Share

8, Permintaan?

Author: Fatimahnur
last update publish date: 2026-09-07 20:38:48

Ana kembali ke ruang makan, ekspresi wajahnya terlihat sedikit lesu. Jujur untuk hal yang satu itu, Ia sedikit berat hati karena Ia merasa– Ia akan sama brengseknya seperti mereka.

Akan tetapi, semua harus Ia lakukan. Ia tidak bisa hanya diam, dan menunggu mereka yang mengerjakan semuanya.

"Aira, kamu kenapa?" tanya Rere saat ia menyadari gadis itu tengah melamun.

"Hmm, enggak apa-apa..., Mah. Aku sedang pusing saja. Sepertinya aku butuh istirahat." gumam Ana.

"Kalau begitu, selesaikan makanmu dulu sebelum kamu beristirahat." ujar Rere. Ana hanya tersenyum kecil saat itu.

Ia makan dengan cepat, dan setelahnya ia hendak menuju ke kamar. "Aku sudah selesai, dan aku ingin izin istirahat ke kamar, apa boleh – Mah?" tanya Ana.

"Silahkan, Nak."

Ana tampak mulai bergerak, berdiri dan hendak pergi dari sana, tapi tiba-tiba saja...

"Tunggu, Nak!"

Ana yang mendengar wanita itu mencegahnya pergi akhirnya menghentikan langkah. Ia membalikan tubuhnya dan seketika kedua bola matanya terbuka cukup lebar.

"Mama hanya ingin memelukmu," ujar wanita itu. Ana diam, dan ia bingung harus berbuat apa.

***

Siang berganti sore, sore berganti malam. Makan malam berjalan seperti biasa, dan Ana kali ini resah, bahkan sangat resah dari biasanya.

Setelah makan malam usai, ia akhirnya mencoba memikirkan banyak hal. Setelah malam makin larut, ia akhirnya mengikutu langkah kaki Rere yang hendak menuju ke kamarnya untuk istirahat.

"Aira, ada apa?" tanya Rere saat ia mengetahui bahwa gadis kesayangannya itu mengikutinya. Ana diam cukup lama, tubuhnya membatu dan membeku. Ia merasa seperti seorang pengutit saat itu. Ricard yang sedang bersama istrinya, yang tengah berdiri di samping istrinya.

Baru kali ini, Ana merasa gugup di hadapan mereka. Kalau ia tidak malu karena gelarnya di kelompoknya, mungkin ia sudah meremas ujung bajunya saat itu.

Di saat yang sama, anak-anak mereka yang lain juga ternyata ada beberapa meter di belakang tubuh Ana. Seakan memastikan, apa yang hendak wanita itu lakukan di sana.

"Aku tidak yakin akan mengatakan soal ini, tapi aku benar-benar harus mengatakannya. Aku tidak yakin kalian akan mengabulkannya," ujar Ana.

"Katakan saja dulu," kali ini Ricard yang menjawab.

"Sebentar lagi, kalian akan menghadiri pesta besar. Apa aku boleh ikut? Untuk pertama kalinya dalam seumur hidup, aku ingin ikut." ujar Ana.

Tiffany beserta Aldo dan Aldi terkejut bukan main karena permintaan itu. Alex sendiri bahkan sampai menyipitkan matanya karena mendengar permintaan gadis itu.

Hening seketika, Ana merasa serba salah, dan..., ia menunduk dalam saat kedua orang itu tidak menjawab pertanyaannya. Ia tersenyum kecut, "Ka–kalau tidak boleh, juga tidak apa-apa. Aku.... aku—" suaranya terbata-bata.

"Boleh, kamu boleh ikut. Mama malah senang setelah kamu meminta ikutan, dan mama harap, kamu akan mendapatkan jodoh di sana." ujar Rere seketika.

Ana mendongak, menatap ke arah mereka..., dan wajahnya terlihat sangat bahagia saat mendengar ucapan dari Rere.

"Sungguh?" tanyanya tidak percaya,.akan tetapi reaksinya sungguh sangat bahagia untuk pertama kalinya saat itu.

Ricard diam, tapi ini pertama kalinya ia menatap binar kebahagiaan dalam mata gadis itu.

"Terimakasih," jawab ana sebelum akhirnya ia menuju ke kamarnya.

Malam itu, ada rasa lega yang ia rasakan untuk pertama kalinya, dan setelah menyetujui, mereka pergi ke kamar. Ana membalikan tubuhnya dan mendapati anak-anak keluarga Wilson itu menatapnya dengan tatapan heran dan juga bingung.

Tapi, ia tidak perduli. Ana menyingkirkan Tiffany yang menghalangi jalannya saat itu. "Minggir, Kau!" gumamnya dengan tatapan penuh kebencian!

Semua orang terkejut dengan reaksi gadis itu. Aldo dan Aldi tentu sudah marah-marah saat mendengar ucapan gadis itu. Tapi, bagaimana dengan Alex?

"Ana?!" panggilnya saat itu. Ana kembali menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Alex dan menatap ya dengan tatapan dingin.

Tiffani terlihat senang saat ia melihat apa yang Alex lakukan, dan Ana dapat melihat semuanya.

Ana menatap Alex dengan lekat, dad4nya sesak karena tidak tahu apa yang akan keluar dari mulut pria itu.

Semua hal tiba-tiba terasa mendesak. Ruangan terasa sesak, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia sudah siap dengan kemarahan, dengan pertanyaan tajam, dengan segala kemungkinan terburuk yang ia bayangkan sejak tadi.

Tapi yang keluar justru bukan itu.

Alex menarik napas, lalu sudut bibirnya sedikit terangkat. "Besok kita pergi beli gaun pesta."

Ana mengerjap, bingung. "Hah?"

"Kamu bilang ingin ikut pesta, kan?" Alex menatapnya lurus, suaranya tenang tapi tegas. "Jadi kita beli gaunnya besok. Jangan sampai kamu datang dengan pakaian asal-asalan."

Ana masih terdiam beberapa detik, otaknya belum sepenuhnya mencerna kata-kata Alex. Ia mengira akan ada bentakan, atau setidaknya pertanyaan panjang tentang kenapa ia ingin ikut pesta itu. Tapi yang ia dapatkan justru tawaran yang sama sekali tidak terduga.

"Besok? Tiba-tiba begitu?" tanyanya pelan, masih dengan tatapan bingung.

Alex hanya mengangguk singkat, seolah itu sudah keputusan final.

Ana menghela napas, lalu mengangguk pelan. "Baiklah... aku setuju."

Malam itu, mereka menelan keterkejutan masing-masing.

Tiffany yang sedari tadi diam dan menyaksikan tiba-tiba berseru. "Kakak, dia mau mau beli gaun? Aku juga mau!"

Ia melangkah maju dengan mata berbinar, tidak percaya kalau Alex benar-benar akan melakukan itu untuk Ana. "Boleh kan, Kak? Jadi aku juga butuh gaun baru. Aku ikut!"

Alex mengerutkan kening, raut wajahnya langsung berubah tidak suka. "Kamu ikut buat apa? Ini bukan jalan-jalan. Bukankah kamu sering membelinya dengan mama?" tanya Alex.

Tiffany menyilangkan tangan di depan dad4, dagunya sedikit terangkat. "Aku juga mau tampil bagus di pesta. Tidak adil kalau cuma kakak saja yang beli."

Alex mendesah panjang, jelas berat menerima permintaan itu. Tapi setelah melihat tatapan memohon Tiffany yang keras kepala, ia akhirnya mengalah.

"Baik. Tapi jangan banyak rewel."

Iya, Tiffany memang sengaja berlagak manja. Caranya menyilangkan tangan dan mengangkat dagu itu jelas bukan sekadar permintaan biasa, tapi lebih seperti tuntutan yang dibungkus manja supaya Alex tidak bisa menolak.

Terlalu arogan, memang. Apalagi di depan Ana yang baru saja mendapat ajakan itu. Seolah ia merasa semua orang harus menuruti keinginannya hanya karena ia anak bungsu.

Alex sendiri pasti menyadari itu. Makanya raut wajahnya berubah tidak suka sebelum akhirnya mengalah. Dia tahu kalau menolak sekarang justru akan membuat Tiffany makin bersikeras dan membuat suasana jadi ribut.

Pertanyaannya sekarang, apakah Ana merasa tersinggung dengan sikap Tiffany itu, atau dia memilih diam saja demi menjaga suasana?

"Aku rasa kita butuh istirahat," ana melenggang pergi dari sana.

***

Sesampainya di kamar, ia duduk di tepian ranjang. Entah mengapa, bila mengingat nama Alex, ia teringat Alexander, dan itulah yang membuatnya begitu membenci pria itu.

"Astaga, kapan kebencian ini berakhir. Tuhan, aku lelah." gumam Ana. Air matanya mengalir saat ia kembali mengingat momen tragis dalam sejarah hidupnya tiga tahun silam, tapi Ana buru-buru menghapus air matanya dan berusaha menghentikan tangisnya.

"Tidak, aku tidak boleh lemah! Aku harus hidup, dan membalaskan dendamku padanya, beserta – pada semua orang yang sudah mengkhianati kita, Ayah." gumamnya sembari menatap lurus dengan tatapan penuh api dendam. Dering ponsel berbunyi, kembali memecahkan keheningan yang sempat kembali datang!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   55, Gelak tawa.

    "Sedang apa kalian di sini?!" tanya Alex dengan suara yang lumayan dingin setelah ia melihat ketiga adiknya di sana. Alex berubah, ia seolah kehilangan dirinya. Dan ketiga adiknya sampai membelalakkan mata mereka setelah melihatnya. "Pergi!" ujar Alex tiba-tiba. "Tidak! Kami tidak akan pergi! Kami akan membantu kamu, dan membawa Aira bersama kita!" Tekan Aldo dan Aldi dengan hampir bersamaan. Alex menahan nafas, bukan karena takut, tapi di bagian dadanya seakan ada hal yang sedikit menusuk jantungnya. Sesak, rasnya nafasnya terasa sesak, bukan karena terharu, tapi ia kesal saat kedua adiknya memilih bertahan di sana untuk mempertaruhkan diri mereka. "Baik, tapi aku tak ingin kalian mati terbunuh di sini!" Alex meninggalkan mereka begitu saja. Aldo dan Aldi saling menoleh satu sama lain, menatap satu sama lain sebelum akhirnya mengekor di belakang kakak mereka. Mereka bertiga bahkan sampai melupakan Tiffany yang ada di belakang mereka. Tiffany berdecak kesal. Ia berjalan d

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   54, Klan Mafia Naga Hitam.

    Tubuh Alex membeku, "A–aira." gumamnya dengan bibir bergetar saat melihat sosok gadis pendiam yang selama ini ia kagumi tampak membabat habis lawannya hanya menggunakan belati kecil namun tajam. Ana tidak memperhatikan sampai terlalu jauh, nafsunya membunuh sudah berada di puncaknya. Ia menusuk korban dan darah keluar sangat banyak. Sekilas ia melihat bayangan seseorang yang ia kenali. "Sedang apa kau di situ? Sebaiknya pergi kalau tak ingin mati terbunuh di sini!" ujar Ana sebelum akhirnya ia benar-benar pergi dan kembali mengintai ke segala arah yang ia rasa masih banyak kelompok mereka. Ana terus menuju ke luar, mencari tempat yang dipenuhi udara yang cukup segar. Nafasnya lumayan sesak bila ia tetap bertarung di dalam sana yang cukup gelap dan ia sulit mencari lawannya. Kondisi tubuhnya membuatnya menghemat tenaga termasuk menyisir satu persatu ruangan dengan pendengaran dan mata tajamnya! Hingga... Bugh! Satu serangan mendadak membuatnya harus terpelanting cukup kuat!

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   53, Menemukannya!

    Ana, Ia menatap lurus ke depan. Rambutnya yang berantakan berkibar, wanita itu masih memakai pakaian pasien pada saat itu. Nafasnya masih belum teratur, tapi sorot matanya tajam! Senyuman kecil tampak hadir di bibirnya, ia mengambil sebuah batang kayu dan melemparkannya pada mereka sebelum ia berlari masuk ke dalam. Bukan karena ia tidak ingin menghadapi mereka, hanya saja ia harus mencari sesuatu agar mudah menghadapi mereka. Pada saat yang sama, di berbagai tempat sudah banyak orang yang menyisir lokasi sepi atau terbengkalai demi mencari Ana. Baik anak buahnya, Alex maupun Edward, mereka semua mencari Ana. Bahkan Edward dan Alex sampai menggunakan masinh-masing mobil mereka sendiri demi mencari Ana. *** Mobil milik Alex terus membelah jalanan sepi. Matanya menatap ke kiri kanan jalan yang sunyi. Sekarang ia berada di sebuah jalan yang sangat sunyi, tidak ada kendaraan yang lewat selain kendaraannya, sampai akhirnya ia melihat seorang wanita berlari menuju ke sebuah bang

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   52, Jangan harap bisa menyentuhku!

    Ana, ia bukanlah wanita lemah yam mereka kira. Sebuah sambungan telepon yang membuat ana yakin dengan dugaannya membuatnya tak bisa berpura-pura lagi. Terlebih orang yang ada di sekitarnya sudah memendam nafsu padanya saat melihat betapa moleknya tubuh Ana. Mata indahnya terbuka dengan cepat, orang di sekitar tubuhnya bahkan sangat terkejut melihatnya. "Hey, kau mau menyentuhku? Atau bahkan menikmati tubuh indahlu ini? Jangan harap bisa melakukannya dasar lelaki jelek!" Ana memuntir dua tangan di kanan dan kiri tubuhnya yang siap menjamahnya. Memutarkannya dan... Kraak! "Aaggh!" teriak orang yang tangannya dibuat patah oleh Ana. Setelah Ana mematahkan tangan orang, ia duduk dengan benar dan mulai menendang burung salah satu pria yang hendak mendekat ke arahnya. Laju mobil tak terkendali, pada saat yang sama akhirnya mobil itu masuk ke sebuah kawasan yang sudah tidak asing lagi bagi Ana. Di dalam mobil hitam yang melaju kencang, Ana duduk di kursi tengah tanpa di ikat, dan tanpa

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   51, Mencari Ana.

    Di rumah sakit.. Alex ditemukan tak sadarkan diri di ruangan rawat inap yang sebelumnya di huni Ana. Cairan darah berceceran di lantai, ibunya sampai histeris saat melihat kondisi Alex. Setelah ada pasien yang ikut menangani, setelah beberapa saat kemudian akhirnya ia sadar. Alex membuka matanya perlahan, saat ia melihat ke atas ia melihat semua anggota keluarganya kecuali Ana. "Aira mana?" tanya Alex. Siang itu ruang rawat inap Ana sebelumnya akhirnya tampak ramai. ."Di mana Ana?" Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari bibir Alex. Suaranya serak.Aldo saling pandang dengan Aldi, ragu untuk menjawab. Aldi menelan ludah, lalu melangkah maju setengah langkah."Kak, kami melihatnya," ujar Aldi dengan suara pelan namun jelas. "Tadi saat kami ada di luar, kami melihat Aira dibawa beberapa orang. Ada sebuah mobil hitam. Beberapa orang turun. Mereka membawa Aira pergi."Aldo mengangguk cepat, membenarkan ucapan kembarannya. "Aira sempat melawan Kak. Kami mencoba mengejar, tapi mo

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   51, Mencari Ana.

    Di rumah sakit.. Alex ditemukan tak sadarkan diri di ruangan rawat inap yang sebelumnya di huni Ana. Cairan darah berceceran di lantai, ibunya sampai histeris saat melihat kondisi Alex. Setelah ada pasien yang ikut menangani, setelah beberapa saat kemudian akhirnya ia sadar. Alex membuka matanya perlahan, saat ia melihat ke atas ia melihat semua anggota keluarganya kecuali Ana. "Aira mana?" tanya Alex. Siang itu ruang rawat inap Ana sebelumnya akhirnya tampak ramai. ."Di mana Ana?" Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari bibir Alex. Suaranya serak.Aldo saling pandang dengan Aldi, ragu untuk menjawab. Aldi menelan ludah, lalu melangkah maju setengah langkah."Kak, kami melihatnya," ujar Aldi dengan suara pelan namun jelas. "Tadi saat kami ada di luar, kami melihat Aira dibawa beberapa orang. Ada sebuah mobil hitam. Beberapa orang turun. Mereka membawa Aira pergi."Aldo mengangguk cepat, membenarkan ucapan kembarannya. "Aira sempat melawan Kak. Kami mencoba mengejar, tapi mo

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status