Compartir

5,

Autor: Fatimahnur
last update Fecha de publicación: 2026-08-26 11:17:56

Langkah kaki jenjang itu akhirnya sampai ke sebuah bangunan pertama yang ia singgahi barusan. Ia turun dengan ringan dari lantai paling atas, ia memakai helemnya lalu bergegas pulang.

Sebelum pulang, ia kembali ke markas. Jack menyambutnya dengan baik, Ana mengambil sebatang rokok dan mulai menghisapnya.

"Apa semua berjalan dengan baik, Nona?" tanya Jack.

"Hm, mereka pasti akan mengubur berita itu, tidak akan ada kehebohan. Tolong suruh orang siapkan makanan, Jack, aku samasekali belum makan setelah kambali."

"Apa?! Anda tidak makan?! Apa mereka tidak memberi anda makan?!" tanya Jack dengan suara yang terdengar sangat terkejut.

"Hm, ya begitu kira-kira, aku selalu terasingkan di sana anak kembar mereka tidak menyukai aku, dan hal itu terjadi karena ucapan Tiffany yang selalu membuatku serba salah." terang Ana.

"Baiklah, saya akan menyuruh mereka menyiapkan makan malam anda mandilah dulu." ujar Jack.

Ana pergi ke kamarnya, ia segera menuju kamar mandi. Wanita itu membuka pakaiannya dan terdapat sebuah tato naga yang ada di punggungnya. Itu adalah sebuah lambang dari klan mafia milik ayahnya, ia membersihkan tubuhnya dengan air dingin pada hari yang mulai larut malam itu, air dingin mengguyur tubuhnya dengan air dingin malam itu.

***

Makanan terhidang di meja sofa yang ada di sebuah kamar. Ana keluar mengenakan pakaian sederhana. Celana kargo dan kaos hitam itu lagi, ia menguap sembari menuju ke arah sofa di kamarnya.

"Kamu sudah makan, Jack?" tanya Ana.

"Emm, sudah – Nona" Jawaban pria itu yang menggantung membuat Ana menatapnya penuh selidik. Ia terlihat tidak percaya begitu saja, dan Jack tentu saja bisa merasakannya.

"Ayo, makan bersamaku. Tidak usah membantah, aku tahu – kamu akan kesulitan makan tanpa dipaksa olehku." ujar Ana. Jack hanya tersenyum kecil, dan ia akhirnya mengambil makanan yang mungkin bisa ia konsumsi pada saat itu.

Mereka makan bersama, Ana masih sempat meminum wine yang disediakan untuknya, dan mungkin ia juga akan tidur beberapa jam sebelum akhirnya kembali ke tempat yang tadi sempat ia datangin tapi di tempat lain, Seluruh orang merasa bingung, dan suasana tegang saat bos mereka memanggil mereka menghadap.

Mayat wanita yang hendak bercinta dengan Alexander sudah dibuang ke kandang buaya milik pria tersebut yang berada di ruang bawah tanahnya, dan lokasi sudah di bereskan meskipun kaca yang pecah masih belum di perbaiki.

"Dari sekian banyak orang, tidak adakah yang mengetahui letak pasti dari mana orang itu menembak?!" pekiknya dengan suara meninggi. Semua orang menunduk, karena pada malam itu, penjagaan hanya dilakukan di depan pintu saja.

Malam yang terlalu gelap, dan cepatnya menghilang pelaku penembakan itu membuat mereka kehilangan jejak.

Samasekali tidak ada yang bisa menebak saat suasana gelap.

"Tuan, kami sudah menyisir dari daratan dan tidak ada orang mencurigakan di sekitar sini. Esok bila hari mulai terang kami akan menyisir bahkan di atap-atap bangunan, karena saya yakin, dari sanalah mereka menyusun strategi." Alif mulai meredakan emosi dari bosnya dengan kata-kata yang mungkin bisa diterima.

Alexander diam, ekspresi wajahnya masih kesal, "Pergi, dan cari! Aku ingin esok kalian mulai mencari lebih jauh!" Alexander pergi menuju ke kamarnya, ia membanting pintu kamar lalu duduk di tepi ranjang.

Matanya menatap lurus ke depan sebuah bayangan seorang wanita memakai gaun pengantin bersimbah darah mulai datang. "Ana! Tidak mungkin dia masih hidup! Aku sudah menembaknya dengan tanganku sendiri, tidak mungkin ia selamat!" gumam Alexander. Setiap sumpahnya terakhir kali pada waktu itu srsksn sama dengan tragedi yang terjadi.

Sebenarnya, bila mau berkata Alexander tidak menyukai gadis itu dahulu – bohong rasanya. Gadis manis itu cukup sempurna di mata Alexander, bodynya, tinggi semampai, kulit putihnya, terkadang juga membuat darahnya berdesir. Akan tetapi, rasa dendam di dalam hati Alexander pada keluarga Ana lebih besar dari rasa tertarik itu.

"Sial! Aku malah memikirkan kulit wanita itu!" gerutu Alexander.

***

Waktu terus berjalan, lagipun tiba...

Ana terbangun di ranjang King size miliknya yang ada di markas. Ia hanya menuju kamar mandi dan mencuci wajahnya saja sebelum akhirnya benar-benar pergi dari sana sembari membawa barang-barangnya.

"Nona, anda tidak sarapan dulu?" tanya Jack.

Ana menoleh, menatap pria itu lalu menggeleng pelan. "Aku tidak lapar, Jack. Mungkin aku akan segera kembali ke sana dulu, wanita itu pasti mencariku."

Jack yang melihat kepergian ana akhirnya hanya diam, Ia hanya menawarkan satu kali, dan bila bos mudanya itu menolak, maka Ia akan menghargai pilihannya.

***

Ana kembali ke rumah, rumah yang tiga tahun ini mengatakan kalau mereka keluarga, dan rumah yang tiga tahun terakhir ini membuatbkeoribadiannya makin pendiam, dan memendam rasa kesal.

Ia di sambut baik oleh para maid, Nyonya Besar keluarga itu, anak sulung mereka tapi tidak dengan kepala keluarga dan anak-anak yang lain.

"Nona, anda dari mana saja? Nyonya bahkan tidak mau makan saat anda tidak terlihat, sekarang, sebaiknya anda temui nyonya dulu."

Ana hanya mengangguk, Ia kergi ke kamar utama, tapi saat itu, Ia berpapasan dengan Tiffany, Aldi, dan Aldo yang terlihat menatapnya dengan sedikit sinis.

"Dari mana saja kamu?!" tanya Aldi dengan nada suara tidak suka.

"Bukan urusanmu! Lagipula– mau kemanapun aku, aku tidak minta uang pada kalian!" tekan Ana.

Ia baru saja hendak berlalu, tapi tiba-tiba saja... "Justru itu yang membuatku curiga, apa yang kamu andalkan selain kami? Apa kamu memang diam-diam anak orang kaya? Atau kamu jual diri untuk kebutuhan hidupmu di luar sana?" celetuk Aldo.

Ana terdiam saat mendengar ucapan pria itu, akan tetapi ia akhirnya mundur dan mulai berdiri di hadapan Aldo.

"Mau aku beritahu sesuatu yang aku sembunyikan?" tanya Ana.

"Cuih! Wanita murahan sepertimu memiliki apa?!" gumamnya, ia kembali menghina, dan kali ini– Ana tampak hilang kesabaran, ia membalikan tubuhnya dan mulai mengunci leher Aldo. Dan dalam hitungan detik, ia membanting tubuh pemuda itu ke lantai.

"Aaaggghhhh!" teriak Aldo pada saat itu. Pemuda itu merasa pinggangnya begitu sakit saat menghantam lantai. Aldi dan Tiffany berdiri mematung pada saat itu.

***

Di dalam kamar...

Alex yang masih ada di sana dan menemani ibunya akhirnya menatap ke arah ibunya yang juga ternyata menatap ke arahnya. Mereka menatap satu sama lain setelah mendengar teriakan dari luar.

"A–apa yang terjadi?"

"Aku tidak tahu, Mah... Mamah di sini saja dulu, aku akan lihat ke luar." Alex baru saja hendak pergi keluar, akan tetapi ibunya menahannya dengan cara menggenggam kedua tangannya.Wanita paruh baya itu tampaknya begitu khawatir sehingga tidak membiarkan putranya pergi begitu saja.

Akan tetapi, Alex tersenyum kecil dan berusaha melepaskan denggaman tangan ibunya yang tampaknya terlihat melarangnya pergi.

"Mah, aku akan baik-baik saja, aku janji." ujarnya, sebelum akhirnya ia meninggalkan ibunya.

Dengan perasaan campur aduk, Alex berusaha keluar dari kamar dan mencaritahu siapa yang berteriak barusan. Tqngannya ragu saat hendak membuka pintu, tapi rasa penasaran itu mengalahkan rasa takut yang sempat ada.

Saat pintu terbuka, akhirnya ia membelalakan matanya setelah melihat apa yang terjadi di depan sana.

"Ada apa ini?!" tanya Alex dengan nada suara meninggi.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   8, Permintaan?

    Ana kembali ke ruang makan, ekspresi wajahnya terlihat sedikit lesu. Jujur untuk hal yang satu itu, Ia sedikit berat hati karena Ia merasa– Ia akan sama brengseknya seperti mereka. Akan tetapi, semua harus Ia lakukan. Ia tidak bisa hanya diam, dan menunggu mereka yang mengerjakan semuanya. "Aira, kamu kenapa?" tanya Rere saat ia menyadari gadis itu tengah melamun. "Hmm, enggak apa-apa..., Mah. Aku sedang pusing saja. Sepertinya aku butuh istirahat." gumam Ana. "Kalau begitu, selesaikan makanmu dulu sebelum kamu beristirahat." ujar Rere. Ana hanya tersenyum kecil saat itu. Ia makan dengan cepat, dan setelahnya ia hendak menuju ke kamar. "Aku sudah selesai, dan aku ingin izin istirahat ke kamar, apa boleh – Mah?" tanya Ana. "Silahkan, Nak." Ana tampak mulai bergerak, berdiri dan hendak pergi dari sana, tapi tiba-tiba saja... "Tunggu, Nak!" Ana yang mendengar wanita itu mencegahnya pergi akhirnya menghentikan langkah. Ia membalikan tubuhnya dan seketika kedua bola matanya terbuk

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   7, Cemburu?

    "Aira, siapa yang membelikan kamu makanan? Aku yakin, bukan kamu yang membelinya, kan? Kenapa tidak bilang padaku?! Aku akan membelikannya untukmu, dan aku juga akan memasakan makanan yang kamu mau, kalau kamu menginginkannya!" Ucapan Alex seketika membuat Ana menoleh ke arahnya. Tatapannya kali ini berbeda, ia lebih menunjukan rasa penasaran daripada sikap dingin. "Kenapa? Kamu cemburuan?" tanya Ana. Akan tetapi, yang dilakukan oleh Alex hanya diam. Pria itu bingung, tapi juga gugup akhirnya. Ana menghela nafas panjang, ia mulai menyuapkan makanan ke mulutnya. "Kalau kau memang perduli padaku, mungkin sedari dahulu kau akan membantuku, tapi nyatanya tidak! Dan kalau kau cemburu padaku..., atas dasar apa kau berani melakukannya?!" tanya Ana sembari mengarahkan sumpit ke Alex. "Sebaiknya kau hentikan saja sebelum kau menyesal, Alex!" tekan Ana. Tanpa mengharapkan jawab, Ana kembali makan dan menikmati beberapa hidangan yang dibelikan oleh Jack. Memang dalam hidupnya sekarang, hany

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   6,

    "Kak, dia membanting tubuh Aldo!" Aldi mulai bicara sembari menunjuk ke arah Ana. Ana hanya menatap datar, dan ia tampak tidak bereaksi samasekali. Tidak ada penyesalan, ia adalah tipe orang yang tidak akan pernah menyesali perbuatannya. Alex yang sebelumnya menanyakan apa yang terjadi dengan nada suara yang meninggi kini hanya menatap mereka, termasuk Ana dengan tatapan yang perlahan akhirnya bingung. "Benar, Aira?" tanya Alex. Ana maju dan mulai mendekat ke arahnya, wajah mereka kini sangat dekat, bahkan Alex dapat merasakan hangatnya nafas adik angkatnya itu. "Kalau iya, kenapa? Mulutnya terlalu lantam, dia menuduhku jual diri! Kalau kamu tidak percaya, silahkan saja cek Cctv! Bukankah kamu sudah menggantinya, dan menaruh alat penyadap suara?!" Ana bicara tepat di depan telinga Alex di detik-detik kata-kata terakhir. Kedua pupil mata Alex melebar saat mendengar adiknya mengetahui suatu hal yang bahkan tidak keluarganya ketahui. Ana tersenyum miring saat itu, dan ia akhirnya m

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   5,

    Langkah kaki jenjang itu akhirnya sampai ke sebuah bangunan pertama yang ia singgahi barusan. Ia turun dengan ringan dari lantai paling atas, ia memakai helemnya lalu bergegas pulang. Sebelum pulang, ia kembali ke markas. Jack menyambutnya dengan baik, Ana mengambil sebatang rokok dan mulai menghisapnya. "Apa semua berjalan dengan baik, Nona?" tanya Jack. "Hm, mereka pasti akan mengubur berita itu, tidak akan ada kehebohan. Tolong suruh orang siapkan makanan, Jack, aku samasekali belum makan setelah kambali." "Apa?! Anda tidak makan?! Apa mereka tidak memberi anda makan?!" tanya Jack dengan suara yang terdengar sangat terkejut. "Hm, ya begitu kira-kira, aku selalu terasingkan di sana anak kembar mereka tidak menyukai aku, dan hal itu terjadi karena ucapan Tiffany yang selalu membuatku serba salah." terang Ana. "Baiklah, saya akan menyuruh mereka menyiapkan makan malam anda mandilah dulu." ujar Jack. Ana pergi ke kamarnya, ia segera menuju kamar mandi. Wanita itu membuka

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   4,

    "Aira? Kenapa dengan kamu? Apa yang terjadi?" tanya Alexander. Ia memang sedikit terkejut saat gadis di hadapannya itu mengetahui saat ia mengikutinya, akan tetapi – perhatiannya teralih ke sikap gadis itu. Ana memandang pria itu dengan tatapan yang terlihat sangat dingin. Alex merasa gadis di hadapannya ini terlihat sangat berbeda akhirnya, ia mendekat, tapi Ana mundur dan menjauh. "Cukup, aku punya kehidupan sendiri! Tidak perlu sampai begitu, aku datang, hanya ingin membalas budi pada sepasang suami-istri yang menganggap ku sebagai anak! Aku bukan saudarimu, dan jangan ikut campur segala urusanku, paham?!" tekan Ana! Ana berbalik pergi, dan ia akhirnya mengendarai sepeda motornya dan segera pergi dari sana. "Aira, siapapun kamu..., aku tidak pernah menganggapmu sebagai saudari, tapi sebagai wanita. Tidakkah kamu merasakannya?" gumam Alex. *** Laju motor mulai membelah jalan raya, menyalip satu persatu kendaraan yang ada, dan setelah beberapa saat kemudian akhirnya Ana sampai

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   3,

    Langkah kaki gadis itu tidak lagi terhenti. Alex menatap punggung kecil yang menjauh darinya. Ada rasa sakit setiap gadis itu menolaknya tanpa sebab, dan tanpa kata. Sebenarnya, apa yang terjadi sehingga Ana begitu membencinya? Alasannya cukup sederhana, karena pria itu memiliki nama yang sama seperti orang yang menghancurkan hidupnya. "Aku tahu, seharusnya aku tidak begini. Tapi aku tidak bisa," gumam Ana. Setelah berjalan beberapa saat, kaki jenjangnya akhirnya sampai ke sebuah tempat. Di hadapannya kini ada sebuah pintu berwarna coklat yang menunggu untuk ia buka. Ragu, hanya itu yang ada di dalam benak Ana. Ia ingin melangkah, dan bergerak lebih jauh, tapi ia ragu. Sebelum akhirnya ia merasa ada pergerakan dari balik tubuhnya. Tangan kokoh itu terulur dan mulai menekan gagang pintu. Tidak perlu melihat, hanya melihat tangan dan mencium aromanya, Ana sudah tahu siapa dia. "Mama sudah menunggu," bisik pria itu, tepat di belakang telinga Ana. Ana yang sudah mati rasa dengan kata

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status