Share

6,

Author: Fatimahnur
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-26 11:19:25

"Kak, dia membanting tubuh Aldo!" Aldi mulai bicara sembari menunjuk ke arah Ana. Ana hanya menatap datar, dan ia tampak tidak bereaksi samasekali. Tidak ada penyesalan, ia adalah tipe orang yang tidak akan pernah menyesali perbuatannya.

Alex yang sebelumnya menanyakan apa yang terjadi dengan nada suara yang meninggi kini hanya menatap mereka, termasuk Ana dengan tatapan yang perlahan akhirnya bingung.

"Benar, Aira?" tanya Alex.

Ana maju dan mulai mendekat ke arahnya, wajah mereka kini sangat dekat, bahkan Alex dapat merasakan hangatnya nafas adik angkatnya itu.

"Kalau iya, kenapa? Mulutnya terlalu lantam, dia menuduhku jual diri! Kalau kamu tidak percaya, silahkan saja cek Cctv! Bukankah kamu sudah menggantinya, dan menaruh alat penyadap suara?!" Ana bicara tepat di depan telinga Alex di detik-detik kata-kata terakhir.

Kedua pupil mata Alex melebar saat mendengar adiknya mengetahui suatu hal yang bahkan tidak keluarganya ketahui.

Ana tersenyum miring saat itu, dan ia akhirnya melewati Alex begitu saja. Ana masuk ke dalam, dan mendapati wanita paruh baya yang terbaring lemah di ranjang, akan tetapi wajahnya terlihat tegang.

"Aira, itu kamu–Nak?" tanyanya dengan suara bergetar. Ana hanya mengangguk kecil.

"Mah, kenapa wajah kamu terlihat tegang?"

"Mama dan kakak kamu tadi dengar ada keributan di luar, apa di luar sana semua baik-baik saja?" wajah wanita itu terlihat makin tegang. Ana terkekeh pelan, dan ia tentu saja tidak memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi tadi.

Ana duduk di kursi yang ada di samping ranjang, ia menggenggam tangan wanita itu yang terasa sangat hangat.

"Tidak ada apa-apa, aku hanya bertengkar dengan mereka hingga menimbulkan keributan, Mah." ujar Ana. Ia menempelkan tangan wanita itu di pipinya yang dingin. Tangannya juga sangat dingin.

"Aira, kenapa tangan kamu selalu dingin, padahal kebanyakan orang tangannya itu hangat." tanya Rere.

Ana diam, ia bahkan tidak pernah memikirkan hal yang sungguh tidak penting begitu. Baginya, banyak hal yang jauh lebih penting yang harus ia pikirkan selain membahas hal itu.

"Entahlah, Mah. Aku tidak tahu, sebaiknya mamah sarapan dulu, setelah itu minum obat. Aku tahu, kamu belum sarapan dan minum obat." ujar Ana, ia mengambil sarapan pagi uang sudah di sediakan di sana. Pada saat ia tengah menyuapi wanita itu, anak-anak lain dari wanita itu tampak masuk semua. Aldi, Aldo dan Tiffany tampak menatap ngeri ke arah Ana. Mereka mulai merasa, wanita yang mereka kenal bukan lagi dirinya. Hal itu hampir saja membuat Rere curiga, akan tetapi – Alex datang dan mencairkan suasana.

***

Setelah mengurus ibunya, Ana menuju ke dapur karena perutnya sudah sangatat lapar. Ia berusaha mencari maid yang ada untuk membuatkannya makanan, akan tetapi tidak ada orang di sana. "Ke mana mereka semua?" gumam Ana.

Ia akhirnya memutuskan mengambil roti dan selai yang ada di sebuah lemari di bagian atas. "Aku bingung, kenapa semua makanan berada di atas begini?! Apa mereka takut aku memakannya atau bagaimana?!" gerutu Ana. Akan tetapi, ia yang merasakan lapar akhirnya segera mengambilnya.

Sayangnya, tangannya tidak sampai, Ana harus berjinjit untuk mengembilnya. Tapi, saat ia mulai berjinjit, ia merasakan ada pergerakan di belakang nya, dan pada akhirnya bayangan tubuh seseorang tampak terlihat di depannya.

Ana diam mematung, dan sebuah suara mulai ia dengar dari balik telinganya..., "Mungkin seharusnya kamu tidak makan makanan seperti ini," bisiknya. Bukannya takut, Ana malah kesal, ia membalikan tubuhnya hingga membuat pria di belakangnya kaget bukan main.

"Lihatlah, apa kamu benar mau menggodaku?! Tapi, kenapa kamu yang malah tergoda. Sebaiknya katakan saja terus terang, apa kamu memang mau mendekatiku, karena aku adalah adikmu, atau karena kamu memang menginginkan hal lain?" Ana langsung bicara pada inti pembicara an yang cukup dalam pada saat itu.

"Dengar, Alex..., aku bukan merpati jinak seperti yang kamu kira." gumam Ana.

"Nona, ada yang mengirimkan sesuatu untuk and—" ucapan dari seseorang yang baru saja masuk dapur dan membawakan sesuatu untuk ana seketika terhenti saat melihat adegan yang tengah mereka perlihatkan.

***

Hari semakin siang, di tengah kota A, di mana Ana tinggal – di tempat ia melakukan aksinya, sudah berkumpul banyak orang yang tengah mencari tahu dari mana arahnya datangnya penembakan dilakukan.

"Sepertinya memang dari sini, apa ada beberapa bukti yang mereka tinggalkan?" Alif mulai bertanya pada beberapa bawahannya.

"Memang sepertinya dari sini, Tuan. Dan bekas goresan menuju ke gedung samoing. Ada goresan tertinggal beberapa ke arah sana, akan tetapi – setelahnya kami tidak melakukan apapun. Dan tempat sekitar yangbdinleqati juga tidak terdapat CCTV!"

Alif mengepalkan tangannya saat mendengar hal tersebut! Ia tengah memikirkan berbagai macam kemungkinan. Hanya ada satu jejak, dan hal itu menandakan kalau ia yang menyerang, bukan banyak orang, melainkan satu orang.

"Dia benar-benar monster! Dia hanya menghabisi wanita milik tuan, dan setelah tewas ia pergi begitu saja! Apa maksudnya!?!" gumam Alif.

"Atau mungkin, pelaku hanya menargetkan korban saja, tanoa menargetkan tuan?" tanya bawahannya.

"Tidak mungkin! Tuan adalah orang dengan seribu masalah dengan orang lain, bisa saja semua ada kaitannya dengan mereka. Akan tetapi, apa maksudnya semua ini?!" Mereka bahkan samasekali tidak menemukan jawaban dari sebuah perkara yang terjadi. Kini, hanya wanita yang bersama Alexander yang menjadi panah penunjukan arah. Memang semua dari musuh Alexander, atau ada hal lain.

Alif akhirnya memberikan sebuah jawaban yang bahkan masih menggantung dan tidak jelas asal usulnya.

Gebrakan meja terdengar nyaring. Alif sampai menggeserkan tubuhnya, ia sampai miring ke samping karena tiba-tiba saja botol wine melayang ke arah kepalanya.

Botol itu menghantam dinding dan suara pecahannya terdengar sangat kuat!

"Hanya itu?! Kamu tidak bisa me cari tahu, Alif! Kau kumpulkan orang-orang untuk mencari tahu siapa yang melakukan semua ini padaku? Kalau mereka tidak memendapatkannya! Maka kepala mereka semua!" teriak Alexander.

Alif hanya terdiam, ia tidak berani menjawa. Ia hanya sedikit menundukan

kepalanya.

"Cepat cari siapa orang itu! Jangan berani hentikan pencarian kalau kalian belum menemukan siapa orang itu!" teriak Alexander!

Pencarian besar-besaran diselenggarakan, Alexander Lemos begitu murka, dan ia meminta Alif untuk mencari, dan terus mencari!

***

Dering ponsel membuat seseorang terpaksa menghentikan makannya. Ia mengangkatnya, lalu... "Hm, ada apa?"

"Pencarian besar-besaran tengah diselenggarakan, di setiap sudut kota, disisir satu persatu tanpa ada yang terlewatkan, tetap tenang maka tetap aman!" Suara di sebrang sana mulai terdengar serius, hanya sebuah pesan tanpa banyak sapaan atau pembukaan percakapan.

Seringaian muncul, "Haha, aku tahu, dan pasti dia sangat marah kan? Aku senang mendengarnya, beritahu aku setiap apapun pergerakan, dan beritahu aku kalau dia mulai kembali bermain, akan kita tunjukan, bahwa kutukan yang aku betikan padanya bukan hanya bualan semata!"

"Baik, Nona. Akan saya lakukan."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   55, Gelak tawa.

    "Sedang apa kalian di sini?!" tanya Alex dengan suara yang lumayan dingin setelah ia melihat ketiga adiknya di sana. Alex berubah, ia seolah kehilangan dirinya. Dan ketiga adiknya sampai membelalakkan mata mereka setelah melihatnya. "Pergi!" ujar Alex tiba-tiba. "Tidak! Kami tidak akan pergi! Kami akan membantu kamu, dan membawa Aira bersama kita!" Tekan Aldo dan Aldi dengan hampir bersamaan. Alex menahan nafas, bukan karena takut, tapi di bagian dadanya seakan ada hal yang sedikit menusuk jantungnya. Sesak, rasnya nafasnya terasa sesak, bukan karena terharu, tapi ia kesal saat kedua adiknya memilih bertahan di sana untuk mempertaruhkan diri mereka. "Baik, tapi aku tak ingin kalian mati terbunuh di sini!" Alex meninggalkan mereka begitu saja. Aldo dan Aldi saling menoleh satu sama lain, menatap satu sama lain sebelum akhirnya mengekor di belakang kakak mereka. Mereka bertiga bahkan sampai melupakan Tiffany yang ada di belakang mereka. Tiffany berdecak kesal. Ia berjalan d

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   54, Klan Mafia Naga Hitam.

    Tubuh Alex membeku, "A–aira." gumamnya dengan bibir bergetar saat melihat sosok gadis pendiam yang selama ini ia kagumi tampak membabat habis lawannya hanya menggunakan belati kecil namun tajam. Ana tidak memperhatikan sampai terlalu jauh, nafsunya membunuh sudah berada di puncaknya. Ia menusuk korban dan darah keluar sangat banyak. Sekilas ia melihat bayangan seseorang yang ia kenali. "Sedang apa kau di situ? Sebaiknya pergi kalau tak ingin mati terbunuh di sini!" ujar Ana sebelum akhirnya ia benar-benar pergi dan kembali mengintai ke segala arah yang ia rasa masih banyak kelompok mereka. Ana terus menuju ke luar, mencari tempat yang dipenuhi udara yang cukup segar. Nafasnya lumayan sesak bila ia tetap bertarung di dalam sana yang cukup gelap dan ia sulit mencari lawannya. Kondisi tubuhnya membuatnya menghemat tenaga termasuk menyisir satu persatu ruangan dengan pendengaran dan mata tajamnya! Hingga... Bugh! Satu serangan mendadak membuatnya harus terpelanting cukup kuat!

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   53, Menemukannya!

    Ana, Ia menatap lurus ke depan. Rambutnya yang berantakan berkibar, wanita itu masih memakai pakaian pasien pada saat itu. Nafasnya masih belum teratur, tapi sorot matanya tajam! Senyuman kecil tampak hadir di bibirnya, ia mengambil sebuah batang kayu dan melemparkannya pada mereka sebelum ia berlari masuk ke dalam. Bukan karena ia tidak ingin menghadapi mereka, hanya saja ia harus mencari sesuatu agar mudah menghadapi mereka. Pada saat yang sama, di berbagai tempat sudah banyak orang yang menyisir lokasi sepi atau terbengkalai demi mencari Ana. Baik anak buahnya, Alex maupun Edward, mereka semua mencari Ana. Bahkan Edward dan Alex sampai menggunakan masinh-masing mobil mereka sendiri demi mencari Ana. *** Mobil milik Alex terus membelah jalanan sepi. Matanya menatap ke kiri kanan jalan yang sunyi. Sekarang ia berada di sebuah jalan yang sangat sunyi, tidak ada kendaraan yang lewat selain kendaraannya, sampai akhirnya ia melihat seorang wanita berlari menuju ke sebuah bang

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   52, Jangan harap bisa menyentuhku!

    Ana, ia bukanlah wanita lemah yam mereka kira. Sebuah sambungan telepon yang membuat ana yakin dengan dugaannya membuatnya tak bisa berpura-pura lagi. Terlebih orang yang ada di sekitarnya sudah memendam nafsu padanya saat melihat betapa moleknya tubuh Ana. Mata indahnya terbuka dengan cepat, orang di sekitar tubuhnya bahkan sangat terkejut melihatnya. "Hey, kau mau menyentuhku? Atau bahkan menikmati tubuh indahlu ini? Jangan harap bisa melakukannya dasar lelaki jelek!" Ana memuntir dua tangan di kanan dan kiri tubuhnya yang siap menjamahnya. Memutarkannya dan... Kraak! "Aaggh!" teriak orang yang tangannya dibuat patah oleh Ana. Setelah Ana mematahkan tangan orang, ia duduk dengan benar dan mulai menendang burung salah satu pria yang hendak mendekat ke arahnya. Laju mobil tak terkendali, pada saat yang sama akhirnya mobil itu masuk ke sebuah kawasan yang sudah tidak asing lagi bagi Ana. Di dalam mobil hitam yang melaju kencang, Ana duduk di kursi tengah tanpa di ikat, dan tanpa

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   51, Mencari Ana.

    Di rumah sakit.. Alex ditemukan tak sadarkan diri di ruangan rawat inap yang sebelumnya di huni Ana. Cairan darah berceceran di lantai, ibunya sampai histeris saat melihat kondisi Alex. Setelah ada pasien yang ikut menangani, setelah beberapa saat kemudian akhirnya ia sadar. Alex membuka matanya perlahan, saat ia melihat ke atas ia melihat semua anggota keluarganya kecuali Ana. "Aira mana?" tanya Alex. Siang itu ruang rawat inap Ana sebelumnya akhirnya tampak ramai. ."Di mana Ana?" Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari bibir Alex. Suaranya serak.Aldo saling pandang dengan Aldi, ragu untuk menjawab. Aldi menelan ludah, lalu melangkah maju setengah langkah."Kak, kami melihatnya," ujar Aldi dengan suara pelan namun jelas. "Tadi saat kami ada di luar, kami melihat Aira dibawa beberapa orang. Ada sebuah mobil hitam. Beberapa orang turun. Mereka membawa Aira pergi."Aldo mengangguk cepat, membenarkan ucapan kembarannya. "Aira sempat melawan Kak. Kami mencoba mengejar, tapi mo

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   51, Mencari Ana.

    Di rumah sakit.. Alex ditemukan tak sadarkan diri di ruangan rawat inap yang sebelumnya di huni Ana. Cairan darah berceceran di lantai, ibunya sampai histeris saat melihat kondisi Alex. Setelah ada pasien yang ikut menangani, setelah beberapa saat kemudian akhirnya ia sadar. Alex membuka matanya perlahan, saat ia melihat ke atas ia melihat semua anggota keluarganya kecuali Ana. "Aira mana?" tanya Alex. Siang itu ruang rawat inap Ana sebelumnya akhirnya tampak ramai. ."Di mana Ana?" Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari bibir Alex. Suaranya serak.Aldo saling pandang dengan Aldi, ragu untuk menjawab. Aldi menelan ludah, lalu melangkah maju setengah langkah."Kak, kami melihatnya," ujar Aldi dengan suara pelan namun jelas. "Tadi saat kami ada di luar, kami melihat Aira dibawa beberapa orang. Ada sebuah mobil hitam. Beberapa orang turun. Mereka membawa Aira pergi."Aldo mengangguk cepat, membenarkan ucapan kembarannya. "Aira sempat melawan Kak. Kami mencoba mengejar, tapi mo

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status