INICIAR SESIÓNAna kembali ke ruang makan, ekspresi wajahnya terlihat sedikit lesu. Jujur untuk hal yang satu itu, Ia sedikit berat hati karena Ia merasa– Ia akan sama brengseknya seperti mereka.
Akan tetapi, semua harus Ia lakukan. Ia tidak bisa hanya diam, dan menunggu mereka yang mengerjakan semuanya. "Aira, kamu kenapa?" tanya Rere saat ia menyadari gadis itu tengah melamun. "Hmm, enggak apa-apa..., Mah. Aku sedang pusing saja. Sepertinya aku butuh istirahat." gumam Ana. "Kalau begitu, selesaikan makanmu dulu sebelum kamu beristirahat." ujar Rere. Ana hanya tersenyum kecil saat itu. Ia makan dengan cepat, dan setelahnya ia hendak menuju ke kamar. "Aku sudah selesai, dan aku ingin izin istirahat ke kamar, apa boleh – Mah?" tanya Ana. "Silahkan, Nak." Ana tampak mulai bergerak, berdiri dan hendak pergi dari sana, tapi tiba-tiba saja... "Tunggu, Nak!" Ana yang mendengar wanita itu mencegahnya pergi akhirnya menghentikan langkah. Ia membalikan tubuhnya dan seketika kedua bola matanya terbuka cukup lebar. "Mama hanya ingin memelukmu," ujar wanita itu. Ana diam, dan ia bingung harus berbuat apa. *** Siang berganti sore, sore berganti malam. Makan malam berjalan seperti biasa, dan Ana kali ini resah, bahkan sangat resah dari biasanya. Setelah makan malam usai, ia akhirnya mencoba memikirkan banyak hal. Setelah malam makin larut, ia akhirnya mengikutu langkah kaki Rere yang hendak menuju ke kamarnya untuk istirahat. "Aira, ada apa?" tanya Rere saat ia mengetahui bahwa gadis kesayangannya itu mengikutinya. Ana diam cukup lama, tubuhnya membatu dan membeku. Ia merasa seperti seorang pengutit saat itu. Ricard yang sedang bersama istrinya, yang tengah berdiri di samping istrinya. Baru kali ini, Ana merasa gugup di hadapan mereka. Kalau ia tidak malu karena gelarnya di kelompoknya, mungkin ia sudah meremas ujung bajunya saat itu. Di saat yang sama, anak-anak mereka yang lain juga ternyata ada beberapa meter di belakang tubuh Ana. Seakan memastikan, apa yang hendak wanita itu lakukan di sana. "Aku tidak yakin akan mengatakan soal ini, tapi aku benar-benar harus mengatakannya. Aku tidak yakin kalian akan mengabulkannya," ujar Ana. "Katakan saja dulu," kali ini Ricard yang menjawab. "Sebentar lagi, kalian akan menghadiri pesta besar. Apa aku boleh ikut? Untuk pertama kalinya dalam seumur hidup, aku ingin ikut." ujar Ana. Tiffany beserta Aldo dan Aldi terkejut bukan main karena permintaan itu. Alex sendiri bahkan sampai menyipitkan matanya karena mendengar permintaan gadis itu. Hening seketika, Ana merasa serba salah, dan..., ia menunduk dalam saat kedua orang itu tidak menjawab pertanyaannya. Ia tersenyum kecut, "Ka–kalau tidak boleh, juga tidak apa-apa. Aku.... aku—" suaranya terbata-bata. "Boleh, kamu boleh ikut. Mama malah senang setelah kamu meminta ikutan, dan mama harap, kamu akan mendapatkan jodoh di sana." ujar Rere seketika. Ana mendongak, menatap ke arah mereka..., dan wajahnya terlihat sangat bahagia saat mendengar ucapan dari Rere. "Sungguh?" tanyanya tidak percaya,.akan tetapi reaksinya sungguh sangat bahagia untuk pertama kalinya saat itu. Ricard diam, tapi ini pertama kalinya ia menatap binar kebahagiaan dalam mata gadis itu. "Terimakasih," jawab ana sebelum akhirnya ia menuju ke kamarnya. Malam itu, ada rasa lega yang ia rasakan untuk pertama kalinya, dan setelah menyetujui, mereka pergi ke kamar. Ana membalikan tubuhnya dan mendapati anak-anak keluarga Wilson itu menatapnya dengan tatapan heran dan juga bingung. Tapi, ia tidak perduli. Ana menyingkirkan Tiffany yang menghalangi jalannya saat itu. "Minggir, Kau!" gumamnya dengan tatapan penuh kebencian! Semua orang terkejut dengan reaksi gadis itu. Aldo dan Aldi tentu sudah marah-marah saat mendengar ucapan gadis itu. Tapi, bagaimana dengan Alex? "Ana?!" panggilnya saat itu. Ana kembali menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Alex dan menatap ya dengan tatapan dingin. Tiffani terlihat senang saat ia melihat apa yang Alex lakukan, dan Ana dapat melihat semuanya. Ana menatap Alex dengan lekat, dad4nya sesak karena tidak tahu apa yang akan keluar dari mulut pria itu. Semua hal tiba-tiba terasa mendesak. Ruangan terasa sesak, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia sudah siap dengan kemarahan, dengan pertanyaan tajam, dengan segala kemungkinan terburuk yang ia bayangkan sejak tadi. Tapi yang keluar justru bukan itu. Alex menarik napas, lalu sudut bibirnya sedikit terangkat. "Besok kita pergi beli gaun pesta." Ana mengerjap, bingung. "Hah?" "Kamu bilang ingin ikut pesta, kan?" Alex menatapnya lurus, suaranya tenang tapi tegas. "Jadi kita beli gaunnya besok. Jangan sampai kamu datang dengan pakaian asal-asalan." Ana masih terdiam beberapa detik, otaknya belum sepenuhnya mencerna kata-kata Alex. Ia mengira akan ada bentakan, atau setidaknya pertanyaan panjang tentang kenapa ia ingin ikut pesta itu. Tapi yang ia dapatkan justru tawaran yang sama sekali tidak terduga. "Besok? Tiba-tiba begitu?" tanyanya pelan, masih dengan tatapan bingung. Alex hanya mengangguk singkat, seolah itu sudah keputusan final. Ana menghela napas, lalu mengangguk pelan. "Baiklah... aku setuju." Malam itu, mereka menelan keterkejutan masing-masing. Tiffany yang sedari tadi diam dan menyaksikan tiba-tiba berseru. "Kakak, dia mau mau beli gaun? Aku juga mau!" Ia melangkah maju dengan mata berbinar, tidak percaya kalau Alex benar-benar akan melakukan itu untuk Ana. "Boleh kan, Kak? Jadi aku juga butuh gaun baru. Aku ikut!" Alex mengerutkan kening, raut wajahnya langsung berubah tidak suka. "Kamu ikut buat apa? Ini bukan jalan-jalan. Bukankah kamu sering membelinya dengan mama?" tanya Alex. Tiffany menyilangkan tangan di depan dad4, dagunya sedikit terangkat. "Aku juga mau tampil bagus di pesta. Tidak adil kalau cuma kakak saja yang beli." Alex mendesah panjang, jelas berat menerima permintaan itu. Tapi setelah melihat tatapan memohon Tiffany yang keras kepala, ia akhirnya mengalah. "Baik. Tapi jangan banyak rewel." Iya, Tiffany memang sengaja berlagak manja. Caranya menyilangkan tangan dan mengangkat dagu itu jelas bukan sekadar permintaan biasa, tapi lebih seperti tuntutan yang dibungkus manja supaya Alex tidak bisa menolak. Terlalu arogan, memang. Apalagi di depan Ana yang baru saja mendapat ajakan itu. Seolah ia merasa semua orang harus menuruti keinginannya hanya karena ia anak bungsu. Alex sendiri pasti menyadari itu. Makanya raut wajahnya berubah tidak suka sebelum akhirnya mengalah. Dia tahu kalau menolak sekarang justru akan membuat Tiffany makin bersikeras dan membuat suasana jadi ribut. Pertanyaannya sekarang, apakah Ana merasa tersinggung dengan sikap Tiffany itu, atau dia memilih diam saja demi menjaga suasana? "Aku rasa kita butuh istirahat," ana melenggang pergi dari sana. *** Sesampainya di kamar, ia duduk di tepian ranjang. Entah mengapa, bila mengingat nama Alex, ia teringat Alexander, dan itulah yang membuatnya begitu membenci pria itu. "Astaga, kapan kebencian ini berakhir. Tuhan, aku lelah." gumam Ana. Air matanya mengalir saat ia kembali mengingat momen tragis dalam sejarah hidupnya tiga tahun silam, tapi Ana buru-buru menghapus air matanya dan berusaha menghentikan tangisnya. "Tidak, aku tidak boleh lemah! Aku harus hidup, dan membalaskan dendamku padanya, beserta – pada semua orang yang sudah mengkhianati kita, Ayah." gumamnya sembari menatap lurus dengan tatapan penuh api dendam. Dering ponsel berbunyi, kembali memecahkan keheningan yang sempat kembali datang!Ana kembali ke ruang makan, ekspresi wajahnya terlihat sedikit lesu. Jujur untuk hal yang satu itu, Ia sedikit berat hati karena Ia merasa– Ia akan sama brengseknya seperti mereka. Akan tetapi, semua harus Ia lakukan. Ia tidak bisa hanya diam, dan menunggu mereka yang mengerjakan semuanya. "Aira, kamu kenapa?" tanya Rere saat ia menyadari gadis itu tengah melamun. "Hmm, enggak apa-apa..., Mah. Aku sedang pusing saja. Sepertinya aku butuh istirahat." gumam Ana. "Kalau begitu, selesaikan makanmu dulu sebelum kamu beristirahat." ujar Rere. Ana hanya tersenyum kecil saat itu. Ia makan dengan cepat, dan setelahnya ia hendak menuju ke kamar. "Aku sudah selesai, dan aku ingin izin istirahat ke kamar, apa boleh – Mah?" tanya Ana. "Silahkan, Nak." Ana tampak mulai bergerak, berdiri dan hendak pergi dari sana, tapi tiba-tiba saja... "Tunggu, Nak!" Ana yang mendengar wanita itu mencegahnya pergi akhirnya menghentikan langkah. Ia membalikan tubuhnya dan seketika kedua bola matanya terbuk
"Aira, siapa yang membelikan kamu makanan? Aku yakin, bukan kamu yang membelinya, kan? Kenapa tidak bilang padaku?! Aku akan membelikannya untukmu, dan aku juga akan memasakan makanan yang kamu mau, kalau kamu menginginkannya!" Ucapan Alex seketika membuat Ana menoleh ke arahnya. Tatapannya kali ini berbeda, ia lebih menunjukan rasa penasaran daripada sikap dingin. "Kenapa? Kamu cemburuan?" tanya Ana. Akan tetapi, yang dilakukan oleh Alex hanya diam. Pria itu bingung, tapi juga gugup akhirnya. Ana menghela nafas panjang, ia mulai menyuapkan makanan ke mulutnya. "Kalau kau memang perduli padaku, mungkin sedari dahulu kau akan membantuku, tapi nyatanya tidak! Dan kalau kau cemburu padaku..., atas dasar apa kau berani melakukannya?!" tanya Ana sembari mengarahkan sumpit ke Alex. "Sebaiknya kau hentikan saja sebelum kau menyesal, Alex!" tekan Ana. Tanpa mengharapkan jawab, Ana kembali makan dan menikmati beberapa hidangan yang dibelikan oleh Jack. Memang dalam hidupnya sekarang, hany
"Kak, dia membanting tubuh Aldo!" Aldi mulai bicara sembari menunjuk ke arah Ana. Ana hanya menatap datar, dan ia tampak tidak bereaksi samasekali. Tidak ada penyesalan, ia adalah tipe orang yang tidak akan pernah menyesali perbuatannya. Alex yang sebelumnya menanyakan apa yang terjadi dengan nada suara yang meninggi kini hanya menatap mereka, termasuk Ana dengan tatapan yang perlahan akhirnya bingung. "Benar, Aira?" tanya Alex. Ana maju dan mulai mendekat ke arahnya, wajah mereka kini sangat dekat, bahkan Alex dapat merasakan hangatnya nafas adik angkatnya itu. "Kalau iya, kenapa? Mulutnya terlalu lantam, dia menuduhku jual diri! Kalau kamu tidak percaya, silahkan saja cek Cctv! Bukankah kamu sudah menggantinya, dan menaruh alat penyadap suara?!" Ana bicara tepat di depan telinga Alex di detik-detik kata-kata terakhir. Kedua pupil mata Alex melebar saat mendengar adiknya mengetahui suatu hal yang bahkan tidak keluarganya ketahui. Ana tersenyum miring saat itu, dan ia akhirnya m
Langkah kaki jenjang itu akhirnya sampai ke sebuah bangunan pertama yang ia singgahi barusan. Ia turun dengan ringan dari lantai paling atas, ia memakai helemnya lalu bergegas pulang. Sebelum pulang, ia kembali ke markas. Jack menyambutnya dengan baik, Ana mengambil sebatang rokok dan mulai menghisapnya. "Apa semua berjalan dengan baik, Nona?" tanya Jack. "Hm, mereka pasti akan mengubur berita itu, tidak akan ada kehebohan. Tolong suruh orang siapkan makanan, Jack, aku samasekali belum makan setelah kambali." "Apa?! Anda tidak makan?! Apa mereka tidak memberi anda makan?!" tanya Jack dengan suara yang terdengar sangat terkejut. "Hm, ya begitu kira-kira, aku selalu terasingkan di sana anak kembar mereka tidak menyukai aku, dan hal itu terjadi karena ucapan Tiffany yang selalu membuatku serba salah." terang Ana. "Baiklah, saya akan menyuruh mereka menyiapkan makan malam anda mandilah dulu." ujar Jack. Ana pergi ke kamarnya, ia segera menuju kamar mandi. Wanita itu membuka
"Aira? Kenapa dengan kamu? Apa yang terjadi?" tanya Alexander. Ia memang sedikit terkejut saat gadis di hadapannya itu mengetahui saat ia mengikutinya, akan tetapi – perhatiannya teralih ke sikap gadis itu. Ana memandang pria itu dengan tatapan yang terlihat sangat dingin. Alex merasa gadis di hadapannya ini terlihat sangat berbeda akhirnya, ia mendekat, tapi Ana mundur dan menjauh. "Cukup, aku punya kehidupan sendiri! Tidak perlu sampai begitu, aku datang, hanya ingin membalas budi pada sepasang suami-istri yang menganggap ku sebagai anak! Aku bukan saudarimu, dan jangan ikut campur segala urusanku, paham?!" tekan Ana! Ana berbalik pergi, dan ia akhirnya mengendarai sepeda motornya dan segera pergi dari sana. "Aira, siapapun kamu..., aku tidak pernah menganggapmu sebagai saudari, tapi sebagai wanita. Tidakkah kamu merasakannya?" gumam Alex. *** Laju motor mulai membelah jalan raya, menyalip satu persatu kendaraan yang ada, dan setelah beberapa saat kemudian akhirnya Ana sampai
Langkah kaki gadis itu tidak lagi terhenti. Alex menatap punggung kecil yang menjauh darinya. Ada rasa sakit setiap gadis itu menolaknya tanpa sebab, dan tanpa kata. Sebenarnya, apa yang terjadi sehingga Ana begitu membencinya? Alasannya cukup sederhana, karena pria itu memiliki nama yang sama seperti orang yang menghancurkan hidupnya. "Aku tahu, seharusnya aku tidak begini. Tapi aku tidak bisa," gumam Ana. Setelah berjalan beberapa saat, kaki jenjangnya akhirnya sampai ke sebuah tempat. Di hadapannya kini ada sebuah pintu berwarna coklat yang menunggu untuk ia buka. Ragu, hanya itu yang ada di dalam benak Ana. Ia ingin melangkah, dan bergerak lebih jauh, tapi ia ragu. Sebelum akhirnya ia merasa ada pergerakan dari balik tubuhnya. Tangan kokoh itu terulur dan mulai menekan gagang pintu. Tidak perlu melihat, hanya melihat tangan dan mencium aromanya, Ana sudah tahu siapa dia. "Mama sudah menunggu," bisik pria itu, tepat di belakang telinga Ana. Ana yang sudah mati rasa dengan kata







