Share

Bab 141

Penulis: Trya Dhafi
last update Tanggal publikasi: 2026-08-29 23:40:46

Axel langsung mendelik hebat, kepalanya menggeleng cepat dengan raut wajah yang mendadak panik luar biasa. Keringat dingin mengucur di pelipisnya.

"Bohong! Itu semua fitnah," teriak Axel melengking, berusaha menutupi kepanikan yang nyaris meruntuhkan sisa-sisa pertahanannya. Ia menunjuk muka Reno dengan jari yang bergetar hebat.

"Viona, Om Darmawan, jangan percaya sama pria miskin ini. Dia sengaja mencari-cari kesalahan aku. Dia merekayasa semuanya cuma buat menjatuhkan aku di depan kalian. Di
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 196

    Reno menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang garpu, lalu mengangkat wajahnya menatap Dandi yang tampak begitu terpukul. Mendengar ucapan maaf dengan nada penyesalan yang tulus dari pria paruh baya di hadapannya itu, hati Reno sedikit melunak.Meski dia menolak keras untuk terseret dalam masalah keluarga tersebut, dia bukanlah tipe pendendam yang menyimpan benci tanpa alasan."Iya, Om. Saya maafkan," jawab Reno dengan suara yang kini jauh lebih tenang dan datar, tidak lagi setajam sebelumnya. Ia kembali menatap piring di depannya. "Tapi seperti yang sudah saya bilang tadi, memaafkan bukan berarti saya mau menuruti kemauan Om atau ikut campur dalam urusan keluarga Om dan pertukaran anak atau apalah. Keputusan saya sudah bulat."Dandi mendengar jawaban itu dengan dada yang terasa sesak. Dia tahu diri, tidak ada lagi celah atau alasan yang bisa ia gunakan untuk mendesak Reno lebih jauh setelah apa yang pemuda itu alami di masa lalu. Dandi hanya bisa mengangguk pelan, menelan p

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 195

    Reno menatap Dandi lekat-lekat, rahangnya mengeras, mulai curiga."Lalu apa tujuan dan maksud Bapak menyeret saya ke dalam pembicaraan ini. Saya sudah punya kehidupan sendiri, punya orang tua yang selama ini membesarkan saya, dan saya rasa tidak punya urusan apa pun lagi dengan Axel ataupun keluarga Bapak."Heru yang duduk di samping Reno melirik sekilas, ikut merasa canggung namun memahami betul kenapa Reno bersikap defensif seperti itu.Dandi mengangkat tangannya pelan, mengisyaratkan agar Reno bisa sedikit meredam emosinya. Pria itu menatap menantu Darmawan tersebut dengan tatapan yang menyiratkan keputusasaan sekaligus harapan terakhir."Om tahu ini mengejutkan dan terdengar tidak masuk akal buat kamu, Ren," ujar Dandi lirih. "Tapi dengarkan dulu. Om tidak punya maksud buruk. Kedatangan Om ke sini karena posisi kita sekarang terjepit. Axel, anak yang selama ini kami besarkan, sudah pergi meninggalkan rumah dan sekarang hilang entah ke mana. Kami sama sekali tidak tahu keberadaanny

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 194

    Mila menatap suaminya dengan kerutan di dahi, sorot matanya penuh keraguan."Memangnya Papa pikir Reynald mau? Dia bukan anak kita. Dia itu orang luar. Kenapa tiba-tiba mau dibawa-bawa dan diseret ke dalam urusan pertukaran darah daging kita?"Dandi tidak langsung terpancing. Ia balas menatap istrinya dengan tatapan yang jauh lebih tenang, mencoba meyakinkan wanita di hadapannya."Pastinya mau, Ma," jawab Dandi mantap. "Apalagi kalau nanti dia punya kesempatan terhubung dengan orang tua kandung mereka yang sebenarnya, tinggal ketemu dan tidak perlu susah-susah mencarinya. Darah itu tidak bisa bohong."Dandi menghela napas sejenak, lalu membandingkan sosok pemuda yang kini jadi menantu Darmawan tersebut."Lagipula, Reynald itu orangnya sangat berbeda jauh dengan Axel dari sisi kepribadian dan segalanya, meskipun mereka saudara kembar. Reynald itu terlihat baik, jujur, dan hidup apa adanya. Buktinya dulu dia mau dengan besar hati pasang badan menggantikan posisi Axel waktu Axel kabur di

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 193

    Mila terperanjat seketika. Jantungnya berdegup kencang, matanya menatap lembaran kertas di hadapan Dandi."Benarkah, Pa?!" seru Mila dengan suara bergetar, nyaris melengking karena tak kuasa menahan sabar. Tangannya langsung meremasi lengan suaminya. "Jangan bercanda, Pa. Kalau memang benar, siapa dia? Di mana anak kita sekarang? Papa harus cepat beri tahu aku."Antusiasme terpancar jelas di wajah Mila. Selama beberapa waktu terakhir, bayang-bayang tentang seperti apa anak kandungnya yang hilang selalu menghantui setiap jengkal ruang kosong di hatinya.Namun, di balik rasa penasarannya yang menggebu-gebu terhadap anak kandung yang baru saja menemukan titik terang itu, pikiran Mila tiba-tiba teringat pada Axel.Meskipun Dandi telah melarang keras dan menutup pintu bagi pemuda itu, naluri seorang ibu yang sudah membesarkan Axel tidak pernah bisa dibohongi sepenuhnya. Selama beberapa waktu terakhir, di belakang suaminya, Mila sering kali diam-diam mengirimkan pesan singkat atau mencoba m

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 192

    Beberapa waktu kemudian, suasana ruang rapat utama di kantor pusat perusahaan milik Darmawa terasa begitu tegang. Di ujung meja panjang berukuran besar, Reno berdiri tegak dengan balutan jas rapi yang melekat sempurna di tubuhnya. Ia baru saja merampungkan presentasi proyek penting yang menentukan arah ekspansi perusahaan."Demikian pemaparan strategi ekspansi dan mitigasi risiko yang telah kami siapkan untuk kuartal ini," ucap Reno dengan suara tegas dan penuh percaya diri, menyapu pandangannya ke seluruh jajaran dewan direksi.Beberapa detik keheningan sempat menyelimuti ruangan sebelum akhirnya tepuk tangan riuh mulai menggema dari beberapa kepala divisi. Heru, yang duduk di barisan kursi pendamping, langsung mengembuskan napas panjang, melepaskan ketegangan yang sedari tadi merajai dadanya."Kerja bagus, Pak Reynald. Presentasi yang sangat komprehensif dan tajam," puji salah satu anggota dewan direksi sambil mengangguk-angguk puas.Reno tersenyum tipis seraya menundukkan kepala si

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 191

    Axel menelan ludah kelat, tenggorokannya terasa tercekat. Nasi sudah menjadi bubur, dan dirinya sudah terlanjur basah melangkah ke dalam jurang ini. Tidak ada lagi jalan untuk memutar waktu. Dengan sisa-sisa kepasrahan yang menyesakkan dada, ia mengangguk pelan mengiyakan tawaran mutlak dari wanita di hadapannya itu.Namun, di tengah keheningan malam yang menyesakkan di dalam kamar mewah tersebut, pikiran Axel justru melayang liar. Ia kembali merutuki kebodohannya sendiri dengan penuh kepahitan. Bagaimana bisa ia sampai berada di titik terendah ini?Saat ia menatap wajah Amelia yang kini tersenyum penuh kemenangan di dekatnya, bayangan wajah seseorang justru tiba-tiba melintas terang di kepalanya, bukan Lani, tapi Viona. Axel merasakan dadanya sesak dan sakit. Ia sangat menyesal. Kenapa dulu ia begitu bodoh menyia-nyiakan Viona demi ambisi dan kesombongannya. Dan kini, sebagai hukuman atas kebodohannya, ia malah terjebak melayani seorang wanita paruh baya seperti Amelia. Ironis sekal

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 4

    Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 3

    Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 2

    Brakk! Pintu ruang rias VIP itu terbuka begitu keras hingga semua orang yang ada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita muda, cantik berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit memburu. Gaun pengantin putih yang dikenakannya tampak sempurna. Riasan wajahnya juga je

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 1

    "Nikahi putriku dan sebagai gantinya, biaya pengobatan ibumu dan utang-utang keluargamu dua ratus juta, lunas kubayar." Reno alias Reynald Notoharjo merasa seperti baru saja disambar petir di siang bolong. Pria berusia dua puluh lima tahun itu berdiri kaku di tengah ruangan mewah yang bahkan la

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status