Share

Bab 4. Seperti neraka.

Author: Riaal
last update publish date: 2026-09-09 08:05:26

“Dasar. Wanita benalu!” Sari menjambak rambut Alika.

“Ampun, Bu.” Alika memegangi kepalanya yang terasa sakit.

“Ampun katamu? Gara-gara kamu, anakku masuk penjara. Gara-gara kamu juga, sekarang aku menderita. Mulai sekarang kamu harus bekerja, dan uangnya kasih ke aku!” Sari melepaskan genggamannya dengan kasar, sehingga Alika pun nyaris tersungkur di lantai.

Sari beranjak dari tempatnya. Dia pun berjalan ke kamar dan mengambil tas tangan yang ada di atas almari. Setelahnya Sari pun pergi dari rumah.

Alika masih merasakan nyeri di bagian inti tubuhnya. Tak heran, karena dirinya belum genap sebulan melahirkan.

Alika menyeret langkah perlahan dengan bertumpu pada dinding untuk menopang tubuhnya sampai ke kamarnya. Alika langsung membaringkan tubuhnya di ranjang dengan perlahan, karena putrinya tengah tidur dengan nyenyaknya.

Baru Alika akan menutup mata dan mencoba menahan rasa sakit yang ada di inti tubuhnya. Kini di luar terdengar suara yang sangat berisik sekali.

Tak lama, suara pintu kamarnya yang dibuka dengan kasar membuat Alika terbangun

“Ada apa, Ma?” tanya Alika.

“Ada apa? Aku mau es coklat sekarang juga!” titah Sari.

Sari berbalik ke luar dari kamar Alika dan duduk di depan televisi. Suasana hati Sari sedang tak baik, lantaran dirinya tak jadi pergi. Alika beranjak dari ranjang dan berjalan menuju dapur dengan langkah perlahan.

‘Ah, apa dosaku, sehingga aku terjebak di dalam rumah tangga seperti ini,’ batin Alika sambil menyiapkan es coklat untuk ibu mertuanya.

“Jangan pakai lelet. Aku mau cepat!” teriak Sari.

Alika hanya menghela nafas dengan kasar. Setelah berapa lama, Alika pun selesai membuatkan es coklat. Alika masih dengan berjalan sangat pelan dan memegangi perutnya yang terasa nyeri. Dia mengantarkan segelas es coklat ke meja televisi di mana Sari berada.

“Sudah, Ma,” kata Alika.

Sari dengan sigap langsung mengambil gelas dan menyendok es coklat itu ke dalam mulutnya. Sementara Alika kembali berjalan dengan perlahan menuju kamarnya. Sesampainya di dalam kamar, Alika terduduk di lantai. Badannya seperti tak bertulang, lemas dan tak berdaya.

“Mas, apa salahku? Sampai kamu membawaku dalam rumah tangga yang seperti ini.” Tanpa terasa air mata mulai mengalir di wajah ayu Alika.

Ingin rasanya dia berteriak sekedar menghilangkan sesak di dada.

Alika semakin menderita semenjak Bima Sakti, suaminya diduga mengedarkan barang haram.

Alika menyandarkan kepala di ranjang sembari melihat bayi mungil yang baru saja ia lahirkan sebulan yang lalu.

“Kalau bukan karena Bulan, aku pasti sudah meninggalkan rumah neraka ini,” gumamnya.

Alika beranjak dari lantai, dia memilih untuk membaringkan tubuhnya di samping Bulan. Tanpa terasa Alika pun tertidur.

Betapa naasnya Alika, ketika dirinya tertidur, hujan deras turun dengan tiba-tiba. Semua baju yang masih dijemur langsung basah kuyup.

Sari yang berada di depan televisi langsung kelabakan. Dia membangunkan Alika dengan kasar. Alika yang terkejut karena dibangunkan dengan mendadak merasa oleng.

“Cepat, angkat jemuran itu!” perintah Sari

Tanpa pikir panjang dan mengabaikan sakitnya, Alika berlari menuju jemuran untuk mengambil pakaian yang sudah basah terkena air hujan.

Saat Alika ingin membawa masuk baju yang dia bawa, tanpa sengaja Alika menginjak batu yang licin dan seketika, Alika terjatuh. Baju yang dia bawa pun langsung kotor.

“Aduh! Aku nggak mau tahu. Cepat cuci ulang baju-bajuku,” kata Sari.

Alika bangun dari jatuhnya dengan kepayahan. Dia merasakan sakit di bagian pinggangnya. Saat Alika memasukkan kembali baju untuk dicuci ulang.

“Awas saja, sampai baju-baju aku nggak bersih,” ancam Sari.

Alika memilih tak menjawabnya. Ia terus memilih baju yang akan dia cuci ulang.

Sari langsung naik pitam tak mendapatkan respon balik dari Alika.

“Dasar benalu!” maki Sari.

Kini Sari menjambak rambut Alika. Di tambah dia langsung melepaskan rambutnya dengan sangat kasar dan membuat Alika harus merasakan sakit di bagian belakang. Di tambah, tanpa sengaja keningnya membentur bagian ujung meja sehingga membuatnya berdarah dan merasa pening.

Alika langsung menyentuh bagian yang terasa perih. Seketika tangannya berlumuran darah. Darah itu pun mengalir di kening Alika.

“Sudah. Jangan cengeng. Begitu saja cengeng, cepat selesaikan pekerjaanmu. Setelahnya masak. Aku sudah sangat lapar.” Sari berkata dengan kasar sembari berbalik meninggalkan Alika.

Alika tak menghiraukan sakitnya, walau masih terasa berdenyut. Setelah memasukkan kembali pakaian ke dalam mesin cuci, Alika langsung membersihkan lukanya dan menutup dengan kain kasa dan plaster.

“Alika. Anakmu berisik sekali!” teriak Sari.

Alika langsung berlari tergopoh menuju kamarnya dan langsung mengendong Bulan.

“Sebentar, Sayang. Maafkan ibu.” Alika berubah menjadi wanita kuat dan tangguh ketika bersama dengan putri mungilnya.

Alika menggendong Bulan, sambil menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai. Sementara Sarii sedang menyusun rencana untuk menyiksa Alika dan anaknya.

“Alika. Cepat masak. Aku sudah lapar!” Sari kembali berteriak dari depan televisi.

“Sebentar Ma,” jawab Alika lirih.

“Buatkan aku nasi goreng. Nggak pakai lama!” Sari Kembali berteriak.

Alika hanya bisa mendengus dengan kesal. Namun, dia tak bisa melawan apa lagi berontak. Alika hanya bisa pasrah dengan apa yang harus ia jalani.

Alika mulai berjalan perlahan menuju dapur, di sana dia mulai memasak sembari menggendong Bulan. Namun, kali ini gerakan Alika tak bisa gesit. Selain karena sudah kehabisan tenaga, Alika merasakan kepalanya sangat pening, setelah terkena air hujan dan terbentur meja.

Alika tetap menjaga kesadarannya sampai dirinya selesai masak. Setelah selesai, dirinya langsung menyiapkan dua piring di meja makan.

“Mama Sari, masakan sudah siap,” kata Alika.

Sari langsung beranjak dari duduknya dan berjalan menuju meja makan. Dia langsung menyantap nasi goreng yang di masak Alika tanpa memedulikan Alika yang sedang pusing, lapar dan kedinginan.

Alika kembali lagi ke dapur, dia memindahkan sedikit sisa nasi goreng ke dalam piring, Alika tersenyum.

“Alhamdulilah, aku bisa makan setelah ini,” gumamnya.

Takut ketahuan Sari, Alika pun memindahkan nasi ke dalam kertas pembungkus. Dia pun langsung menyelipkannya di dalam gendongan Bulan.

“Nitip sebentar ya, Nak. Ibumu ini sangat kelaparan,” kata Alika.

Setelahnya Alika berjalan ke kamar sembari menunggu mesin cuci berhenti bekerja.

Sesampainya di kamar, tak lupa dia mengunci pintu. Alika langsung membuka pembungkus nasi, dia makan dengan sangat lahap sampai tak ada waktu untuk mengambil napas. Dalam pikiran Alika, dirinya harus selesai makan sebelum ibu mertua dengan suara toa yang hobi teriak-teriak itu selesai makan.

“alhamdulilah, aku sudah selesai makan.” Alika berkata sembari mengatur nafasnya yang terasa sesak, karena terlalu buru-buru dalam mengunyah.

Alika menelan nasi goreng yang terakhir dengan kasar. Bahkan matanya sampai melotot karena kepayahan dalam menelan. Di tambah di dalam kamar tak ada air minum

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 11.

    Sedangkan dengan Kartika, dia saat ini sedang melaju untuk pulang ke rumahnya. Hatinya sangat berbunga-bunga, pasalnya ATM berjalannya sedang meluncur untuk bertemu dengannya."Aku akan bertemu dengan Mas Tyo. Dia akan semakin lengket denganku, aku pun akan mendapatkan pundi-pundi uang sebagai ganti saat mengeluarkan uang kemarin." Kartika memang sangat berambisi dengan uang.Bahkan dia tak jarang sering menggunakan Bintang sebagai jembatan untuk meminta uang kepada Bima. Namun semenjak bertemu dengan Prastyo, dia tak pernah lagi meminta uang pada Bima. Tetapi berambisi menghancurkan keluarga kecil itu.Tak membutuhkan waktu lama, dia sudah sampai di depan rumahnya yang asli. Kartika pun langsung memarkirkan mobilnya. Dia bergegas masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri sejenak."Aku harus tampil bersih dan wangi. Biar Mas Tyo semakin lengket," gumamnya.Setelah selesai mandi, dia pun mengenakan pakaian tersexinya. Tak lupa dia pun menggunakan parfum untuk tubuhnya. Biar terasa wan

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 10.

    Sedangkan dengan Kartika, dia saat ini sedang melaju untuk pulang ke rumahnya. Hatinya sangat berbunga-bunga, pasalnya ATM berjalannya sedang meluncur untuk bertemu dengannya."Aku akan bertemu dengan Mas Tyo. Dia akan semakin lengket denganku, aku pun akan mendapatkan pundi-pundi uang sebagai ganti saat mengeluarkan uang kemarin." Kartika memang sangat berambisi dengan uang.Bahkan dia tak jarang sering menggunakan Bintang sebagai jembatan untuk meminta uang kepada Bima. Namun semenjak bertemu dengan Prastyo, dia tak pernah lagi meminta uang pada Bima. Tetapi berambisi menghancurkan keluarga kecil itu.Tak membutuhkan waktu lama, dia sudah sampai di depan rumahnya yang asli. Kartika pun langsung memarkirkan mobilnya. Dia bergegas masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri sejenak."Aku harus tampil bersih dan wangi. Biar Mas Tyo semakin lengket," gumamnya.Setelah selesai mandi, dia pun mengenakan pakaian tersexinya. Tak lupa dia pun menggunakan parfum untuk tubuhnya. Biar terasa wan

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 9

    Melihat anaknya pergi, menggunakan mobil bagus dan lumayan kinclong. Membuat Mama Sari seperti cacing kepanasan. Dia pun langsung berlari ke dalam rumah dan buru-buru membangunkan Ana."Ana, cepat bangun, Na. Kamu lihat kakak kamu pergi pakai mobil bagus," kata Mama Sari dengan panik."Aduh Ma, palingan dia minjem temennya, udah Ah, mama minggir," kata AnaAna pun menggerutu sembari membetulkan posisi tidurnya dan letak selimutnya.Mama Sari tak putus asa. Dia terus membangunkan Ana, sampai putri bungsunya itu nyaris marah."Lihat. Kamu lihat, mama sudah rekam mereka saat pergi. Ini mobilnya, aduh, kinclong lagi," kata Mama Sari dengan berapi-api.Wanita tua hampir setengah abad itu masih sangat menggilai duniawi. Bahkan beliau masih menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kesenangan dunianya."Coba mobilnya Anton kek gitu. Aduh, pasti aku makin cinta," racau mama Sari.Sedangkan Ana hanyaenatap heran ke arah mamanya. Dia masih tak habis pikir dengan sikap mamanya yang mata duitan.

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 8. Kepanikan Mama Sari.

    Melihat anaknya pergi, menggunakan mobil bagus dan lumayan kinclong. Membuat Mama Sari seperti cacing kepanasan. Dia pun langsung berlari ke dalam rumah dan buru-buru membangunkan Ana."Ana, cepat bangun, Na. Kamu lihat kakak kamu pergi pakai mobil bagus," kata Mama Sari dengan panik."Aduh Ma, palingan dia minjem temennya, udah Ah, mama minggir," kata AnaAna pun menggerutu sembari membetulkan posisi tidurnya dan letak selimutnya.Mama Sari tak putus asa. Dia terus membangunkan Ana, sampai putri bungsunya itu nyaris marah."Lihat. Kamu lihat, mama sudah rekam mereka saat pergi. Ini mobilnya, aduh, kinclong lagi," kata Mama Sari dengan berapi-api.Wanita tua hampir setengah abad itu masih sangat menggilai duniawi. Bahkan beliau masih menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kesenangan dunianya."Coba mobilnya Anton kek gitu. Aduh, pasti aku makin cinta," racau mama Sari.Sedangkan Ana hanyaenatap heran ke arah mamanya. Dia masih tak habis pikir dengan sikap mamanya yang mata duitan.

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 7. Kepergian Bima Sakti.

    "Apa? Apakah seperti ini perlakuanmu pada menantu keluarga ini?" Tanya Bima Sakti sembari memicingkan mata."Bima. Nak, kamu sudah keluar, syukurlah." Mamanya langsung berubah raut wajahnya."Kalau sudah kenapa? Kenapa itu Alika keningnya terluka? Kenapa tubuhnya kurus kering, baru juga aku tinggal seminggu. Kamu apakah?" Tanya Bima tanpa memandang mamanya.Bersamaan dengan itu Ana berteriak dari ruang tamu."Alika benalu. Kamu dengar nggak sih saat di panggil?!" Ana berteriak."Apakah memang seperti ini perlakuan kalian? Memanggil istriku dengan benalu? Berteriak dan nggak ada sopan santunnya sama sekali." Bima menatap mamanya dengan tatapan penuh kemarahan."Nggak begitu, Bim. Kamu sayang kok sama Alika." Mamanya berbohong."Sekarang, keluar dari kamarku. Aku mau istirahat." Bima berkata dengan tegas.Mamanya tak bisa berkutik. Dia tak bisa mengatakan apa pun selain menuruti apa yang Bima katakan. Mamanya pun berbalik dan meninggalkan kamar Bima. Bima pun langsung membanting pintu t

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 6. Kemarahan Bima.

    Bima duduk di lorong depan ruang ICU. Sembari mengendong Bulan yang sedang terlelap, tak berapa lama datang seorang perawat yang tadi merawat Alika."Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Bima Sakti."Sudah di tangani. Rupanya istri anda mengalami pendarahan hebat, apa tadi beliau terjatuh? Di saat baru saja melahirkan harusnya jangan melakukan sesuatu yang berat," terang perawat itu."Saya tidak tau. Saya baru pulang dari luar kota," kata Bima berbohong."Baiklah, mungkin sekitar dua jam lagi pasien sudah bisa pulang," kata perawat itu."Baik, terima kasih, sus," kata Bima sakti.Perawat itu pun langsung berlalu dan meninggalkan Bima sakti. Sedangkan Bima kembali duduk dan memandang wajah putrinya yang masih terlelap di pelukannya."Sebenarnya apa yang terjadi pada ibumu, kenapa dia tampak sangat tersiksa sekali," kata Bima bermonolog.Dia jam kemudian, Alika keluar dari kamar perawatan menggunakan kursi roda. Dia pun di bantu oleh seorang perawat yang berada di belakangnya."Terima k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status