เข้าสู่ระบบSeperti sebuah tamparan keras, Suti sampai memegang pipi mendengar ucapan neneknya. "Aku tidak bisa melakukan hal itu, aku mau menikah dan kesucianku hanya kuserahkan pada suamiku," tolak Suti. "Dari kecil hingga dewasa akulah yang membiayai semuanya, saat kehidupan kita baik-baik saja tak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun kali ini situasi yang berbeda, kita butuh makan kita butuh untuk memenuhi kebutuhan, satu Malam bersama Kardi tidak akan mencegah pernikahanmu berlangsung. Ini demi kita, demi perut kita," bujuk Mbok Sum. "Dia orang kaya, bisa mencari perempuan lainnya tapi tidak denganku!" Suti pergi begitu saja, sambil membanting pintu berjalan keluar rumah tanpa tak tahu arah tujuan yang akan dia tempuh.Sekian menit berjalan tanpa mempedulikan Mbok Sum yang berusaha mencegahnya, Suti telah tiba di tepi pantai. Dia duduk diantara pasir dengan kaki terjulur, perasaan ini lebih melegakan ketimbang dia berada di rumah seperti tadi. Suti menangis, nyaris tak bersuara hanya suara
"Ndoro, ampuuun ... aku tak akan mengulangi perbuatan itu!" teriak Warto, dia yang tadinya jumawa mulai pucat. Kardi yang terkenal kejam telah membuktikan jika dirinya menjadi sosok dominan di tempat tersebut.Tangan dan kaki Warto dipegang oleh dua orang berbadan besar, di bawahnya ada kolam ikan yang sangat jernih dengan ratusan ekor ikan piranha yang siap menyambar."Satu ... dua tigaaa!"Byuuur!Warto dilempar, seketika ikan-ikan itu berebut daging dan menyambar setiap jengkal tubuh Warto. Air yang tadinya tenang dan jernih mulai memerah berbau amis. Sesekali Warto muncul di permukaan air, ia coba melawan takdir namun ikan-ikan itu bukanlah lawan sepadan baginya di perairan. Suara jeritan kesakitan itu mulai hilang, lalu air yang bergejolak kembali tenang dengan tulang belulang yang mengambang."Pelajaran untuk seorang pengkhianat. Kalian harus ambil pelajaran dari kematian Warto. Ingat di Desa ini, akulah yang berkuasa. Akuklah yang menentukan takdir kalian semua. Hahahah!" Kardi
Warto dianggap buruh biasa yang kurang bergaul tapi memiliki sikap dingin yang membuat Sumiyati kini tak berkutik. Dalam dekapan buruh kasar itu, Sumiyati membayangkan semua hal buruk yang bisa terjadi saat Warto membocorkan rahasia ladang gandum saat Sumiyati bercumbu rayu dengan mandor kebun."Nyonya, kamu terlalu cantik untuk diabaikan. Apa kamu enggak melihat bagaimana Kardi menyentuh istri salah satu pelayan? Dia masih muda, juru masak di rumahmu ... aku sendiri pura-pura tak melihat saat keduanya saling menindih di meja dapur. Aaaah, tubuhnya masih kencang. Melon kembarnya bahkan seperti gunung kemukus yang siap meledak, dia memang tak pandai bercumbu tapi Ndoro Kardi begitu bersemangat sampai melupakan ada orang di sekitar," bisik Warto yang tangannya bermain lincah di area pribadi Sumiyati. Istri Kardi cuma diam, matanya terpejam saat Warto menjamah sambil bercerita."Apa kamu tak ingin merasakan rengkuhan pria lain yang lebih tampan dan muda? Lihatlah, aku di sini untuk memba
Warto berdiri melonggarkan ikat pinggang, tatapannya sayu memandang Sumiyati. "Nyonya sudah diberi uang untuk mencari orang yang mau merusak dapur milik Suseno bukan? Sedangkan setelah digunakan bersenang-senang, uang itu tersisa kurang dari separoh. Coba pikir, siapa yang mau mengerjakan dengan uang yang sedikit? Yah, meskipun itu tiga kali lipat gaji buruh selama beberapa Minggu, tapi tak sebanding dengan resikonya," ucap Warto dengan nada suara dingin."Jangan mengancam aku, Warto. Soal uang bisa dicari, dan aku bisa menemukan seseorang yang mau mengerjakan hal itu!" dengus Sumiyati. Namun Warto malah mendekati majikannya dengan langkah pelan, wajah mereka berhadapan dan hanya tersisa beberapa centimeter aja. "Warto, apa yang mau kamu lakukan? Mundur!" Sumiyati mendorong Warto. "Bermain dengan mandor di perkebunan saat sore hari turun hujan, tak ada yang tahu kecuali aku, Nyonya," imbuh Warto, tangannya mulai nakal saat mengelus paha Sumiyati, lalu dengan tangan yang sama mulai me
Kardi setuju atas usulan itu, apalagi Sumiyati mengusulkan sejumlah uang sebagai upah bagi seseorang yang mau melakukan pekerjaan tersebut. "Ambil ini, satu juta. Carilah orang yang benar-benar bisa menjaga rahasia," ujar Kardi. Sumiyati sumringah, satu juta merupakan uang yang cukup besar pada masa itu. Meskipun ia kaya, tapi uang yang didapat dengan cara yang mudah tak bisa diabaikan begitu saja.Seperti kebanyakan para perempuan, Sumiyati menggunakan uang tersebut untuk bersenang-senang dengan mentraktir teman-temannya makan, membeli pakaian bagus dan sepatu di kota. Saat pulang, ia baru sadar jika uang pemberian Kardi hanya tersisa separuhnya."Aduh, piye iki. Duite uwis kelong separoh," gumam Sumiyati bingung, kalau suaminya tahu uangnya sudah dia pakai bersenang-senang pasti akan marah besar.Sebagai orang terkaya di desa itu, Kardi memiliki pamrih besar terhadap kehidupan masyarakat sekitar. Dia merasa perkembangan di desa tersebut merupakan hasil dari kepintarannya, meskipun p
Di tempat lainnya, Sari menjalani kehidupan sebagai tukang masak di rumah Suseno. Dia bekerja dengan rajin, sebagai tukang masak ia harus bangun pagi-pagi. Suseno tak lagi menjalankan bisnis peminjaman uang, tapi dia mengelola kantin yang akan didistribusikan untuk para pekerja harian di pelabuhan. Biasanya di wilayah semacam itu, pemilik usaha bongkar muat barang memberikan makanan bagi para pekerja, untuk itulah Sari memasak dalam jumlah banyak. Meski ini langkah awal bagi Suseno, namun ia yakin usahanya akan menuai hasil.Jam sepuluh pagi tiga orang berjalan ke pelabuhan membawa wadah yang terbuat dari bambu berisi nasi bungkus. Suseno berjalan di depan membawa wadah berukuran besar, sedangkan Sari dan Wati berada di belakang membawa wadah yang ukurannya lebih kecil. Setidaknya lima puluh porsi nasi bungkus disiapkan sebagai contoh awal."Suseno, mau nagih siapa pagi-pagi sekali ke sini?" tanya Pak Wirya, pengusaha bongkar muat ujung barat desa."Aku enggak menagih siapapun, tapi m







