Home / Mafia / Obsesi Cinta Tuan Mafia / [23] Merasa Bosan

Share

[23] Merasa Bosan

Author: Kim Meili
last update publish date: 2026-06-01 19:36:10

“Hah, benar-benar membosankan.”

Clara yang sedang duduk di pinggir kolam hanya mendesah kasar. Entah sudah berapa kali dia menghela napas berat, seakan sudah bosan dengan kegiatannya. Dia tidak memiliki aktivitas, membuatnya tidak betah sama sekali. Dia ingin melakukan banyak hal seperti biasanya.

Namun, di tempat itu, Clara dilarang melakukan semua. Memasak, menyapu, menyiram tanaman dan hal lainnya. Bahkan Clara yang berniat menanam bunga pun tidak diperbolehkan. Dia hanya dibolekan duduk, ma
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [28] Mengalami Luka

    Liya mendesis pelan ketika merasakan kepalanya terasa sakit. Dia juga mencoba menggerakkan tubuh, tetapi rasanya kaku. Badannya terasa sakti, membuat Liya membuang napas kasar dan menghentikan usahanya.“Benar-benar sial,” gumam Liya dengan wajah kesal. Semua urusannya tertunda hanya karena sebuah kejadian yang tidak diinginkannya sama sekali.‘Kalau aku bertemu dengan pelakunya, aku ingin sekali menghabisi dia saat ini juga,’ batin Liya dengan kedua tangan mengepal. Dia benar-benar kesal. Padahal dia masih harus mencari Clara, tetapi sekarang semua harus berhenti karena tubuhnya yang masih terbaring di rumah sakit. Jangankan untuk mencari sahabatnya. Untuk bergerak saja terasa sakit.“Kamu sudah bangun?”Liya yang masih sibuk mengomel pun lansgung mengalihkan pandangan. Dia menatap pria dengan kacamata yang melangkah masuk. Manik matanya mengamati secara keseluruhan penampilan pria tersebut. Hingga pria itu duduk di pinggir ranjang.“Kamu siapa?” tanya Liya. Dia merasa tidak mengenal

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [27] Cari Tahu Mengenai Dia

    Clara menuruni satu per satu anak tangga dengan perasaan tidak karuan. Dia mengamati sekitar, memastikan tidak ada orang lain di rumah itu. Dia tidak ingin ada orang lain yang melihatnya terkurung di rumah tersebut. Pasalnya, kalau ada yang tahu dan menyebarkan kabar tidak benar, dia juga yang akan kehilangan nama baik. Sampai Clara sudah berada di anak tangga terakhir dan menghela napas pelan.“Untung sudah tidak ada,” gumam Clara sembari mengelus dada.“Apa yang tidak ada, Clara?”Clara yang awalnya tenang langsung tersentak kaget saat mendengar suara bariton itu terlalu dekat dengannya. Dia pun mengalihkan pandangan, menatap ke asal suara. Benar saja, Ethan sudah berdiri di belakangnya menggunakan pakaian formal. Terlihat ketegasan dari sorot mata pria itu, membuat Clara menundukkan kepala.“Bukan apa-apa,” jawab Clara. Jemarinya masih saling bertaut, merasa takut dengan Ethan.“Kalau memang tidak ada, cepat ke meja makan untuk sarapan. Aku tidak mau ada yang mati di rumahku,” kata

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [26] Siapa Dia?

    Clara menatap Ethan yang masih mengancingkan satu per satu kancing pakaian. Pria itu terlihat tenang. Padahal mereka baru saja menghabiskan waktu bersama. Sekarang saja, napas Clara masih terdengar memburu karena permainan gila yang baru saja Ethan lakukan. Ditambah dirinya yang masih menggunakan selimut sebagai penutup. Clara merasa tidak memiliki tenaga, tetapi sepertinya hal itu tidak terjadi dengan Ethan. Stamina pria itu benar-benar mengagumkan.“Ponsel untukmu.”Clara yang masih melamun pun tersentak kaget ketika Ethan melempar sebuah kotak di depannya. Buru-buru, dia mengambil dan membukanya. Seketka, bibirnya mengulas senyum lebar, menatap ke arah Ethan yang masih memasang wajah dingin.“Ini untukku?” tanya Clara memastikan.“Iya. Kata Citra kamu bosan. Jadi, aku membelikanmu ponsel. Anggap saja supaya kamu tidak kabur lagi,” jawab Ethan.Clara yang sejak tadi tersenyum pun langsung diam. Dia menatap ke arah Ethah penuh selidik. Padahal dirinya bukanlah orang penting. Dia juga

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [25] Aku Tidak Menggodamu

    Clara membuka mata secara perlahan, menatap langit kamar dan membuang napas kasar. Hari yang membosankan akan kembali dilaluinya, membuat Clara tidak betah sama sekali. Dia bahkan malas untuk bangun. Pasalnya, semua aktivitasnya juga tidak akan berubah sama “Aku benar-benar malas menjalani hari,” gumam Clara. Lagu-lagi mendesah kasar.Namun, dia tidak mungkin terus berada di kamar. Dia cukup ingat dimana dirinya tinggal, membuat Clara mau tidak mau turun dari ranjang dan menuju ke arah kamar mandi. Clara tidak mau kalau mendapat masalah lagi dan membuat Ethan marah.Tiga puluh menit kemudian.Clara keluar dari kamar hanya menggunakan handuk. Dia sengaja tidak membawa pakaian ganti. Semalma Ethan tidak masuk ke kamarnya, menandakan jika pria itu tidak pulang ke rumah. Jadi, kamar itu adalah miliknya. Tidak ada selain dirinya. Itu sebabnya, Clara tidak membawa pakaian kering untuk digunakan.Namun, saat dia baru membuka handuk yang sejak tadi melilit tubuh, pintu ruangan terbuka. Sonta

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [24] Untuk Kelinci Kecil

    “Ethan, kenapa kamu diam saja? Tidak biasanya kamu begini.”Ethan yang sejak tadi hanya duduk sembari memegang gelas berisi minuman beralkohol itu pun mengalihkan pandangan. Dia menatap ke arah Austin yang tampak penasaran dengan kebungkamannya kali ini. Tapi, dia tidak berniat untuk menjawabnya. Ethan hanya memainkan gelas, membuat isi di dalamnya ikut bergerak.“Tapi ngomong-ngomong, Ethan. Wanita di rumahmu itu siapa?” tanya Austin lagi.“Dia hanya seorang budak yang sudah kubeli,” jawab Ethan tanpa perasaan. Dia bahkan mengatakan dengan cukup gamblang, tidak ada rasa bersalah.Mendengar itu, Austin menganggukkan kepala beberapa kali. Dia meneguk minumannya hingga tandas dan meletakkan di meja dengan keras. Pandangannya beralih, menatap Ethan dan berkata, “Aku cukup tertarik dengannya. Jadi, bagaimana kalau aku membayarnya saja.”Kali ini, Ethan masih bungkam. Tapi, tatapannya berubah menjadi tajam. Ekspresi wajahnya menyeramkan, siap memangsa kapan saja. Hal itu membuat Austin yan

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [23] Merasa Bosan

    “Hah, benar-benar membosankan.”Clara yang sedang duduk di pinggir kolam hanya mendesah kasar. Entah sudah berapa kali dia menghela napas berat, seakan sudah bosan dengan kegiatannya. Dia tidak memiliki aktivitas, membuatnya tidak betah sama sekali. Dia ingin melakukan banyak hal seperti biasanya.Namun, di tempat itu, Clara dilarang melakukan semua. Memasak, menyapu, menyiram tanaman dan hal lainnya. Bahkan Clara yang berniat menanam bunga pun tidak diperbolehkan. Dia hanya dibolekan duduk, makan, berjalan dan tidru. Selebihnya, dia tidak mendapat izin.‘Benar-benar seperti zombie,’ batin Clara. Dia menundukkan kepala, menatap kolam yang ada di depannya. Tangannya terulur dan bergerak, membuat gelombang kecil terlihat.“Andai saja aku bisa berenang. Aku pasti akan menenggelamkan diri di tempat ini supaya tidak bosan,” gumam Clara.“Nona, anda sudah di sini seharian. Anda tidak mau masuk?” tanya Citra. Sejak tadi dia mengamati Clara dari kejauhan.Clara yang mendengar pun mendongakkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status