Compartir

3,

Autor: Fatimahnur
last update Fecha de publicación: 2026-08-26 11:15:42

Langkah kaki gadis itu tidak lagi terhenti. Alex menatap punggung kecil yang menjauh darinya. Ada rasa sakit setiap gadis itu menolaknya tanpa sebab, dan tanpa kata. Sebenarnya, apa yang terjadi sehingga Ana begitu membencinya? Alasannya cukup sederhana, karena pria itu memiliki nama yang sama seperti orang yang menghancurkan hidupnya.

"Aku tahu, seharusnya aku tidak begini. Tapi aku tidak bisa," gumam Ana.

Setelah berjalan beberapa saat, kaki jenjangnya akhirnya sampai ke sebuah tempat. Di hadapannya kini ada sebuah pintu berwarna coklat yang menunggu untuk ia buka.

Ragu, hanya itu yang ada di dalam benak Ana. Ia ingin melangkah, dan bergerak lebih jauh, tapi ia ragu. Sebelum akhirnya ia merasa ada pergerakan dari balik tubuhnya. Tangan kokoh itu terulur dan mulai menekan gagang pintu.

Tidak perlu melihat, hanya melihat tangan dan mencium aromanya, Ana sudah tahu siapa dia. "Mama sudah menunggu," bisik pria itu, tepat di belakang telinga Ana. Ana yang sudah mati rasa dengan kata pria tentu tidak merasakan apapun, dan andai ia bisa berbalik dan menghajar pria itu, mungkin sudah ia lakukan.

Setelah pintu terbuka, Ana masuk tanpa banyak kata. Rere yang melihat gadis cantik yang ia tunggu-tunggu datang akhirnya tersenyum penuh kebahagiaan. "Aira, Alex! Mama tahu, kalian pasti akan segera datang,"

"Kenapa lama tidak kembali?" tanya Ricard dengan suara yang terdengar datar, dan ia juga memperlihatkan ekspresi dingin, sama seperti Ana memperlakukannya.

"Maaf, aku sedang sibuk dalam pekerjaan." balas Ana sembari mendekat ke arah wanita paruh baya yang kini terbaring lemah di ranjang.

"Mah, kenapa mamah tidak dirawat di rumah sakit saja? Mungkin kondisis mama akan jauh lebih baik." Suara Ana lebih lembut dari sebelumnya, dan ia menatap wajah wanita itu yang masih terlihat cantik, meskipun ia sedang sakit. Bibir Rere tersenyum melihat putri kesayangannya itu datang, sejauh ini, sikap dingin itu terbyata membuat wanita itu malah sangat menyayanginya.

"Mama nunggu kamu, dan mama merasa, kalau kamu datang, mama akan segera sembuh."

"Omong kosong darimana itu! Mama harus makan sekarang, dan minum obat! Kalau sampai besok kondisi mama begini, mama harus di rawat di rumah sakit! Aku tidak mau tahu, kalau mama tidak mau, maka aku tidak akan pernah pulang!" Ancam gadis itu.

Sejauh ini, hanya gadis itu yang berani mengancam Rere. Seakan wanita itu bertekuk lutut dengan segala perintahnya, Rere merasa gelisah saat mendengar setiap ancaman anak gadisnya itu.

"Baik-baik, jangan marah begitu. Mama akan menuruti kemauan kamu."

Ana menyuapi mama angkatnya itu perlahan demi perlahan. Meski ia enggan melakukannya, tapi ia harus melakukannya, karena ia tahu, hanya dia yang bisa melakukannya.

Tidak membutuhkan waktu yang lama, gadis itu berhasil membuat satu mangkuk bubur hangat itu habis tidak tersisa. Setelah selesai makan, Ana memberikan obat yang ada di meja nakas, lalu dengan senang hati, Rere menerimanya.

"Nak," sentuhan lembut dari tangan Rere mulai menggenggam tangan Ana. Jari menari manis yang lentik milik Ana di genggam oleh wanita itu. "Tetaplah tinggal, mama hanya ingin kamu tetap di sini, agar mama bisa melihat kamu sepanjang hari. Kamu anak mama, salah satu bagian dari keluarga ini."

Ana terpaku sejenak, tatapan wanita itunyerlihat tulus, dan seketika ia ingat satu hal penting. Tujuannya ada di kota itu! Alexander Lemos tengah melakukan perjalanan bisnis di sana!

Bibir Ana seketika tersenyum, tapi sesaat senyuman itu penuh arti. "Baik, aku akan tinggal di sini."

***

Waktu berlalu, Ana menemani Rere hingga wanita itu terlelap. Setelah beristirahat dan makan malam bersama kwkiarga yang tersisa, akhirnya Ana kembali mengutarakan niat hatinya.

"Ayah, aku ingin pamit keluar malam ini." Sontak ucapan Ana membuat mereka semia yang baru selesai makan malam akhirnya menoleh ke arahnya.

"Mau kemana kamu malam-malam?!" tanya Ricard dengan alis yang naik sebelah.

Ana memandang lelaki itu dengan tatapan mata dingin. Tiffany mulai merasa ada hal janggal yang ia lihat dari wanita yang selama ini ia tindas. Seakan kini ia menjelma bagaimana sosok yang berbeda dan bahkan terlihat dingin, serta sedikit menakutkan.

"Kak Aira, kenapa kamu jadi aneh sekarang. Selain pulang menggunakan sepeda motor yang terlihat besar dan berat, kamu juga mulai keluar malam." celetuk Tiffany dengan suara manjanya.

"Bukankah kamu yang berkata agar aku sedikit berubah, aku sudah berubah, dan aku harap kamu tidak ikut campur segala urusanku, Tiffany!" tegur ana dengan sangat keras. Ia bahkan sampai menggebrak meja dan menatap tajam ke arah Tiffany.

"Cukup! Bukankah aku sudah pernah berkata, untuk tidak bertengkar! Kalian itu saudara!" tegur Ricard. Ana mengepalkan tangannya yang kini ada di pangkuannya, Tiffany yang tampak hendak menangis membuat saudara kembarnya merasa kesal pada sikap Ana.

"Silahkan kalau kamu mau pergi, kamu memang susah di atur!" celetuk Ricard sebelum ia pergi meninggalkan ruang makan dengan sangat kesal. Ana akhirnya pergi dari sana juga setelah Ricard pergi.

Ia tidak akan berlama-lama, dan setelah sampai di luar ia langsung menghidupkan ponselnya.

Sembari berjalan, ia mulai menghubungi Jack, dan mungkin ia sudah mendapatkan banyak informasi penting. "Bagaimana, kamu sudah mendapatkan apa yang aku butuhkan?" tanya Ana setelah Jack mengangkat sambungan telepon.

"Sudah, Nona. Saya akan mengirimkan di mana lokasi tempat anda akan mulai. Dan sebaiknya anda keluar dulu dari wilayah itu, dan amati sekitar anda." balas Jack dari dalam sambungan telepon.

Ana mengernyitkan dahinya saat mendengar ucapan tangan kanannya itu. Ia masih tidak mengerti dengan apa maksud dari Jack.

"Apa maksudmu?!"

"Anak sulung keluarga wilson mulai mencari asal usul anda, dan mungkin – ia akan mengikuti anda suatu saat."

Ana menghentikan langkahnya, sebelum akhirnya ia merasa ia tengah di ikuti. "Langsung terjadi apa yang kau katakan. Jangan lalai, dan jangan biarkan dia tahu. Aku akan segera pergi, kau siapkan semuanya."

"Baik, Nona. Berhati-hati lah, dan bila anda perlu bantuan, hubungi saja saya, saya akan menggerakkan beberapa orang yang ada di sekitar anda."

Sambungan telepon di tutup, dan Ana menyimpan ponselnya ke saku celananya.

"Ada apa? Kalau ada yang mau kamu katakan, katakan saja, tapi perlu kamu ingat, aku tidak suka dengan pengutit!"

Sontak, pria di belakang Ana tersentak saat mendengar ucapannya, Ana membalikan tubuhnya dan mulai menatap pria itu dengan tatapan mata yang datar.

Gadis itu kembali, tapi akhirnya kembali dengan jati diri berbeda yang membuat orang-orang di keluarga wilson akhirnya merasa..., ia bukanlah lagi orang yang sama!

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   8, Permintaan?

    Ana kembali ke ruang makan, ekspresi wajahnya terlihat sedikit lesu. Jujur untuk hal yang satu itu, Ia sedikit berat hati karena Ia merasa– Ia akan sama brengseknya seperti mereka. Akan tetapi, semua harus Ia lakukan. Ia tidak bisa hanya diam, dan menunggu mereka yang mengerjakan semuanya. "Aira, kamu kenapa?" tanya Rere saat ia menyadari gadis itu tengah melamun. "Hmm, enggak apa-apa..., Mah. Aku sedang pusing saja. Sepertinya aku butuh istirahat." gumam Ana. "Kalau begitu, selesaikan makanmu dulu sebelum kamu beristirahat." ujar Rere. Ana hanya tersenyum kecil saat itu. Ia makan dengan cepat, dan setelahnya ia hendak menuju ke kamar. "Aku sudah selesai, dan aku ingin izin istirahat ke kamar, apa boleh – Mah?" tanya Ana. "Silahkan, Nak." Ana tampak mulai bergerak, berdiri dan hendak pergi dari sana, tapi tiba-tiba saja... "Tunggu, Nak!" Ana yang mendengar wanita itu mencegahnya pergi akhirnya menghentikan langkah. Ia membalikan tubuhnya dan seketika kedua bola matanya terbuk

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   7, Cemburu?

    "Aira, siapa yang membelikan kamu makanan? Aku yakin, bukan kamu yang membelinya, kan? Kenapa tidak bilang padaku?! Aku akan membelikannya untukmu, dan aku juga akan memasakan makanan yang kamu mau, kalau kamu menginginkannya!" Ucapan Alex seketika membuat Ana menoleh ke arahnya. Tatapannya kali ini berbeda, ia lebih menunjukan rasa penasaran daripada sikap dingin. "Kenapa? Kamu cemburuan?" tanya Ana. Akan tetapi, yang dilakukan oleh Alex hanya diam. Pria itu bingung, tapi juga gugup akhirnya. Ana menghela nafas panjang, ia mulai menyuapkan makanan ke mulutnya. "Kalau kau memang perduli padaku, mungkin sedari dahulu kau akan membantuku, tapi nyatanya tidak! Dan kalau kau cemburu padaku..., atas dasar apa kau berani melakukannya?!" tanya Ana sembari mengarahkan sumpit ke Alex. "Sebaiknya kau hentikan saja sebelum kau menyesal, Alex!" tekan Ana. Tanpa mengharapkan jawab, Ana kembali makan dan menikmati beberapa hidangan yang dibelikan oleh Jack. Memang dalam hidupnya sekarang, hany

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   6,

    "Kak, dia membanting tubuh Aldo!" Aldi mulai bicara sembari menunjuk ke arah Ana. Ana hanya menatap datar, dan ia tampak tidak bereaksi samasekali. Tidak ada penyesalan, ia adalah tipe orang yang tidak akan pernah menyesali perbuatannya. Alex yang sebelumnya menanyakan apa yang terjadi dengan nada suara yang meninggi kini hanya menatap mereka, termasuk Ana dengan tatapan yang perlahan akhirnya bingung. "Benar, Aira?" tanya Alex. Ana maju dan mulai mendekat ke arahnya, wajah mereka kini sangat dekat, bahkan Alex dapat merasakan hangatnya nafas adik angkatnya itu. "Kalau iya, kenapa? Mulutnya terlalu lantam, dia menuduhku jual diri! Kalau kamu tidak percaya, silahkan saja cek Cctv! Bukankah kamu sudah menggantinya, dan menaruh alat penyadap suara?!" Ana bicara tepat di depan telinga Alex di detik-detik kata-kata terakhir. Kedua pupil mata Alex melebar saat mendengar adiknya mengetahui suatu hal yang bahkan tidak keluarganya ketahui. Ana tersenyum miring saat itu, dan ia akhirnya m

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   5,

    Langkah kaki jenjang itu akhirnya sampai ke sebuah bangunan pertama yang ia singgahi barusan. Ia turun dengan ringan dari lantai paling atas, ia memakai helemnya lalu bergegas pulang. Sebelum pulang, ia kembali ke markas. Jack menyambutnya dengan baik, Ana mengambil sebatang rokok dan mulai menghisapnya. "Apa semua berjalan dengan baik, Nona?" tanya Jack. "Hm, mereka pasti akan mengubur berita itu, tidak akan ada kehebohan. Tolong suruh orang siapkan makanan, Jack, aku samasekali belum makan setelah kambali." "Apa?! Anda tidak makan?! Apa mereka tidak memberi anda makan?!" tanya Jack dengan suara yang terdengar sangat terkejut. "Hm, ya begitu kira-kira, aku selalu terasingkan di sana anak kembar mereka tidak menyukai aku, dan hal itu terjadi karena ucapan Tiffany yang selalu membuatku serba salah." terang Ana. "Baiklah, saya akan menyuruh mereka menyiapkan makan malam anda mandilah dulu." ujar Jack. Ana pergi ke kamarnya, ia segera menuju kamar mandi. Wanita itu membuka

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   4,

    "Aira? Kenapa dengan kamu? Apa yang terjadi?" tanya Alexander. Ia memang sedikit terkejut saat gadis di hadapannya itu mengetahui saat ia mengikutinya, akan tetapi – perhatiannya teralih ke sikap gadis itu. Ana memandang pria itu dengan tatapan yang terlihat sangat dingin. Alex merasa gadis di hadapannya ini terlihat sangat berbeda akhirnya, ia mendekat, tapi Ana mundur dan menjauh. "Cukup, aku punya kehidupan sendiri! Tidak perlu sampai begitu, aku datang, hanya ingin membalas budi pada sepasang suami-istri yang menganggap ku sebagai anak! Aku bukan saudarimu, dan jangan ikut campur segala urusanku, paham?!" tekan Ana! Ana berbalik pergi, dan ia akhirnya mengendarai sepeda motornya dan segera pergi dari sana. "Aira, siapapun kamu..., aku tidak pernah menganggapmu sebagai saudari, tapi sebagai wanita. Tidakkah kamu merasakannya?" gumam Alex. *** Laju motor mulai membelah jalan raya, menyalip satu persatu kendaraan yang ada, dan setelah beberapa saat kemudian akhirnya Ana sampai

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   3,

    Langkah kaki gadis itu tidak lagi terhenti. Alex menatap punggung kecil yang menjauh darinya. Ada rasa sakit setiap gadis itu menolaknya tanpa sebab, dan tanpa kata. Sebenarnya, apa yang terjadi sehingga Ana begitu membencinya? Alasannya cukup sederhana, karena pria itu memiliki nama yang sama seperti orang yang menghancurkan hidupnya. "Aku tahu, seharusnya aku tidak begini. Tapi aku tidak bisa," gumam Ana. Setelah berjalan beberapa saat, kaki jenjangnya akhirnya sampai ke sebuah tempat. Di hadapannya kini ada sebuah pintu berwarna coklat yang menunggu untuk ia buka. Ragu, hanya itu yang ada di dalam benak Ana. Ia ingin melangkah, dan bergerak lebih jauh, tapi ia ragu. Sebelum akhirnya ia merasa ada pergerakan dari balik tubuhnya. Tangan kokoh itu terulur dan mulai menekan gagang pintu. Tidak perlu melihat, hanya melihat tangan dan mencium aromanya, Ana sudah tahu siapa dia. "Mama sudah menunggu," bisik pria itu, tepat di belakang telinga Ana. Ana yang sudah mati rasa dengan kata

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status