Share

Lelaki Bayaran

Author: Sedap Malam
last update publish date: 2026-07-12 22:04:55

Yudha terdiam cukup lama, ia masuk ke kamar berganti pakaian sambil menyiapkan lilin dan obor sebagai penerang jalan.

"Kamu mau ke mana, Yudha?" tanya Sari Penas, Yudha tidak menjawab. Dia cuma tersenyum sambil mengemas tas dari kulit lalu menuju pintu. "Yudha!" suara Sari meninggi seolah takut ditinggal sendirian di rumah. "Mbak, aku akan kembali sebelum fajar tiba. Biar aku siapkan umpan untuk mendapatkan tangkapan yang lebih besar," sahut Yudha dengan senyum penuh misteri.

Berjalan tergesa-
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Zahra Juragan Udang

    Misteri tentang hilangnya jenazah itu belum juga terungkap, namun sudah membuat ketakutan di hati warga merebak dengan cepat. Kabar tentang kemungkinan penggunaan jenazah untuk ilmu hitam disebut-sebut menjadi momok yang menakutkan bagi warga yang tinggal di dusun kecil tersebut.Yudha kembali ke warung, ia coba mengabaikan peristiwa yang terjadi termasuk hubungannya dengan Fatma. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa rasa bersalah itu tetap ada, harusnya kedekatan di antara mereka tidak pernah terjadi."Kamu masih melamun, emangnya memikirkan apa?" Sari menegur adik tirinya."Tidak ada. Hanya saja kematian Fatma membuatku merasa sangat bersalah, demi mendapatkan energi untuk Dewi Lanjar aku menghalalkan segala cara, mungkin ini sebuah kutukan," gumam Yudha."Warung kita belum memiliki kemajuan sama sekali, penjualan setiap hari hanya cukup untuk mengembalikan modal dagangan. Kalau begini, sebaiknya aku mencari pekerjaan lain," ungkap Sari."Pekerjaan seperti apa yang kamu cari, Mbak? Di

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Pembunuh Tanpa Jejak

    Yudha menyadari satu, jika ia termasuk orang berakhir yang mungkin bersama dengan Fatma. Rasa bersalah memenuhi misi kepala Yudha, ia tidak habis pikir bagaimana mungkin perempuan itu bisa tewas dengan kondisi seperti ini atau ada seseorang yang sedang menjebaknya."Perempuan ini mati setelah melakukan hubungan intim, ada bekas cairan kental yang sudah mengering di kain yang sengaja dilempar di bawah tempat tidur," kata seorang warga, padahal selama ini Fatma dikenal hampir tidak memiliki kedekatan dengan satu pria orang pun."Banyak kemungkinan bisa terjadi, semacam perampokan disertai pembunuhan atau hal lainnya yang tidak diketahui," imbuh warga lainnya."Bapak-bapak sekalian, daripada kita sibuk memikirkan tentang penyebab kematian Fatma sebaiknya kita fokus pada penanganan jenazah ini. Bagaimanapun juga hak bagi mayit yaitu segera dikuburkan," Juragan Kardi tiba di tempat itu, ia menyarankan agar jenazah Fatma segera dimakamkan."Apa kita tidak menunggu dulu penyelidikan dari pol

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Malam Yang Misterius

    Sikap Yudha begitu dingin saat menyentuh Fatma, dalam pikirannya hanya dia tak ingin dalam keadaan cacat seperti dulu. "Ini benda keras yang diinginkan banyak perempuan, aku selama ini bersikap anggun mencoba menahan semua gelisah saat malam tiba, rasa kesepian yang nyata dan penderitaan batin karena tak merasakan kenikmatan yang sempurna sebagai wanita dewasa, Yudha ... lakukan semaumuuu!" rancau Fatma, ia yang tadinya dalam posisi duduk mulai membaringkan diri di atas kasur.Tak perduli hawa dingin dari lautan menyapa tubuhnya yang polos, baginya kenikmatan malam itu lebih besar daripada rasa dingin karena kesepian. Yudha tahu apa yang harus dia lakukan, untuk menggapai puncak kenikmatan maka Fatma juga harus berbuat lebih. "Mbak Fatma, kamu di atas ya," pinta Yudha, ia mulai berbaring dan meletakkan kepala di atas bantal, sementara Fatmah juga tak sabar menggilas dari atas. "Kita lihat apa kamu bisa tahan sepuluh menit," ujar Fatma yang mulai berjongkok dan mengarahkan pusaka itu k

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Gairah Terpendam Fatma

    Yudha menyuguhkan kopi hangat untuk Fatma, bagi Yudha sosok perempuan berdarah eropa itu bukan cuma menarik secara fisik namun memiliki kecerdasan emosional yang mampu menyelami setiap ucapannya. "Kopi hangat, Mbak. Cocok untuk udara dingin seperti sekarang," ucap Yudha menyerahkan cangkir kopi yang berbahan tanah liat. "Makasih," sahut Fatma, ia menghirup aroma kopi dengan mata terpejam."Aromanya beda, ini kopi gingseng ya ... dari mana kamu mendapatkan resepnya? Setahuku, kopi seperti ini sangat langka," ujar Fatma setelah menyesap satu tegukan kopi pemberian Yudha."Resep? Enggak ada resep khusus, hanya kebetulan ada gingseng jadi aku campurkan supaya aromanya lebih kental," jawab Yudha.Obrolan berlanjut semakin akrab, Fatma memiliki kekaguman pada Yudha yang gigih dalam mendirikan usaha. Meski warungnya sempat terbakar, ia terlihat tak menyerah.Tepat jam sembilan malam Yudha kembali ke rumah untuk beristirahat sebab esok pekerja di warung yang baru akan dimulai. Badannya letih,

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Bangkit Kembali

    Fatma, nama itu bahkan tidak cocok dengan penampilannya yang 80% menyerupai orang kulit putih Eropa. Meskipun pakaian perempuan itu seperti gadis pesisir pada umumnya memakai kain sarung dan kebaya saat menjemur ikan, namun aura wajahnya berbeda. Hidung mancung dan mata biru, membuat Fatma seperti turis yang tersesat dan tak bisa kembali ke negaranya."Kulo nuwun," sapa Yasmin sambil menarik ujung baju Yudha."Nggih, Mbak ... monggo," Fatma berhenti beraktivitas sejenak, ia meletakkan besek bambu berisi ikan kering ke rak kayu lalu mengikat kain sarung di pinggang."Saya Yasmin, Mbak ... ini Mas Dirga, adiknya Mbak Sari," Yasmin memperkenalkan diri, meskipun ia warga setempat namun sejak kecil tinggal di desa lain membuatnya merasa banyak orang tak ia kenal cukup dekat di sini."Oalah, adiknya Mbak Sari toh, wonten nopo? Monggo, duduk dulu," Fatma mengarahkan tamunya untuk duduk di teras rumah yang sejuk."Soal kapal kuno itu, apakah kami boleh menyewanya?" tanya Yasmin setelah sediki

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Kardi Berulah Lagi

    "Yudha, ini apa? Kamu habis bercinta dengan siapa?!" sergah Sari, pertemuan itu merasa cemburu melihat bekas bibir perempuan lain di leher adik tirinya. "Mbak, jangan tanya soal itu ... kamu ingat kan jika aku punya perjanjian dengan Dewi Lanjar," jawab Yudha tanpa memberitahu siapa perempuan yang dimaksud."Iya, aku ingat. Tapi rasanya enggak rela jika adik tiriku ini tidur dengan perempuan, sementara aku juga menginginkan hal ini," kata Sari malu-malu. "Apa salahnya kamu melakukannya sama aku, toh aku ini kakak tiri bukan kakak kandung. Hubungan kekeluargaan hanya orang tua kita yang tahu, Yudha ... buat kakakmu ini senang," desak Sari, hawa dingin pagi itu membuat Sari ingin merasakan dekapan seorang pria yang bisa memanjakan dirinya. Tangan Sari menyentuh pipi Yudha, ia memandang lekat seolah penuh harap."Syaratnya tidak seperti itu, Mbak. Harus dengan orang berbeda, kita pernah melakukannya ... aku takut Dewi Lanjar murka jika mengulangi sama kamu," tolak Yudha secara halus. "Ap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status