Partager

Rasa Kepatuhan

Auteur: Peonylrs
last update Date de publication: 2026-06-13 13:46:12
Bab 7

​Kamar tidur utama milik Kim Muyeol malam ini berubah menjadi panggung intimidasi yang mencekam bagiku. Aku berbaring miring di sisi ranjang sutra gelap yang luas ini, memunggungi sang bos kartel yang kini berbaring hanya beberapa jengkal di belakangku. Tubuhku meringkuk kaku. Setiap kali mendengar helai napasnya yang teratur di tengah kesunyian malam, jantungku berdegup dua kali lebih cepat.

​"Napasmu terlalu keras, Guru kecil," suara bariton Muyeol tiba-tiba memecah keheningan, terde
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (2)
goodnovel comment avatar
dwinda
tidak bisa berkata-kata
goodnovel comment avatar
dwinda
.............
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • My Husband was a Cartel Boss   Pewaris sang Iblis

    Chapter 26Panggilan telepon misterius itu sempat membuat rahang Muyeol mengeras. Aku sendiri dapat merasakan paranoia akibat peristiwa makan malam berdarah itu. Muyeol langsung menyambar ponselnya dengan wajah sekeras batu, siap meremukkan rahang siapa pun di seberang sana yang berani mengusik ketenangannya.Muyeol diam, menunggu suara di ujung telephone itu memulai percakapan. Aku hanya bisa menahan napas ketakutan di balik selimut. Namun, perlahan rahang tegas Muyeol mengendur saat mendengar suara di balik telepon itu. “Tuan, apakah Anda tertarik untuk meningkatkan paket data internet Anda dengan SK Telecom—"Ekspresi wajahnya berubah dari iblis yang haus darah menjadi pria yang sangat kesal sekaligus terlihat bodoh.Suara robotik khas operator perempuan Korea dari pengeras suara ponselnya memecah keheningan kamar.Muyeol langsung mematikan sambungan telepon itu tanpa sepatah kata pun. Dia melempar ponselnya kembali ke atas nakas dengan dengusan kasar, lalu kembali berbaring di

  • My Husband was a Cartel Boss   "Mhh.. Muyeol.. Jangan keluar di dalam"

    Chapter 25Lima bulan telah berlalu sejak malam berdarah di pelabuhan Busan. Selama itu pula, Muyeol benar-benar mengurungku di dalam mansion mewah ini di bawah penjagaan super ketat.Sikapnya yang dominan dan tidak bisa dibaca itu masih sama. Kandunganku kini telah menginjak usia enam bulan, membuat perutku membuncit dengan sangat jelas di balik gaun tidur satin yang kukenakan.Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Muyeol yang baru saja selesai membersihkan diri. Hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya, dia berjalan mendekat ke arah ranjang tempatku duduk sembari membaca sebuah buku."kau masih membaca buku tidak berguna itu?" tanya Muyeol dalam bahasa inggrisnya, suara baritonnya memecah keheningan kamar malam itu.Aku mendongak, lalu menutup buku di pangkuanku dengan pelan. "tapi.. ini buku tentang perkembangan bayi. .."Muyeol tidak membalas lagi. Dia naik ke atas ranjang, memosisikan tubuh besarnya di atasku tanpa memberikan jarak. Aku tidak lagi gemetar ketakutan seper

  • My Husband was a Cartel Boss   Makan Malam Berdarah

    Chapter 24Efek suntikan vitamin dari dokter faksi setidaknya memberiku sedikit tenaga untuk berdiri tegak di depan cermin, meski rona pucat di wajahku harus ditutupi oleh riasan yang lebih tebal dari biasanya. Kalung berlian itu melingkar dengan indah di leherku, berkilau mewah namun terasa seperti rantai yang mengikat kebebasanku.Pintu kamar terbuka, memperlihatkan Muyeol yang sudah tampil sangat gagah dengan setelan jas berwarna hitam formal. Dia melangkah mendekat, berdiri di belakang punggungku, lalu menatap pantulan diri kami berdua lewat cermin besar tanpa ekspresi romantis.."Sempurna," puji Muyeol pendek dalam bahasa Inggris dengan suara baritonnya yang berat. Dia melingkarkan lengannya di pinggangku dari belakang dengan cengkeraman yang teramat posesif, mengunci pergerakanku. Aku hanya bisa menurut. Iring-iringan sedan hitam mewah milik faksi Kim membelah jalanan malam Busan lalu berhenti tepat di depan pelataran harbor clubhouse, sebuah bangunan arsitektur modern berga

  • My Husband was a Cartel Boss   Hari Pertama Setelah Ikatan

    Chapter 23Malam harinya, kelelahan fisik dan mental kembali kurasakan setelah seharian menguras emosi melepas kepergian keluargaku ke Indonesia. Perutku terasa mulas ringan, membuatku hanya bisa berbaring miring di atas ranjang king size sambil memeluk perutku di bawah selimut tebal.Pintu kamar terbuka dan monster yang sudah menjadi suamiku itu muncul. Aku refleks menegang di balik selimut, mengira dia akan menuntut haknya sebagai suami malam ini setelah pernikahan rahasia kami disahkan. Namun, Muyeol justru melangkah memutari ranjang dan naik ke sisi kosong di sebelahku. Pria itu berbaring, lalu tanpa peringatan, dia menarik tubuhku mendekat dari belakang."Muyeol, kumohon.. aku masih sangat lelah," bisikku lirih, mencoba menggeliat untuk memberi jarak di antara tubuh kami."Diam dan jangan bergerak," potong Muyeol rendah. Dia tidak melakukan tindakan agresif atau kasar apa pun seperti yang biasa dia lakukan. Lengan kanannya yang besar dan kokoh melingkar erat di pinggangku, mena

  • My Husband was a Cartel Boss   Dekapan Hangat di Malam Hari

    Bab 22 Aku berhasil melewati sisa acara jamuan makan siang itu tanpa harus tumbang, meski seluruh tubuhku sempat dibanjiri keringat dingin. Genggaman tangan Muyeol di bawah meja memaksaku tetap tegak. Dua hari berlalu dengan sangat cepat. Selama dua hari itu, Muyeol memainkan perannya dengan baik di depan keluargaku. Dia adalah sosok menantu ideal—mapan, jaga sikap, dan sangat memanjakanku. Namun, waktu kebersamaan kami harus berakhir malam ini. Adik pertamaku terus-menerus mengecek ponselnya karena jatah cuti tahunannya sudah benar-benar habis, sementara adik bontotku juga mulai cemas karena takut tertinggal materi kuliah. "Kak, maaf yaa, Rumi harus benar-benar pulang malam ini. Libur kuliahnya cuma dikasih seminggu sama dosen, sebenarnya masih mau di sini sih kak, kapan lagi kan ke luar negeri" ucap adik bungsuku saat kami berjalan beriringan di area ruang tunggu. Aku hanya bisa tersenyum tipis sambil menahan sesak di dada. "Iya, enggak apa-apa. Kami belajar yang rajin yaa,

  • My Husband was a Cartel Boss   Ikatan Kelam di Busan

    Bab 21 Dua hari sejak pengumuman kehamilan itu, aku mengurung diri di dalam kamar tidur utama mansion. Aku menolak menyentuh makanan apa pun yang dibawakan oleh Bibi Jung. Setiap kali aroma masakan itu tercium, aku langsung mual, memaksaku berlari ke kamar mandi. Kenyataan bahwa aku mengandung anak dari seorang bos kartel membuatku terus menangis setiap malam hingga kepalaku berdenyut. Malam itu, keheningan kamar pecah saat pintu terbuka. Kim Muyeol melangkah masuk, lalu berhenti tepat di tepi ranjang. Sepasang matanya yang tajam langsung menatap ke arahku yang sedang meringkuk di balik selimut, sebelum beralih ke meja nakas tempat nampan makanan sore tadi masih utuh dan mendingin. "Apa yang kau mau?" tanya Muyeol dengan suara baritonnya yang datar dan dingin. Aku mengumpulkan sisa tenaga untuk mendongak, menatap wajahnya yang tidak memperlihatkan emosi sama sekali. Air mataku kembali menetes. Aku tidak sanggup menerima takdir ini. “Ini tidak benar, Muyeol… Kita bahkan buka

  • My Husband was a Cartel Boss   "Mhh.. Ahh.. M-muyeol"

    Chapter 11 Aku sengaja bertahan di perpustakaan hingga jarum jam dinding berdentang melewati tengah malam. Jemariku pura-pura sibuk merapikan kembali kamus bahasa asing dan tumpukan kertas logistik yang sebenarnya sudah selesai kuterjemahkan sejak sore tadi. Aku ketakutan. Kalimat terakhir Muyeol

  • My Husband was a Cartel Boss   Batas yang Mengabur

    Chapter 8 Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah jendela raksasa di perpustakaan pribadi Kim Muyeol sama sekali tidak mampu menghangatkan tubuhku. Aku berdiri diam di dekat meja marmer hitamnya, meremas ujung kemeja rajut yang kukenakan dengan sangat erat. Jantungku berdegup kencan

  • My Husband was a Cartel Boss   Batasan di Ambang Malam

    Chapter 5 ​Ketakutan murni kembali mencengkeram dadaku begitu kakiku melangkah melewati ambang pintu kamar utama milik Kim Muyeol. Kamar ini jauh lebih luas daripada kamarku sebelumnya, dengan dominasi warna hitam dan abu-abu arang yang memancarkan aura dingin yang mengintimidasi. Di tengah ruanga

  • My Husband was a Cartel Boss   Ilusi Kebebasan

    Chapter 4 Rasa lapar ternyata memiliki batas toleransi yang kejam. Setelah dua hari lebih menolak menyentuh makanan apa pun yang disajikan, tubuhku mulai memberikan sinyal protes. Perutku melilit, lambungku terasa diaduk-aduk, dan kepalaku berputar pening setiap kali aku mencoba menggerakkan badan

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status