LOGINBella tersenyum puas mendengar jawaban Shin. "Jangan menyesal. Setengah dari keuntunganmu mungkin akan kuambil dalam sekejap."Shin tidak peduli. "Benarkah? Aku tidak percaya kau bisa melakukannya."Keduanya terus berjalan dan sesekali masuk ke toko yang menarik perhatian Bella. Setiap keluar dari toko, Shin pasti membelikan sesuatu yang dia rasa disukai Bella, meskipun Bella hanya melihatnya sekilas.Setelah beberapa kali keluar masuk toko yang berbeda, Bella menyadari bahwa para karyawan di sana sepertinya tidak mengenali Shin. Sebagai pemilik utama distrik ini, pria itu seharusnya cukup menunjuk barang yang dia inginkan dan langsung mendapatkannya. Namun, Shin tetap membayar dengan kartu hitam miliknya. Sikap para karyawan juga sangat biasa, seperti melayani pengunjung pada umumnya.Dugaan Bella terbukti saat dia bertanya secara acak kepada salah satu staf butik, ketika Shin sedang membayar di kasir."Pelayanan di sini sangat bagus. Saya juga suka dengan desain pakaian di sini," ka
Bella sempat mengira ada sesuatu yang berbahaya atau seseorang sedang mengintai mereka, sampai-sampai Shin memberikan perintah dengan nada sekeras itu. Dengan gerakan refleks yang sangat cepat, ia segera menarik kembali kakinya masuk ke dalam kabin, membanting pintu hingga tertutup rapat, dan langsung menekan tombol pengunci otomatis.Tidak lama setelahnya, terdengar suara ketukan pelan di kaca jendela samping. Bella menoleh dan mendapati Shin sedang berdiri di luar dengan salah satu sudut bibirnya yang berkedut, menahan senyuman geli.'Apa yang sebenarnya terjadi?' pikir Bella kebingungan.Ia menurunkan kaca mobilnya sedikit, lalu bertanya dengan nada waspada sembari sepasang matanya bergerak memeriksa area depan dan belakang mobil. "Ada apa? Kenapa kau mendadak menyuruhku masuk kembali ke dalam?""Tidak ada apa-apa. Buka dulu kunci mobilnya," sahut Shin santai.Jawaban instan dari Shin justru membuat Bella semakin bingung sekaligus dongkol. "Lalu apa maksud dari bentakan tegasmu tad
Kali ini tidak ada lagi acara menutup mata seperti sebelumnya. Bella dengan puas menatap ke luar jendela, mengamati jalanan yang tampaknya cukup familiar di penglihatannya. Ia ingat pernah melewati jalur jalanan ini sebanyak dua kali bolak-balik sebelumnya."Kau ingin membawaku pergi ke luar kota?" tanya Bella memastikan.Jalan raya yang sedang dilalui oleh mobil mereka saat ini adalah jalur utama menuju ke arah perbatasan kota Whitesand yang menghubungkan langsung ke kota Blackstone."Bisa dibilang iya," jawab Shin sembari fokus menatap jalan di depannya. "Kita akan menuju ke suatu tempat terisolasi yang bahkan pemerintah kota Blackstone pun sudah lupa memiliki tempat itu."Bella tidak paham dengan deskripsi tempat misterius yang disebutkan oleh pria itu. "Apa sebenarnya nama tempatnya?""Tempat bisnisku," balas Shin singkat.Merasa sudah cukup mendapatkan jawaban awal, Bella memilih untuk tidak lagi melempar pertanyaan. Dari kata-kata tersebut, ini mungkin adalah salah satu bisnis m
Keesokan paginya.Bella tidak pernah menyangka Shin ternyata memiliki masa lalu yang cukup berat. Pembicaraan mereka malam itu berakhir begitu saja setelah pria itu menanamkan rasa penasaran mengenai cerita pertemuannya dengan sang ibu di masa lalu."Apakah kamu ingin menjadikanku sebagai kekasihmu murni karena alasan masa lalu ini?" tanya Bella.Langkah kaki Shin mendadak terhenti tepat di ambang pintu balkon ketika mendengar pertanyaan tersebut. Menghela napas panjang, Shin memilih tidak membalikkan badannya saat membalas. "Apakah kamu selalu mempertanyakan motif dan alasan ketika ada seseorang yang mencoba bergerak mendekatimu, Bella?"Bella sempat tergagap sesaat. "Kau sendiri tahu bagaimana latar belakang keluargaku. Di masa lalu, aku pernah memiliki teman, bahkan pria yang berniat mendekatiku hanya demi tujuan terselubung lainnya."Bella memalingkan wajah, menghindari tatapan tajam milik Shin. "Maka dari itu, jangan merasa tersinggung kalau aku selalu menanyakan hal ini kepadamu
"Setelah semua luka kami mengering, aku, Rico, dan Vito akhirnya diizinkan untuk tinggal sementara waktu di desa perbatasan tersebut," lanjut Shin, menatap lurus ke dalam manik mata cokelat Bella. "Semua warga di sana memperlakukan kami dengan sangat baik. Selain merawat kami bertiga hingga sembuh total, orang-orang di desa juga mengajarkan kami beberapa kemampuan dasar untuk bertahan hidup secara mandiri. Sebagai gantinya, kami ikut membantu pekerjaan apa saja yang bisa kami lakukan di sana, hitung-hitung sebagai bayaran atas tumpangan dan makanan selama kami tinggal."Shin menjeda kalimatnya, menghela napas pendek. "Pertemuan kami dengan Nyonya DeLuca sendiri sebenarnya tidak banyak. Setelah seminggu kami sadar dan kondisi fisik kami hampir sembuh, kami tidak pernah lagi bertemu dengannya secara langsung. Nyonya DeLuca tidak lagi berkunjung ke desa itu. Namun, aku tahu dari pembicaraan kepala desa bahwa Ibumu adalah penyokong dana utama yang mengidupi seluruh warga di sana.""Bisa d
Melihat kondisi fisik kakak beradik itu yang jauh lebih lemah darinya dan terus-menerus terluka, Shin akhirnya mengambil keputusan nekat untuk membawa mereka pergi melarikan diri dari pemukiman itu. Setelah berjalan tanpa arah selama tiga hari tiga malam penuh menembus lebatnya hutan, langkah kaki mereka akhirnya sampai di area perbatasan kota Blackstone.Saat itu, Shin sama sekali tidak memiliki keberanian untuk membawa Rico dan Vito memasuki desa terdekat. Ia benar-benar tidak yakin apakah anak-anak kotor dari Blackstone seperti mereka akan diterima dengan baik oleh penduduk di sana. Tapi di sisi lain, kondisi fisik Shin yang sedang menggendong tubuh Vito sudah berada di ambang batas. Ia sudah tidak kuat lagi berjalan.Begitu pula dengan Rico. Tubuhnya ambruk, jatuh berbaring tak berdaya di atas tanah. Selain menahan rasa kesakitan yang luar biasa karena infeksi luka-luka di sekujur tubuh, mereka bertiga juga menderita kelaparan yang teramat sangat.Di saat ketiganya berada dalam ko
Steve melihat jam di dashboard dan langsung panik. Sudah jam empat sore, dan ia belum menjemput Alan.Pikiran Steve sedang bercabang ke mana-mana saat ini, memikirkan ayahnya yang berada di penjara, ibunya yang pingsan di rumah, dan putranya yang belum ia jemput di sekolah.Saat melihat gerbang sek
Asisten itu langsung mendongak untuk melihat Komandan Lombardi yang menyerahkan handphone tersebut kepada anak buahnya. Sebelum ia sempat memprotes, ia mendengar Komandan Lombardi memerintahkan bawahannya untuk menggeledah Barna dan asistennya, lalu mengambil semua handphone milik keduanya.Barna b
Pagi harinya, Giovanni, Komandan Lombardi, dan pemimpin pengawal berangkat lebih awal ke gedung pemerintahan. Ia sengaja berangkat sebelum banyak karyawan datang karena membawa sesuatu yang rahasia.Tidak lama kemudian, beberapa orang datang ke ruangan walikota. Mereka adalah Chiara yang menjadi ja
Luca sedang berada di kantor perusahaannya. Tangan dan matanya sibuk memeriksa tumpukan pekerjaan didepannya.Vito mengetuk pintu kemudian masuk dan memberitahu, “Bos, orang-orang pemerintahan sepertinya mulai bergerak.”Luca tidak mengangkat wajahnya. Tangannya masih sibuk menulis, lalu ia menjawa







