ANMELDENAlina terkejut, matanya membelalak lebar saat pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Seorang wanita paruh baya, berusia sekitar 45 tahun, masuk bersama seorang gadis remaja yang tak lebih dari 15 tahun, keduanya tampak canggung dan tergesa-gesa. Wanita itu, Camelia, melirik tajam ke arah Kaiden yang sedang duduk santai di tepi ranjang, sementara Alina masih terdiam di balik selimut yang tersibak sedikit, wajahnya mengembang oleh rasa malu dan geli."Sialan kamu, Kaiden," suara Camelia meninggi, setengah marah dan setengah bingung. "Katanya kamu akan membantuku mengurus vendor untuk pernikahan dadakan yang akan aku laksanakan dengan calon suamiku..." Ucapannya tiba-tiba terhenti, matanya membelalak melihat Alina yang duduk berdekatan dengan Kaiden, keduanya tampak begitu akrab, bahkan Alina dengan santai menyandarkan punggungnya ke dada Kaiden.Gadis remaja di samping Camelia menunduk, wajahnya memerah, terlihat sangat malu atas suasana canggung itu. Camelia segera menarik tangannya dan
Alina terbangun perlahan, hangat tubuh Kaiden yang membungkusnya membuat jantungnya berdegup tak beraturan. Matanya yang berat terbuka, dan pandangannya langsung tertuju pada wajah lelaki itu, wajah yang dulu pernah membuatnya terluka, kini terasa begitu dekat, begitu nyata. Napas Kaiden yang tenang dan rambut hitamnya yang sedikit berantakan menambah rasa nyaman yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tanpa sadar, Alina mengangkat tangannya, jari-jarinya menyentuh hidung mancung Kaiden, kemudian bergeser ke bibirnya yang sedikit terkatup. Perlahan, hatinya berperang antara luka masa lalu dan perasaan yang masih membara. Dalam diam, ia merasakan kehangatan cinta yang mengalahkan segala rasa sakit yang pernah menggores."Tunggu, kenapa nggak kamu cium?" suara Kaiden terdengar lembut, penuh harap namun menyimpan sedikit keusilan. Matanya menatap Alina dengan tatapan menggoda, seolah ingin meyakinkan bahwa semua janji yang pernah ia ingkari kini tergantikan oleh kejujuran dan keri
Kaiden membuka pintu kamar, para pelayan yang sebelumnya ada di dalam kamar berbondong keluar setelah Kaiden mengibaskan tangannya. Mata Alina membelalak sesaat saat melihat ruangan itu, terlihat begitu mewah dengan lampu gantung kristal yang berpendar lembut, tirai tebal berwarna krem yang menggantung di kedua sisi jendela besar, dan ranjang king size dengan sprei sutra berwarna putih gading yang rapi terhampar. Di balik jendela besar itu, terhampar pemandangan laut yang begitu indah. "Ternyata rumah ini berada di atas bukit, pemandangannya begitu indah," gumam Alina dengan takjub. Dalam hatinya, ia berharap jika Kaiden sengaja membeli rumah ini untuk dirinya. Walaupun suara Alina pelan, namun tetap sampai ke telinga Kaiden. "Asal kamu senang, aku akan melakukan apapun. Aku sudah berkonsultasi dengan para ahli, rumah ini cocok untuk memulihkan kesehatan mental kita dan sangat cocok untuk kamu yang sedang hamil." ujar Kaiden. Alina terpaku, napasnya tercekat oleh keindahan yan
Kaiden membuka pintu kamar, para pelayan yang sebelumnya ada di dalam kamar berbondong keluar karena mendapatkan kode tangan dari Kaiden. Mata Alina membelalak sesaat saat melihat ruangan itu, terlihat begitu mewah dengan lampu gantung kristal yang berpendar lembut, tirai tebal berwarna krem yang menggantung di kedua sisi jendela besar, dan ranjang king size dengan sprei sutra berwarna putih gading yang rapi terhampar. Di balik jendela besar itu, terhampar pemandangan laut yang begitu indah. "Ternyata rumah ini berada di atas bukit, pemandangannya begitu indah," gumam Alina. Walaupun suaranya pelan, namun tetap sampai ke telinga Kaiden. "Asal kamu senang, aku akan melakukan apapun. Aku sudah berkonsultasi dengan para ahli, rumah ini cocok untuk memulihkan kesehatan mental kita dan sangat cocok untuk kamu yang sedang hamil. Alina terpaku, napasnya tercekat oleh keindahan yang persis seperti yang selama ini ia impikan.Bukan itu saja, hatinya berdebar-debar karena kegigihan dan ke
Karena ciuman itu tidak mendapatkan penolakan darinya, Kaiden malah memeluk Alina dengan erat. Bahkan tubuh Kaiden bergetar hebat. "Terima kasih, karena kamu tidak menolakku Alina. Aku janji, aku nggak bakalan sakiti kamu lagi, aku akan menghilangkan rasa posesif dan kecembuan yang sering membuatmu terkekang," kata Kaiden dengan suara bergetar. Selama sebulan lebih, ia hanya bisa menahan kerinduan dan melihat Alina dari jauh. Itu sungguh sangat menyiksa. Sekarang, semuanya sudah menunjukkan arah yang lebih baik. Alina juga membalas pelukan Kaiden, ia merasakan rasa aman dan nyaman. "Kai, aku merindukanmu. Sangat merindukanmu ... " Kata Alina tulus. Ia tahu, Kaiden sangat menyakitinya bahkan memberikan luka dan trauma yang dalam. Namun, di bandingkan itu semua. Kaiden sudah banyak berkorban sejak ia masih kecil, bahkan berkali-kali Kaiden rela terluka demi menyelamatkannya. Jika dirinya bisa dengan mudah memberikan maaf kepada Nolan, apa salahnya ia memberikan maaf dan kesem
Setelah puas melampiaskan amarahnya pada Victor, Liam pun pergi meninggalkan ruang bawah tanah yang pengap itu. Victor menggertakkan giginya, "kenapa semua orang selalu bersikap seenaknya padaku seperti ini? Apa salahku?" Cahaya hidupnya hanya Risma, hanya dengan wanita itu, Victor merasa hidupnya tidak sia-sia. Liam sendiri segera membereskan kekacauan di rumah sakit milik Victor, dia sudah membakarnya dan menyelipkan beberapa mayat palsu di rumah sakit itu. "Ntah siapa dalang dari balik semua itu. Besok pagi aku harus menempatkan orang-orang di sekitar kantor kepolisian dan gedung kejaksaan ... Aku nggak bisa membiarkan semua kejahatan ku terungkap sekarang." Gumam Liam marah. "Bisa saja aku menyerahkan Victor ke kantor polisi, dan melimpahkan semua kesalahan padanya. Tapi, dia adalah eksperimen ku yang berhasil, dia tidak akan mudah mati.""Kalau sampai terungkap bahwa darah dan tulangnya kuat seperti besi, negara pastinya nggak akan tinggal diam. Nama baik keluarga Dexon yang
Keke duduk termenung di kursi goyang kayu ukir yang mengisi sudut kamar mewahnya, lampu kristal di langit-langit memantulkan kilauan redup di sekelilingnya. Matanya tak lepas menatap layar televisi yang menayangkan wawancara putranya, Kaiden. Suara Kaiden yang tenang tapi tegas mengisi ruangan, m
Di bawah sinar rembulan yang temaram, cahaya lembut menari di permukaan kaca ruang super VVIP, menciptakan bayangan samar yang menambah sunyi suasana malam. Alina duduk tangannya gemetar mengelus perutnya, seolah mencoba merasakan keajaiban kecil yang tersembunyi di dalam dirinya. Matanya merah
Dada Kaiden naik turun, hatinya begitu sakit karena sikap Alina, hal itu sontak membuatnya kehilangan akal. Tiba-tiba Kaiden merunduk mendekat, tanpa peringatan, bibirnya menekan bibir Alina dengan paksa. Detak jantung Alina melonjak liar, wajahnya membara merah, tubuhnya berusaha keras menolak
Dika berkata, "ini hanya sebuah kesepakatan. Kamu mau atau tidak?" Alis Alina mengerut, "kesepakatan?" Dika mengangguk. "Aku bukanlah orang brengsek seperti Kaiden, yang akan memaksa orang untuk menuruti kepuasannya. Surga dunia, harusnya di nikmati dua orang." "Dua orang yang sama-sama ingin







