Share

Bab 81

Author: Millanova
last update publish date: 2026-05-07 21:42:04
Mendengar kesediaan Kukuh, senyum Dokter Harsha mengembang bukan senyum sopan, tapi senyum orang yang baru saja mendapatkan apa yang sejak tadi ia tunggu.

"Dhi," katanya tanpa menoleh ke anaknya. "Ambilkan pisau emas dan cawannya."

Dokter Adhi sudah bergerak sebelum kalimat itu selesai. Ia membuka lemari kaca di sudut ruangan, tangannya tidak meraba-raba ia tahu persis di mana letak benda itu. Sebentar kemudian ia kembali dengan nampan kecil berlapis beludru merah. Di atasnya: pisau bedah yang s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 473

    Pagi itu, Kukuh bangun tanpa mimpi.Bukan bangun karena suara. Bukan bangun karena keringat. Bukan bangun karena tangan yang terkepal di atas seprai dan nafas yang tersengal seperti seseorang yang baru saja lari dari sesuatu di dalam tidurnya.Kukuh bangun karena cahaya.Cahaya matahari pagi yang menembus celah gorden kamar, jatuh tepat di atas wajah Kukuh seperti tangan yang menepuk pelan. Hangat. Lembut. Tidak mengancam.Kukuh membuka mata. Menatap langit-langit kamar yang sudah sangat ia kenal. Retakan kecil di sudut kiri. Noda air yang belum diperbaiki sejak musim hujan tahun lalu. Dan di dadanya, liontin dua daun kamboja berdenyut. Pelan. Stabil. Seperti jantung kedua yang sudah belajar berdetak seirama dengan jantung pertamanya.Kukuh menoleh ke kanan. Ratih masih tidur. Miring. Menghadap ke arah Kukuh. Nafasnya teratur. Bibirnya sedikit terbuka. Rambutnya berantakan di atas bantal.Kukuh tersenyum. Kecil. Tulus. Lalu bangun tanpa suara.Di kamar mandi, Kukuh menggulung lengan k

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 472

    Tiga hari berlalu tanpa insiden.Tiga hari di mana Kukuh bangun pagi, mandi, memakai kemeja kerja, dan berjalan menyusuri koridor RS Lohitajaya seperti biasa. Tiga hari di mana pasien datang dan pergi, perawat berganti shift, dan monitor detak jantung berdetak stabil tanpa ada yang terinfeksi santet atau teluh. Tiga hari yang seharusnya terasa membosankan tapi justru terasa seperti kemewahan.Di hari ketiga itu, Kukuh kembali ke Lantai 41.Bukan karena ada panggilan darurat. Bukan karena ada pasien kritis. Bukan karena ada santet yang perlu diangkat atau teluh yang perlu dinetralkan.Karena Dokter Harsha memintanya datang."Kuh."Dokter Harsha sudah duduk di balik meja kerjanya ketika Kukuh melangkah masuk. Pria sepuh itu tidak membaca. Tidak menulis. Tidak memeriksa hasil lab. Hanya duduk. Kedua tangan terlipat di atas meja. Menatap pintu. Menunggu.Kukuh menghentikan langkahnya di ambang pintu. Ada sesuatu di wajah gurunya yang berbeda. Bukan tegang. Bukan cemas. Lebih seperti seseo

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 471

    Langkah Dimas Aji perlahan menghilang di ujung jalan setapak.Tidak ada kata perpisahan. Tidak ada anggukan. Tidak ada tatapan terakhir. Pria tua itu hanya berbalik setelah tangisnya reda, menunduk dalam-dalam, dan berjalan pergi dengan langkah yang sama tertatihnya saat datang. Bedanya, kali ini bahunya tidak setegang sebelumnya. Seperti seseorang yang baru saja meletakkan batu besar yang sudah terlalu lama ia pikul di punggungnya.Kukuh menatap punggung itu sampai hilang di balik deretan nisan.Lalu menoleh kembali ke batu di depannya.Nisan Pak Kasiman. Sederhana. Batu andesit abu-abu yang belum ditumbuhi lumut. Nama bapaknya terukir rapi di permukaan. Tanggal lahir. Tanggal kematian. Dan di bawahnya, satu kalimat yang Ratih pilih sendiri: Di sini beristirahat seorang bapak yang tidak pernah berhenti menyayangi.Kukuh berjongkok. Jari-jarinya menyentuh permukaan nisan yang masih dingin oleh embun pagi. Dingin yang berbeda dari dinginnya marmer rumah sakit. Dingin yang tidak menganc

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 470

    "Bapak, hari ini cuacanya bagus."Kukuh duduk bersila di depan nisan sederhana itu. Jari-jarinya menyentuh permukaan batu yang masih dingin oleh embun pagi. Di atas nisan, sehelai daun kamboja kering tergeletak, jatuh dari pohon tua yang menaungi makam itu sejak puluhan tahun lalu."Saya bawa kopi. Kopi tubruk yang Bapak suka. Gula dua sendok. Tidak pakai susu." Kukuh meletakkan gelas plastik di samping nisan. "Ratih bilang saya harus kurang-kurangi ngomong sama nisan. Tapi saya bilang, kalau nggak ngomong sama Bapak, nanti saya lupa suaranya Bapak."Angin pagi berhembus pelan. Membawa aroma tanah basah dan bunga kamboja yang sudah mulai layu.Kukuh tersenyum. Senyum kecil yang tidak dipaksakan."Tiga hari yang lalu, saya sudah selesaikan semuanya, Pak. Rantai itu sudah putus. Bowo, Dimas Aji, dua belas praktisi itu... semuanya sudah bebas. Bukan bebas dari penjara. Bebas dari..."Kukuh berhenti. Mencari kata yang tepat."...dari suara yang selama ini menyuruh mereka membenci kita."K

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 469

    "Enam pasien di Bangsal C sudah pulih total, Mas Kukuh."Dokter Adhi meletakkan tablet di atas meja aluminium Lantai 41, menunjuk grafik vital yang semuanya berwarna hijau. Senyum dokter muda itu lebar, lega, seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan operasi paling rumit dalam kariernya."Tidak ada residu energi gelap. Tidak ada jejak teluh. Tidak ada bekas rantai." Dokter Adhi menatap Kukuh dengan mata berbinar. "Bersih total. Seolah mereka tidak pernah tersentuh santet sama sekali."Kukuh mengangguk pelan. Pemuda itu masih duduk di tepi meja batu, kemeja kerjanya sedikit kusut setelah shift pagi yang panjang. Di balik kemejanya, liontin dua daun kamboja berdenyut hangat. Stabil. Tenang."Bagaimana dengan tekanan darah mereka?" tanya Kukuh."Normal semua. Saturasi oksigen normal. Tidak ada aritmia." Dokter Adhi menggeleng takjub. "Saya sudah cek tiga kali, Mas. Bahkan lebih bersih dari pasien yang belum pernah sakit. Seperti tubuh mereka di-reset."Kukuh tersenyum tipis. "Bukan

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 468

    Suara mesin dua SUV hitam memecah keheningan malam di pelataran rumah joglo tua itu. Lampu sorot kendaraan menyapu area yang masih berbau anyir darah dan sisa energi gaib yang belum sepenuhnya menguap.Pintu mobil terbuka. Kyai Agus melangkah turun dengan langkah tenang namun penuh wibawa. Di belakangnya, Pak Jaka mengikuti dengan postur tegap, matanya langsung menyapu seluruh pelataran dengan kewaspadaan seorang prajurit.Namun begitu mata Kyai Agus menangkap pemandangan di hadapannya, langkah pria sepuh itu terhenti.Di tengah pelataran, Dimas Aji Sasmita berlutut. Tubuh konglomerat itu gemetar, kepalanya menunduk dalam, kedua tangannya terbuka di atas paha seperti orang yang menyerah total. Di sekelilingnya, dua belas praktisi bayaran yang tadinya terikat rantai gaib kini duduk bersila dengan wajah kosong namun bebas tanpa bekas luka sedikit pun. Dan di sudut terdekat, Bowo terduduk di lantai tanah, matanya merah, napasnya tersengal, tangannya masih gemetar.Kyai Agus menelan ludah

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 103

    Jari polisi itu gemetar hebat saat menekan tombol terima di layar ponselnya. Belum sempat ia mengucapkan salam pembuka, sebuah suara bariton yang sangat menggelegar meledak dari seberang panggilan itu adalah suara Kapolda, pimpinan tertingginya di kepolisian provinsi ini."Kamu bosan hidup atau bosa

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 7

    Jam digital di dasbor mobil mewah itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Di kursi penumpang, Kukuh duduk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa menyeramkan di luar sana.Mobil itu berguncang membelah jalan berbatu yang sempit. Hutan pinus di kanan kiri mereka berdiri rapat, mengha

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 6

    Tujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 5

    Siang itu, dapur utama kediaman keluarga Aji Saka terasa seperti perut neraka. Uap tebal beradu dengan aroma bumbu yang ditumis dalam suhu tinggi, membuat hawa menjadi sangat lembap dan lengket di kulit.Di tengah kekacauan sibuk itu, Kukuh dipaksa bekerja bagaikan kuli kasar. Ia harus memanggul ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status