ログインYudha pulang malam itu, uang yang dijanjikan Sumiyati tidak dia bawa secara langsung namun akan dititipkan melalui pembantu. Di tengah jalanan menuju rumah, aroma amis yang begitu pekat tercium, bulu kuduk Yudha berdiri saat hawa aneh di sekelilingnya berubah. Sosok Dewi Lanjar muncul dari kepulan asap di depannya."Akhirnya kamu melakukan tugasmu juga," ucap perempuan dari kerajaan laut itu."Lantas apa lagi yang akan aku dapat?" tanya Yudha."Hahaha! Kamu memang lihai dalam memikat wanita, tunggulah sampai esok maka uang itu akan datang ke padamu. Ingat, meskipun keuangan membaik, tugasmu belum selesai. Lakukan setiap satu purnama sekali dengan orang berbeda." Dewi Lanjar menyeringai, memperlihatkan tawa seram dengan bibir bertaring, setelah berkata demikian ia pun kembali menghilang dari pandangan Yudha menyisakan aroma amis luar biasa yang perlahan ikut menghilang.Sesampainya di rumah, Yudha masuk melalui pintu samping. Dia melihat Sari sudah pulas, saking nyenyak-nya gaun Sari t
Yudha terdiam cukup lama, ia masuk ke kamar berganti pakaian sambil menyiapkan lilin dan obor sebagai penerang jalan. "Kamu mau ke mana, Yudha?" tanya Sari Penas, Yudha tidak menjawab. Dia cuma tersenyum sambil mengemas tas dari kulit lalu menuju pintu. "Yudha!" suara Sari meninggi seolah takut ditinggal sendirian di rumah. "Mbak, aku akan kembali sebelum fajar tiba. Biar aku siapkan umpan untuk mendapatkan tangkapan yang lebih besar," sahut Yudha dengan senyum penuh misteri.Berjalan tergesa-gesa, bukannya ke pantai justru ke tepi hutan menemui seseorang yang mengirim pesan untuknya. Setelah cukup lama berjanji, ia sampai pada sebuah gubuk yang di sampingnya ada pohon rebah. Pintu gubuk tampak terbuka, aroma wangi yang khas berhembus bisa ia cium dari jarak lima meter."Yudha, aku kira kamu enggak datang," suara itu lembut terdengar, dari balik pintu gubuk Sumiyati berdiri. Gaun sutera longgar yang tipis membuat Yudha bisa melihat lekuk tubuh wanita kaya tersebut meski hanya diteran
"A--aku enggak serius soal itu, Yudha," kusno terkejut karena Yudha menagih janji."Kusno, cepat panggilkan anak gadismu! Hahaha!" Orang-orang yang mengingat perjanjian antara kusno dan Yudha ikut bersorak. "Yudha, kita cabut perjanjian itu. Aku akan serahkan uang lima juta sebagai gantinyai ... carilah perempuan lain. Aku mohon," Kusno yang kadung malu ingin menukar hadiah taruhan."Hmmm, begini saja ... untuk saat ini kita lupakan soal taruhan itu, tapi ingat jika kamu meremehkan aku maka aku enggak akan main-main!" tegas Yudha. Di terus berjalan sambil membawa tas kecil berisi uang hasil penjualan.Tapi, di antara orang-orang itu ada Ratna dan Sumiyati, mereka memandang Yudha penuh rasa kagum.''Tak aku sangka, ia telah membuktikan kemampuannya dalam melaut," gumam Ratna. Jika Ratna merasa menyesal karena dulu meremehkan Yudha waktu itu, justru Sumiyati yang merupakan ibu tiri Ratna memandang Yudha penuh gairah sebab pemuda yang dikenal impoten itu ternyata memiliki pusaka yang
Sari memegang erat pusaka Yudha, sebuah perasaan yang seolah sudah tak dapat dibendung lagi. Sebagai perempuan normal tentu dia menginginkan sentuhan dari lawan jenis, dan di hadapannya kini Yudha berdiri dengan mata terpejam."Mbak," ucap Yudha lirih, dia menahan tangan Sari yang terus memainkan pusaka miliknya."Kamu nikmati saja, Yudha. Aku akan memberikan kesenangan padamu," balas Sari, dia yang berjongkok di hadapan juga memandang dengan mata membulat."Kamu ingat janjimu, Yudha? Kamu harus segera mendapatkan perempuan untuk membalas apa yang kau berikan padamu." Suara Dewi Lanjar menggema di kepala Yudha, namun pemuda itu segera sadar dan membuka matanya lebar-lebar."Kita tak bisa melakukan ini, Mbak,""Aku tak perduli, lagipula kamu itu adik tiriku bukan adik kandung. Cepat kita lakukan, Yudha,"Sari bangkit, dia memutari badan Yudha sambil melepaskan satu persatu pakaiannya di hadapan Yudha, Sari menggeliat liar. Tangannya yang halus meraba perut, dada dan pusaka Yudha dibare
Sumiyati menarik tangan Yudha menuju ke arah gubuk yang dikelilingi oleh rumpun bambu, meskipun dinding bangunan itu terbuat dari kayu namun cukup tertutup dan tak mungkin terlihat jika ada seseorang yang melintas di jalan sana. Gubuk itu berukuran sekitar 3x4 meter. Biasanya selain digunakan untuk beristirahat orang yang bekerja di ladang, juga digunakan untuk menyimpan beberapa peralatan bertani dan sisa pupuk.Wajah Sumiyati yang saat ditemukan dalam kondisi menangis ini berubah lebih bersemangat, ada rasa penasaran yang tinggi tentang sosok pria muda yang selama ini menjadi bahan cemoohan warga sekitar. Sumiyati tahu betul jika Yudha itu bukan cuma miskin, ia juga impoten dan memiliki cacat bawaan lahir berupa kaki kiri yang memiliki ukuran berbeda dari sebelah kanan namun di hadapannya justru yang terlihat sosok yang jauh berbeda."Di sini gelap," ucap Yudha begitu mereka sampai di dekat gubuk, dengan tenang Sumiyati membuka pintu. Dia paham jika di salah satu sudut bangunan ter
Yudha pergi ke arah kapal tua sambil mengembangkan layar siap untuk melaut, namun orang-orang yang ada di sana justru tertawa semakin keras."Hahah! Yudha, kau memang dungu. Mau malaut lebih awal agar ikannya banyak?" tanya Kusno setengah mengejek."Dia memang terlahir tanpa akal. Orang bodoh sekalipun tahu jika melaut yang baik di musim yang sekarang itu di atas jam dua belas malam, hahahaha!" sahut pria lainnya.Yudha yang tadinya siap melaut rupanya lupa satu hal jika untuk mendapatkan ikan besar harus melaut di waktu tengah malam. Ejekan itu ia tanggapi dengan santai, ia tetap membentangkan layarnya dan mulai mempersiapkan jala."Ya, aku hanya ingin menguji kapal tua ini bisa berlayar saat angin kencang. Kalian sendiri lupa, angin kencang terjadi pukul lima sampai jam sepuluh malam. Jadi sebelum aku melaut, aku memastikan jika kapalku akan kembali dengan keadaan utuh." Yudha turun dari kapalnya."Hampir saja aku ceroboh," batin Yudha yang sebenarnya juga tak memahami teknik berl







