Share

4,

Author: Fatimahnur
last update publish date: 2026-08-26 11:16:49

"Aira? Kenapa dengan kamu? Apa yang terjadi?" tanya Alexander. Ia memang sedikit terkejut saat gadis di hadapannya itu mengetahui saat ia mengikutinya, akan tetapi – perhatiannya teralih ke sikap gadis itu.

Ana memandang pria itu dengan tatapan yang terlihat sangat dingin. Alex merasa gadis di hadapannya ini terlihat sangat berbeda akhirnya, ia mendekat, tapi Ana mundur dan menjauh.

"Cukup, aku punya kehidupan sendiri! Tidak perlu sampai begitu, aku datang, hanya ingin membalas budi pada sepasang suami-istri yang menganggap ku sebagai anak! Aku bukan saudarimu, dan jangan ikut campur segala urusanku, paham?!" tekan Ana!

Ana berbalik pergi, dan ia akhirnya mengendarai sepeda motornya dan segera pergi dari sana.

"Aira, siapapun kamu..., aku tidak pernah menganggapmu sebagai saudari, tapi sebagai wanita. Tidakkah kamu merasakannya?" gumam Alex.

***

Laju motor mulai membelah jalan raya, menyalip satu persatu kendaraan yang ada, dan setelah beberapa saat kemudian akhirnya Ana sampai ke sebuah tempat. Bukan tempat mewah, hanya sebuah bangunan biasa yang masuk ke sebuah gang, jalan yang ia lalui sebelumnya berliku-liku, dan pada akhirnya ia sampai ke sebuah tempat untuk mengganti pakaiannya.

Pakaian sederhana yang ia kenakan langsung ia ganti dengan pakaian yang lebih enak ia pakai. Setelahnya ia mulai naik ke lantai paling atas, dan mulai menuju ke suatu tempat dari atap-atap rumah yang cukup tinggi di sana.

Sebelumnya Ana sudah mencari-cari jalan termudah menuju ke sebuah tempat. Ia harus berjalan perlahan, tanpa menimbulkan suara, merayap-rayap, bergelantungan di sebuah bangunan ke bangunan lain sehingga ia sampai ke sebuah bangunan tinggi yang temaram cahaya.

Ia menginjakan kakinya ke satu tangga ke tangga yang lain, hingga ia sampai ke lantai paling atas. Di atas rooftop, Ana berdiri memandang bangunan sebrang dengan nafas yang masih terengah karena perjalanannya.

Ia sendirian sekarang, akan tetapi kegelapan yang ada seakan tidak membuatnya mundur lagi. Ia sudah lama hidup dalam kebutaan, awalnya ia buta karena mencintai pria yang bahkan tidak sudi memandangnya, dan kini ia akan buta karena memanfaatkan berbagai macam cara untuk mengejar perasaannya, bukan hanya cinta lagi, ia hanya mengejar ambisi dan dendam yang membara.

Di ujung banguna, ada sebuah tas tergeletak di sana, dan Ana langsung mengambilnya. Ia membawanya ke bagian tengah bangunan sebelum akhirnya kembali menuju pinggir bangunan.

Ana memiringkan kepalanya, menatap ke arah bangunan yang sekitar duaratus meter dari jarak ia berdiri sekarang, sebelum salah satu sudut bibirnya terangkat! "Kita lihat, adegan panas apa yang kamu lakukan di sana, aku sudah bisa mulai memburu tikus-tikus mainanmu, 'kan?" gumamnya sebelum akhirnya ia mengambil senjata api berjenis Karabin M4 yang sudah tersedia di sana.

Setelahnya ia mulai jongkok dan mulai mengambil posisi, Ana tidak lupa mengambil teropongnyq dan mulai menatap ke sebrang sana.

Di sebuah bangunan paling atas, ia melihat tubuh wanita yang polos tanpa ada hal yang menghalangi pandangan. Apa yang mereka lakukan bisa Ana lihat karena mereka tidak menutup bagian kaca menggunakan tirai yang ada, seolah mereka mengira semua aman saja dan tidak akan ada yang melihat mereka.

Ana melihat jelas, wanita itu mulai memasukan bagian intinya pada milik seorang pria yang berbaring dan memegangi bagian pribadi miliknya yang keras.

Adegan mereka membuat Ana menelan ludahnya kasar, ia menciba fokus meski dad4nya memanas saat melihat semua hal tersebut. Airmatanya hampir mengalir, dan ia menembakan beberapa peluru sebelum akhirnya tubuhnya mendapatkan getaran dari senjata api yang ia aplikasikan. Berbarengan dengan peluru yang melesat– bulir airmatanya mengalir cukup deras.

"Alexander, aku beri pemanasan untukmu, dan akan aku pastikan, kau tidak bisa berhubungan dengan siapapun!" tekannya dengan suara bergetar. Ia akan mengincar suatu kelemahan dari Casan*va itu, agar pria itu menderita!

***

Di sebuah kamar...

"Emmhh, Tu–an?! Besar sekali milik an–da! Ah, aku merasa ini akan nyaman seka—lii." Wanita itu mulai memasukan miliknya yang sudah basah dan berkedut sedari tadi. Benda besar itu mulai masuk ke dalam, dan ia merasakan kenyamanan meski baru hanya menggeseknya saja di atas miliknya tadi.

Ia berusaha menurunkan tubuhnya untuk melakukan penyatuan, akan tetapi saat sudah hampir masuk cukup dalam..., sebuah suara pecahan kaca terdengar sangat kuat. Sebelum akhirnya suara desahan wanita itu terhenti, dan tubuhnya mematung. Pergerakan liarnya yang mengacak-acak milik pria yang ada di bawahnya terhenti.

"Ah?! Apa yang terjadi, kenapa kau membasahi tubuh dan wajahku, Sialan?!" teriak pria yang merasa bagian atas tubuh telanjangnya dan wakahnya tetkena cipratan yang mirip dengan air.

Akan tetapi, saat ia menyadari desahan wanita itu berhenti, ia juga membuka matanya.

Akan tetapi, apa yang ia lihat akhirnya membuat matanya terbelalak sepenuhnya!

Tubuh wanitanya ambruk menjatuhinya, dan ia akhutnya sadar, air yang ia rasalan bukan air kenikmatan, melainkan percikan darah.

Alexander Lemos, pria tampan itu tertegun dan terpaku pada saat itu, hingga setelah ia mendari apa yang terjadi – ia mulai menyingkirkan tubuh wanita di atasnya yang tampaknya sudah tidak bernyawa!

"Sialan! Siapa yang melakukan semua ini?!" teriak Alexander dengan sangat murka.

Ia meraih sebuah pakaian dinas yang dipakai wanita itu sebelumnya, ia mengelapkannya pada beberapa bagian tubuhnya yang terkena cairan merah dari wanitanya.

"Siapa yang berani melakukan ini?! Aku bahkan belum merasakan kepuasan!" teriak Alexander dengan murka. Ia lantas mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Cepat datang ke ruanganku!" tekannya dengan suara yang penuh dengan emosi.

"Tuan, ada apa?! Apa yang terjadi?! Apa wanita itu tidak membuat anda puas?!" suara di sebrang sambungan telepon terdengar sangat panik, tapi juga sangat penasaran.

"Dia bahkan mati sebelum memuaskan aku!" teriak Alexander!

"A–apa?! Apa maksud anda?!"

"Kau masih berani bertanya padaku?! Sekarang datang ke sini segera atau aku yang akan datang dan memenggal kepala kalian semua!" teriaknya dengan murka.

"Baik! Saya akan segera datang!" Sambungan telepon akhirnya dimatikan.

Alexander langsung memunguti pakaiannya sebelum akhirnya ia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Ia melakukannya dengan sangat cepat dan singkat, setelah berpakaian ia akhirnya keluar dari dalam kamar. Saat ia baru saja keluar dari kamar, sudah ada banyak orang-orangnya yang ada di dalam ruang kamar.

Ekspresi wajah mereka terlihat tegang, bingung dan terkejut.

"Aoa yang kalian lihat?! Sekarang bereskan tubuh wanita ini, dan bereskan juga kekacauan yang ada di sini! Aku tidak mau namaku terseret dalam masalah ini, kau tahu apa yang harus kau lakukan kan, Alif?!" tekan Alexander sembari menatap tajam ke arah orang kepercayaannya.

"Baik, saya mengerti, Tuan." tegasnya sembari membungkukkan tubuhnya. Alexander Lemos akhirnya bergegas meninggalkan kamar itu.

Langkahnya ringan dan lebar, ia meninggalkan kekacauan tanpa mau menatap lebih lama! Ia berusaha pergi dari sana dan membuang rasa kesalnya yang sudah menumpuk dalam hati dan pikirannya!

Di hari yang larut malam itu, tidak ada yang mengira seorang gadis kini tengah merayap-rayap di atap banguna milik orang lain untuk kembali ke tempatnya tadi berasal.

Ia sama sekali tidak meninggalkan jejak apapun, apalagi barang bukti. Sebisa mungkin, ia melewati beberapa bangunan yang tidak memiliki CCTV di atap gedung-gedung mereka.

Dan, ya... Dia adalah Ana!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   55, Gelak tawa.

    "Sedang apa kalian di sini?!" tanya Alex dengan suara yang lumayan dingin setelah ia melihat ketiga adiknya di sana. Alex berubah, ia seolah kehilangan dirinya. Dan ketiga adiknya sampai membelalakkan mata mereka setelah melihatnya. "Pergi!" ujar Alex tiba-tiba. "Tidak! Kami tidak akan pergi! Kami akan membantu kamu, dan membawa Aira bersama kita!" Tekan Aldo dan Aldi dengan hampir bersamaan. Alex menahan nafas, bukan karena takut, tapi di bagian dadanya seakan ada hal yang sedikit menusuk jantungnya. Sesak, rasnya nafasnya terasa sesak, bukan karena terharu, tapi ia kesal saat kedua adiknya memilih bertahan di sana untuk mempertaruhkan diri mereka. "Baik, tapi aku tak ingin kalian mati terbunuh di sini!" Alex meninggalkan mereka begitu saja. Aldo dan Aldi saling menoleh satu sama lain, menatap satu sama lain sebelum akhirnya mengekor di belakang kakak mereka. Mereka bertiga bahkan sampai melupakan Tiffany yang ada di belakang mereka. Tiffany berdecak kesal. Ia berjalan d

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   54, Klan Mafia Naga Hitam.

    Tubuh Alex membeku, "A–aira." gumamnya dengan bibir bergetar saat melihat sosok gadis pendiam yang selama ini ia kagumi tampak membabat habis lawannya hanya menggunakan belati kecil namun tajam. Ana tidak memperhatikan sampai terlalu jauh, nafsunya membunuh sudah berada di puncaknya. Ia menusuk korban dan darah keluar sangat banyak. Sekilas ia melihat bayangan seseorang yang ia kenali. "Sedang apa kau di situ? Sebaiknya pergi kalau tak ingin mati terbunuh di sini!" ujar Ana sebelum akhirnya ia benar-benar pergi dan kembali mengintai ke segala arah yang ia rasa masih banyak kelompok mereka. Ana terus menuju ke luar, mencari tempat yang dipenuhi udara yang cukup segar. Nafasnya lumayan sesak bila ia tetap bertarung di dalam sana yang cukup gelap dan ia sulit mencari lawannya. Kondisi tubuhnya membuatnya menghemat tenaga termasuk menyisir satu persatu ruangan dengan pendengaran dan mata tajamnya! Hingga... Bugh! Satu serangan mendadak membuatnya harus terpelanting cukup kuat!

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   53, Menemukannya!

    Ana, Ia menatap lurus ke depan. Rambutnya yang berantakan berkibar, wanita itu masih memakai pakaian pasien pada saat itu. Nafasnya masih belum teratur, tapi sorot matanya tajam! Senyuman kecil tampak hadir di bibirnya, ia mengambil sebuah batang kayu dan melemparkannya pada mereka sebelum ia berlari masuk ke dalam. Bukan karena ia tidak ingin menghadapi mereka, hanya saja ia harus mencari sesuatu agar mudah menghadapi mereka. Pada saat yang sama, di berbagai tempat sudah banyak orang yang menyisir lokasi sepi atau terbengkalai demi mencari Ana. Baik anak buahnya, Alex maupun Edward, mereka semua mencari Ana. Bahkan Edward dan Alex sampai menggunakan masinh-masing mobil mereka sendiri demi mencari Ana. *** Mobil milik Alex terus membelah jalanan sepi. Matanya menatap ke kiri kanan jalan yang sunyi. Sekarang ia berada di sebuah jalan yang sangat sunyi, tidak ada kendaraan yang lewat selain kendaraannya, sampai akhirnya ia melihat seorang wanita berlari menuju ke sebuah bang

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   52, Jangan harap bisa menyentuhku!

    Ana, ia bukanlah wanita lemah yam mereka kira. Sebuah sambungan telepon yang membuat ana yakin dengan dugaannya membuatnya tak bisa berpura-pura lagi. Terlebih orang yang ada di sekitarnya sudah memendam nafsu padanya saat melihat betapa moleknya tubuh Ana. Mata indahnya terbuka dengan cepat, orang di sekitar tubuhnya bahkan sangat terkejut melihatnya. "Hey, kau mau menyentuhku? Atau bahkan menikmati tubuh indahlu ini? Jangan harap bisa melakukannya dasar lelaki jelek!" Ana memuntir dua tangan di kanan dan kiri tubuhnya yang siap menjamahnya. Memutarkannya dan... Kraak! "Aaggh!" teriak orang yang tangannya dibuat patah oleh Ana. Setelah Ana mematahkan tangan orang, ia duduk dengan benar dan mulai menendang burung salah satu pria yang hendak mendekat ke arahnya. Laju mobil tak terkendali, pada saat yang sama akhirnya mobil itu masuk ke sebuah kawasan yang sudah tidak asing lagi bagi Ana. Di dalam mobil hitam yang melaju kencang, Ana duduk di kursi tengah tanpa di ikat, dan tanpa

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   51, Mencari Ana.

    Di rumah sakit.. Alex ditemukan tak sadarkan diri di ruangan rawat inap yang sebelumnya di huni Ana. Cairan darah berceceran di lantai, ibunya sampai histeris saat melihat kondisi Alex. Setelah ada pasien yang ikut menangani, setelah beberapa saat kemudian akhirnya ia sadar. Alex membuka matanya perlahan, saat ia melihat ke atas ia melihat semua anggota keluarganya kecuali Ana. "Aira mana?" tanya Alex. Siang itu ruang rawat inap Ana sebelumnya akhirnya tampak ramai. ."Di mana Ana?" Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari bibir Alex. Suaranya serak.Aldo saling pandang dengan Aldi, ragu untuk menjawab. Aldi menelan ludah, lalu melangkah maju setengah langkah."Kak, kami melihatnya," ujar Aldi dengan suara pelan namun jelas. "Tadi saat kami ada di luar, kami melihat Aira dibawa beberapa orang. Ada sebuah mobil hitam. Beberapa orang turun. Mereka membawa Aira pergi."Aldo mengangguk cepat, membenarkan ucapan kembarannya. "Aira sempat melawan Kak. Kami mencoba mengejar, tapi mo

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   51, Mencari Ana.

    Di rumah sakit.. Alex ditemukan tak sadarkan diri di ruangan rawat inap yang sebelumnya di huni Ana. Cairan darah berceceran di lantai, ibunya sampai histeris saat melihat kondisi Alex. Setelah ada pasien yang ikut menangani, setelah beberapa saat kemudian akhirnya ia sadar. Alex membuka matanya perlahan, saat ia melihat ke atas ia melihat semua anggota keluarganya kecuali Ana. "Aira mana?" tanya Alex. Siang itu ruang rawat inap Ana sebelumnya akhirnya tampak ramai. ."Di mana Ana?" Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari bibir Alex. Suaranya serak.Aldo saling pandang dengan Aldi, ragu untuk menjawab. Aldi menelan ludah, lalu melangkah maju setengah langkah."Kak, kami melihatnya," ujar Aldi dengan suara pelan namun jelas. "Tadi saat kami ada di luar, kami melihat Aira dibawa beberapa orang. Ada sebuah mobil hitam. Beberapa orang turun. Mereka membawa Aira pergi."Aldo mengangguk cepat, membenarkan ucapan kembarannya. "Aira sempat melawan Kak. Kami mencoba mengejar, tapi mo

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status