Mag-log inSebelum Axel sempat menjawab atau membantah, Harjo langsung menaikkan kaca jendela mobil dengan cepat."Jalan, Pak," perintah Harjo singkat kepada sang sopir.Mobil mewah itu langsung melaju perlahan meninggalkan area parkir kafe. Axel yang sempat mencoba menahan badan mobil dengan tangannya terpaksa mundur beberapa langkah karena mobil sudah melaju.Axel berdiri terpaku di halaman parkir, dengan kaki mendadak lemas, tidak mampu lagi menopang tubuhnya, pikirannya panik dan frustrasi. Hingga akhirnya jatuh terduduk di atas paving block, menatap kosong ke arah mobil yang semakin menjauh dan baru sadar dengan sifat sombong dan keangkuhannya yang selalu membawa petaka di hidupnya.Tiba-tiba terdengar dering ponsel dari dalam saku celana Axel. Pria itu menarik napas panjang, merogoh ponselnya dengan tangan yang masih sedikit bergetar, melihat nama yang tertera di layar.Tante Amel.Axel membiarkan ponsel itu berdering terus-menerus tanpa berniat mengangkatnya. Panggilan pertama terputus, l
Axel yang tadinya bersiap melontarkan cacian berikutnya, langsung terdiam. Senyuman sinis di wajahnya menghilang, alisnya berkerut dalam, matanya menatap Harjo dengan tatapan bingung."Apa?" cicit Axel pelan, kontras dengan bentakannya sedari tadi. Ia menggelengkan kepalanya pelan, menatap Harjo, lalu beralih menatap Ambar yang berdiri di samping Harjo dengan mata berkaca-kaca. Axel menelan ludahnya susah payah, lalu kembali menatap Reno. "Apa katamu tadi, orang tua? Coba... coba ulangi lagi." Reno yang sedari tadi berusaha menahan diri akhirnya melangkah maju. Matanya menyalang penuh amarah, tidak terima melihat Axel memperlakukan orang tuanya dengan begitu tidak terhormat."Mereka yang kamu panggil orang tua dengan tidak sopan itu adalah orang tua kandungku," jawab Reno.Axel tersentak. Alisnya semakin bertaut rapat, kepalanya menggeleng pelan, langsung bingung dan panik. "Orang tua kandungmu? Jadi maksud kamu apa, Ren? Mereka orang tua kita?"Reno menatap Axel dengan tatapan ding
Ambar menatap Axel lurus-lurus tanpa berkedip sedikit pun. Sungguh ironis rasanya, di hadapannya kini duduk darah dagingnya sendiri yang lahir dari rahimnya 26 tahun lalu, tapi mirisnya sangat miskin adab dan begitu angkuh."Saya sudah mendengar dan tahu semuanya tadi," ucap Ambar tenang, suaranya tidak tinggi namun memiliki vibrasi penekanan yang tegas. Lalu tersenyum tipis, begitu prihatin. "Lalu... kalau memang saya ini ibumu, kenapa?"Axel mendadak mengerutkan keningnya, kebingungan bercampur jengkel atas ucapan wanita paruh baya di depannya itu.Sebelum Axel sempat memotong, Ambar melanjutkan kata-katanya dengan tatapan yang menghujam tajam ke dada Axel."Rasa-rasanya... saya juga tidak akan mau punya anak seperti kamu. Anak yang tidak tahu diuntung, tidak tahu cara balas budi, dan bisanya cuma menuntut hak tanpa pernah sadar apa kewajibannya untuk berbakti kepada orang tua," lanjut. Ambar tanpa ragu.Brak!Axel makin kesal dan terbakar amarah, menggebrak meja dengan tatapan nyal
Axel terdiam sejenak mendengar pertanyaan tajam dari Mila. Alih-alih merasa bersalah atau menciut nyalinya, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyuman sinis yang menyebalkan. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan angkuh, menatap wanita yang telah membesarkannya itu tanpa sedikit pun rasa hormat."Kalau cara itu bisa menjamin hidupku tetap mewah, kenapa tidak?" ucap Axel dingin dan tanpa beban. "Mama sebagai orang tua yang harusnya bertanggung jawab penuh padaku saja sekarang malah pelit, lepas tangan, dan membiarkan aku menderita. Jadi jangan salahkan aku kalau aku mengambil jalan ini."Axel menatap Mila tajam, lalu melontarkan kalimat yang membuat darah Mila mendidih seketika."Lagi pula, semua ini bukan salahku. Ini salah Papa dan Mama sendiri kenapa dulu aku bisa menjadi anak kalian," maki Axel tanpa rasa bersalah. "Kalau dari dulu aku tahu aku bakal ditelantarkan begini, aku juga nggak bakal mau jadi bagian dari keluarga ini. Aku maunya dengan orang tua kandungku."D
Axel melangkah cepat menghampiri meja tempat Mila duduk. Tanpa menunggu aba-aba atau menunjukkan gestur sopan santun layaknya seorang anak yang sudah berapa waktu tidak berjumpa dengan ibu yang merawatnya, seperti menyalami, mencium tangan, atau sekadar menanyakan kabar dengan tulus, Axel langsung duduk.Dari meja mereka yang berjarak beberapa meja, Harjo dan Ambar memperhatikan setiap gerak-gerik pemuda yang baru saja duduk berhadapan dengan Mila.Pandangan Harjo tidak lepas dari wajah Axel. Dari jarak dekat seperti itu, kemiripan genetik antara Axel dan Reynald memang sangat kentara. Struktur tulang pipi, bentuk rahang, hingga garis hidung mereka tampak begitu mirip, bak pinang dibelah dua. Tapi, jika diperhatikan lebih teliti, ada perbedaan fisik yang cukup mencolok. Axel tidak setinggi, setegap, ataupun sekekar Reynald yang terbiasa hidup dalam kerja leras dulu, perawakan Axel tampak lebih ramping, dengan kulit yang sedikit lebih putih, menandakan gaya hidupnya selama ini yang le
Mila mengambil ponsel dari dalam tasnya, membuka aplikasi pesan singkat dan langsung mengetikkan kata demi kata.[Axel, Mama kangen sama kamu, pengen ketemu. Gimana kabar kamu sekarang? Kira-kira bisa ketemu sama Mama nggak? Besok pagi atau siang saat Papa ke kantor, kita ketemuan ya?]Beberapa menit kemudian, terlihat pesan itu sudah berubah tanda centang dua biru, pesan itu langsung dibaca Axel dalam hitungan menit.Tak sampai dua menit, ponsel Mila bergetar singkat menandakan pesan masuk.Mila dengan cepat membaca balasan dari Axel di layarnya. "Langsung dibalas, Ma?" tanya Dandi penasaran, mencoba mengintip ke layar ponsel istrinya.Mila menoleh ke arah Harjo, Ambar, dan Reno sambil mengangguk pelan. "Iya, Pa... Tebakan kita benar. Dia langsung balas dan langsung mau."Mila kemudian membacakan balasan pesan dari Axel agar semua orang di ruangan bisa mendengarnya.[Bisa, Ma! Axel juga kangen banget sama Mama. Kebetulan Axel lagi butuh bantuan Mama banget nih. Besok jam 11 siang ya
Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m
Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa
Brakk! Pintu ruang rias VIP itu terbuka begitu keras hingga semua orang yang ada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita muda, cantik berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit memburu. Gaun pengantin putih yang dikenakannya tampak sempurna. Riasan wajahnya juga je
"Nikahi putriku dan sebagai gantinya, biaya pengobatan ibumu dan utang-utang keluargamu dua ratus juta, lunas kubayar." Reno alias Reynald Notoharjo merasa seperti baru saja disambar petir di siang bolong. Pria berusia dua puluh lima tahun itu berdiri kaku di tengah ruangan mewah yang bahkan la







