INICIAR SESIÓN"Kak, dia membanting tubuh Aldo!" Aldi mulai bicara sembari menunjuk ke arah Ana. Ana hanya menatap datar, dan ia tampak tidak bereaksi samasekali. Tidak ada penyesalan, ia adalah tipe orang yang tidak akan pernah menyesali perbuatannya.
Alex yang sebelumnya menanyakan apa yang terjadi dengan nada suara yang meninggi kini hanya menatap mereka, termasuk Ana dengan tatapan yang perlahan akhirnya bingung. "Benar, Aira?" tanya Alex. Ana maju dan mulai mendekat ke arahnya, wajah mereka kini sangat dekat, bahkan Alex dapat merasakan hangatnya nafas adik angkatnya itu. "Kalau iya, kenapa? Mulutnya terlalu lantam, dia menuduhku jual diri! Kalau kamu tidak percaya, silahkan saja cek Cctv! Bukankah kamu sudah menggantinya, dan menaruh alat penyadap suara?!" Ana bicara tepat di depan telinga Alex di detik-detik kata-kata terakhir. Kedua pupil mata Alex melebar saat mendengar adiknya mengetahui suatu hal yang bahkan tidak keluarganya ketahui. Ana tersenyum miring saat itu, dan ia akhirnya melewati Alex begitu saja. Ana masuk ke dalam, dan mendapati wanita paruh baya yang terbaring lemah di ranjang, akan tetapi wajahnya terlihat tegang. "Aira, itu kamu–Nak?" tanyanya dengan suara bergetar. Ana hanya mengangguk kecil. "Mah, kenapa wajah kamu terlihat tegang?" "Mama dan kakak kamu tadi dengar ada keributan di luar, apa di luar sana semua baik-baik saja?" wajah wanita itu terlihat makin tegang. Ana terkekeh pelan, dan ia tentu saja tidak memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi tadi. Ana duduk di kursi yang ada di samping ranjang, ia menggenggam tangan wanita itu yang terasa sangat hangat. "Tidak ada apa-apa, aku hanya bertengkar dengan mereka hingga menimbulkan keributan, Mah." ujar Ana. Ia menempelkan tangan wanita itu di pipinya yang dingin. Tangannya juga sangat dingin. "Aira, kenapa tangan kamu selalu dingin, padahal kebanyakan orang tangannya itu hangat." tanya Rere. Ana diam, ia bahkan tidak pernah memikirkan hal yang sungguh tidak penting begitu. Baginya, banyak hal yang jauh lebih penting yang harus ia pikirkan selain membahas hal itu. "Entahlah, Mah. Aku tidak tahu, sebaiknya mamah sarapan dulu, setelah itu minum obat. Aku tahu, kamu belum sarapan dan minum obat." ujar Ana, ia mengambil sarapan pagi uang sudah di sediakan di sana. Pada saat ia tengah menyuapi wanita itu, anak-anak lain dari wanita itu tampak masuk semua. Aldi, Aldo dan Tiffany tampak menatap ngeri ke arah Ana. Mereka mulai merasa, wanita yang mereka kenal bukan lagi dirinya. Hal itu hampir saja membuat Rere curiga, akan tetapi – Alex datang dan mencairkan suasana. *** Setelah mengurus ibunya, Ana menuju ke dapur karena perutnya sudah sangatat lapar. Ia berusaha mencari maid yang ada untuk membuatkannya makanan, akan tetapi tidak ada orang di sana. "Ke mana mereka semua?" gumam Ana. Ia akhirnya memutuskan mengambil roti dan selai yang ada di sebuah lemari di bagian atas. "Aku bingung, kenapa semua makanan berada di atas begini?! Apa mereka takut aku memakannya atau bagaimana?!" gerutu Ana. Akan tetapi, ia yang merasakan lapar akhirnya segera mengambilnya. Sayangnya, tangannya tidak sampai, Ana harus berjinjit untuk mengembilnya. Tapi, saat ia mulai berjinjit, ia merasakan ada pergerakan di belakang nya, dan pada akhirnya bayangan tubuh seseorang tampak terlihat di depannya. Ana diam mematung, dan sebuah suara mulai ia dengar dari balik telinganya..., "Mungkin seharusnya kamu tidak makan makanan seperti ini," bisiknya. Bukannya takut, Ana malah kesal, ia membalikan tubuhnya hingga membuat pria di belakangnya kaget bukan main. "Lihatlah, apa kamu benar mau menggodaku?! Tapi, kenapa kamu yang malah tergoda. Sebaiknya katakan saja terus terang, apa kamu memang mau mendekatiku, karena aku adalah adikmu, atau karena kamu memang menginginkan hal lain?" Ana langsung bicara pada inti pembicara an yang cukup dalam pada saat itu. "Dengar, Alex..., aku bukan merpati jinak seperti yang kamu kira." gumam Ana. "Nona, ada yang mengirimkan sesuatu untuk and—" ucapan dari seseorang yang baru saja masuk dapur dan membawakan sesuatu untuk ana seketika terhenti saat melihat adegan yang tengah mereka perlihatkan. *** Hari semakin siang, di tengah kota A, di mana Ana tinggal – di tempat ia melakukan aksinya, sudah berkumpul banyak orang yang tengah mencari tahu dari mana arahnya datangnya penembakan dilakukan. "Sepertinya memang dari sini, apa ada beberapa bukti yang mereka tinggalkan?" Alif mulai bertanya pada beberapa bawahannya. "Memang sepertinya dari sini, Tuan. Dan bekas goresan menuju ke gedung samoing. Ada goresan tertinggal beberapa ke arah sana, akan tetapi – setelahnya kami tidak melakukan apapun. Dan tempat sekitar yangbdinleqati juga tidak terdapat CCTV!" Alif mengepalkan tangannya saat mendengar hal tersebut! Ia tengah memikirkan berbagai macam kemungkinan. Hanya ada satu jejak, dan hal itu menandakan kalau ia yang menyerang, bukan banyak orang, melainkan satu orang. "Dia benar-benar monster! Dia hanya menghabisi wanita milik tuan, dan setelah tewas ia pergi begitu saja! Apa maksudnya!?!" gumam Alif. "Atau mungkin, pelaku hanya menargetkan korban saja, tanoa menargetkan tuan?" tanya bawahannya. "Tidak mungkin! Tuan adalah orang dengan seribu masalah dengan orang lain, bisa saja semua ada kaitannya dengan mereka. Akan tetapi, apa maksudnya semua ini?!" Mereka bahkan samasekali tidak menemukan jawaban dari sebuah perkara yang terjadi. Kini, hanya wanita yang bersama Alexander yang menjadi panah penunjukan arah. Memang semua dari musuh Alexander, atau ada hal lain. Alif akhirnya memberikan sebuah jawaban yang bahkan masih menggantung dan tidak jelas asal usulnya. Gebrakan meja terdengar nyaring. Alif sampai menggeserkan tubuhnya, ia sampai miring ke samping karena tiba-tiba saja botol wine melayang ke arah kepalanya. Botol itu menghantam dinding dan suara pecahannya terdengar sangat kuat! "Hanya itu?! Kamu tidak bisa me cari tahu, Alif! Kau kumpulkan orang-orang untuk mencari tahu siapa yang melakukan semua ini padaku? Kalau mereka tidak memendapatkannya! Maka kepala mereka semua!" teriak Alexander. Alif hanya terdiam, ia tidak berani menjawa. Ia hanya sedikit menundukan kepalanya. "Cepat cari siapa orang itu! Jangan berani hentikan pencarian kalau kalian belum menemukan siapa orang itu!" teriak Alexander! Pencarian besar-besaran diselenggarakan, Alexander Lemos begitu murka, dan ia meminta Alif untuk mencari, dan terus mencari! *** Dering ponsel membuat seseorang terpaksa menghentikan makannya. Ia mengangkatnya, lalu... "Hm, ada apa?" "Pencarian besar-besaran tengah diselenggarakan, di setiap sudut kota, disisir satu persatu tanpa ada yang terlewatkan, tetap tenang maka tetap aman!" Suara di sebrang sana mulai terdengar serius, hanya sebuah pesan tanpa banyak sapaan atau pembukaan percakapan. Seringaian muncul, "Haha, aku tahu, dan pasti dia sangat marah kan? Aku senang mendengarnya, beritahu aku setiap apapun pergerakan, dan beritahu aku kalau dia mulai kembali bermain, akan kita tunjukan, bahwa kutukan yang aku betikan padanya bukan hanya bualan semata!" "Baik, Nona. Akan saya lakukan."Ana kembali ke ruang makan, ekspresi wajahnya terlihat sedikit lesu. Jujur untuk hal yang satu itu, Ia sedikit berat hati karena Ia merasa– Ia akan sama brengseknya seperti mereka. Akan tetapi, semua harus Ia lakukan. Ia tidak bisa hanya diam, dan menunggu mereka yang mengerjakan semuanya. "Aira, kamu kenapa?" tanya Rere saat ia menyadari gadis itu tengah melamun. "Hmm, enggak apa-apa..., Mah. Aku sedang pusing saja. Sepertinya aku butuh istirahat." gumam Ana. "Kalau begitu, selesaikan makanmu dulu sebelum kamu beristirahat." ujar Rere. Ana hanya tersenyum kecil saat itu. Ia makan dengan cepat, dan setelahnya ia hendak menuju ke kamar. "Aku sudah selesai, dan aku ingin izin istirahat ke kamar, apa boleh – Mah?" tanya Ana. "Silahkan, Nak." Ana tampak mulai bergerak, berdiri dan hendak pergi dari sana, tapi tiba-tiba saja... "Tunggu, Nak!" Ana yang mendengar wanita itu mencegahnya pergi akhirnya menghentikan langkah. Ia membalikan tubuhnya dan seketika kedua bola matanya terbuk
"Aira, siapa yang membelikan kamu makanan? Aku yakin, bukan kamu yang membelinya, kan? Kenapa tidak bilang padaku?! Aku akan membelikannya untukmu, dan aku juga akan memasakan makanan yang kamu mau, kalau kamu menginginkannya!" Ucapan Alex seketika membuat Ana menoleh ke arahnya. Tatapannya kali ini berbeda, ia lebih menunjukan rasa penasaran daripada sikap dingin. "Kenapa? Kamu cemburuan?" tanya Ana. Akan tetapi, yang dilakukan oleh Alex hanya diam. Pria itu bingung, tapi juga gugup akhirnya. Ana menghela nafas panjang, ia mulai menyuapkan makanan ke mulutnya. "Kalau kau memang perduli padaku, mungkin sedari dahulu kau akan membantuku, tapi nyatanya tidak! Dan kalau kau cemburu padaku..., atas dasar apa kau berani melakukannya?!" tanya Ana sembari mengarahkan sumpit ke Alex. "Sebaiknya kau hentikan saja sebelum kau menyesal, Alex!" tekan Ana. Tanpa mengharapkan jawab, Ana kembali makan dan menikmati beberapa hidangan yang dibelikan oleh Jack. Memang dalam hidupnya sekarang, hany
"Kak, dia membanting tubuh Aldo!" Aldi mulai bicara sembari menunjuk ke arah Ana. Ana hanya menatap datar, dan ia tampak tidak bereaksi samasekali. Tidak ada penyesalan, ia adalah tipe orang yang tidak akan pernah menyesali perbuatannya. Alex yang sebelumnya menanyakan apa yang terjadi dengan nada suara yang meninggi kini hanya menatap mereka, termasuk Ana dengan tatapan yang perlahan akhirnya bingung. "Benar, Aira?" tanya Alex. Ana maju dan mulai mendekat ke arahnya, wajah mereka kini sangat dekat, bahkan Alex dapat merasakan hangatnya nafas adik angkatnya itu. "Kalau iya, kenapa? Mulutnya terlalu lantam, dia menuduhku jual diri! Kalau kamu tidak percaya, silahkan saja cek Cctv! Bukankah kamu sudah menggantinya, dan menaruh alat penyadap suara?!" Ana bicara tepat di depan telinga Alex di detik-detik kata-kata terakhir. Kedua pupil mata Alex melebar saat mendengar adiknya mengetahui suatu hal yang bahkan tidak keluarganya ketahui. Ana tersenyum miring saat itu, dan ia akhirnya m
Langkah kaki jenjang itu akhirnya sampai ke sebuah bangunan pertama yang ia singgahi barusan. Ia turun dengan ringan dari lantai paling atas, ia memakai helemnya lalu bergegas pulang. Sebelum pulang, ia kembali ke markas. Jack menyambutnya dengan baik, Ana mengambil sebatang rokok dan mulai menghisapnya. "Apa semua berjalan dengan baik, Nona?" tanya Jack. "Hm, mereka pasti akan mengubur berita itu, tidak akan ada kehebohan. Tolong suruh orang siapkan makanan, Jack, aku samasekali belum makan setelah kambali." "Apa?! Anda tidak makan?! Apa mereka tidak memberi anda makan?!" tanya Jack dengan suara yang terdengar sangat terkejut. "Hm, ya begitu kira-kira, aku selalu terasingkan di sana anak kembar mereka tidak menyukai aku, dan hal itu terjadi karena ucapan Tiffany yang selalu membuatku serba salah." terang Ana. "Baiklah, saya akan menyuruh mereka menyiapkan makan malam anda mandilah dulu." ujar Jack. Ana pergi ke kamarnya, ia segera menuju kamar mandi. Wanita itu membuka
"Aira? Kenapa dengan kamu? Apa yang terjadi?" tanya Alexander. Ia memang sedikit terkejut saat gadis di hadapannya itu mengetahui saat ia mengikutinya, akan tetapi – perhatiannya teralih ke sikap gadis itu. Ana memandang pria itu dengan tatapan yang terlihat sangat dingin. Alex merasa gadis di hadapannya ini terlihat sangat berbeda akhirnya, ia mendekat, tapi Ana mundur dan menjauh. "Cukup, aku punya kehidupan sendiri! Tidak perlu sampai begitu, aku datang, hanya ingin membalas budi pada sepasang suami-istri yang menganggap ku sebagai anak! Aku bukan saudarimu, dan jangan ikut campur segala urusanku, paham?!" tekan Ana! Ana berbalik pergi, dan ia akhirnya mengendarai sepeda motornya dan segera pergi dari sana. "Aira, siapapun kamu..., aku tidak pernah menganggapmu sebagai saudari, tapi sebagai wanita. Tidakkah kamu merasakannya?" gumam Alex. *** Laju motor mulai membelah jalan raya, menyalip satu persatu kendaraan yang ada, dan setelah beberapa saat kemudian akhirnya Ana sampai
Langkah kaki gadis itu tidak lagi terhenti. Alex menatap punggung kecil yang menjauh darinya. Ada rasa sakit setiap gadis itu menolaknya tanpa sebab, dan tanpa kata. Sebenarnya, apa yang terjadi sehingga Ana begitu membencinya? Alasannya cukup sederhana, karena pria itu memiliki nama yang sama seperti orang yang menghancurkan hidupnya. "Aku tahu, seharusnya aku tidak begini. Tapi aku tidak bisa," gumam Ana. Setelah berjalan beberapa saat, kaki jenjangnya akhirnya sampai ke sebuah tempat. Di hadapannya kini ada sebuah pintu berwarna coklat yang menunggu untuk ia buka. Ragu, hanya itu yang ada di dalam benak Ana. Ia ingin melangkah, dan bergerak lebih jauh, tapi ia ragu. Sebelum akhirnya ia merasa ada pergerakan dari balik tubuhnya. Tangan kokoh itu terulur dan mulai menekan gagang pintu. Tidak perlu melihat, hanya melihat tangan dan mencium aromanya, Ana sudah tahu siapa dia. "Mama sudah menunggu," bisik pria itu, tepat di belakang telinga Ana. Ana yang sudah mati rasa dengan kata







