Share

Bab 15

Author: Trya Dhafi
last update publish date: 2026-06-16 13:07:48
Suasana meja makan yang sempat riuh kembali menjadi sunyi.

Tatapan Reno masih tertuju kepada Darmawan setelah pria itu mengucapkan kalimat terakhirnya yang langsung mengisi pikirannya.

Bahkan Viona yang sejak tadi terlihat santai akhirnya mengangkat kepala. "Maksud Papa siapa?" tanyanya.

Darmawan tidak langsung menjawab. Ia melirik sekeliling meja seolah memastikan tidak ada orang lain yang perlu mendengar pembahasan tersebut.

"Nanti saja," ujarnya singkat. "Lagipula kamu juga tidak pedu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 242

    Di dalam kabin kelas eksekutif pesawat, suasana terasa cukup tenang dan nyaman. Kursi-kursi lapis kulit yang empuk dan berjarak lega dirancang untuk penerbangan jarak jauh menuju Australia.Tanpa disengaja, susunan tempat duduk menempatkan Revan dan Axel di deretan yang sama, yaitu duduk berdampingan.Bagi Revan, keberadaannya di pesawat itu adalah hal yang lumrah karena dia memang harus kembali untuk merampungkan urusan pekerjaannya. Pemuda itu tampak sangat santai, mengenakan headphone, membaca sebuah majalah bisnis, atau sesekali memejamkan mata untuk beristirahat tanpa memedulikan siapa pun di sekitarnya.Sebaliknya, batin Axel bergemuruh hebat sejak pesawat lepas landas. Dia sesekali melirik Revan dengan tatapan sinis dan tidak suka. Dalam hatinya, Axel terus menggerutu, 'Sialan! Kenapa anak pungut sok suci ini harus ikut naik pesawat yang sama dan balik lagi ke Australia? Bikin risih saja. Kenapa dia nggak tinggal di Jakarta saja bersama orang tua barunya itu?'Walaupun jengkel

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 241

    Dandi menghela napas panjang, senyum hangatnya berganti dengan wajah lelah dan sedih saat Axel disebut."Soal Axel... jujur sampai sekarang dia tetap belum berubah, Mas Suryo. Meskipun udah tak usir dari rumah setelah semua yang dia lakukan, tapi kok sifatnya nggak berubah sama sekali," jawab Dandi.Suryo dan Dewi saling berpandangan, menyimak dan terkadang menggelengkan kepala ikut prihatin."Orang tua kandungnya aja awalnya juga nggak langsung mau menerima dia gitu aja karena kelakuannya yang udah kelewatan," lanjut Dandi seraya memijat pelipisnya perlahan. "Mereka benar-benar kecewa berat."Dandi menatap Suryo dan Dewi bergantian dengan tatapan lurus. "Tapi besok, Axel akan tetap dibawa ke Australia. Biar di sana dia dikasih pelajaran arti hidup yang sesungguhnya, karena kalau dibiarkan di sini, dia hanya akan terus menghancurkan dirinya sendiri dan orang lain."Suryo mengangguk paham, menghela napas dan ikut prihatin. "Sudahlah, Dandi, Mila. Kalian sudah berbuat sangat banyak dan

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 240

    Meskipun kiranya kepikiran kayak kenal nama itu, Rima memilih untuk diam saja karena belum yakin dan dia nggak akan gegabah, daripada membuat masalah makin runyam.Reno menatap Harjo. "Papa yakin mau menangani sendirian? Sedangkan papa nanti di Australia sana. Lagian orang ini kayak obsesif. Papa nggak bisa menghadapinya sendirian tanpa persiapan matang, Pa."Harjo menoleh ke arah Reno, lalu tersenyum tipis yang menenangkan. "Tenang, Rey. Papa tidak akan bertindak ceroboh. Tapi masa lalu ini harus diselesaikan oleh orang yang memang bersinggungan langsung dengannya. Kalian fokus saja pada kebahagiaan keluarga."Dandi dan Darmawan saling bertukar pandang, menghargai keputusan Harjo, tapi tetap waspada pada sosok bernama Gunadi Darma.Tidak terasa hari pun semakin beranjak siang. Suasana ruang keluarga yang tadi tegang, sudah kembali tenang. Bik Yuli bersama para asisten rumah tangga lainnya pun sudah selesai menyiapkan hidangan makan siang, bahkan Bu Rahma ikut di dapur memasak, daripa

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 239

    "Jadi siapa dalang di balik semua itu, Pak Darmawan?" tanya Dandi tidak sabar, penasaran sampai setengah berdiri dari kursinya.Darmawan menatap Dandi, lalu mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan sebelum menghela napas berat."Orang itu bernama Gunadi Darma," beritahu Darmawan.Suasana ruang keluarga yang tadinya hangat langsung berubah hening. Semua orang terdiam, mencoba mencerna nama asing yang baru saja disebut Darmawan."Gunadi Darma?" gumam Dandi dengan kening berkerut dan menggeleng pelan. "Apa kalian ada yang mengenal nama itu? Saya sama sekali tidak pernah mendengar namanya."Satu per satu orang di ruangan itu saling berpandangan, menggelengkan kepala karena tidak tahu."Saya juga baru pertama kali mendengar nama itu," sahut Darmawan melanjutkan penjelasannya. "Ini baru pengakuan awal dari dokter senior dan perawat yang bertugas di rumah sakit saat itu, yang akhirnya terpaksa buka mulut setelah tim kita menekan dan memaksa, mengantongi bukti ancaman masa lalu. Tapi sayangn

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 238

    Pagi hari di akhir pekan menyambut dengan hangat. Suasana rumah Reno dan Viona langsung berubah menjadi sangat ramai dan riuh oleh suara tawa serta obrolan hangat. Bertepatan dengan hari Minggu, keluarga besar pun berkumpul untuk menikmati hari libur, sekaligus bertemu dengan Bu Rahma dan Ravita yang baru tiba dari kampung semalam.Belum terlalu siang, bel rumah sudah berbunyi. Begitu Bik Yuli membukakan pintu, tampaklah Darmawan bersama Rima dan Vera yang datang berkunjung membawa serta berbagai oleh-oleh makanan khas. Kedatangan mereka langsung disambut ceria oleh Viona dan Reno di ruang tamu."Wah, selamat pagi, Bu Rahma, Ravita. Selamat datang di Jakarta. Akhirnya kita ketemu juga ya. Bagaimana keadaannya, udah sehat kan Bu Rahma?" sapa Darmawan ramah sambil tersenyum lebar, menyalami Bu Rahma dengan penuh takzim diikuti Rima dan Vera.Bu Rahma yang awalnya sempat merasa canggung karena dikelilingi orang-orang dari kalangan berada, langsung dibuat tersipu dan merasa nyaman berkat

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 237

    Axel mengangguk. "Apapun keadaan Papa dan Mama, aku akan menerima dan ikut kalian. Jadi aku minta maaf dan berilah aku kesempatan."Mendengar ratapan dan permohonan maaf Axel yang bersimpuh di hadapannya, Harjo terdiam sejenak. Otaknya berputar cepat, menimbang-nimbang segala tabiat buruk, keangkuhan, dan kepribadian keras kepala anak kandungnya itu. Harjo sadar, jika Axel dibiarkan tinggal di Indonesia dengan fasilitas apa pun, bahkan sekadar diberi tumpangan, pemuda itu tidak akan pernah kapok dan hanya akan terus menjadi benalu yang merusak hidup orang lain.Sebuah ide tegas mendadak terlintas di benak Harjo. Ini adalah kesempatan emas untuk memberikan pelajaran paling berharga yang mungkin akan bisa mengubah watak keras kepala dan sombong serta semua perilaku buruk Axel yang sudah mengakar.Harjo menghela napas panjang, lalu menatap tajam ke arah Axel yang masih mendongak dengan penuh harap."Kamu mau dimaafkan, Axel?" tanya Harjo.Axel mengangguk cepat berulang kali, air matanya

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 6

    Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 5

    Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 4

    Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 3

    Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status