LOGINAmbar dan Harjo saling berpandangan sejenak, lalu pandangan keduanya beralih menatap Reno yang duduk tenang di sisi Viona. Ada keraguan di mata kedua orang tua paruh baya itu.Harjo menarik napas pelan sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Dandi."Sebenarnya, sebagai orang tua kandung, tentu saja saya dan Ambar ingin sekali bertemu dengannya, ingin melihat secara langsung keadaan anak itu," tutur Harjo jujur. "Tapi... kami juga harus tahu diri. Mengingat Axel saat ini bahkan menolak Reynald sebagai saudaranya, saya khawatir dia juga akan menolak kami."Mendengar keraguan itu, Viona langsung nyeletuk dengan nada yang santai namun menyindir telak."Ah, kalau soal itu, Pa... Sepertinya Axel bakalan langsung mau menerima, tapi bukan karena alasan ikatan darah. Dia kan setelah diusir oleh Om Dandi jadi hidup sengsara, kehilangan semua fasilitas mewah dari Om Dandi. Makanya sekarang dia malah jadi simpanan tante-tante kaya demi tetap bisa foya-foya," ucap Viona terus terang.Deg.Dandi dan M
Harjo mendengarkan pengakuan dan permohonan maaf dari Dandi dengan saksama. Dia menarik napas pelan, lalu menyunggingkan senyuman bijak untuk meredakan beban berat yang dirasakan Dandi."Pak Dandi, tenanglah. Reynald dan Viona sebelumnya sudah menceritakan semuanya kepada kami. Mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur, udah terlanjur. Apa yang terjadi di masa lalu, termasuk bagaimana Axel tumbuh dan memilih jalannya sendiri, memang sudah menjadi takdir yang harus kita hadapi."Harjo menatap Dandi dan Mila secara bergantian. "Sebagai orang tua, kita tentu ingin yang terbaik untuk anak-anak kita. Tapi setiap anak punya jalan hidup dan pilihannya masing-masing. Kita doakan saja, semoga suatu saat nanti Axel bisa sadar, merenungkan semua perbuatannya, dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik."Di samping Harjo, Ambar juga mengangguk lembut, setuju dengan ucapan suaminya. Tatapannya terlihat ketulusan seorang ibu yang tidak menyimpan dendam sedikit pun, meskipun tahu Axel adalah an
Dandi bertanya, mencoba bersikap tenang meski matanya terus bergantian menatap Harjo dan Reno. "Siapa mereka? Dan kenapa kami diundang ke sini?"Viona berdiri dan mulai memperkenalkan. "Oh iya, Om Dandi, Tante Mila. Perkenalkan beliau ini, Pak Dandi dan Bu Ambar serta Revan. Mereka baru datang dari Australia." Viona lalu menoleh ke arah Pak Harjo. "Dan, Pa, Ma, ini Pak Dandi dan Bu Mila."Kelima orang itu saling memperkenalkan diri sambil berjabat tangan bergantian. Dalam pikiran Dandi dan Mila bertanya-tanya kenapa Viona menyebut dua orang itu dengan panggilan papa dan mama kalau tidak salah."Lalu apa hubungannya dengan kami, Vi?" tanya Mila tidak sabaran."Pak Dandi, Bu Mila, tenang dulu. Duduk dulu saja biar kita ngobrolnya enak," jawab Darmawan.Mila menggenggam erat lengan Dandi saat mereka berdua duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Harjo, Ambar, Reno, dan Revan. Suasana ruang keluarga yang tadinya hangat mendadak berubah hening dan tegang."Om Dandi, Tante Mila, kami
"Sebentar, saya telepon Om Dandi dulu," ujar Viona, mengambil ponsel mewahnya yang tergeletak di atas meja, lalu mencari nomor kontak mantan calon mertuanya itu.Setelah menekan tombol panggil, ia mengaktifkan mode pengeras suara agar Harjo, Ambar, Reno, dan Revan bisa ikut mendengarkan.Hanya butuh beberapa kali nada dering sebelum panggilan itu diangkat."Halo, Viona?" suara Dandi Wijaya terdengar di seberang telepon.Dandi kaget, tidak ada hujan, tidak ada angin, mantan calon menantunya itu tiba-tiba menghubunginya. "Ada apa, Viona? Tumben sekali kamu telpon Om?""Selamat siang, Om Dandi," sapa Viona dengan sopan dan tenang "Maaf kalau Viona mengganggu waktunya. Begini, Om... Viona mau menyampaikan kalau ada hal yang sangat penting dan krusial yang harus kita bicarakan bersama."Di seberang sana, Dandi mengerutkan kening. Nada bicara Viona yang begitu serius, membuatnya sangat penasaran."Hal penting apa, Viona? Soal proyek bisnis, atau soal Axel lagi?" desak Dandi tidak sabar."Bu
Harjo menatap kedua pemuda itu dengan tatapan lega, lalu mengalihkan pandangan ke Pak Heru."Pak Heru, terima kasih sudah mendampingi Nak Reynald dan Viona ke sini," ucap Harjo penuh rasa hormat. "Sekarang, karena situasi mengenai keberadaan Nak Reynald dan Revan sudah sangat jelas di antara kita, ada satu hal lagi yang mengganjal dan harus segera kita selesaikan."Pak Heru mengangguk paham. "Maksud Pak Harjo, soal Axel dan Pak Dandi Wijaya?""Benar, Pak Heru," jawab Harjo, lalu menatap Reno. "Reynald, bagaimana menurutmu? Soal Axel yang merupakan kembaran biologismu, dan soal Pak Dandi Wijaya yang kemungkinan besar adalah ayah biologis Revan?"Reno meletakkan cangkir tehnya ke atas meja secara perlahan, lalu menatap Harjo dan Revan bergantian dengan raut wajah serius tapi tetap tenang."Kalau dari sudut pandang saya, Pa... masalah ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Axel itu saudara kembar saya. Meskipun sifat dan jalan hidup yang kami pilih jauh berbeda, dia tetap punya hak unt
Sore hari pun tiba. Sebuah mobil berhenti mulus di halaman luas kediaman Harjo dan Ambar. Dari dalam mobil, turunlah Reno bersama Viona dan Pak Heru yang ikut atas undangan Harjo. Revan, yang sebelumnya telah diajak bicara dan menyetujui pertemuan ini, keluar untuk menyambut mereka bersama Harjo dan Ambar. Jantung Revan berdegup kencang, tangannya terasa dingin saat melangkah.Ketika melihat sosok Reynald, pandangan Revan langsung terkunci pada sosok pemuda itu dan terdiam di tempatnya. Kata-kata yang diucapkan Harjo semalam seketika terbukti nyata di depan matanya sendiri. Wajah Reynald, garis rahangnya, bentuk matanya, hingga gestur berdirinya benar-benar sangat mirip dengan sosok Harjo di masa muda, persis seperti foto-foto lama Harjo yang sering Revan lihat di album keluarga.‘Benar kata Papa... Dia benar-benar mirip sekali dengan foto Papa waktu masih muda,’ batin Revan tercekat. Kenyataan itu menegaskan betapa kuatnya ikatan darah antara Harjo dan Reno.Pantas saja Papa dan M
Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar
Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama
Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m
Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa







