MasukBukannya menjawab rentetan pertanyaan orang tuanya yang panik dan kesal, Axel justru berdiri kaku dengan mata menatap lurus ke arah Dandi dan Mila, dengan emosi yang hampir meledak.Dandi dan Mila langsung membeku. Atmosfer di ruang tamu rumah mewah itu seketika menjadi sangat tegang.Pertanyaan yang keluar begitu tiba-tiba itu membuat Dandi dan Mila saling pandang. Raut kemarahan di wajah Dandi luruh seketika, berganti menjadi kepanikan yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat. Sementara Mila mendadak bungkam, kedua matanya membelalak kaget, menyiratkan ada sebuah rahasia besar yang selama puluhan tahun ini terkunci rapat di balik dinding keluarga mereka."Kamu... kamu bicara apa sih, Axel?" elak Mila, mencoba menutupi kegugupannya dengan tawa hambar yang terdengar dipaksakan. "Jangan ngelantur begitu. Pergi ke mana kamu sebulan ini sampai pulang-pulang menanyakan hal aneh begini?"Dandi meremas jemarinya sendiri, menambahi ucapan istrinya dengan nada yang sengaja dibuat menggelegar
Hembusan napas lega terdengar kompak dari Darmawan, Reno dan Viona saat pintu utama akhirnya tertutup rapat. Atmosfer tegang perlahan mulai mencair. Mereka bertiga melangkah menuju sofa ruang tamu dan mendaratkan tubuh di sana, berusaha menetralkan emosi yang sempat menguras tenaga.Hanya Rima yang tampak berbeda. Raut wajahnya masih diliputi ketidakpuasan dan kekecewaan yang tertahan."Bener-bener enggak tahu malu," gumam Darmawan sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Masih punya muka dia datang dan berdiri di sini, sok menunjuk orang lain padahal kelakuannya sendiri yang busuk.""Sudahlah, Pa. Yang penting drama ini akhirnya selesai," sahut Viona, menyandarkan punggungnya ke sofa.Rima yang sedari tadi melipat tangan di dada tiba-tiba bertanya dengan nada memprovokasi. "Tapi dari kalian tadi enggak ada yang bertanya atau penasaran, kenapa Axel sampai bisa bertindak senekat dan seberani itu?"Viona langsung memotong cepat ucapan Mama tirinya. Tatapannya menajam ke arah Rima."Aku engg
Atensi semua orang di ruangan itu langsung tertahan. Pandangan Darmawan, Viona, dan Rima kini bergantian tertuju pada Axel dan Reno.Bahkan Reno sendiri perlahan mengalihkan pandangannya. Matanya yang tajam kini menatap raut wajah Axel dengan cermat, seolah untuk pertama kalinya ia benar-benar menyadari kemiripan garis wajah mereka berdua.Keheningan itu mendadak pecah oleh tawa sumbang yang keluar dari mulut Axel."Hubungan darah? Kakak adik?" cibir Axel dengan nada sangat sinis, meskipun napasnya masih tersengal menahan emosi. Wajahnya meringis jijik saat menatap Rima, lalu beralih melirik Reno dari ujung kepala sampai ujung kaki."Tante Rima kalau mau ngelawak jangan di saat seperti ini. Otak Tante udah geser, ya?" tembak Axel pedas, meluapkan kekesalannya.Axel lalu menunjuk Reno dengan tatapan penuh penghinaan dan rasa tidak suka."Mana mungkin aku punya hubungan darah sama pria udik dan miskin kayak dia? Lihat penampilannya. Dari ujung rambut sampai ujung kaki cuma bawa aura kem
Reno memegang lembut jemari Viona, melanjutkan penjelasannya dengan suara yang tenang namun merasuk ke dalam hati. "Makanya dari kemarin aku sengaja menunggu waktu yang tepat, Vi. Aku menunggu momen di mana kebohongan pria ini terbongkar dengan sendirinya, tanpa membuatku terkesan mengada-ada atau berniat buruk memecah belah," tambah Reno, terlihat meyakinkan. Darmawan mengangguk-angguk setuju, raut amarahnya pada Reno seketika mereda berganti dengan rasa paham. Pria paruh baya itu menghela napas panjang lalu merangkul bahu putri kesayangannya. "Ya sudah, tidak usah dipikirkan dan diperdebatkan lagi, Vi," hibur Darmawan dengan nada membujuk. "Reno benar. Yang jelas sekarang kamu sudah tahu fakta sebenarnya, kalau pria pengecut di depan kita ini ternyata jauh lebih brengsek dari yang kita bayangkan." Viona terdiam sejenak, meresapi setiap perkataan Papa dan suaminya. Gejolak emosi di dadanya perlahan menyurut. Sedetik kemudian, sebuah senyuman tipis, senyum lega tanpa beban, mengem
Axel langsung mendelik hebat, kepalanya menggeleng cepat dengan raut wajah yang mendadak panik luar biasa. Keringat dingin mengucur di pelipisnya."Bohong! Itu semua fitnah," teriak Axel melengking, berusaha menutupi kepanikan yang nyaris meruntuhkan sisa-sisa pertahanannya. Ia menunjuk muka Reno dengan jari yang bergetar hebat."Viona, Om Darmawan, jangan percaya sama pria miskin ini. Dia sengaja mencari-cari kesalahan aku. Dia merekayasa semuanya cuma buat menjatuhkan aku di depan kalian. Dia itu cuma takut posisi dan semua fasilitas mewah yang dia nikmati di rumah ini direbut kembali sama aku, makanya dia bikin fitnah keji kayak gini," cerocos Axel dengan nada membalikkan fakta, suaranya makin meninggi dramatis.Axel melangkah mendekati Viona, mencoba memasang wajah penuh kepasrahan yang dibuat-buat. "Vi, kamu kenal aku kan? Mana mungkin aku selingkuh? Ponsel dia itu pasti cuma berisi rekayasa dan editan. Pria ini cuma manipulatif yang mau memanfaatin kekayaan keluarga kamu."
Tak berapa lama, pintu penumpang mobil mewah itu dibukakan oleh sang sopir dari luar. Sosok pria paruh baya berkharisma dengan setelah kemeja rapi melangkah turun dari sana.Viona, Reno, Rima, dan Axel sempat mengerutkan dahi karena sama sekali tidak mengenali kendaraan itu, mobil baru keluaran terbaru yang memang belum pernah terparkir di halaman rumah tersebut. Namun, begitu pria itu melangkah makin dekat ke teras, mata mereka seketika membelak.Ternyata, itu Darmawan. Darmawan melangkah masuk melewati pintu utama dengan wajah yang mulanya tampak lelah usai menyelesaikan urusan pekerjaannya. Namun, begitu kakinya memijak ruang tamu dan matanya melihat sosok pria yang berdiri kaku di depan anak dan istrinya, langkah Darmawan seketika terhenti.Raut wajahnya berubah drastis dari lelah menjadi kaget, menatap Axel dari atas ke bawah, seolah tak percaya dengan penglihatannya sendiri."Axel," gumam Darmawan.Seketika itu juga, urat-urat di leher dan pelipis Darmawan menegang. Amarah yang
Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar
Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama
Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m
Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa







