tersenyum tipis, bersyukur Liora tidak memperpanjang kecurigaannya. Di kantor tadi ia sempat cemas rencana ini akan berantakan karena tidak didukung sang Mamah. Untunglah, sebuah pesan masuk mendadak mengirimkan alamat butik ini."Bersiaplah dengan serangan romantisku, My-Lio," gumam Rain seraya melangkah menyusul istrinya.Begitu m
"Mah," sapa Rain dengan wajah kusut. Kontras sekali dengan setelan kemeja necis yang melekat di tubuhnya."Liora mana?" tanyanya langsung saat mendapati sisi ranjangnya kosong pagi ini.Esther yang sedang menikmati teh di meja makan menengadah. Alisnya bertaut heran. "Dia istrimu, kenapa tanya Mamah?" selorohnya. "Kamu apakan dia semalam sampai istrimu kabur, hm?"Rain menghela napas berat, lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi di seberang sang mamah. "Ini semua gara-gara ide gila Mamah.""Oh, sekarang Mamah yang disalahkan?""Memang salah Mamah! Coba kalau Mamah enggak bisik-bisik ide mengenai kehadiran anak.""Anak? Cucu menantuku hamil?!" sebuah suara serak memotong perdebatan.Raver berjalan mendekat, bertumpu pada tongkat kayunya. Langkah sang kakek tampak tergesa. "Kenapa kalian merahasiakan kabar bahagia ini?""Tahu, ah! Tanya saja sama Mamah," gerutu Rain. Ia bangkit berdiri dan melengos pergi begitu saja.Esther menahan lengan pria tua itu saat melihat tongkatnya sudah mengacu
Langkah kaki Rain berhenti tepat di depan daun pintu jati kamar mereka. Jemarinya sudah mencengkeram kenop pintu yang dingin, namun ia tak segera menekannya.Di dalam keheningan lorong rumah orang tuanya, kata-kata ibunya kembali berdengung, menghantam dadanya tanpa ampun. Buatlah seorang anak.Rain memejamkan mata erat-erat. Rahangnya mengeras saat bayangan Liora yang tersenyum manis pada Jade siang tadi mendadak melintas tanpa izin di benaknya. Rasa cemburu yang sedari tadi ia kekang di balik sikap diktatornya kini mendadak bergolak menjadi letupan posesif yang membakar kewarasan.Lima tahun ini, Rain tahu ia telah gagal. Ia mengira dengan memberikan perlindungan hukum, harta yang melimpah, dan menyembunyikan kerapuhannya di balik topeng sedingin es, ia bisa menjaga Liora dengan aman setelah tragedi kecelakaan yang merenggut orang tua wanita itu. Namun, ia salah. Jarak di antara mereka justru semakin membentang lebar bagai jurang yang tak berdasar.Apakah di hatimu benar-benar su
"Senyum," desak Rain setengah berbisik saat langkah kaki mereka mulai memasuki area ruang tengah rumah orang tuanya yang megah bak istana.Liora mendengus tipis, melirik suaminya dari sudut mata. "Kenapa? Kamu takut aktingku akan membongkar kenyataan bahwa pernikahan kita..."Rain enggan meladeni rentetan kalimat kemarahan istrinya. Sebagai jawaban, jemari kokohnya justru bergerak kilat, menyergap pinggang ramping Liora lalu menyentaknya kuat hingga tubuh wanita itu merapat tanpa jarak ke dadanya.Langkah kaki Liora yang limbung akibat hentakan mendadak itu terpaksa membuatnya melemparkan kedua lengan untuk merangkul pundak tegap sang suami. Di jarak sekat ini, sepasang mata mereka saling mengunci pergerakan masing-masing. Deru napas yang saling beradu, debar jantung yang mendadak bertalu kencang seperti ketukan gendang, serta kepungan aroma maskulin parfum dari balik dekapan otot dada yang kekar seketika menguapkan setengah kewarasan Liora."Kemarahan juga merupakan bumbu dalam sebu
"Jade," sapa Liora, melangkah mendekat. "Maaf aku terlambat.""It's okay," sahut Jade hangat. Tangannya bergerak sigap menarik kursi di hadapannya, mempersilakan Liora duduk. "Mau pesan apa?"Liora menggeleng pelan. "Aku sudah makan."Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis. Bayangan perlakuan suaminya tadi pagi mendadak melintas. Setumpuk sarapan yang disiapkan khusus untuknya. Potongan buah yang dikupas rapi, secangkir air putih hangat, segelas jus jeruk, dan telur rebus. Entah apa yang sedang merasuki Rain, karena ini pertama kalinya pria itu bertingkah demikian setelah hampir tiga tahun selalu mengacuhkannya."Apa yang dilakukan suamimu, hm?" tanya Jade, menangkap gelagat aneh itu."Hanya menyiapkan sarapan," kilah Liora cepat.Jade melipat kedua tangan di dada, melemparkan tatapan penuh selidik. "Hanya sarapan, tapi wajahmu berseri-seri bagai ABG yang sedang kasmaran."Liora memberengut, matanya menyipit ketus. "Apa salahnya?""Tidak ada. Lalu..." Jade mencondongkan tubuhn







