LOGINPercakapan serius itu terjadi di sela-sela keriuhan ruang keluarga. Para wanita, Ambar, Rima, dan Vera, sedang sibuk mengobrol dan bergunjing asyik di sudut sofa yang lain, sementara Reno memilih pamit sebentar untuk pergi ke toilet.Darmawan tersenyum tipis mendengar pertanyaan putus asa dari besannya itu. Dia mengangkat cangkir teh di hadapannya sejenak, lalu meletakkannya kembali ke atas meja dengan gerakan pelan sebelum memberikan jawaban."Wah, kalau soal mengubah watak dan perangai mendarah daging seperti itu, mungkin caranya harus lewat cuci otak atau dibawa langsung ke psikiater khusus. Mungkin lho, Pak Harjo, soalnya kalau sudah menyangkut watak bawaan dan ego yang terlanjur besar, sepertinya butuh keajaiban atau guncangan hidup yang jauh lebih keras agar dia benar-benar sadar," jawab Darmawan dengan setengah bercanda.Harjo mendesah pelan mendengar candaan realistis dari Darmawan, menyadari bahwa harapan untuk melihat perubahan drastis dari anaknya sepertinya masih jauh.Dar
Mendengar kata-kata kasar yang diucapkan Axel, rahang Dandi mengeras. Kesabarannya yang sempat ditahan demi menjaga suasana di depan Revan kini hampir habis tersulut oleh ketidaksopanan Axel dan akhirnya emosinya pun terpancing."Asal kamu tahu batasanmu, Axel," ujar Dandi dengan suara berat dan penuh tekanan, melangkah pelan mendekati Axel. "Rumah ini sudah sangat sabar menghadapimu. Kalau kamu datang ke sini hanya untuk berteriak dan membuat keributan, lebih baik kamu pergi sekarang juga. Tidak ada tempat untuk orang yang tidak tahu diri di rumah ini. Dan berani-beraninya kamu mengatakan Revan anak pungut!"Axel mendengus keras, tawanya terdengar sumbang dan penuh kepedihan yang dipaksakan. Lalu menatap Dandi dengan tatapan menantang, tidak ada hormat dan tidak gentar dengan gertakan pria yang dulu selalu memanggilnya anak kesayangan itu."Pergi? Gampang banget ya, Pa, ngusir aku setelah semua fasilitas dan kemewahan yang biasa aku nikmati dicabut begitu saja!Sekarang kalian sudah p
"Lepas!" bentak Axel sekali lagi, berusaha menyentak badannya hingga Revan akhirnya melepas cengkeramannya dengan satu dorongan pelan.Axel memegangi pergelangan tangannya yang memerah, menatap Revan penuh dendam dan napas cepat. Keangkuhannya ternyata dilawan langsung."Kamu pikir kamu udah menang, Revan? Jangan senang dulu. Aku akan pastikan kamu nggak akan tenang menikmati semua kemewahan di rumah ini," bisik Axel dengan mengancam."Aku nggak pernah menganggap ini sebuah kemenangan atau perlombaan, Axel. Satu-satunya hal yang kalah di sini adalah nurani dan akal sehatmu sendiri," balas Revan tenang, berdiri tegap sambil melipat kedua tangannya di dada.Sebelum Axel sempat membalas ucapan itu, pintu depan rumah mendadak terbuka lebar. Langkah kaki tergesa-gesa terdengar masuk.Mila baru saja pulang. Saat matanya melihat ada Axel berdiri di ruang tamu bersama Revan dan sepertinya sedang bersitegang, Mila langsung kaget dan khawatir."Axel? Kenapa kamu bisa ada di sini?" sapa Mila dan
Sebelum Axel sempat menjawab atau membantah, Harjo langsung menaikkan kaca jendela mobil dengan cepat."Jalan, Pak," perintah Harjo singkat kepada sang sopir.Mobil mewah itu langsung melaju perlahan meninggalkan area parkir kafe. Axel yang sempat mencoba menahan badan mobil dengan tangannya terpaksa mundur beberapa langkah karena mobil sudah melaju.Axel berdiri terpaku di halaman parkir, dengan kaki mendadak lemas, tidak mampu lagi menopang tubuhnya, pikirannya panik dan frustrasi. Hingga akhirnya jatuh terduduk di atas paving block, menatap kosong ke arah mobil yang semakin menjauh dan baru sadar dengan sifat sombong dan keangkuhannya yang selalu membawa petaka di hidupnya.Tiba-tiba terdengar dering ponsel dari dalam saku celana Axel. Pria itu menarik napas panjang, merogoh ponselnya dengan tangan yang masih sedikit bergetar, melihat nama yang tertera di layar.Tante Amel.Axel membiarkan ponsel itu berdering terus-menerus tanpa berniat mengangkatnya. Panggilan pertama terputus, l
Axel yang tadinya bersiap melontarkan cacian berikutnya, langsung terdiam. Senyuman sinis di wajahnya menghilang, alisnya berkerut dalam, matanya menatap Harjo dengan tatapan bingung."Apa?" cicit Axel pelan, kontras dengan bentakannya sedari tadi. Ia menggelengkan kepalanya pelan, menatap Harjo, lalu beralih menatap Ambar yang berdiri di samping Harjo dengan mata berkaca-kaca. Axel menelan ludahnya susah payah, lalu kembali menatap Reno. "Apa katamu tadi, orang tua? Coba... coba ulangi lagi." Reno yang sedari tadi berusaha menahan diri akhirnya melangkah maju. Matanya menyalang penuh amarah, tidak terima melihat Axel memperlakukan orang tuanya dengan begitu tidak terhormat."Mereka yang kamu panggil orang tua dengan tidak sopan itu adalah orang tua kandungku," jawab Reno.Axel tersentak. Alisnya semakin bertaut rapat, kepalanya menggeleng pelan, langsung bingung dan panik. "Orang tua kandungmu? Jadi maksud kamu apa, Ren? Mereka orang tua kita?"Reno menatap Axel dengan tatapan ding
Ambar menatap Axel lurus-lurus tanpa berkedip sedikit pun. Sungguh ironis rasanya, di hadapannya kini duduk darah dagingnya sendiri yang lahir dari rahimnya 26 tahun lalu, tapi mirisnya sangat miskin adab dan begitu angkuh."Saya sudah mendengar dan tahu semuanya tadi," ucap Ambar tenang, suaranya tidak tinggi namun memiliki vibrasi penekanan yang tegas. Lalu tersenyum tipis, begitu prihatin. "Lalu... kalau memang saya ini ibumu, kenapa?"Axel mendadak mengerutkan keningnya, kebingungan bercampur jengkel atas ucapan wanita paruh baya di depannya itu.Sebelum Axel sempat memotong, Ambar melanjutkan kata-katanya dengan tatapan yang menghujam tajam ke dada Axel."Rasa-rasanya... saya juga tidak akan mau punya anak seperti kamu. Anak yang tidak tahu diuntung, tidak tahu cara balas budi, dan bisanya cuma menuntut hak tanpa pernah sadar apa kewajibannya untuk berbakti kepada orang tua," lanjut. Ambar tanpa ragu.Brak!Axel makin kesal dan terbakar amarah, menggebrak meja dengan tatapan nyal
Brakk! Pintu ruang rias VIP itu terbuka begitu keras hingga semua orang yang ada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita muda, cantik berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit memburu. Gaun pengantin putih yang dikenakannya tampak sempurna. Riasan wajahnya juga je
"Nikahi putriku dan sebagai gantinya, biaya pengobatan ibumu dan utang-utang keluargamu dua ratus juta, lunas kubayar." Reno alias Reynald Notoharjo merasa seperti baru saja disambar petir di siang bolong. Pria berusia dua puluh lima tahun itu berdiri kaku di tengah ruangan mewah yang bahkan la
Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar
Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa







