LOGINViona mengerjap beberapa kali, namun alih-alih merasa salah tingkah lebih lama, bibirnya justru menyunggingkan senyuman penuh godaan. Sorot matanya berubah menjadi nakal, menantang suaminya yang tengah menatapnya lekat-lekat."Jadi gimana kelanjutannya? Kita sama-sama sudah melanggarnya," lanjut Reno, setengah bercanda, menunggu reaksi sang istri.Alih-alih panik, Viona justru mendengkus pelan lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Reno, menarik wajah suaminya itu mendekat."Tentu saja batal sudah, Sayang," bisik Viona tepat di dekat telinga Reno dengan nada menggoda. "Karena benar kata kamu, kita kan sudah sama-sama melanggarnya. Lagian... aku sekarang malah menyesal banget sudah bikin perjanjian konyol itu dulu."Reno mengangkat sebelah alisnya. "Menyesal kenapa?"Viona terkekeh kecil, sementara tangannya perlahan turun meraba dan menggenggam erat pusaka sang suami dengan penuh percaya diri. "Iya, aku malah kena karma instan, niatnya mau cari aman, eh sekarang aku malah ketagiha
Axel menunduk, menghindari tatapan menyelidik dari wanita hampir paruh baya di sampingnya, merasakan gengsinya menciut drastis di dalam kabin mobil yang dingin itu."Aku lagi butuh bantuan banget, Tante." suara Axel terdengar parau, jauh dari kesan arogan yang biasa ditunjukkan dulu. "Hidupku lagi di ambang kehancuran. Aku diusir dari rumah, nggak punya pegangan apa-apa lagi sekarang."Amelia melirik sekilas ke arah Axel, lalu kembali fokus menyetir dengan senyuman tipis yang masih menghiasi bibir merahnya. Ia sengaja membiarkan keheningan sejenak, menikmati momen di mana pemuda sombong itu kini terdengar begitu memelas di hadapannya."Diusir dari rumah? Wah, hebat banget omongan kamu, Xel," sahut Amelia dengan nada santai, setengah meremehkan. Ia lalu menepuk pelan paha Axel dengan sebelah tangannya, membuat pemuda itu sontak menegang. "Santai aja kali. Kamu kan tahu, Tante paling nggak tega kalau lihat cowok ganteng kayak kamu kesusahan. Tapi, bantuan Tante itu nggak gratis, tahu ka
"Gimana, Kak? Hasilnya?" tanya Vera tanpa basa-basi.Viona yang duduk di sebelah suaminya mengangkat sebelah alisnya, tampak bingung dengan arah pertanyaan adiknya. "Hasil apa maksudmu, Ver?""Ya hasil PO keponakan aku lah," jawab Vera blak-blakan tanpa filter.Viona langsung mengerjap kaget, pipinya merona merah seketika mendengar ucapan blak-blakan adiknya itu. Tanpa beban, ia lantas menjawab, "Belum berhasil, tahu ih. Masih butuh usaha lagi, lagian kita santai aja. Malah kesempatan masih punya banyak waktu."Mendengar jawaban Viona, Rima yang sudah tahu dari tadi sore, ikut nyeletuk dengan nada menyindir. "Wah, kalau gitu berarti Reno-nya yang nggak tokcer dong?"Mendengar suaminya disentil seperti itu, Viona tidak tinggal diam. Ia langsung pasang badan membela sang suami tanpa rasa canggung di depan keluarga besar. "Eh, bukan nggak tokcer, Ma. Kita tuh masih menikmati masa-masa jadi pengantin baru. Lagi pula, dapet kegiatan olahraga ranjang baru yang seru, masalah hamil mah urusan
Axel menarik napas dalam-dalam, menatap layar ponselnya di ruangan remang-remang itu. Dengan jari-jari yang sedikit ragu, ia mulai mengetik sebuah pesan pendek kepada wanita paruh baya tersebut.[Halo, Tante Amel. Selamat malam. Apa kabar?]Begitu tombol kirim ditekan, Axel memejamkan mata sejenak, bersiap menunggu balasan yang mungkin akan lama atau bahkan diabaikan seperti orang-orang sebelumnya.Namun dugaannya meleset jauh. Hanya berselang beberapa detik saja, status di bawah nama kontak berubah menjadi online, dan tanda dua centang langsung berubah warna. Tidak butuh waktu satu menit bagi ponsel di genggaman Axel untuk bergetar saat balasan masuk dengan sangat antusias.[Malam juga, ganteng. Wah, nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba banget Axel nge-chat Tante. Kangen ya sama Tante? Ada apa nih tumben banget menyapa dan tanya kabar?]Melihat balasan yang begitu cepat dan penuh semangat itu, Axel menelan ludah kasarnya. Ia tahu betul apa arti antusiasme di balik pesan terseb
Di bawah langit senja kota yang mulai menggelap, langkah kaki Axel terasa begitu berat dan gontai. Sisa-sisa amarah dan rasa malunya di gedung Darmawan telah menguap, menyisakan kehampaan di hatinya. Tanpa arah tujuan yang pasti, ia akhirnya memutuskan untuk mencari tempat tinggal sementara yang paling realistis dengan kondisi keuangannya saat ini, untung saja dia bisa cepat mendapatkan sebuah kamar kos-kosan yang jauh dari kemewahan biasa ia nikmati, bukan apartemen ataupun kos mewah.Berbekal sebuah kartu ATM pemberian diam-diam dari Mila, yang masih merasa iba di saat pengusiran, isinya lumayan untuk bisa bertahan hidup.Axel merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur busa tipis yang bahkan seumur hidupnya belum pernah tidur di kasur busa seperti itu.Di dalam ruangan sempit berukuran tiga kali empat meter yang pengap dan hanya diterangi lampu neon, penyesalan besar akhirnya menghantam dada Axel tanpa ampun. Ia memegang erat kartu ATM itu sambil menggertakkan giginya, merutuki k
Mendengar pertanyaan blak-blakan dari suaminya, Viona langsung tersenyum kecil. Ia meletakkan cangkir tehnya di atas meja kecil di hadapan mereka, lalu menatap Reno dengan sorot mata merasa bersalah."Sudah kok. Tadi siang aku sudah mencobanya," jawab Viona lembut, suaranya terdengar tenang tanpa ada beban.Reno yang tadinya bersandar santai langsung menegakkan posisinya, begitu penasaran. "Oh ya? Terus, hasilnya gimana?"Viona menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis. "Hasilnya negatif, Ren. Maaf ya, sepertinya kita masih harus bersabar, atau mungkin memang belum waktunya."Melihat raut wajah Viona yang sedikit berubah, seolah takut mengecewakannya, Reno langsung mengulurkan tangan untuk menggenggam jemari istrinya itu dengan hangat dan menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum menenangkan."Hei, kenapa minta maaf, hm?" ucap Reno dengan lembut.Reno mengusap punggung tangan Viona pelan. Baginya, hasil negatif itu sama sekali bukan masalah besar. Jujur saja, ia memang sempat berha
Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar
Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama
Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m
Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa







