로그인“Ah… Mas Raman ya… rasanya… ah geli…” Desahan panjang meluncur bebas dari bibir Fenina, bergema di ruangan kamar tidur yang kini sepi dan terkunci rapat. Ia sudah memastikan semua pintu dan jendela terkunci, memastikan tak ada satu pun mata yang bisa melihat, tak ada telinga yang bisa mendengar apa yang sedang ia lakukan di kasur Lusty. Tanpa sehelai kain pun menutupi tubuhnya, ia berada di atas bantal di tengah kasur empuk itu.Desahan panjang, lembut namun sarat akan kenikmatan, meluncur bebas dari bibir Fenina sebelum ia sempat menahannya. “Ah… Mas… rasanya… ah…” Suaranya bergema di ruangan kamar tidur yang kini sepi dan terkunci rapat, menyatu dengan keheningan yang ia bangun sendiri.Aroma tubuh Raman yang selalu ia dambakan masih tertinggal di sana—aroma sabun yang bersih bercampur dengan wangi khas tubuhnya yang hangat, aroma yang setiap kali ia cium selalu membuat jantungnya berdegup kencang dan hasratnya mulai menyala. Dengan napas yang mulai memburu dan dada yang naik turun
“Wah, sup sayurnya sudah mulai mendidih sempurna, Fenina! Baunya saja sudah harum sekali.” Lusty tersenyum lebar sambil menatap panci yang mengepulkan uap hangat di atas kompor. Sejak hari Fenina mengajarinya memasak, hubungan mereka berdua semakin dekat dan hangat. Awalnya Lusty hanya ingin belajar membuat masakan kesukaan suaminya, namun lama-kelamaan ia menemukan sosok sahabat baru pada Fenina. Mereka sering berbagi cerita tentang hal-hal kecil, tentang pekerjaan, hingga tentang harapan di masa depan. Fenina yang tadinya terasa canggung dan tertutup, kini mulai tampak lebih terbuka dan luwes di hadapan Lusty.“Tinggal ditambahkan sedikit garam dan penyedap rasa secukupnya, Kak. Ingat, masakan yang enak itu tidak berlebihan bumbunya, seperti rasa kasih sayang,” jawab Fenina sambil tersenyum tipis, meski di dalam hatinya rahasia besar masih tersimpan rapat. Ia belum pernah sekalipun menyebutkan soal alat penyadap yang terpasang di setiap sudut ruangan, maupun tumpukan rekaman suara k
“Fenina… bolehkah aku meminta bantuanmu sebentar?” Lusty menyapa dengan nada lembut namun tegas saat mereka berpapasan di lorong kantor seusai jam makan siang. Matanya menatap tenang, tanpa sedikit pun amarah atau kecurigaan yang terlihat di permukaan. Fenina yang masih merasa canggung dan bersalah setelah kejadian di atap gedung semalam, seketika menegang.“Tentu saja, Kak Lusty. Apa yang bisa saya bantu?”Lusty tersenyum tipis. “Aku sadar satu hal yang menjadi kekuranganku. Aku sama sekali tidak pandai memasak. Padahal melihat kamu begitu rajin membawa masakan lezat untuk Mas Raman, aku merasa ingin belajar juga. Bisakah kamu menemaniku belanja bahan-bahan dapur, lalu mengajariku cara memasak makanan kesukaan suamiku di apartemen?”Permintaan itu terdengar begitu tulus dan polos, membuat Fenina tak sanggup menolak. Padahal di dalam hatinya, ia merasa semakin bersalah karena telah berniat merebut hati pria yang memiliki istri sebaik dan setulus Lusty.“Baiklah, Kak. Dengan senang hat
“Mas Raman… sudah selesai menyapu sudut sana?” Suara Fenina terdengar lembut namun jelas membelah heningnya udara di lantai paling atas gedung. Di atas sana, terbentang kanopi atap yang lebar dan teduh, menjulang menghadap langit biru cerah dengan pemandangan seluruh kota yang tampak indah dari ketinggian. Di salah satu sisi, terdapat meja kayu panjang dan beberapa kursi besi yang disediakan untuk tempat istirahat sesekali.Raman berhenti menyeka sisa debu di tepi lantai beton, lalu menoleh ke arah suara itu. “Sebentar lagi selesai, Mbak. Tumpukan daun kering dari pohon liar di sisi kanan sudah saya bersihkan semuanya.”Fenina tersenyum lebar, membetulkan letak piring dan kotak bekal yang sudah ia buka di atas meja. Aroma tumis jamur dan ikan bakar bumbu kuning yang baru saja ia masak mulai tercium wangi menggugah selera. “Sudah cukup dulu kerjanya, Mas. Makan siang sudah siap. Hari ini saya pastikan Kak Lusty sedang rapat di luar dan tidak akan kembali sebelum sore nanti. Kita punya
“Mas Raman… Mas Ramann… di mana Mas?” Suara Fenina terdengar berbisik lirih namun jelas di lorong belakang gudang penyimpanan. Ia memeluk erat kotak bekal berisi makanan hangat yang aromanya mulai menyebar lembut dari balik kain penutup. Langkah kakinya pelan namun pasti, matanya menyisir setiap sudut ruangan yang penuh tumpukan kardus kemasan produk skincare yang baru datang dari pabrik.Di sudut paling dalam gudang, terlihat sosok Raman sedang sibuk merapikan tumpukan kardus. Ia membagi berdasarkan jenis produk, menyusunnya rapi di rak besi yang sudah disapu bersih, dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal tergeletak di lantai. Keringat menetes pelan di pelipisnya, seragam kerjanya sedikit berkerut namun tetap terlihat rapi. Saat mendengar namanya dipanggil, ia berhenti sejenak dan menoleh ke arah sumber suara. “Saya di sini, Mbak Fenina. Ada yang bisa saya bantu?”Fenina tersenyum lebar begitu melihatnya. Ia berjalan cepat mendekat, memastikan tidak ada siapa pun yang melint
“Mas… kamu diam saja begitu… aku ingin memelukmu sebentar saja…” Tanpa menunggu jawaban, Fenina melangkah cepat dan langsung merangkul pinggang Raman erat. Tubuhnya menempel rapat pada dada bidang pria itu, kepalanya menyandar lembut di bahu kekarnya, membiarkan wangi parfumnya yang memabukkan menyelimuti indra penciuman Raman.Raman seketika membeku di tempat. Kedua tangannya tergantung lemas di sisi tubuh, tak berani bergerak sedikit pun. Jantungnya berdegup kencang bukan karena rasa suka, melainkan karena canggung dan gelisah. Saat ia hendak melepaskan pelukan itu perlahan, Fenina justru semakin mendekat, sengaja menyentuhkan pahanya ke bagian kejantanan Raman yang masih menegang akibat godaan sebelumnya.Raman menahan napas, wajahnya memerah padam. Ia merasakan sentuhan itu, namun di benaknya hanya terbayang wajah Lusty—senyumnya yang tulus, kelembutannya yang penuh kasih, dan janji setia yang pernah ia ucapkan di hadapan Tuhan dan manusia. Ia sadar dorongan alaminya merespons, na







