Share

Bab 238

Author: Trya Dhafi
last update publish date: 2026-10-30 23:51:00

Pagi hari di akhir pekan menyambut dengan hangat. Suasana rumah Reno dan Viona langsung berubah menjadi sangat ramai dan riuh oleh suara tawa serta obrolan hangat. Bertepatan dengan hari Minggu, keluarga besar pun berkumpul untuk menikmati hari libur, sekaligus bertemu dengan Bu Rahma dan Ravita yang baru tiba dari kampung semalam.

Belum terlalu siang, bel rumah sudah berbunyi. Begitu Bik Yuli membukakan pintu, tampaklah Darmawan bersama Rima dan Vera yang datang berkunjung membawa serta berbag
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 239

    "Jadi siapa dalang di balik semua itu, Pak Darmawan?" tanya Dandi tidak sabar, penasaran sampai setengah berdiri dari kursinya.Darmawan menatap Dandi, lalu mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan sebelum menghela napas berat."Orang itu bernama Gunadi Darma," beritahu Darmawan.Suasana ruang keluarga yang tadinya hangat langsung berubah hening. Semua orang terdiam, mencoba mencerna nama asing yang baru saja disebut Darmawan."Gunadi Darma?" gumam Dandi dengan kening berkerut dan menggeleng pelan. "Apa kalian ada yang mengenal nama itu? Saya sama sekali tidak pernah mendengar namanya."Satu per satu orang di ruangan itu saling berpandangan, menggelengkan kepala karena tidak tahu."Saya juga baru pertama kali mendengar nama itu," sahut Darmawan melanjutkan penjelasannya. "Ini baru pengakuan awal dari dokter senior dan perawat yang bertugas di rumah sakit saat itu, yang akhirnya terpaksa buka mulut setelah tim kita menekan dan memaksa, mengantongi bukti ancaman masa lalu. Tapi sayangn

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 238

    Pagi hari di akhir pekan menyambut dengan hangat. Suasana rumah Reno dan Viona langsung berubah menjadi sangat ramai dan riuh oleh suara tawa serta obrolan hangat. Bertepatan dengan hari Minggu, keluarga besar pun berkumpul untuk menikmati hari libur, sekaligus bertemu dengan Bu Rahma dan Ravita yang baru tiba dari kampung semalam.Belum terlalu siang, bel rumah sudah berbunyi. Begitu Bik Yuli membukakan pintu, tampaklah Darmawan bersama Rima dan Vera yang datang berkunjung membawa serta berbagai oleh-oleh makanan khas. Kedatangan mereka langsung disambut ceria oleh Viona dan Reno di ruang tamu."Wah, selamat pagi, Bu Rahma, Ravita. Selamat datang di Jakarta. Akhirnya kita ketemu juga ya. Bagaimana keadaannya, udah sehat kan Bu Rahma?" sapa Darmawan ramah sambil tersenyum lebar, menyalami Bu Rahma dengan penuh takzim diikuti Rima dan Vera.Bu Rahma yang awalnya sempat merasa canggung karena dikelilingi orang-orang dari kalangan berada, langsung dibuat tersipu dan merasa nyaman berkat

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 237

    Axel mengangguk. "Apapun keadaan Papa dan Mama, aku akan menerima dan ikut kalian. Jadi aku minta maaf dan berilah aku kesempatan."Mendengar ratapan dan permohonan maaf Axel yang bersimpuh di hadapannya, Harjo terdiam sejenak. Otaknya berputar cepat, menimbang-nimbang segala tabiat buruk, keangkuhan, dan kepribadian keras kepala anak kandungnya itu. Harjo sadar, jika Axel dibiarkan tinggal di Indonesia dengan fasilitas apa pun, bahkan sekadar diberi tumpangan, pemuda itu tidak akan pernah kapok dan hanya akan terus menjadi benalu yang merusak hidup orang lain.Sebuah ide tegas mendadak terlintas di benak Harjo. Ini adalah kesempatan emas untuk memberikan pelajaran paling berharga yang mungkin akan bisa mengubah watak keras kepala dan sombong serta semua perilaku buruk Axel yang sudah mengakar.Harjo menghela napas panjang, lalu menatap tajam ke arah Axel yang masih mendongak dengan penuh harap."Kamu mau dimaafkan, Axel?" tanya Harjo.Axel mengangguk cepat berulang kali, air matanya

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 236

    Tante Amelia menghempaskan cengkeraman tangan Axel dengan kasar, tidak memberikan kesempatan untuk meminta maaf. Tanpa membuang waktu lagi, wanita paruh baya itu menarik Axel ke kamar, melempar tas milik Axel begitu saja ke dekat pintu lemari dan menyuruh Axel untuk mengemasi barang-barangnya.Axel terpaksa menurut karena tidak ada pilihan lagi dan tidak bisa membujuk wanita paruh baya itu."Sekarang keluar, dan jangan pernah berani menampakkan muka di hadapan saya lagi!" bentak Tante Amelia galak setelah Axel selesai berkemas. Setelah Axel keluar, Amelia membanting pintu apartemennya dengan keras, mengunci rapat-rapat kemewahan yang selama ini menjadi tempat perlindungan terakhir bagi Axel.Sore hari menjelang senja, udara di kawasan taman bawah apartemen terasa begitu semilir, tetapi hati Axel panas.Axel duduk termangu seorang diri di bangku taman, di sampingnya ada tas miliknya yang berisi barang-barang pemberian Amel. Bingung mau ke mana, tidak ada tujuan apa lagi fasilitas mewa

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 235

    Percakapan serius itu terjadi di sela-sela keriuhan ruang keluarga. Para wanita, Ambar, Rima, dan Vera, sedang sibuk mengobrol dan bergunjing asyik di sudut sofa yang lain, sementara Reno memilih pamit sebentar untuk pergi ke toilet.Darmawan tersenyum tipis mendengar pertanyaan putus asa dari besannya itu. Dia mengangkat cangkir teh di hadapannya sejenak, lalu meletakkannya kembali ke atas meja dengan gerakan pelan sebelum memberikan jawaban."Wah, kalau soal mengubah watak dan perangai mendarah daging seperti itu, mungkin caranya harus lewat cuci otak atau dibawa langsung ke psikiater khusus. Mungkin lho, Pak Harjo, soalnya kalau sudah menyangkut watak bawaan dan ego yang terlanjur besar, sepertinya butuh keajaiban atau guncangan hidup yang jauh lebih keras agar dia benar-benar sadar," jawab Darmawan dengan setengah bercanda.Harjo mendesah pelan mendengar candaan realistis dari Darmawan, menyadari bahwa harapan untuk melihat perubahan drastis dari anaknya sepertinya masih jauh.Dar

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 234

    Mendengar kata-kata kasar yang diucapkan Axel, rahang Dandi mengeras. Kesabarannya yang sempat ditahan demi menjaga suasana di depan Revan kini hampir habis tersulut oleh ketidaksopanan Axel dan akhirnya emosinya pun terpancing."Asal kamu tahu batasanmu, Axel," ujar Dandi dengan suara berat dan penuh tekanan, melangkah pelan mendekati Axel. "Rumah ini sudah sangat sabar menghadapimu. Kalau kamu datang ke sini hanya untuk berteriak dan membuat keributan, lebih baik kamu pergi sekarang juga. Tidak ada tempat untuk orang yang tidak tahu diri di rumah ini. Dan berani-beraninya kamu mengatakan Revan anak pungut!"Axel mendengus keras, tawanya terdengar sumbang dan penuh kepedihan yang dipaksakan. Lalu menatap Dandi dengan tatapan menantang, tidak ada hormat dan tidak gentar dengan gertakan pria yang dulu selalu memanggilnya anak kesayangan itu."Pergi? Gampang banget ya, Pa, ngusir aku setelah semua fasilitas dan kemewahan yang biasa aku nikmati dicabut begitu saja!Sekarang kalian sudah p

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 6

    Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 5

    Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 4

    Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 3

    Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status