LOGINBella terdiam sejenak. Melihat perubahan ekspresi Shin, ia segera menyadari bahwa ucapannya telah disalahartikan dari yang ia maksudkan. Tatapan pria itu yang semula masih menyimpan kelembutan kini berubah dingin, seolah satu kalimatnya tadi telah menyentuh sesuatu yang sangat penting bagi dirinya."Bukan begitu maksudku."Suara Bella terdengar lebih pelan, tetapi tetap tenang. Ia menggeleng perlahan sambil menatap Shin tanpa menghindar. "Aku tidak pernah bermaksud memintamu meninggalkan keluargamu."Tatapan Shin masih tertuju kepadanya. "Red Line bukan sekadar kelompok bagiku."Bella menarik napas pendek. "Aku tahu itu. Di sana ada orang-orang yang sudah mengikutimu selama bertahun-tahun. Mereka mempercayaimu, bergantung padamu, dan menganggapmu sebagai pemimpin mereka. Aku tidak mungkin memintamu meninggalkan mereka begitu saja."Ekspresi Bella melunak. Untuk sesaat, ia menurunkan pandangan sebelum kembali menatap pria di hadapannya."Aku hanya..." Bella berhenti sejenak, seolah sed
Suasana di dalam ruangan itu sempat menjadi canggung setelah Bella menanyakan kabar Shin. Ia sendiri tidak menyukai keheningan seperti ini, terlebih ketika harus berhadapan dengan seseorang yang pernah begitu dekat dengannya. Dulu, mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan berbicara tentang hal-hal kecil. Sekarang, bahkan satu pertanyaan sederhana seperti menanyakan kabar terasa membutuhkan keberanian.Namun, keheningan itu tidak berlangsung lama."Sungguh kebetulan bertemu denganmu di sini, Nona Bella." Suara Shin terdengar tenang, seolah pertemuan mereka benar-benar terjadi tanpa rencana. "Kalau boleh kutebak, kau datang karena ajakan temanmu."Bella menatapnya beberapa saat sebelum tertawa pelan. Ada sedikit rasa geli di matanya."Seharusnya itu bukan kebetulan." Ia mengangkat dagu sedikit. "Tempat ini milikmu."Shin tampak tidak mengerti. Alisnya sedikit terangkat, sementara tatapannya tetap tertuju kepada Bella."Apa maksudmu?"Bella menatap pria itu tanpa berkedip.
Selama makan, hati Bella tidak pernah benar-benar tenang. Meskipun tangannya masih memegang sendok dan sesekali ia menanggapi percakapan Chiara maupun Adrian, pikirannya terus tertuju pada hal yang sejak tadi mengganggunya.Shin tahu bahwa dirinya berada di sini. Setidaknya, itulah dugaan yang perlahan berubah menjadi keyakinan di dalam hati Bella.Awalnya ia masih menganggap semua yang terjadi sebagai kebetulan. Namun, semakin dipikirkan, semakin banyak hal yang terasa terlalu tepat untuk terjadi secara bersamaan. Makanan tambahan yang tidak mereka pesan, pelayanan istimewa yang datang begitu saja, dan perasaan aneh yang muncul sejak mereka memasuki tempat ini.Bella tidak percaya pada kebetulan sebanyak itu. Terlebih lagi, tempat ini adalah milik Shin.Jika pria itu benar-benar sudah mengetahui kedatangannya, maka semua yang terjadi sejak mereka duduk di meja ini mungkin bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan.Bella menundukkan pandangan. Ujung jarinya perlahan mengetuk sisi
Bella tanpa sadar menegakkan tubuh. Percakapan itu mulai menyentuh sesuatu yang lebih besar daripada sekadar bisnis."Semenjak Anda menjadi pemimpin Red Line, kelompok-kelompok mafia lain tampaknya lebih berhati-hati," lanjut Tuan Bradley. "Mereka takut kepada Anda. Setidaknya sekarang, kejahatan terbuka di tempat umum jauh lebih jarang terjadi."Chiara melirik Bella yang tidak banyak bereaksi. Dari bilik sebelah, Shin terdengar menjawab dengan tenang."Itu tidak sepenuhnya karena saya, Tuan Bradley." Ia berhenti sebentar. "Benar, mereka mungkin takut. Tetapi jangan mengira mereka berhenti membuat rencana. Sebagian dari mereka hanya memilih untuk bergerak dengan cara yang tidak terlihat."Tak lama kemudian, pria tua itu mengembuskan napas panjang. "Kami tidak memiliki apa-apa selain bisnis dan harta. Kalau suatu hari kalian berdua membutuhkan bantuan, kami akan membantu sebisa mungkin.""Terima kasih atas tawarannya, Tuan," jawab Matteo. "Kami menerimanya."Tuan Bradley kemudian kemba
Begitu duduk di dalam bilik, Bella, Chiara, dan Adrian segera memesan makanan. Mereka berbicara jauh lebih pelan daripada sebelumnya. Ketiganya beberapa kali melirik ke arah pembatas kayu di samping mereka, memastikan suara mereka tidak terdengar sampai ke bilik sebelah.Seorang pelayan datang membawa buku catatan kecil dan menunggu dengan sopan. Bella membuka menu, lalu memilih beberapa makanan berat yang menurutnya cukup untuk mengisi perut mereka. Ia juga memesan minuman nonalkohol.Chiara sempat mengangkat wajah dari menu. "Kenapa tidak memesan anggur saja?""Kita belum makan.""Tapi kita sedang berada di bar."Bella menatapnya. "Itulah alasan kalian harus makan lebih dulu."Chiara mengembuskan napas, lalu mencoba membujuknya. "Ayolah, Bella. Mumpung kita sedang di sini, cicipi sedikit saja."Bella menggeleng. "Lebih baik makan siang dulu. Kalian sudah mengikutiku kemari sampai tidak jadi makan siang."Adrian yang sejak tadi memperhatikan daftar makanan mereka akhirnya ikut berbic
Setelah sosok Shin menghilang di balik pintu bar, Bella masih berdiri di tempatnya. Tatapannya tertahan pada pintu kayu berwarna gelap itu, seolah berharap pria yang baru saja dilihatnya akan keluar kembali dan membuktikan bahwa apa yang dilihatnya tadi hanyalah kesalahpahaman. Namun, itu tidak terjadi.Suara percakapan para pengunjung dan alunan musik dari dalam bar terdengar samar hingga ke luar. Bella menarik napas perlahan. Ada perasaan aneh yang kembali muncul di dadanya, campuran antara terkejut, dan gugup. Ia tidak menyangka akan bertemu Shin di tempat seperti ini.Bella akhirnya mengalihkan pandangan kepada kedua sahabatnya. "Kalian pergi ke restoran duluan, ada sesuatu yang harus aku lakukan. Nanti aku menyusul."Chiara dan Adrian saling berpandangan. Keduanya langsung menggeleng hampir bersamaan.Bella mengernyit. "Kenapa?""Tiba-tiba Aku tidak terlalu lapar," jawab Adrian santai. Ia melirik pintu bar, lalu kembali menatap Bella. "Bagaimana kalau kita mencicipi minuman anggu
Dua hari sudah Bella tinggal di rumah, kegiatannya itu-itu saja dan hanya sekali dia pergi ke luar untuk membeli sesuatu. Dengan pengawalan lengkap, meski tidak terlalu mencolok, tetap saja membuat Bella tidak bisa berbaur seperti warga biasa lainnya. Ia pun lebih memilih menghabiskan waktu di ruma
Salah satu pria yang sedang bermain melihat ke tempat Bella dan anak-anak dikurung. "Lihat, gadis itu sudah sadar."Tiga pria lainnya menoleh, tatapan berbinar mereka menandakan kekaguman pada kecantikan gadis yang tidak sengaja mereka culik."Kita sungguh beruntung, harganya pasti tinggi.""Tidak
Ketika Bella membuka matanya, bau debu dan rokok yang pekat membuatnya terbatuk. Ia terbaring di lantai, disekitarnya terdapat kotak-kotak besi besar dengan beberapa sudah berkarat. Ingatan sebelum dirinya pingsan membuatnya sadar dari linglung, ia ingin bangun. Tapi kemudian menyadari kalau kedua
Lima hari berlalu... Tiga puluh enam anggota polisi yang diperintahkan untuk memeriksa daerah San Felice secara menyeluruh tidak menemukan apapun yang mencurigakan. Pencarian hingga luar daerah pun dilakukan, tidak ada tanda-tanda adanya kejahatan yang pernah terjadi dan semuanya aman-aman saja.Se







