Se connecterMendengar pertanyaan spesifik dari Dokter Harsha, wajah Nyai Janari tertunduk lesu. Helaan napas berat keluar dari bibir keriputnya."Pernah, Dokter. Berkali-kali kami mencoba membangunkannya, namun tidak bisa," jawab Nyai Janari dengan suara parau. "Nyonya Larasati seolah terperangkap dalam keadaan koma, tertidur sangat lelap tanpa ada yang tahu kapan ujungnya ia akan terbangun. Dulu... sekitar tiga tahun yang lalu, kami pernah mencari orang pintar yang cukup tersohor untuk menyembuhkan beliau."Nyai Janari membetulkan letak kacamatanya, matanya menerawang mengingat masa-masa putus asa itu. "Namun, dukun itu pada akhirnya angkat tangan. Dia tidak mampu mencabut kutukannya dan hanya bisa membentengi tubuh Nyonya agar tetap hidup. Sebagai solusi darurat, dukun itu menyarankan kami untuk memindahkan Nyonya Larasati kemari... ke Cibalong, ke petak tanah yang paling gersang di seluruh penjuru Jawa Barat."Dokter Harsha mengangguk pelan, wajahnya memancarkan kepahaman mutlak. "Ya, saya tah
Kukuh mengeratkan pelukannya pada kotak kayu jati kelam di dadanya. Saat ia membuka pintu mobil dan melangkah turun, matanya kembali menyapu ke sekeliling pekarangan dan bangunan utama rumah tersebut.(Siapa gerangan orang ini?) batin Kukuh penuh tanda tanya. (Bisa-bisanya mereka memanggil Dokter Harsha yang sangat tersohor di kalangan segelintir konglomerat ultra-kaya ibu kota. Walaupun rumah bergaya lawas ini terlihat megah dan pemiliknya jelas orang berada untuk ukuran desa, tapi kekayaannya tidak sebanding dengan keluarga Aji Saka, bahkan jauh di bawahnya. Rahasia apa yang membuat Dokter Harsha sudi datang jauh-jauh kemari?)"Mari, Dokter. Ikuti saya," ucap pria berpangsi yang tadi dibonceng di motor, membuyarkan lamunan Kukuh.Pria itu menuntun mereka menaiki undakan teras dan melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang perabotannya didominasi kayu jati berukir sangat mewah untuk standar kehidupan di desa. Di tengah ruangan tersebut, seorang wanita paruh baya dengan rambut yang suda
Jalanan aspal yang mulus perlahan berganti menjadi jalanan berkelok dengan kontur yang sedikit bergelombang. Sedan hijau lumut itu melaju membelah kegelapan. Di kanan dan kiri jalan, pepohonan besar menjulang tinggi dengan dahan-dahan yang saling merajut, seolah membentuk terowongan alami yang menutupi langit malam.(Wah, kanan dan kiri sudah memasuki area hutan pekat. Ini harus lebih hati-hati lagi,) benak Kukuh. Ia mencengkeram kemudi dengan waspada. Matanya tajam menyapu setiap sudut jalanan yang hanya diterangi oleh sorot lampu kuning mobilnya. Di sampingnya, Dokter Harsha tampak diam memejamkan mata. Kukuh pun memilih untuk mengunci mulutnya rapat-rapat, bingung apa yang harus diobrolkan di tengah suasana yang begitu mencekam ini.Perjalanan terus berlanjut. Tepat pukul delapan malam, mereka akhirnya memasuki wilayah Kabupaten Garut. Hawa dingin pegunungan langsung menyusup dari celah-celah jendela mobil yang tidak tertutup rapat.Kukuh melirik sejenak ke arah layar navigasi di p
Jari polisi itu gemetar hebat saat menekan tombol terima di layar ponselnya. Belum sempat ia mengucapkan salam pembuka, sebuah suara bariton yang sangat menggelegar meledak dari seberang panggilan itu adalah suara Kapolda, pimpinan tertingginya di kepolisian provinsi ini."Kamu bosan hidup atau bosan pakai seragam, hah?!" maki suara dari seberang telepon itu dengan kemarahan yang meluap-luap hingga terdengar sayup-sayup oleh orang-orang di ruangan tersebut. "Kamu tahu siapa pria sepuh yang sedang kamu bentak dan kamu tahan sekarang?! Beliau adalah orang paling disegani di dunia medis tingkat nasional! Berani-beraninya kamu menuduh cucunya dan mengganggu perjalanan mereka!"Wajah polisi yang tadinya arogan itu seketika berubah seputih kertas. Kakinya merapat refleks. Ia langsung berdiri tegak dalam sikap sempurna, keringat dingin bercucuran membasahi pelipisnya. Secara tak sadar, ia bahkan mengangkat tangannya, memberi hormat dengan kaku pada telepon genggamnya sendiri."S-s-siap, Jende
Kukuh refleks membuka pintu mobil, berniat segera berlari melihat korban. Namun, suara tenang Dokter Harsha menahannya sejenak."Kuh..." panggil Dokter Harsha. "Hati-hati. Jangan bingung, ya."Kukuh menoleh dengan dahi berkerut. "Bingung kenapa, Dok?""Ya... lihatlah dulu sendiri ke sana," jawab Dokter Harsha penuh teka-teki, kembali bersandar di kursinya seolah kecelakaan mengerikan barusan hanyalah tontonan biasa.Kukuh segera melompat keluar dari sedan tua itu. Ia melihat ada beberapa payung besar yang disediakan di dekat pilar pom bensin untuk berjaga-jaga jika hujan turun. Tanpa basa-basi, Kukuh menyambar salah satu payung dan bergegas berlari menembus rintik hujan mendekati titik kecelakaan. Di aspal yang bersimbah darah itu, tiga orang penjaga pom bensin asli suda
"Apa tidak apa-apa, Dok, jika ditabrak begitu saja?" tanya Kukuh, suaranya sedikit bergetar karena khawatir. Bayangan menabrak puluhan orang berjejer di pinggir jalan tentu menabrak akal sehat manusia normal."Tidak apa-apa. Tabrak saja. Yang kamu lihat di pinggir jalan itu bukan manusia," jelas Dokter Harsha dengan nada dingin yang tak terbantahkan.(Apa ini jenis makhluk halus yang sering diceritakan orang-orang sebagai penyebab kecelakaan di jalur lintas provinsi?) batin Kukuh, menelan ludah."Baik, Dok," ucap Kukuh tenang. Ia mencengkeram kemudi lebih erat, menatap lurus ke depan, dan melajukan sedan jadul itu membelah kabut dan hujan, mengabaikan lambaian tangan-tangan pucat di pinggir jalan yang perlahan memudar terlewatkan.Mereka berdua melaju di tengah hujan selama lebih dari setengah jam, dan indikator bensin semakin turun. Di tengah kecemasannya, mata Kukuh menangkap pendaran lampu dari sebuah tiang tinggi berwarna merah di sebelah kiri jalan.(Wah, itu dia pom bensinnya,)







