LOGIN"Ini rambut Reynald. Papa berhasil mengambilnya secara diam-diam saat berpura-pura menepuk bahunya," ujar Harjo dengan otak bisnis dan analisisnya yang bekerja secepat kilat. "Besok pagi-pagi sekali, sampel ini akan Papa bawa langsung ke laboratorium di rumah sakit untuk tes DNA darurat."Ambar menutup mulutnya dengan kedua tangan, tangisnya nyaris pecah membayangkan implikasi dari tindakan suaminya. "Pa... Papa beneran curiga kalau dia... kalau dia..."Harjo memegang kedua bahu istrinya, menatap dalam-dalam dengan sorot mata yang penuh penderitaan masa lalu dan rasa penasaran yang mendalam."Ambar, coba ingat-ingat kembali peristiwa dua puluh enam tahun yang lalu di rumah sakit," ujar Harjo dengan suara berat yang emosional. "Waktu kamu melahirkan anak kembar kita, dokter dan pihak rumah sakit memberi tahu kita bahwa bayi pertama kita meninggal dunia karena komplikasi persalinan, kan? Dan kita bahkan tidak pernah benar-benar diperbolehkan melihat jasadnya secara jelas karena alasan p
Harjo kembali melangkah keluar dari area toilet dengan langkah lebih ringan. Setibanya kembali di meja, ia mendapati istri dan anak lelakinya masih menikmati hidangan penutup.Kali ini, Harjo tidak lagi menatap ke arah meja Reno dengan gelisah seperti sebelumnya. Ia sengaja bersikap tenang, meredam rasa penasarannya, dan fokus sepenuhnya pada keluarganya, terutama agar Revan tidak curiga."Dari mana saja, Pa? Lama banget," tegur Revan ringan sambil tersenyum kecil menatap ayahnya yang baru duduk kembali."Ah, tadi agak ramai di toilet, Nak, terus sempat ngobrol sebentar sama kenalan lama," jawab Harjo beralasan, memasang senyum paling natural sambil kembali menyantap sisa hidangan penutup dengan santai.Sementara itu, di meja seberang, Reno baru saja tiba kembali dan menarik kursinya dan kembali duduk di samping Viona. Melihat suaminya yang cukup lama meninggalkan meja, Viona langsung melancarkan protes kecil dengan nada manja."Lama banget sih, Sayang? Kamu ini ke toilet apa nyasar k
Harjo memandangi punggung pemuda itu dari kejauhan, melangkah mantap menyusuri koridor temaram menuju area restroom restoran. Jantungnya berdebar kencang, memukul dadanya dengan irama yang tak menentu.Di dalam toilet pria yang berdesain modern dan elegan dengan pencahayaan hangat, Reno berdiri di depan salah satu urinal, tempat buang air kecil berdiri khusus pria. Suasana di dalam relatif sepi dan tenang, hanya terdengar gemericik air dari keran otomatis di sudut lain.Reno dengan santai menuntaskan hajat kecilnya, sama sekali tak menduga ada langkah kaki lain yang menyusul masuk tak lama setelahnya.Harjo melangkah pelan melewati pintu masuk, sapuan matanya langsung tertuju pada sosok tinggi pemuda itu. Mengabaikan beberapa urinal kosong lainnya yang berjejer, Harjo sengaja mengambil posisi persis di urinal sebelah Reno, sebuah tindakan yang sebenarnya agak tak biasa di kalangan pria kecuali jika sedang ramai, Harjo tak peduli, dia berusaha berada sedekat mungkin.Saat sedang merap
'Masa iya kalau kebetulan kok mirip banget.'Pria paruh baya itu adalah Harjo Santoso, seorang pengusaha dan pebisnis yang sudah menetap di kota itu, sedang makan malam bersama dengan istri dan anaknya, Ambar dan Revan.Bagaimana mungkin ada seseorang yang begitu identik dengan masa mudanya? Dunia memang luas, dan kemiripan wajah tanpa hubungan darah terkadang bisa saja terjadi. Tapi entah kenapa ada insting dan getaran aneh di dadanya, menolak percaya begitu saja bahwa ini sekadar kebetulan semata.Pikiran mereka berdua melayang ke mana-mana, menerka-nerka kemungkinan ada apa, namun nyata jelas di depan mata mereka.Tak lama kemudian, Revan berdiri dari kursinya. "Ma, Pa... Revan ke toilet sebentar ya," pamitnya singkat sambil meletakkan serbet di atas meja.Harjo dan Ambar kompak mengangguk berdua. "Iya."Begitu Revan melangkah pergi menjauh, kesempatan itu dimanfaatkan oleh Harjo untuk mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Ambar."Ma," bisik Harjo, matanya kembali melirik seki
Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa, seminggu telah berlalu sejak percakapan tegang di kantor dan kehangatan malam itu di rumah Reno. Hari yang dinantikan pun tiba.Pagi-pagi sekali, kesibukan terlihat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Reno, Viona, dan Heru tampak melangkah bersama menuju area keberangkatan terminal internasional setelah menyelesaikan seluruh proses check-in penerbangan menuju Australia. Viona terlihat anggun sekaligus bersemangat, menenteng tas jinjing kecil sambil menggandeng erat lengan suaminya, sementara Reno tampak rapi mengenakan setelan kasual semi-formal khas pejalanan bisnis. Heru berjalan di sisi sebelah kanan, membawa satu koper sedang dan tas kerja, siap mendampingi bos mudanya menaklukkan proyek ekspansi internasional tersebut.Penerbangan berjalan lancar. Setelah menempuh perjalanan udara selama beberapa jam melintasi lintas benua, pesawat yang membawa ketiganya akhirnya mendarat dengan mulus.Setibanya di kota tujuan, mereka langsung menuju
Hari sudah semakin sore ketika Dandi melangkah masuk ke rumahnya, langkah kaki pria paruh baya itu terasa begitu berat. Begitu tiba di ruang keluarga, wajahnya terlihat letih, lesu dengan bahu yang sedikit merosot.Mila yang sedang duduk membaca majalah di sofa langsung mengangkat wajahnya. Melihat ekspresi sang suami yang tidak baik-baik saja, tidak perlu bertanya panjang lebar untuk menebak apa yang terjadi. Dugaannya sepertinya suaminya gagal total melobi Reynald siang tadi. Padahal, semalam Dandi begitu yakin dan berapi-api mengatakan bahwa pemuda itu adalah anak yang baik dan pasti mau membantu karena akan terhubung dengan keluarga kandungnya.Mila meletakkan majalahnya di atas meja, lalu menyambut suaminya dengan raut wajah kecewa sekaligus penasaran."Bagaimana, Pa? Jangan bilang ditolak mentah-mentah sama Reynald?"Dandi menghela napas panjang, menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan gerakan lemas. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu menatap Mila dengan mata sayu."K
Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa
Brakk! Pintu ruang rias VIP itu terbuka begitu keras hingga semua orang yang ada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita muda, cantik berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit memburu. Gaun pengantin putih yang dikenakannya tampak sempurna. Riasan wajahnya juga je
"Nikahi putriku dan sebagai gantinya, biaya pengobatan ibumu dan utang-utang keluargamu dua ratus juta, lunas kubayar." Reno alias Reynald Notoharjo merasa seperti baru saja disambar petir di siang bolong. Pria berusia dua puluh lima tahun itu berdiri kaku di tengah ruangan mewah yang bahkan la
Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar







