Teilen

Bab 90 : Aroma Intim

last update Veröffentlichungsdatum: 24.07.2026 10:43:47

“Wah, sup sayurnya sudah mulai mendidih sempurna, Fenina! Baunya saja sudah harum sekali.” Lusty tersenyum lebar sambil menatap panci yang mengepulkan uap hangat di atas kompor. Sejak hari Fenina mengajarinya memasak, hubungan mereka berdua semakin dekat dan hangat. Awalnya Lusty hanya ingin belajar membuat masakan kesukaan suaminya, namun lama-kelamaan ia menemukan sosok sahabat baru pada Fenina. Mereka sering berbagi cerita tentang hal-hal kecil, tentang pekerjaan, hingga tentang harapan di m
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 96 : Rumah Baru Lusty

    “Ah lagi… belum… belum selesai… ah enak…” Erangan Fenina memecah keheningan dapur, tubuhnya menegang sejenak seakan tersentak gelombang listrik sebelum kembali bergoyang berirama mengikuti aliran kenikmatan yang tak kunjung usai.RING RING!Ponsel yang berdering nyaring di atas meja tak sedikit pun mengalihkan perhatiannya—ia justru mempercepat gerakan tangannya, menggesek batang timun yang kini basah licin itu semakin kuat dan dalam, membiarkan rasa nikmat yang mendesak meledak berkali-kali berturut-turut hingga ia benar-benar merasa puas sejenak. Tubuhnya tersentak berulang kali, napasnya tersengal berat seolah habis berlari jauh, dan erangan panjang terus meluncur lepas dari bibirnya saat puncak kenikmatan datang silih berganti menyelimuti seluruh sarafnya.RING RING!Klimaksnya perlahan mereda dan kedua kakinya mulai terasa lemas tak bertenaga, ia baru meraih ponsel yang bergetar lagi di sisa meja yang belum dibereskan. “Halo… Kak Lusty…” suaranya masih terdengar berat dan sedikit

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 95 : Klimaks di Dapur

    “Ah… Mas… Yes ah begini… persis seperti ini…” Desahan panjang dan bergetar meluncur bebas dari bibir Fenina, memecah keheningan pagi yang masih sepi dan sunyi di dalam apartemen itu. Ia berdiri bersandar erat pada tepi meja dapur yang permukaannya dingin dan licin, sementara pandangannya tampak kosong namun matanya berbinar terang diliputi gairah yang meluap tak terbendung. Di sekelilingnya masih berantakan sisa bahan-bahan sarapan yang baru sebagian disiapkan, namun pikirannya sudah melayang jauh kembali ke puluhan rekaman suara yang telah ia hafal di luar kepala—suara gesekan kulit yang saling bersentuhan, desahan nikmat yang saling bersahutan, dan irama gerakan yang teratur saat Lusty dan Raman saling meluapkan kasih sayang tepat di ruangan ini.Bayangan itu terasa begitu nyata, seolah adegan itu sedang berlangsung tepat di hadapan matanya sendiri. Ia bisa mendengar kembali suara Lusty yang memanggil nama suaminya dengan penuh kerinduan, suara derit meja yang bergoyang pelan seiram

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 94 : Nyaris Terbongkar

    “Hening sekali… akhirnya mereka tertidur.” Fenina berbisik lirih, matanya masih terpaku pada lampu indikator alat perekam yang berkedip pelan berirama dengan detak jantungnya sendiri. Suara percakapan hangat tentang masa depan dan rencana keluarga perlahan meredup, berganti menjadi keheningan yang panjang dan menenangkan. Sesekali terdengar suara napas yang teratur dan tenang—tanda pasti bahwa Lusty dan Raman sudah terlelap pulas dalam pelukan satu sama lain di seberang tembok pembatas itu.Kelelahan akibat menegang perasaan semalaman, ditambah hanyutnya emosi yang bergolak antara rasa iri yang membara dan tekad yang semakin mengeras, membuat kelopak matanya terasa berat tak tertahankan. Tanpa sadar, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa yang empuk, lalu memejamkan mata sejenak berharap hanya mengistirahatkan pandangan saja. Tak butuh waktu lama, kelelahan itu menaklukkannya; ia pun terlelap di ruangan yang remang dan sunyi itu, sementara alat penyadap di hadapannya masih menya

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 93 : Menyadap Percakapan

    “Ah, mereka tidak bercinta mungkin karena lelah ... dari tadi hanya percakapan…” Fenina berbisik pelan sambil mencondongkan telinga lebih dekat ke alat penyasap suara yang terhubung ke setiap sudut apartemen sebelah. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan, tangannya meremas ujung baju dengan gelisah yang semakin menyesakkan dada. Sejak duduk terpaku di depan alat penyadap ini, ia sudah mempersiapkan diri—menanti suara desahan lembut, erangan penuh gairah, atau bisikan cinta yang biasa memenuhi telinganya setiap malam. Namun kali ini, yang terdengar bukanlah suara keintiman yang ia dambakan, melainkan percakapan yang begitu tenang, hangat, dan sarat akan perencanaan masa depan yang tampak begitu indah dan kokoh.“Nanti kalau rumah sudah siap huni, kita bisa menanam pohon mangga dan rambutan di halaman depan ya, Mas. Biar anak cucu kita nanti bisa memetik buahnya sendiri, sambil bermain berlari-larian di bawah teduhnya daun yang rimbun,” ujar suara Lusty terdengar begitu lembut, penu

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 92 : Menutupi Jejak

    “Harus bersih… tidak boleh ada satu pun jejak yang tersisa.” Fenina berbisik pelan pada dirinya sendiri sambil merendam sarung bantal yang basah lembap ke dalam bak cuci. Air hangat bercampur sabun wangi berbusa banyak, membasuh setiap noda yang menempel di kain lembut itu seolah ingin menghapus segala bukti yang sempat tercipta. Tangannya bergerak cepat namun hati-hati, meremas kain berulang kali dengan tekanan yang tak terlihat—seiring gerakan itu, ia juga seolah ingin mengusap sisa rasa nikmat yang baru saja melanda seluruh tubuhnya, menyatukan kenikmatan rahasia itu dengan buih yang perlahan larut terbawa air. Ia berkali-kali membilasnya, mengulangi gerakan itu berkali-kali hingga air buangan yang mengalir keluar terlihat bening sepenuhnya, memastikan tak ada sedikit pun bekas, tak ada jejak sekecil apa pun yang bisa dicurigai oleh siapa pun nantinya.Setelah merasa yakin cukup bersih dan tak ada lagi yang tertinggal, ia memerasnya perlahan agar kain itu tak rusak, lalu menggantun

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 91 : Hasrat di Atas Kasur

    “Ah… Mas Raman ya… rasanya… ah geli…” Desahan panjang meluncur bebas dari bibir Fenina, bergema di ruangan kamar tidur yang kini sepi dan terkunci rapat. Ia sudah memastikan semua pintu dan jendela terkunci, memastikan tak ada satu pun mata yang bisa melihat, tak ada telinga yang bisa mendengar apa yang sedang ia lakukan di kasur Lusty. Tanpa sehelai kain pun menutupi tubuhnya, ia berada di atas bantal di tengah kasur empuk itu.Desahan panjang, lembut namun sarat akan kenikmatan, meluncur bebas dari bibir Fenina sebelum ia sempat menahannya. “Ah… Mas… rasanya… ah…” Suaranya bergema di ruangan kamar tidur yang kini sepi dan terkunci rapat, menyatu dengan keheningan yang ia bangun sendiri.Aroma tubuh Raman yang selalu ia dambakan masih tertinggal di sana—aroma sabun yang bersih bercampur dengan wangi khas tubuhnya yang hangat, aroma yang setiap kali ia cium selalu membuat jantungnya berdegup kencang dan hasratnya mulai menyala. Dengan napas yang mulai memburu dan dada yang naik turun

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status