Mag-log inKepada seluruh pembaca novel saya. mohon maaf novel libur selama 2 hari dan akan kembali di lanjutkan hari senin tanggal 21.Terimakasih
"Kakek...?"Bowo melangkah mundur. Tangannya yang tadi masih terangkat untuk menyerang kini jatuh lemas di sisi tubuhnya. Matanya menatap Dimas Aji yang perlahan ambruk ke lantai marmer ruang tengah Sekar Taji.Bukan jatuh karena pukulan. Bukan roboh karena serangan. Dimas Aji jatuh berlutut karena kakinya tidak lagi mampu menopang beban yang selama delapan puluh tahun ia pikul tanpa pernah bisa ia letakkan."Apa... apa yang kau lakukan padaku?"Suara Dimas Aji nyaris tak terdengar. Bisikan seorang pria tua yang baru saja kehilangan satu-satunya hal yang mendefinisikan keberadaannya. Tangannya yang keriput meraba dadanya sendiri. Mencari sesuatu yang tidak lagi ada di sana.Kukuh berdiri tiga langkah di depan pria tua itu. Tangan pemuda itu terbuka di kedua sisinya. Tidak ada senjata. Tidak ada energi yang mengalir. Tidak ada ancaman."Aku tidak melakukan apa-apa padamu," jawab Kukuh. Suaranya datar. Bukan datar karena sombong. Datar karena memang tidak ada yang perlu dibanggakan dari
"Jadi kau memilih jalan itu."Suara itu datang dari sudut ruangan yang paling gelap. Dari balik pilar besi yang sudah dimakan karat selama seratus tahun. Dari tempat di mana cahaya liontin kamboja belum sempat menyentuh.Kukuh menoleh.Dimas Aji Sasmita melangkah keluar dari kegelapan.Pria tua itu tidak terburu-buru. Tidak mengendap-endap. Tidak menyiapkan kuda-kuda atau merapal mantra. Dimas Aji hanya berjalan. Pelan. Satu langkah demi satu langkah. Sepatu kulitnya berdetak di lantai semen yang berdebu. Tangannya terlipat di belakang punggung. Tasbih kayu hitam masih melingkar di jari-jarinya.Dan matanya menatap.Bukan menatap Kukuh. Bukan menatap Bowo yang masih berlutut di lantai dengan cermin retak di pergelangan tangannya. Bukan menatap dua belas praktisi yang masih menangis tanpa suara.Dimas Aji menatap liontin kamboja di dada Kukuh.Lama.Sangat lama.Seperti seseorang yang sedang menatap sesuatu yang sudah lama ia tahu akan datang tapi tetap tidak siap ketika akhirnya tiba.
"Aku akan memulai sekarang."Kukuh mengucapkan kalimat itu tanpa menatap siapa pun. Suaranya datar. Seperti dokter yang memberitahu pasien bahwa prosedurnya akan dimulai. Bukan ancaman. Bukan peringatan. Hanya informasi.Kedua tangan Kukuh terangkat dari lutut. Telapak terbuka. Menghadap ke atas. Liontin dua daun kamboja di dada Kukuh berpendar lebih terang. Merah dan kuning. Bergantian. Lebih cepat sekarang."Ajian apa itu?" desis salah satu praktisi bayaran. Wanita berpangsi putih. Suaranya bergetar. "Energi apa yang kau keluarkan?"Kukuh tidak menjawab pertanyaan itu. Tidak perlu. Energi yang keluar dari telapak tangan Kukuh sudah menjawab dengan sendirinya.Bukan energi Rajah Getih yang panas dan buas. Bukan tombak merah yang selama ini Kukuh gunakan untuk menghancurkan santet dari jarak jauh. Bukan gelombang kejut yang bisa meremukkan tulang dari seberang ruangan.Ini berbeda.Energi yang mengalir dari liontin kamboja itu berwarna keemasan. Sangat tipis. Sangat lembut. Seperti be
"Kalian semua takut."Kukuh mengucapkan kalimat itu tanpa membuka mata. Suaranya datar. Tidak menghakimi. Tidak mengejek. Hanya menyatakan. Seperti seseorang yang membacakan hasil rontgen.Bowo menghentikan tawanya. "Apa?"Kukuh tidak menjawab. Kedua tangan Kukuh masih di atas lutut. Telapak terbuka. Liontin dua daun kamboja di dadanya masih berpendar. Merah. Kuning. Bergantian. Seperti metronom yang mengukur tempo sesuatu yang hanya bisa didengar oleh telinga yang mau mendengarkan.Kukuh menarik napas.Dan membuka persepsinya.Bukan Mata Batin yang biasa. Bukan penglihatan energi yang selama ini Kukuh gunakan untuk melihat santet di aliran darah pasien atau teluh yang bersembunyi di balik tulang rusuk. Ini berbeda. Liontin kamboja itu membuka satu lapisan lagi. Satu lapisan yang lebih dalam. Lebih sunyi.Dunia di sekeliling Kukuh berubah.Dinding bata merah memudar. Lantai semen memudar. Pilar-pilar besi berkarat memudar. Yang tersisa hanya energi. Aliran. Denyut. Dan rantai.Kukuh m
Pintu terbuka.Bukan didorong dari dalam. Bukan ditarik dengan kasar. Pintu kayu jati itu berayun pelan ke dalam, engselnya berderit seperti suara tulang tua yang dipaksa bergerak setelah bertahun-tahun diam.Dan di balik pintu itu, berdiri Bowo.Bowo Ragil Sasmita mengenakan kemeja hitam yang digulung sampai siku. Lengan kirinya terangkat, memperlihatkan cermin perunggu kuno bermotif kalacakra yang melingkar di pergelangan tangannya. Rambutnya tersisir rapi. Wajahnya pucat. Dan di bibirnya, senyum sinis yang sudah terlalu lama Kukuh lihat di balik setiap serangan, setiap santet, setiap kematian.Di belakang Bowo, dua belas orang berdiri membentuk setengah lingkaran. Pakaian mereka berbeda-beda. Ada yang mengenakan jubah hitam. Ada yang berpangsi putih. Ada yang hanya mengenakan kaos lusuh dengan tato aksara kuno di sepanjang lengannya. Praktisi bayaran. Dari berbagai klan. Tidak ada yang saling mengenal. Tidak ada yang saling percaya.Tapi semua mata mereka tertuju pada satu titik.K
Kres. Kres.Mata gunting rumput itu terus mengunyah dahan tanaman soka. Punggung Kukuh basah oleh keringat . Kontrak gila yang ia tandatangani kemarin kini menjadi kenyataan yang pahit. Di atas kertas triliunan rupiah itu ia adalah suami sang pewaris tahta, namun di atas rumput halaman ini, ia hany
"Bagaimana keputusanmu?"Suara Adiwangsa memecah keheningan ruang direktur yang dingin . Di matanya, pemuda berseragam biru muda di depannya ini tak lebih dari seekor semut yang kebetulan sedang ia butuhkan.Kukuh menunduk menatap pantulan wajahnya sendiri di meja kayu yang mengilap. Pikirannya ber
Kantor pusat Grup Aji Saka menempati lantai empat puluh tujuh. Nama gedungnya saja sudah cukup membuat nyali kaum rendahan ciut sebelum mereka berani melewati pintu putar lobi.Di dalam ruang direktur yang mewah, Adiwangsa berdiri kaku menghadap jendela selebar dinding . Melihat ibu kota Jakarta ya
"Ini kegilaan."Dian mendesis tajam, buku-buku jarinya memutih mencengkeram tepi meja mahoni . Suaranya tidak melengking seperti yang biasa ia gunakan untuk mendominasi rapat keluarga, melainkan serak dan mendidih oleh amarah yang tertahan . "Ayah pasti sudah benar-benar kehilangan akalnya di detik







