ANMELDENNoah tersenyum tipis—senyum menilai, dingin tapi terukur. Seolah ia baru saja menimbang satu kemungkinan dari banyak jalan yang tak pernah benar-benar mudah.Michael menghela napas singkat. Berat, namun mantap. “Baik,” ucapnya pelan. “Kami akan datang lagi kemari.”Belum sempat Noelle menanggapi, langkah kaki terdengar mendekat. Seorang sipir wanita berdiri di sisi meja besi, wajahnya datar namun tegas.“Waktu kunjungan sudah habis,” katanya singkat.Noelle tersentak. Kepalanya menoleh cepat ke arah sipir, dahinya mengernyit—ada kepanikan kecil yang tak sempat ia sembunyikan. Tatapannya beralih kembali pada Michael … lalu Noah. Seperti seseorang yang baru sadar bahwa satu-satunya tali pengaman akan segera dilepaskan.“T-tunggu—” bibirnya bergerak, nyaris tak bersuara.Sipir itu tak memberinya waktu. Tangannya menyentuh lengan Noelle, lalu menariknya perlahan namun pasti.Noelle bangkit dengan langkah gontai. Bahunya jatuh, tubuhnya tampak lebih kecil dari sebelumnya. Beberapa langkah
“Ayah …?” suara Noelle lirih, pecah.“No-Noah …?”Michael menahan napas sesaat sebelum akhirnya menghembuskannya panjang. Ia berusaha tampak tegar—meski jemari kedua tangannya di atas meja besi bergetar kecil, saling bertaut seolah mencari pegangan.Noah memperhatikan detail kecil gestur Ayahnya, tapi tak berkomentar. Ia paham betul, bahwa Michael cukup terguncang—tapi berusaha kuat. Noah mengalihkan pandangan pada Noelle. Sorot matanya tajam. Dingin. Membuat Noelle tak berani menatap balik kakaknya.Michael tersenyum pahit. “Bagaimana keadaanmu, Noelle?”Noelle menelan ludah berat, bibirnya bergetar, matanya berair. “Ayah …” panggilnya dengan suara serak. “T-tolong aku ….”Bahunya bergetar, terisak. “Bebaskan aku, Ayah. Aku mohon ….”Napas Noah tersendat. Tangannya mengepal di sisi tubuh tanpa sadar. Namun ia tetap diam—memberi ruang pada Ayahnya.Michael pejamkan mata beberapa detik sebelum kembali terbuka. “Aku ingin kau belajar … dari kesalahanmu selama ini, putriku.”Noelle meng
“Tembak Noah Grimm di tempat umum. Buat panik. Buat Zelda Lynn takut.” Ucap Elena pelan.Noah menegang. Rahangnya mengeras.“Tapi,” lanjut Daniel, “dia tidak tahu siapa pemberi perintah utama. Hanya tahu kode nama: ‘C.V.’”Noah tertawa kecil—tawa tanpa humor. “Christopher Vayne.”Daniel mengangguk. “Kami sudah kirim surat penangkapan internasional. Semua bandara, pelabuhan, perbatasan—dia dalam radar.”Elena menambahkan. “Dan berkat penangkapan Victor Kane oleh tim Anda, kami punya bukti fisik. Senapan, peluru, komunikasi. Ini cukup untuk menjeratnya atas percobaan pembunuhan.”Noah menutup map itu pelan. “Berapa lama sampai dia ditangkap?”Daniel tersenyum tipis—senyum profesional. “Dengan kecepatan ini? Beberapa hari. Maksimal seminggu.”Noah mengangguk. “Bagus.” Ia menatap mereka berdua lama. “Terima kasih.”Elena menggeleng. “Kami yang terima kasih. Anda memberikan bukti yang kami butuhkan bertahun-tahun.”Daniel bangkit, diikuti Elena. “Kami akan hubungi lagi kalau ada perkembang
“Tuan, penembak sniper sudah kami tangkap.”Noah perlahan melepaskan pelukannya dari Zelda. Tangannya sempat tertahan di bahu gadis itu—sejenak, seolah memastikan ia benar-benar baik-baik saja—sebelum akhirnya menjauhIa menekan nomor dengan cepat. Nada sambung terdengar singkat di telepon.“Ya, Tuan,” suara di seberang terdengar tegas. Salah satu bawahan Halden.Noah melangkah sedikit menjauh dari kaca ICU, menurunkan suaranya.“Penembaknya?” tanya Noah langsung, suara rendah tapi tajam.“Sudah kami amankan, Tuan. Namanya Victor Kane. Mantan tentara bayaran—rekam jejaknya panjang. Dia disewa melalui perantara.”Noah menegang. “Bukti?”“Ada. Ponselnya, transfer uang, komunikasi terenkripsi. Semua mengarah ke Christopher Vayne.”Noah menghembuskan napas pendek. “Baik. Urus dia dan serahkan langsung ke Interpol.”Ada jeda sepersekian detik. “Kami punya kontak agen Interpol yang menangani kasus Vayne, Tuan. Sudah siap dihubungi.”“Bagus,” jawab Noah singkat. “Nanti malam aku ke sana.”Na
Zelda masih terpaku di kursi rodanya. Pandangan gadis itu tertuju pada satu sosok di kejauhan—Noah. Berdiri di dekat coffee truck, dikelilingi mahasiswa yang tertawa, dan secangkir kopi di tangannya. Wajahnya tenang, seolah dunia memang seharusnya sesederhana itu. Hangat, normal.Dan Aman.Zelda menghela napas pelan tanpa sadar. Dadanya terasa penuh oleh perasaan yang sulit ia namai.Lalu—Ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya bergetar aneh.Noah sedikit memiringkan kepala. Tangannya naik ke telinga. Baru saat itu Zelda menyadari—ada earbuds kecil terpasang di telinga Noah.Sejak kapan …?Noah tidak bicara. Tapi, rahangnya mengeras. Tatapan matanya berubah—bukan panik, melainkan fokus yang tajam dan siaga.Perasaan tidak enak menghantam Zelda seketika.“Kenapa …?” gumam Zelda lirih.Belum sempat ia memahami apa pun—“Tuan Noah! Awas!!”Suara teriakan keras memecah udara hingga Zelda tersentak.Dari arah kiri halaman kampus, seorang pria berlari cepat—terlalu cepat untuk pria set
Kevin berdiri tegak di atas atap van yang dimodifikasi itu, satu tangan masih terangkat. Senyumnya santai, tapi cukup percaya diri untuk menarik perhatian ratusan pasang mata. Beberapa detik hening berlalu. Lalu, bisik-bisik mulai menjalar seperti riak air. “Eh, itu siapa?” “Kenapa ada coffee truck …?” “The Daily Grind? Bukannya itu kedai terkenal di dekat sini?” “Temannya Zelda, ya?” “Seriusan? Bagi kopi di kampus?” “Ini acara apa, sih?” Zelda sendiri justru paling kebingungan. Ia menatap logo The Daily Grind di sisi van itu lama, alisnya berkerut halus. Jantungnya berdegup tidak sinkron. Sejak kapan …? Kevin punya coffee truck? Selama ia bekerja shift dulu—menutup kedai, menyeduh kopi, dan melayani pelanggan sampai larut malam—Kevin tak pernah sekalipun menyebut soal ini. Tidak ada bocoran, tidak ada rencana, maupun tidak ada isyarat sekalipun. “Apa yang aku lewatkan …?” gumam Zelda berbisik. Sebelum pikirannya semakin liar, suara tepuk tangan tunggal terd







