LOGINRico menjawab dengan tetap santai, meskipun guratan matanya memancarkan keseriusan, "Mereka sangat berbahaya, Nona Bella. Saya mengenali beberapa wajah di antara mereka yang merupakan anggota inti Black Serpent dengan kemampuan bertarung yang sangat baik. Jika harus membuat perbandingan, jika dua orang dari mereka maju bersamaan, mereka sanggup membuat saya kewalahan dan harus bertarung habis-habisan."Bella menelan ludahnya dengan pelan, merasakan atmosfer bahaya yang kian pekat mengepung rumahnya. "Kau tahu pasti ada berapa banyak jumlah orang di luar saat ini?""Tepatnya enam orang, Nona," jawab Rico tegas.Mendengar angka itu, Bella mendadak dilingkupi perasaan gusar. Apa sebenarnya yang akan dilakukan oleh orang-orang di luar sana selain memantau rumah atau mengincar keluarganya?Bella kemudian tersadar akan satu hal. Rico adalah bagian dari kelompok Red Line. Ia yakin kedua kelompok mafia penguasa ini pasti sudah saling 'mengenal' satu sama lain di dunia bawah, terutama mengenai
Malam sebelum misi besar, suasana di dalam kamar Bella terasa begitu sunyi dan tegang. Di bawah temaram lampu meja, Bella yang berekspresi dingin sedang duduk menganalisis kembali rincian rencana yang akan mereka lakukan besok. Tiba-tiba, ponselnya bergetar nyaring. Sebuah panggilan masuk dari Chiara.Saat ini, Chiara masih berada di markas pasukan keamanan kota. Ia bersama tim sedang memeriksa ulang segala persiapan dan memeriksa hasil pantauan hari ini dari para informan yang tersebar di beberapa tempat target yang akan mereka kunjungi besok. Bella segera menggeser layar dan mengangkat panggilan tersebut."Ada apa, Chiara?" tanya Bella, nadanya terdengar tenang namun tegas."Bella... kau harus segera melihat surel yang baru saja kukirimkan ke laptopmu. Kau akan terkejut melihat isinya," suara Chiara di seberang telepon terdengar bergetar cemas, sekaligus menahan emosi.Mendengar perubahan nada suara sahabatnya, Bella tidak membuang waktu. Ia segera membuka folder masuk surelnya dan
"Aku benar-benar tidak menyangka kalau orang sekelas Bianchi juga akan melakukan tindakan serendah ini setelah bertahun-tahun membangun citra sebagai politikus yang jujur dan bersih di mata publik," ujar Chiara, nadanya terdengar sinis. "Kenapa baru sekarang dia berani menunggak pajak? Apakah ini murni karena perbuatannya sendiri, atau... sebenarnya ini adalah pekerjaan dari orang lain di belakangnya?" Chiara ingin mendengar bagaimana analisis dari sudut pandang Bella.Bella menanggapi pertanyaan itu dengan tenang. Pandangan matanya dialihkan menatap lurus ke arah rimbunnya pepohonan di luar jendela kamarnya. "Ini murni perbuatan dan perintah dari dirinya sendiri, Chiara. Dia adalah tipe orang yang sanggup memanipulasi apa pun demi tujuannya."Terdengar suara helaan napas panjang Chiara dari seberang telepon. "Dia bahkan berhasil menempatkan orang-orangnya sendiri untuk menjaga arsip pajaknya, yang mana bertugas untuk mengamankan dirinya dari kewajiban membayar pajak negara. Sebenarny
Giovanni sama sekali tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai jalannya interogasi dengan Shin. Ia justru meminta Bella untuk segera masuk ke kamarnya dan beristirahat. Bella pun tidak berniat mencari tahu lebih banyak. Ia sadar, kemungkinan Shin telah membuat ayahnya yang berwibawa itu kesal setengah mati. Bella memilih tidak bertanya lagi karena khawatir ayahnya akan merasa malu jika terus didesak.Keesokan harinya, sejak bangun tidur Bella sudah duduk manis di depan meja belajarnya. Sepasang matanya sibuk dan fokus membaca baris demi baris data yang terpampang di layar laptop, serta deretan angka-angka rumit di layar komputer lainnya. Suara kicau burung pagi di luar jendela dan dengungan halus dari kipas pendingin komputer mengiringi suara ketikan jemarinya yang lincah di atas keyboard berwarna merah muda bergambar burung bulat kuning. Sesekali tangan kanannya meraih tumbler putih miliknya, menyesap kopi hitam pekat tanpa gula yang membuat matanya semakin melek, lalu beralih meraih m
"Syukurlah kalau dia memang cocok diberi tanggung jawab seperti yang Ayah katakan. Usianya bahkan masih begitu muda untuk menjadi calon walikota," ujar Bella, dengan ekspresi yang logis dan selalu menimbang segala kemungkinan dengan kepala dingin.Giovanni mengangguk perlahan. Ekspresi wajahnya terlihat sangat puas dan bangga saat membicarakan pemuda dari keluarga Sawyer tersebut. "Anak muda ini memiliki visi tentang masa depan kota yang sangat bagus dan sejalan dengan pemikiran Ayah. Beberapa kali Ayah sempat mengobrol secara mendalam dengannya saat dia berkunjung ke kantor walikota. Cara bicara dan sikapnya sungguh sangat baik."Bella merasa sedikit aneh mendengar ayahnya melayangkan pujian yang begitu tinggi kepada seorang pria, dan ini adalah pertama kalinya terjadi sepanjang hidupnya. Cara Giovanni menceritakan kelebihan pemuda itu seolah-olah ia benar-benar menganggap Caspian sebagai putranya sendiri yang sangat membanggakan, sekaligus calon penerus keluarga mereka.Enggan terje
Giovanni menghela napas panjang, gurat kelelahan tampak jelas di wajahnya yang mulai menua. "Tidak apa-apa, untuk hari ini semua berjalan dengan baik sesuai rencana kita. Tetapi Ayah benar-benar ingin semua ini segera berakhir, Bella. Selain karena Ayah sangat mengkhawatirkan keselamatanmu, Ayah juga mulai merasa sangat lelah dengan pekerjaan Ayah sekarang."Bella tertegun. Karakter dirinya yang selalu tenang, seketika terusik oleh pengakuan langka dari sang ayah. Selama ini, Giovanni memang sering mengeluh jika beban pekerjaannya menumpuk atau saat para bawahannya di pemerintahan menolak untuk bekerja sama. Namun, tidak pernah sekali pun ayahnya mengatakan bahwa dirinya merasa lelah karena bekerja.Bella tahu betul seberapa tinggi dedikasi Giovanni untuk masa depan dan kemakmuran masyarakat kota Whitesand. Ayahnya sering kali lembur hingga larut malam dan mengabaikan kesehatan tubuhnya sendiri. Jika saja Bella tidak cerewet dan terus menasihati ayahnya yang mulai berumur itu, entah s
"Astaga… semoga bukan sesuatu yang buruk." Gumamnya pelan.Untuk penerangan lebih jelas, ia mengeluarkan ponsel dari tas, jari-jarinya gemetar saat menyalakan senter. Cahaya putih menembus kegelapan, menguak bayangan tembok bata yang lembap.Dan di sanalah ia melihatnya."Hhh... hhh..."Seorang pri
"Sampai jumpa Miss Bella, terima kasih sudah menemani Luna menunggu Mama."Suara imut anak perempuan terdengar menyenangkan, ditambah wajah bulatnya yang sangat manis tersenyum. Dari jendela mobil ia melambaikan tangan mungilnya keluar. Berpamitan pada seorang guru yang berdiri di halaman sekolah T
Bella memperhatikan para karyawan yang berlalu-lalang di lobi perusahaan Nexus Global. Mereka tampak rapi dan elegan, bahkan pakaian yang dikenakan terlihat modis dan penuh percaya diri.Penampilan mereka sangat berbeda dengan Bella yang tampak sederhana, meskipun tetap rapi dan anggun. Tidak ada y
“Aku mendengar soal apa yang terjadi di wilayah timur kota. Kupikir orang-orang yang melakukan penyerangan ini benar-benar gila. Kalian tahu? Mereka juga menyerang mobil yang membawa tenaga medis yang dikirim untuk mengobati orang-orang terluka di sana.”Adrian tampak frustrasi, terlihat jelas dari







