Beranda / Romansa / Obsesi Gila Leon / 31. Memanasi Simona

Share

31. Memanasi Simona

last update Tanggal publikasi: 2026-05-26 16:47:12

Adrianna memijat pelipisnya, matanya melirik waspada ke arah meja tempat Victor duduk. "Simona, pelankan suaramu. Mama sedang makan siang dengan ayahmu."

​"Aku tidak peduli! Ibu harus bicara pada Ayah, pecat saja dia!"

​"Jangan bodoh, Simona! Kau tahu posisi kita. Victor sangat mempercayai Inggrid. Jika aku ikut campur soal kunci kamar Ivanna, apalagi setelah ulahmu merusak gaunnya semalam, Victor tidak akan segan-segan mengusir kita berdua."

​Adrianna menelan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Obsesi Gila Leon   36. Partner In Crime

    "Kau manis sekali, Leon," ujar Ivanna sembari meraih tangan Leon dan mengeluskannya ke pipi. "Kau tidak hanya panas dan royal, tapi juga memahami ambisiku. Kita benar-benar seperti partner in crime!" puji Ivanna tulus, meski terdengar seperti godaan.Leon menyeringai, membelai bibir Ivanna dengan ibu jarinya. "Selama kau tetap di pihakku, dunia adalah taman bermain bagi rencana gelap kita."*****Ivanna baru saja sampai di depan pintu rumah ketika Simona muncul dengan tangan penuh paperbag belanjaan. Simona menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan provokasi, seolah ingin pamer bahwa ia juga bisa hidup mewah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melangkah angkuh mendahului Ivanna, sengaja menyenggol bahu wanita itu dengan kasar sebelum masuk ke dalam.​Ivanna tidak marah. Ia justru bergeming, memperhatikan punggung Simona yang menghilang di balik pintu sambil menggelengkan kepala. Sebuah senyum miring tersungging di bibirnya.​"Baru b

  • Obsesi Gila Leon   34. Bayi Besar

    "Apa kau tidak lelah, Leon? Setiap kali bertemu, kita selalu berakhir seperti ini," tanya Ivanna dengan napas memburu. Jemarinya meremas rambut Leon saat pria itu berubah menjadi mode 'bayi besar' yang haus, lidahnya terus menyapu bagian sensitif Ivanna yang tampak ranum kemerahan.Leon tidak langsung menjawab. Ia justru semakin dalam mengulum bagian sensitif itu, memberikan sapuan lidah yang lebar dan hangat hingga membuat tubuh Ivanna melengkung hebat."Lelah?" Leon bergumam tanpa melepaskan kulumannya, suaranya teredam di antara paha Ivanna. Ia mendongak sejenak dengan tatapan gelap yang lapar. "Bagaimana bisa aku lelah jika kau selalu membuatku bergairah, Iv? Anggap saja ini ritual wajib setiap kali aku berhasil memilikimu seharian."Setelah bicara, ia kembali membenamkan wajahnya, memberikan isapan kuat yang sengaja dilakukan untuk membungkam protes Ivanna dengan gelombang gairah baru.Leon melucuti blouse kerja Ivanna hingga wanita itu

  • Obsesi Gila Leon   33. Strategi Baru Simona

    Simona duduk di balik meja kerjanya di divisi Pengadaan dan Promosi dengan pandangan kosong. Layar komputer di hadapannya menyala terang, menampilkan tabel anggaran yang membosankan, tapi fokusnya sama sekali bukan di sana. Pikirannya masih tertinggal di lobi rumah pagi tadi, saat melihat Ivanna pergi dengan mobil sports pemberian Leon."Sial! Kukira merebut Matteo yang kaya itu sudah puncak kemenangan, ternyata dia malah bangkrut. Dan sekarang Ivanna malah dapat yang jauh lebih segalanya dari Matteo," bisiknya pelan sebelum menyesap espresso pahitnya dengan kasar.Otaknya berputar cepat, mencoba mencari celah untuk keluar dari bayang-bayang kakaknya."Leon sepertinya sulit digoda. Sejak awal dia sangat ketus padaku. Beda dengan Matteo dulu, dia ramah... ya, ramah—rajin menjamah maksudku," monolognya dalam hati dengan seringai sinis yang getir.Matanya tetap menatap layar, tapi jemarinya hanya mengetuk-ngetuk meja tanpa irama."Aku h

  • Obsesi Gila Leon   32. Menyewa Waktu Ivanna

    ​"Bibi Inggrid, tolong bawa semua ini ke kamarku. Dan khusus untuk yang ini," Ivanna menyerahkan gaun itu pada Inggrid dengan santai, "pastikan kau menyimpannya di lemari paling belakang. Jika kau melihat Simona bahkan hanya sekadar melirik atau menyentuh kainnya, segera bakar saja. Aku tidak suka barangku dicemari oleh tangan yang hobi merusak milik orang lain."​Inggrid menerima gaun itu dan anggukan angkuh. "Baik, Nona Ivanna. Akan saya pastikan perintah Anda terlaksana."​Simona memekik frustrasi, kakinya menghentak lantai atas dengan keras. "Kau keterlaluan, Iv! Kau hanya sedang beruntung karena pria gila itu buta! Kau pikir dia akan bertahan lama dengan wanita sombong sepertimu?!"​Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Simona, membisikkan sesuatu yang membuat darah adik tirinya mati kutu.​"Setidaknya pria gila itu memanjakanku, Simona. Tidak sepertimu... yang pulang dengan pipi lebam dan masker murahan hanya untuk menutupi jejak tangan Ma

  • Obsesi Gila Leon   31. Memanasi Simona

    Adrianna memijat pelipisnya, matanya melirik waspada ke arah meja tempat Victor duduk. "Simona, pelankan suaramu. Mama sedang makan siang dengan ayahmu."​"Aku tidak peduli! Ibu harus bicara pada Ayah, pecat saja dia!"​"Jangan bodoh, Simona! Kau tahu posisi kita. Victor sangat mempercayai Inggrid. Jika aku ikut campur soal kunci kamar Ivanna, apalagi setelah ulahmu merusak gaunnya semalam, Victor tidak akan segan-segan mengusir kita berdua."​Adrianna menelan ludah, membayangkan tatapan dingin Victor yang bisa seketika berubah menjadi badai jika menyangkut putri kandungnya. "Biarkan saja dulu. Jangan cari gara-gara saat Ivanna sedang di atas angin karena Leon. Mengerti?"​"Jadi Ibu lebih memilih cari aman daripada membelaku?!" Simona mendengus kasar, terdengar suara benda dibanting di seberang sana."Bagus! Teruskan saja menjilat pada Papa sampai kita benar-benar menjadi sampah di rumah ini!"​Bip. Sambungan diputus sepihak.

  • Obsesi Gila Leon   30. Simona Mengamuk

    Simona baru saja turun dari mobilnya dengan langkah gontai. Wajahnya kuyu, pipinya yang lebam sengaja ia tutupi dengan masker hitam yang kontras dengan kulit pucatnya. Namun, langkahnya terhenti saat sebuah SUV Eropa mewah masuk ke pelataran kediaman keluarga Ricci. Beberapa pria berstelan hitam rapi turun, menyerahkan belasan paper bag besar berlogo butik ternama dunia kepada kepala pelayan.​Simona mendekat dengan mata menyipit penuh selidik. "Ada apa ini? Siapa yang mengirim barang-barang ini ke sini?"​"Ini semua milik Nona Ivanna, Nona," jawab salah satu pengawal dengan nada tegas. "Kami adalah pengawal Tuan Leon, ditugaskan untuk mengantar belanjaan Nona Ivanna. Permisi, masih ada banyak barang yang harus kami bawa masuk ke kamar Nona."​Geram. Dada Simona terasa sesak oleh rasa iri yang membakar. Di saat dia baru saja menerima kekerasan dari Matteo ada rasa perih di pipinya masih berdenyut nyata tapi Ivanna justru sedang asyik berpesta belanja.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status