LOGIN"Jika lain kali kamu tidak sengaja bertemu dengannya lagi, kamu harus segera menjauh. Dia adalah perempuan yang sangat licik," ujar Shin memberikan peringatan tegas begitu mereka sudah berada di dalam perjalanan pulang.Bella menaikkan salah satu alisnya, menatap Shin dari kursi samping. "Bukankah dia adalah teman seperjuanganmu dulu? Kenapa aku harus menjauhinya? Dan... seberapa licik sebenarnya dia... dan kamu, Shin?"Shin mendadak terdiam dan tidak menjawab. Bella tahu pasti ada sebuah cerita di antara mereka berdua di masa lalu. Pikirannya melayang pada cerita masa kecil Shin yang pernah ia dengar. Mungkin kejadian itu terjadi setelah dirinya diculik dari desa dulu.Setelah pertanyaan itu, keduanya mendadak menjadi diam dan hening di dalam mobil. Suasana di antara mereka berubah total menjadi canggung, sangat berbeda dengan atmosfer hangat saat mereka berangkat berbelanja tadi. Bella sengaja tidak bertanya lagi atau mendesak siapa sebenarnya perempuan itu. Baginya, akan percuma te
Tempat yang diputuskan untuk membeli segala kebutuhan adalah sebuah mal yang cukup besar di daerah tersebut. Keduanya langsung melangkah memasuki swalayan di dalam mal yang menjual berbagai sayuran dan daging segar. Shin dan Bella segera berbelanja dan fokus memilih bahan-bahan yang dibutuhkan, tanpa menyadari adanya seseorang yang mengenali mereka dari kejauhan.Saat tiba di kasir, Bella segera mengeluarkan semua belanjaan dari keranjang untuk dihitung. Namun, ketika Bella hendak membuka dompet untuk membayar, Shin sudah menyodorkan kartu kreditnya ke petugas kasir."Jangan. Jumlah belanjaan ini tidak seberapa," ujar Shin, menahan tangan Bella.Bella kembali menutup dompetnya lalu menjawab dengan nada tenang, "Kau melakukannya dengan baik."Setelah selesai, mereka berjalan beriringan menuju area parkir. Namun, sebelum mereka sempat mencapai mobil, sebuah suara perempuan tiba-tiba memanggil dari arah belakang."Shin."Panggilan singkat itu seketika membuat langkah kaki keduanya terhen
Sesampainya mereka di depan rumah Bella, Adrian berpamitan untuk kembali ke rumah kecilnya terlebih dahulu demi membersihkan diri setelah seharian bekerja di rumah sakit. Begitu masuk ke dalam rumah, Chiara pun segera meminjam pakaian santai milik Bella dan langsung menggunakan kamar mandi untuk menyegarkan badan.Sementara itu, Shin tampak duduk dengan santai di sofa ruang tamu. Bella datang membawakannya secangkir kopi hitam hangat tanpa gula. Keduanya kemudian mulai berbicara dengan mengecilkan volume suara mereka."Apakah kau merasa keberatan dengan kehadiran kedua temanku, Shin?" tanya Bella sembari duduk di sampingnya.Shin menyeruput kopi hitamnya sedikit, lalu menyandarkan punggungnya dengan gaya dominan yang biasa ia tunjukkan. "Tentu saja tidak. Kedua temanmu itu tidak mengganggu sama sekali, meskipun harus kuakui bahwa mereka masih sangat waspada terhadapku."Bella mendengus tipis. "Jelas saja mereka waspada. Tanpa perlu kau membeberkan identitas aslimu pun, kedua temanku i
Chiara mengernyitkan dahi. Ia sebenarnya masih ingin memprotes dan mengatakan bahwa kehadiran Shin bukannya membawa kebahagiaan untuk Bella, melainkan justru mendatangkan rentetan masalah. Namun, kata-kata itu akhirnya ia telan kembali. Ia tidak ingin terkesan terlalu mengekang jalan hidup sahabatnya sendiri. Sebagai seorang sahabat, Chiara hanya ingin Bella selalu bahagia dan baik-baik saja."Baiklah, kali ini saya terima janji Anda. Saya harap tidak ada yang salah dengan diri Anda, Tuan Luca," ujar Chiara akhirnya.Shin tersenyum tipis melihat kewaspadaan Chiara yang begitu tinggi. Beruntung bagi pria itu karena saat ini Chiara belum mengetahui identitas rahasianya. Tampaknya, Bella memang masih menutup rapat kenyataan tersebut. Shin sendiri sangat paham bahwa tidak akan mudah bagi Bella untuk membeberkan kepada orang lain bahwa pria di dekatnya adalah seorang bos besar mafia. Ada terlalu banyak pertimbangan rumit yang harus dipikirkan oleh gadis itu.Adrian menyipitkan matanya, men
Beberapa hari kemudian berlalu. Hubungan Bella dan Shin berjalan seperti biasa, hanya saja kini ada beberapa momen intim yang mulai mewarnai kebersamaan mereka.Saat jam pulang sekolah tiba, ponsel Bella bergetar. Sebuah pesan dari Shin mengabarkan bahwa pria itu sudah menunggunya di depan gerbang sekolah TK. Malam ini, keduanya memang berencana untuk makan siang dan makan malam bersama di luar. Ekspresi wajah Bella saat membalas pesan itu tampak biasa saja, namun tangannya bergerak jauh lebih cepat dari biasanya saat membereskan barang-barang di atas meja."Sampai jumpa, Miss Clara," pamit Bella kepada rekan sesama gurunya."Sampai jumpa juga, Miss Bella. Hati-hati di jalan," balas Miss Clara ramah.Begitu melangkah keluar gedung, Bella langsung bisa melihat sosok Shin yang sedang bersandar santai di bawah pohon yang cukup rindang. Pria itu tampak sibuk dengan ponsel di tangannya. Bella mempercepat langkah kakinya, namun panggilan nyaring dari arah belakang mendadak membuat seluruh t
Di sebuah tempat yang cukup tersembunyi dengan penerangan yang minim, ruangan yang terhitung luas itu mendadak terasa sempit. Lebih dari lima puluh orang berkumpul di sana untuk mendiskusikan sesuatu. Suara mereka terdengar pelan, menandakan bahwa pembicaraan ini sangat serius dan rahasia. Meski berada dalam cahaya yang remang-remang, guratan kemarahan tetap terlihat jelas di wajah pria-pria berbadan kekar dan garang yang mendominasi ruangan tersebut."Sialan! Ini semua gara-gara Shin Vitali! Kenapa dia harus menghancurkan kelompok kita?" umpat Pria A dengan mengepalkan tangan. "Kalau memang ingin menghukum, dia tidak perlu sampai meratakan markas kita!""Kita sudah seperti tikus got sekarang, hanya bisa bersembunyi di tempat terpencil dan sempit seperti ini," timpal Pria B dengan nada frustrasi. "Setiap kali keluar, kita harus ekstra hati-hati agar tidak berpapasan dengan kelompok lain. Apakah kita akan terus hidup seperti ini?""Kita harus memikirkan cara untuk membalas dendam," sah
Asisten itu langsung mendongak untuk melihat Komandan Lombardi yang menyerahkan handphone tersebut kepada anak buahnya. Sebelum ia sempat memprotes, ia mendengar Komandan Lombardi memerintahkan bawahannya untuk menggeledah Barna dan asistennya, lalu mengambil semua handphone milik keduanya.Barna b
Pagi harinya, Giovanni, Komandan Lombardi, dan pemimpin pengawal berangkat lebih awal ke gedung pemerintahan. Ia sengaja berangkat sebelum banyak karyawan datang karena membawa sesuatu yang rahasia.Tidak lama kemudian, beberapa orang datang ke ruangan walikota. Mereka adalah Chiara yang menjadi ja
Luca sedang berada di kantor perusahaannya. Tangan dan matanya sibuk memeriksa tumpukan pekerjaan didepannya.Vito mengetuk pintu kemudian masuk dan memberitahu, “Bos, orang-orang pemerintahan sepertinya mulai bergerak.”Luca tidak mengangkat wajahnya. Tangannya masih sibuk menulis, lalu ia menjawa
Adrian baru saja parkir di halaman dan keluar dari mobil ketika mendengar seseorang memanggilnya. Ia melihat Nenek Sophia berdiri di depan gerbang dan menyuruhnya mendekat.“Adrian, kemari sebentar,” panggil Nenek Sophia. Suaranya cukup pelan, dan matanya sesekali melirik ke rumah Bella.Adrian mer







