Partager

Bab 85

Auteur: Millanova
last update Date de publication: 2026-05-08 21:53:21

"Sudah, jangan terlalu penasaran dengan hal seperti itu! Daripada nanti malah membawa petaka kepada dirimu sendiri," ucap Dian sinis, memotong pembicaraan dengan nada tajam yang biasa ia gunakan untuk membungkam orang lain.

Kukuh tetap tenang, meski ia bisa merasakan ketegangan yang merambat di udara kabin mobil. "Tapi saya hanya ingin tahu dan sebisa mungkin mengantisipasi jika mereka menyerang lagi. Mengetahui musuh adalah separuh dari kemenangan, bukan?" balas Kukuh dengan logika yang sulit
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 232

    Kukuh dan Ratih melangkah masuk melewati sepasang pintu ganda yang seharusnya menjadi akses utama menuju ballroom. Namun, begitu mereka melewati ambang pintu, suasana mendadak berubah drastis.Tidak ada alunan musik klasik. Tidak ada dentingan gelas atau suara tawa para tamu. Ruangan luas di hadapan mereka dipenuhi oleh orang-orang berjas dan bergaun mewah, namun semuanya terdiam kaku. Kesunyian yang pekat dan tidak wajar menyelimuti tempat itu, seolah-olah kemeriahan pesta tidak pernah terjadi di sana."Apa kita tidak salah ruangan, Tih?" ucap Kukuh, memecah keheningan yang janggal tersebut. Matanya menyapu sekeliling, melihat sosok-sosok tamu yang tampak buram dan tidak merespons kehadiran mereka.Ratih menghentikan langkahnya. Alisnya berkerut tajam. "Sepertinya ada yang berbeda, Kuh. Hawa di sini... salah.""Ayo kita coba tanya ke resepsionis di depan sana," usul Kukuh, berpura-pura mencari solusi paling logis bagi orang awam."Tunggu dulu," cegah Ratih cepat.Sebagai pewaris dara

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 231

    Kalimat balasan Ratih meluncur dengan sangat mulus, terdengar begitu anggun namun memiliki ketajaman layaknya belati yang menohok telak harga diri Ratna tepat di titik terlemahnya. Angin malam yang berembus di balkon itu seolah ikut membeku mendengar sindiran mematikan sang pewaris utama Keluarga Cokro."Ayo, Kuh, kita masuk ke dalam ballroom saja," ucap Ratih dengan nada suara yang tenang, mengalun lembut namun menyayat.Matanya yang indah melirik sekilas ke arah Ratna dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan, sebuah gestur aristokrat yang sudah mendarah daging dalam dirinya. "Aku khawatir, kalau kita berlama-lama di sini... nanti akan ada yang menangis sedih lagi kalau miliknya terambil olehku secara tidak sengaja."Namun, sebelum Ratna sempat meledak dalam amarah dan membuang martabatnya dengan berteriak, Kukuh sudah lebih dulu mengambil alih situasi. Pemuda itu melangkah pelan, menempatkan dirinya sedikit di depan Ratih sebagai perisai pelindung, lalu menundukkan kepalanya sed

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 230

    Ratih hanya menatap dingin uluran tangan Aryo Lembu Sasmita. Sebagai pewaris Keluarga Cokro yang sudah terbiasa menghadapi ular-ular beracun di dunia bisnis, ia sama sekali tidak berniat merendahkan gengsinya untuk menyentuh tangan bawahan dari musuh masa lalunya.Melihat penolakan Ratih, sorot mata Aryo menajam. Ada kilatan rasa tersinggung yang dengan cepat ia tutupi dengan senyum miring.Namun, sebelum Aryo sempat menarik tangannya kembali, Kukuh melangkah maju menutupi separuh tubuh Ratih. Dengan gerakan yang sangat tenang namun cepat, pemuda itu meraih dan menyambut uluran tangan Aryo."Perkenalkan, saya asisten pribadi Keluarga Cokro. Nama saya Kukuh," ucap Kukuh dengan senyum sopan yang sengaja dibuat-buat.Tepat saat kulit tangan mereka bersentuhan, Kukuh seketika merasakan ada hawa aneh yang menjalar. Sebuah energi gaib yang sangat dingin dan setajam jarum mencoba menembus pori-pori telapak tangannya, merayap naik dengan niat melumpuhkan aliran darahnya.(Jadi begini cara mai

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 229

    Angin malam berembus pelan, membawa keheningan sesaat di antara mereka berdua."Iya, memang penuh sesak di dalam," ucap Kukuh santai, memecah kesunyian sambil menyandarkan kedua tangannya di pagar pembatas balkon. "Orang-orang itu seperti sedang saling bunuh dengan pegangan mereka masing-masing. Auranya berbenturan keras."Mendengar istilah 'pegangan' keluar dari mulut Kukuh, dahi Ratih sedikit berkerut. Namun, sebelum ia sempat menanyakan hal itu, Kukuh sudah menoleh dan menatapnya dengan raut wajah serius."Tih, aku mau tanya," ucap Kukuh tiba-tiba, suaranya merendah. "Sudah diperluas seberapa Rajah Wangi yang kamu miliki?"Ratih tersentak pelan. Matanya melebar sesaat. Jantungnya berdegup lebih kencang. Pertanyaan itu sama sekali bukan sesuatu yang bisa dilemparkan oleh orang awam. Rajah Wangi adalah rahasia darah terdalam Keluarga Cokro yang tidak diketahui oleh sembarang orang, apalagi oleh pria yang selama ini hanya dianggap mantan Office Boy."Apa yang kamu maksud, Kuh?" balas

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 228

    Setelah kepergian Panji dan Kyai Agus, keheningan di meja VVIP itu perlahan mencair, digantikan oleh kasak-kusuk para elit yang masih terheran-heran."Baiklah, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, silakan melanjutkan menikmati hidangan dan acara pesta ini. Saya mohon pamit sebentar," ucap Pak Eko dengan raut wajah sedikit tegang. Tanpa membuang waktu, tuan rumah acara itu bergegas melangkah pergi untuk mengejar Kyai Agus dan sang dewa perbankan.Adiwangsa dan Eyang Putri menatap kepergian Pak Eko dengan raut kekecewaan yang tak bisa ditutupi. Di mata mereka, sebuah peluang emas baru saja terlepas begitu saja dari genggaman.Melihat wajah masam keluarga Cokro, Nyonya Broto tak melewatkan kesempatan untuk kembali memanaskan suasana. Matriark keluarga saingan itu menutup mulutnya dengan kipas lipat dan tertawa pelan."Wah, wah... sayang sekali ya. Ternyata cuma salah orang," sindir Nyonya Broto dengan nada suara yang sengaja ditinggikan agar terdengar oleh meja di sekitarnya. "Padahal, kalau sea

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 227

    (Waduh, ini bahaya,) batin Kukuh cepat.Otaknya berputar. Jika identitas aslinya terbongkar di hadapan puluhan konglomerat dan pejabat VVIP ini, tidak hanya rencananya yang akan berantakan, tapi posisi Ratih dan Keluarga Cokro juga akan langsung menjadi sorotan utama musuh-musuhnya di dunia bawah.Dengan ekspresi wajah yang diatur sedatar dan sepolos mungkin, Kukuh menundukkan kepalanya, bersikap layaknya bawahan yang sedang kebingungan."Maaf, Tuan. Sepertinya Anda salah orang," ucap Kukuh dengan nada yang sangat sopan dan merendah. "Saya ini hanya tenaga angkut dan perawat dari Keluarga Adiwangsa. Saya hanya orang biasa yang kebetulan beruntung bisa mengabdi di sini. Tidak mungkin saya ini Tuan Besar yang Anda maksud."Sambil mengucapkan hal itu, pandangan Kukuh melirik tajam ke arah Kyai Agus yang berdiri tak jauh di belakang Panji. Lewat sorot matanya, Kukuh memberikan kode keras: Tarik dia sekarang, atau situasi ini akan memancing bahaya yang lebih besar.Memahami isyarat dari sa

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 183

    "Hahahaha... aku mateni koen? Eman tenagoku, Le!" (Hahahaha... aku membunuhmu? Sayang tenagaku, Nak!) ucap Mbah Rukmi dengan suara serak, mencoba mengesankan bahwa ia sengaja tidak mengeluarkan kekuatan penuhnya.Namun, ketika pandangannya kembali jatuh pada lengan Kukuh yang kulitnya telah merapat

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 182

    Belum sempat Dokter Harsha menggali lebih dalam informasi dari entitas yang bersarang di tubuh Dita, hawa di dalam kamar yang pengap itu mendadak berubah menjadi sangat tajam dan menekan.Tiba-tiba, sosok Mbah Rukmi sudah berdiri di ambang pintu. Wanita tua renta yang sebelumnya tampak ringkih itu

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 2

    Kantor pusat Grup Aji Saka menempati lantai empat puluh tujuh. Nama gedungnya saja sudah cukup membuat nyali kaum rendahan ciut sebelum mereka berani melewati pintu putar lobi.Di dalam ruang direktur yang mewah, Adiwangsa berdiri kaku menghadap jendela selebar dinding . Melihat ibu kota Jakarta ya

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 1

    "Ini kegilaan."Dian mendesis tajam, buku-buku jarinya memutih mencengkeram tepi meja mahoni . Suaranya tidak melengking seperti yang biasa ia gunakan untuk mendominasi rapat keluarga, melainkan serak dan mendidih oleh amarah yang tertahan . "Ayah pasti sudah benar-benar kehilangan akalnya di detik

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status