LOGIN
Rosemary Hotel pukul dua pagi.
"Tidak, Elsa ... kau akan membenciku esok pagi." Alex menggelengkan kepala seraya memalingkan mata dari tatapan wanita muda yang sedang duduk di tepi ranjang. Tidak mungkin! Mana mungkin dia mau menuruti keinginan Elsa meski dirinya ingin. Elsa mengunci tatapan Alex. Manik-manik hijau itu berangsur menggelap, menuntut sesuatu terlarang padanya. "Dad, tolong ... aku mohon." "Tidak, Elsa." Sekali lagi Alex menggeleng. Meski ia kesusahan mengendalikan debaran jantungnya yang terus memacu dahsyat, bersama derasnya dorongan hasrat yang memanas membakar jiwanya. Alex berusaha mati-matian menolak perasaan yang memang tak wajar itu. Saat ini Elsa sedang dalam frustasi yang berat. Mana mungkin ia mengambil keuntungan darinya. Bagaimanapun wanita muda berparas cantik di depannya kini, dia adalah Elsa Swan, menantunya. Melihatnya yang terus berpaling muka, mata Elsa berkaca-kaca. "Apakah aku memang wanita yang menjijikan, persis yang Landon katakan? Bahkan aku tak pantas untuk mendapatkan bahu seorang pria," lirih Elsa. Mendengar gadis itu terisak-isak, Alex melirik. Ia menarik nafas dalam-dalam, lantas mendaratkan bokongnya duduk di samping Elsa. Tangannya mengusap jejak air mata di kedua pipi gadis itu. "Tidak, Elsa. Jangan berkata begitu. Kau gadis yang sangat sempurna. Bodoh sekali jika Landon menelantarkan mu. Namun aku tidak mungkin." Alex menggantung ucapannya. Ia merasa sudah menemukan batasan dari perkataan itu. Tangannya segera dijauhkan dari Elsa. Tak pantas betul jika ia meneruskan kalimatnya. Saat Elsa menatapnya, Alex segera berpaling muka. "Namun apa? Bahkan kau pun tak sudi padaku?" lirih Elsa. Hatinya amat hancur. Alex segera menggeleng. "Tidak, bukan begitu." "Kalau bukan begitu, kenapa kau tak mau melihatku?" Alex menunduk. Ia tak bisa menjawab pertanyaan Elsa meski dia ingin. "Dad ..." Sentuhan hangat di bahu membuat Alex tertegun dari emosi yang sedang bergelora mendera jiwanya. Perlahan ia mengangkat sepasang matanya menatap ke manik-manik hijau Elsa. "Aku mohon," bisik Elsa. Diraihnya jemari Alex, lalu ia menggosok pipinya di sana. Mata basah itu menuntut satu hal yang sangat Elsa butuhkan saat ini. Hati Alex amat gusar. Namun ia tak bisa memungkirinya, jika hatinya sudah terpaut amat jauh akan kecantikan Elsa dan kepolosan gadis itu. Kewarasannya tak bisa bertahan lagi, ketika dengan penuh sukarela Elsa menariknya mendekat seiring tubuhnya yang direbahkan ke kasur. Alex mati-matian berusaha melawan perasaan itu, juga pertarungan emosional di hatinya. Namun saat jemari mungil Elsa mengusap-usap pipi hingga ke rahangnya yang dipenuhi bulu-bulu tipis yang menghitam, semuanya menjadi semakin kacau. Melihat Alex yang diam saja, Elsa tersenyum manis. Tanpa ragu ia melingkarkan kedua tangannya ke tengkuk leher Alex. Ia menggesekkan pipinya ke rahangnya, lalu menatapnya lagi. Nafas Alex kian memburu, terasa hangat menerpa wajah Elsa yang semakin mendekat. Aroma shampo buah dari rambutnya amat memabukkan, bercampur dengan kehangatan kulit. Ketika bibir mereka saling bertemu, bukan hanya hasrat yang meledak, tapi juga suara remasan kain linen dan gesekan kulit yang memanas. Di antara desahan, kegelapan malam di luar jendela seolah menutupi rahasia mereka, sementara jam di dinding terus berdetak, mengingatkan betapa terlarangnya sentuhan itu. ................................................ Tiga bulan sebelumnya di Hotel California pukul sembilan malam. "Pesta yang meriah, CEO! Anda pasti menghabiskan banyak uang untuk menjamu kami." Landon tersenyum miring mendengar seorang tamu bicara begitu. Baginya uang bukan masalah. Group Parker sedang di atas awan saat ini. Tak masalah mengeluarkan banyak uang untuk mengisi perut mereka. "Ngomong-ngomong, saya dengar Anda sudah menikah di luar negeri. Namun, kami tidak melihat Nyonya Muda Parker di sekitar sini." Senyum di wajah Landon memudar saat mendengar seseorang menyinggung tentang istrinya. Sial! Wanita buruk rupa itu? Mana mungkin dia membawa noda ke pesta perusahaan? "Ehem! Istriku? Dia sedang tidak berada di San Alexandria saat ini. Jadi, tidak bisa dibawa ke pesta," jawab Landon dengan tenang. Orang-orang cuma manggut-manggut mendengarnya. "Hm, boleh kami tahu, apa pendidikan terakhir Nyonya Muda Parker? Kenapa nggak pernah muncul di berita gosip?" "Iya. Bahkan kami belum melihat wanita yang sangat beruntung itu!" Melihat para tamu mulai banyak bertanya tentang istrinya, Landon agak risih. Namun ini pesta perusahaan, dia tak boleh kelihatan tidak kompeten. "Hm, istriku baru saja menyelesaikan studi bisnis di Jerman. Dan, saat ini dia sedang mengejar gelar doktor di Swedia! Kurasa dia memang gila sekolah, haha!" Landon masih berusaha tenang sebaik mungkin. Nama baiknya sebagai CEO perusahaan besar bisa tercemar jika istrinya muncul saat ini di pesta. Oleh karena itu dia tidak beritahu Elsa tentang pesta ini. Mendengar omong kosong Landon, para tamu tersenyum kagum. Mereka bisa bayangkan betapa sempurnanya wanita yang menjadi istri CEO Group Parker itu. Orang tua Landon yaitu Tuan Alex Parker terkenal sebagai pengusaha yang sudah malang melintang di dunia bisnis. Bahkan aset kekayaan mereka sulit dihitung. Mustahil jika mereka memilih gadis rendahan untuk putranya. "Wah, saya jadi penasaran nih sama istri Anda. Maaf! Pasti selain cerdas dan ambisius, Nyonya Muda Parker juga seorang wanita karir yang sangat cantik!" Seorang wanita berguman disertai senyuman kagum kepada Landon. "Itu pasti dong! Mana mungkin istri CEO Group Parker biasa-biasa saja!" "Itu benar!" Landon cuma tersenyum getir melihat antusias para tamu yang merasa penasaran dengan tampang istrinya. Setelah mengajak mereka bersulang, ia melirik ke arah pintu. Jangan sampai wanita busuk itu muncul! "Permisi!" "Hei, awas!" Prang! Di tengah dentingan gelas kristal dan gemerlap gaun sutra, mendadak semua mata tertuju pada seorang wanita yang tersungkur di lantai. Entah siapa wanita itu, dia datang dengan tergesa-gesa dan menabrak seorang pelayan. Gaun merah yang kusam dan ketinggalan model kini basah oleh tumpahan anggur, meninggalkan noda keunguan yang kontras dengan lantai marmer yang mengkilap. Kacamata tebalnya miring dan hampir lepas. Dari kerumunan bisik-bisik menusuk mulai terdengar. "Astaga, siapa dia? Penampilannya norak banget!" "Dia pasti gembel!" Semua orang melempar tatapan penuh kebencian ke arah wanita itu. Sambil membenarkan letak kacamatanya, ia berangsur bangkit. Matanya melirik ke sekitar. Oh, Tuhan! Dia sedang jadi pusat perhatian saat ini? Dengan pipi merah menahan malu, kepalanya segera menunduk Siapa sebenarnya wanita lusuh itu? Di tengah pertanyaan yang bersarang di benak para tamu, seorang pria segera berlari menuju pada orang nomor satu di pesta. "CEO, istri Anda ada di sini." Apa?! Mendengar bisikan sang asisten, Landon sangat terkejut. Mata elangnya segera berkelana ke semua sudut ruangan. Ia berhenti pada sosok wanita lusuh yang sedang jadi bahan tontonan para tamu. Sepertinya wanita busuk itu sudah bosan hidup! Dengan tangan yang mengepal kuat, Landon berjalan gagah menerobos kerumunan para tamu. Kemunculannya menyita semua perhatian orang. "Bau, ya? Seperti bau hujan bercampur debu." "Iya, bau banget!" Wanita itu masih menjadi pusat perhatian para tamu. Hidung Landon berkedut saat melihatnya. Wanita itu adalah sebuah noda, sebuah aib yang tak pantas berada di antara mereka. Tidak seharusnya Elsa berada di sini. "La--Landon?" Wanita itu tergugup saat melihat pria jangkung dalam balutan tuxedo mewah mendekat padanya. Suaranya nyaris tak terdengar, tapi ia tak diberi kesempatan lagi untuk bicara. "Security, singkirkan wanita lusuh ini dari pesta ku!" perintah Landon. Wanita itu sangat terkejut. Kepalanya menggeleng. Namun Landon segera buang muka, tak peduli. Elsa merengek-rengek saat para petugas hotel menyeret dia pergi. Tak lama kemudian Landon pun menghilang. Meski hal itu cukup menyita perhatian, namun pesta kembali dilanjutkan setelah asisten Landon bicara. Sementara CEO belum kelihatan di wilayah pesta. Brak! "Ah, aduh!" Gadis itu jatuh duduk di depan pintu lift saat Landon melemparnya dengan kasar. Ia memeriksa sikunya yang kena benturan. "Pergi dari sini dan jangan kembali lagi! Dasar wanita pembawa sial!" Setelah bicara kasar begitu, Landon bergegas pergi dengan bahu yang naik turun karena emosi. Dua orang petugas hotel segera membantu Elsa berdiri. Gadis itu menggeleng dengan wajah sedih saat para petugas bertanya padanya. Hingga pintu lift terbuka, ia segera masuk. Elsa berjalan melewati seorang pria yang berdiri di dalam lift. Gadis itu memilih sudut ruangan sempit itu untuk merajuk. Suara isak tangis dari arah belakang mengalihkan perhatian Alex--satu-satunya pria yang bersama Elsa di dalam lift. Ia melirik ke arah belakang acuh tak acuh. Dilihatnya seorang gadis yang sedang bersimpuh di sana. Elsa sedang meratapi nasibnya. Kedatangannya ke pesta bukan untuk membuat Landon mendapat malu, tapi karena ada hal penting yang harus Elsa beritahu kepada suaminya itu. Sialnya Landon sangat marah melihatnya muncul di pesta, hati Elsa sangat sedih atas perlakuan kasar Landon. Alex tadinya tidak begitu peduli, tapi Elsa menangis amat menyedihkan. Ia pun mulai merasa tidak nyaman dengan suara gadis itu. Maka Alex pun memutar tubuhnya menghadap ke arah Elsa. Mata basah Elsa terangkat ke wajah seorang pria yang sedang berdiri di depannya kini. Alex menatapnya seraya menyodorkan sehelai sapu tangan padanya. "Terima kasih, Tuan ...," lirih Elsa. Dengan sungkan-sungkan ia menerima sapu tangan itu. Sambil berdiri gagah Alex memasukkan kedua lengannya ke masing-masing saku celana. Dia berkata dengan acuh tak acuh. "Berhentilah menangis, karena itu tidak ada gunanya." Elsa tertegun di tempat. Matanya menatap ke manik-manik biru Alex. Pria ini kelihatan lebih muda dari usianya. Stelan jas yang ia kenakan tampak rapi dan mewah. Dari postur tubuhnya yang atletis, Elsa yakin jika Alex seorang vegetarian dan suka berolahraga. Diusianya yang mungkin sudah nyaris 55 tahun, ia terlihat tampan, dengan model rambut kekinian yang tertata rapi. Kumis dan janggut tipisnya juga terawat. Wangi segar parfum mahal yang tercium darinya berhasil memudarkan bau anggur di gaun Elsa. "Apa yang sedang kau lihat?" Suara bass itu mengejutkan Elsa. Ia buru-buru menggeleng. "Maafkan saya, Tuan! Terima kasih untuk sapu tangannya!" Dia berkata dengan cepat dan terbata. Alex cuma membalas dengan tatapan yang dingin. Tak lama pintu lift pun terbuka. Dua orang pria berpakaian formal segera menyambutnya. "Selamat datang, Tuan Parker!" Alex cuma mengangguk. Ia melirik ke arah Elsa. Gadis itu tampak sudah lebih baik. Elsa cuma membungkuk menanggapi. Alex pun segera pergi. Siapa orang baik itu? Sambil berdiri di depan pintu lift, Elsa memandangi kepergian Alex. Andai saja Landon pun baik seperti orang itu, pasti pernikahannya tidak menyedihkan begini. Dia sangat mencintai Landon, tapi dia sadar diri. Landon amat tampan, cerdas dan seorang CEO perusahaan besar. Sementara dirinya? Dia sangat jelek dan tidak punya gelar apapun! Haruskah dia bercerai dengan Landon?KEDIAMAN DONOVAN – 20:00 PMHujan gerimis membasuh kaca jendela kediaman Komisaris Besar Edward Donovan, menciptakan suasana yang kontras dengan dunia luar yang penuh dengan desing peluru dan intrik politik. Di dalam ruang makan yang hangat, Margaret Donovan sedang menata piring-piring porselen saat putra kesayangannya, Letnan Noah Sky Donovan, melangkah masuk bersama rekannya, Julio."Ah, kalian tepat waktu!" seru Margaret dengan senyum keibuan yang menyejukkan. Edward Donovan, sang Komisaris yang biasanya terlihat kaku di markas, kini hanya mengenakan kemeja santai, bangkit dari kursinya untuk menyapa kedua polisi muda itu dengan jabatan tangan yang kokoh.Di antara mereka, duduk seorang wanita yang kehadirannya terasa ganjil namun memikat. Leah Borne. Rambut pendeknya membingkai wajah campuran Turki-Italia yang kini terlihat lebih lembut tanpa masker taktis. Ia terdiam, jari-jarinya memainkan sendok perak dengan ragu. Dalam benaknya, badai sedang berkecamuk. Ia adalah tentara b
QUEEN DE BALERINA - 17:00 PMLangit di atas San Alexandria mulai berubah warna menjadi jingga keunguan, memantulkan cahaya redup pada pilar-pilar megah gedung Queen de Balerina. Suara denting piano yang sayup-sayup terdengar dari ruang latihan perlahan menghilang, digantikan oleh derap langkah kaki para murid yang berhamburan keluar.Di koridor utama, Elsa Wilson berjalan bersisian dengan Tessa. Keduanya masih mengenakan jaket latihan yang menutupi kostum balet mereka. Napas Elsa masih sedikit memburu setelah latihan intensif selama empat jam terakhir."Bagaimana kondisi Tuan Muda Marquez?" tanya Tessa dengan nada khawatir yang tulus. "Berita tentang kecelakaan di San Mitero itu benar-benar mengerikan. Aku melihat foto kudanya yang jatuh ke jurang di surat kabar."Elsa menghela napas panjang, tatapannya sedikit kosong. "Kakak sudah jauh lebih baik. Cederanya mulai pulih, meski dokter bilang dia masih butuh fisioterapi untuk kakinya.""Syukurlah," Tessa tersenyum lega, lalu menyikut l
BUNGALOW WILSON – 08:00 AMSatu pekan telah berlalu sejak debu di lintasan San Mitero mengendap, namun bara api dendam justru semakin berkobar di jantung kediaman Wilson. Pagi itu, sinar matahari yang menembus jendela ruang kerja David Wilson terasa dingin dan tajam. BRAKK! David menggebrak meja jati besarnya hingga botol tinta bergetar."Satu pekan, Malik! Satu pekan putraku terbaring di ranjang rumah sakit dengan besi penyangga di kakinya dan perban di kepalanya!" suara David menggelegar, sarat dengan penderitaan seorang ayah yang hancur.Malik menunduk dalam, tangannya tertaut kaku di depan tubuh. "Mohon maaf, Tuan Besar. Insiden itu telah kami selidiki secara menyeluruh. Kuda putih Tuan Muda Marquez memang disuntik dengan senyawa penghancur syaraf sesaat sebelum start."David memutar kursinya, menatap taman melalui kaca besar dengan napas memburu. "Siapa? Aku tidak butuh penjelasan teknis, aku butuh nama!""Bukti-bukti mengarah pada Jeremy Hilton, tangan kanan Alex Parker di Parta
LINTASAN PERBUKITAN SAN MITERO – 06:30 AMTerompet panjang menggema, membelah kabut fajar yang masih menyelimuti bukit San Mitero. Debu tanah berterbangan saat kuda-kuda jantan terbaik mulai melesat. Alex Parker, dengan Frenk yang berwarna hitam legam, melesat bagaikan bayangan maut. Penonton bersorak riuh, namun di balik kacamata hitamnya, mata Alex tetap dingin dan hampa. Marquez Wilson menempel ketat di belakangnya, memacu kuda putihnya dengan ambisi yang meluap, sementara Charlie Desmond dari Partai Hitam Putih tampak tertinggal beberapa meter di belakang.Juanito Dolores duduk tenang di kursi penonton, menghisap cerutunya perlahan. Baginya, lintasan ini bukanlah area olahraga, melainkan kuburan massal. Ia telah merancang skenario di mana dua raksasa—Parker dan Wilson—akan berakhir di dasar jurang.Bencana dimulai di tengah lintasan. Frenk tiba-tiba meringkik liar. Otot-otot kuda itu menegang tak wajar, matanya mulai memerah dan busa tipis keluar dari mulutnya. Alex merasakan g
PELATARAN BANDARA – 07:00 AMDeru mesin Ferrari merah keluaran terbaru membelah keheningan pagi di sekitar area bandara. Mobil itu berhenti dengan presisi yang arogan. Marquez Wilson keluar dari kabin mewah tersebut, sosoknya dibalut setelan jas abu-abu yang disetrika sempurna, kacamata hitam menyembunyikan tatapan dingin sang CEO Wilson Corporation. Ia bersandar di kap mobilnya, membiarkan angin pagi memainkan rambutnya yang rapi. Pesonanya tak terbantahkan; beberapa wanita yang melintas tak kuasa menahan senyum kagum, namun bagi Marquez, mereka hanyalah dekorasi yang tak berarti.Seorang pria bertopi hitam bernama Bruno muncul dari balik pilar, melangkah tergesa-hampir membungkuk-saat mendekati Sang Putra Mahkota. Marquez tak ingin membuang waktu dalam basa-basi yang tak berguna. Tanpa sepatah kata pun, ia menyodorkan segepok uang tunai dalam ikatan tebal.Sebagai gantinya, Bruno menyerahkan sebuah amplop cokelat besar. Di dalamnya, tersimpan bukti "kemenangan" Marquez: foto-foto
PENTHOUSE CAMILA – 09:00 AMKeheningan pagi di penthouse pusat kota itu pecah oleh hantaman keras tangan Camila Palmer ke meja marmernya. Thomas, asisten kepercayaannya, berdiri mematung dengan kepala tertunduk setelah menyampaikan kabar buruk. Fabrizio dan Nacos, dua algojo terbaik yang dikirim untuk mengacaukan teater, kini mendekam di balik jeruji besi Mabes Polri San Alexandria."Sialan!" desis Camila. Ia melangkah cepat menuju balkon, membiarkan angin kencang menerpa wajahnya yang memerah karena murka. Rencananya hancur berantakan. Ia segera merogoh ponselnya dan menekan nomor Juanito Dolores.Di Salvador Timur, tepatnya di peternakan kuda milik Leonard, Juanito sedang menikmati aroma rumput basah. Ia sedang mengelus seekor kuda pacu jantan milik Alex Parker yang dititipkan di sana—kuda yang akan menjadi kunci sabotase di San Mitero nanti. Malik, tangan kanan Juanito, menghampiri dengan langkah tenang."Madame Camila menelpon, Bos," bisik Malik.Juanito menyeringai. Ia menoleh







