Se connecterBagi dunia luar, aku adalah istri sah Adrian Mahendra—CEO muda yang tampan, sukses, dan menjadi dambaan banyak wanita. Pernikahan kami terlihat sempurna. Tapi semua itu hanya topeng. Siang hari, aku tersenyum di sisinya. Malam hari, aku tidur sendirian. Hubungan kami dingin, seolah hanya kewajiban, bukan cinta. Hingga suatu malam, aku mencium aroma parfum wanita asing di jasnya. Aroma yang bukan milikku. Sejak saat itu, tanda-tanda pengkhianatan mulai muncul: pesan singkat yang ia sembunyikan, panggilan telepon yang dijawab di luar rumah, dan tatapan kosong setiap kali melihatku. Aku mencoba bertahan, tapi kebenaran yang kutemukan menghancurkan segalanya. Ternyata… aku bukan satu-satunya wanita dalam hidupnya. Kini aku dihadapkan pada pilihan: mempertahankan gelar istri sah demi nama baik keluarga, atau melepaskannya pada cinta terlarang yang telah lama ia simpan di balik senyumnya.
Voir plusChapter 1
I've been spying on my step-sister for about two months; watching her change her clothes through her bedroom window. I never thought I'd take it any farther than just spying. She is my step-sister , after all. To me it's just a good way to see some tits, ass and pussy on a regular basis.
My step-sister and I are like twins. We get along great, not like some brothers and step-sisters. Our dad is in the Navy and we've never lived anywhere long enough to develop close friendships with other kids, so we've become each other's best friend by default. We're both pretty smart and have tested in the top percentile of our classes academically. We do just about everything together. We go to the movies, hang out at the mall, sometimes we even double date. I also think we have a special connection.
After our senior year in high school, right after I turned 20, we moved to San Diego and our dad shipped out for a six-month tour of duty aboard a destroyer. My mum died when I was 7 years old and dad remarried her mum and brought her daughter who was 6 years old to live in the house.
Her mum works as a paralegal, for a law firm downtown, so we are home by ourselves after school every day. This is our third house with a pool and that's where my step-sister and I spend most of our time.
I've noticed my step-sister 's body developing over the last couple of years, but I was not prepared for the feast my eyes got when my sexy, step-sister started spending most of her time in a skimpy swimsuit. She's blossomed into a size 34B and the sexy curves of her tits, visible around the minimal material of her swimsuit top, captivate me. Her firm, young ass rounds out the bottoms of her swimsuit in a way that would make any guy look twice. Being around my step-sister , in our swimsuits every day, is getting to me. I find that I can't keep my eyes, or my mind, off of her firm, young tits or her cute little ass.
We are playing in our backyard pool one afternoon, dunking each other and generally fooling around, when my step-sister climbs her way up my body and tries to dunk me. She seems oblivious to the amount of bare skin contact between us, but my cock certainly isn't. I have to maneuver myself sideways so she won't feel my hard-on.
Her swimsuit top is stretched tightly across her breasts and, when it gets wet, her nipples make pretty obvious bumps in the thin material. Pushing on my shoulders, she lifts herself out of the water, trying to dunk me. At 18 I've had a few girlfriends, but I've never seen a sight as sexy as my step-sister 's tanned tits two inches from my face. I desperately want to see them uncovered.
We finish in the pool and my step-sister goes into the house to change. My cock hCollinss as I watch her tight ass wiggle across the patio toward the sliding glass door. I can't believe how badly I want to see her naked body. I tell her I'm going to check the filtration system and will be right in.
Instead, I walk around the side of the house to my step-sister 's bedroom window. This side of our house has a covered walkway with lots of bushes. I position myself to see in her window, without her or our nosy neighbors seeing me. I look for an opening in her blinds so I can watch her change, but the way the blinds are positioned, I can only see the ceiling. I give up (for that day) and go in to change.
The next day while my step-sister is watching TV in the family room, I sneak into her room and adjust her blinds, leaving about an inch and a half gap between the bottom of the blind and the windowsill. After changing into my swimsuit, I head out toward the pool.
"Hey Lilly, I'm going in the pool. Want to go?" I ask my step-sister casually as I walk through the family room and out the sliding glass door.
"Sure, I'll be there in a sec," she says, getting up from the couch and turning off the TV.
That's my cue. Around the house I go. I get to her window just in time to see her entering her bedroom. She is pulling her shirt up as she closes the door. I stand there mesmerized, as she tosses the shirt on her bed and begins taking off her bra. My cock jumps, creating a bulge in my swimsuit, when I get my first look at her teen sized mounds. I stare at them, enraptured by her inch and a half areolas and little pink nipples. But the real treat is watching her unzip her shorts and slide them down her tan legs.
My step-sister is average height, with a flat stomach, and a body that curves in all the right places. She turns from the window while taking her shorts off and I'm looking at her panty-clad ass, as she bends over. I start rubbing my cock through my swimsuit, to relieve some of the pressure, as she hooks her thumbs in the waistband of her panties and slides them down.
My god! Her ass is spectacular. Her firm, young cheeks curve just enough to make you want to grab a handful and plant kisses all over them. Bent over like that, a few blonde pubic hairs and just a hint of her pussy lips are visible between her legs. I can't wait for her to turn around so I can see the rest of her.
But, instead, as I'm admiring her ass, she slips her swimsuit bottom over her feet and pulls it up. I get one last peek at her ass, before she grabs the elastic on the sides of her suit and pulls them down to cover her cute round cheeks. Hooking her swimsuit top, she turns it around so the hook is in the back and the cups are in the front.
Rani menutup pintu mobil dengan tenaga yang tersisa, napasnya masih tercekat. Hujan malam itu sudah berhenti, tapi udara dingin tetap menempel di kulitnya. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu kota yang remang, seolah menyambut kedatangannya ke tempat yang selama ini Aurora pilih sebagai arena permainan. Setiap langkahnya terasa berat, tapi tekad yang membara di dada mendorongnya maju. Malam ini, tidak ada ruang untuk keraguan.Ia menatap ponselnya sekali lagi. Pesan Aurora masih membakar pikirannya:"Sudah kau temukan. Sekarang lihat, Rani… apakah kau cukup kuat untuk menghadapi apa yang akan terjadi?"Rani menggenggam ponsel dengan tangan gemetar. Selama berhari-hari, rasa sakit, cemburu, kekecewaan, dan kemarahan bercampur menjadi satu. Malam ini, semuanya akan ditentu
Rani menunduk di depan pintu kaca sebuah kafe kecil di pinggiran kota. Hujan semalam masih meninggalkan jejak di aspal dan atap. Tangannya gemetar saat ia menatap pesan Aurora yang terakhir. Setiap kata terasa seperti tombak: “Kebenaran yang akan kau temukan nanti… akan membunuhmu pelan-pelan.”Ia menelan ludah, mencoba menenangkan diri, tapi hatinya berdebar tak karuan. Malam demi malam, minggu demi minggu, semua teka-teki dan kebohongan akhirnya menuntunnya ke titik ini. Titik di mana ia harus memilih: tetap diam dan menerima luka, atau menghadapi kebenaran sekalipun itu menghancurkan rumah tangganya.Rani menatap sekeliling. Tak ada yang memperhatikan, hanya hujan dan lampu jalan yang redup. Ia membuka tasnya, mengeluarkan foto-foto lama yang ia temukan dari dokumen keluarga Adrian surat, foto, dan beberapa catatan yang menunjukkan kedekatan Adrian dengan Aurora, jauh sebelum Rani mengetahuinya.“Habis sudah… aku harus tahu,” gumam Rani sambil menggenggam foto itu. Matanya berkaca-
Rani melangkah cepat di trotoar yang basah oleh sisa hujan. Lampu jalan berpendar redup, memantulkan bayangan panjang di bawah kakinya. Pikirannya berputar, mencoba memahami pesan misterius yang baru saja ia terima."Jangan pulang malam ini. Bahaya menunggumu di rumah."Kata-kata itu terus menggema di benaknya, membuat jantungnya berdebar kencang. Apakah seseorang tengah memperingatkannya? Atau itu hanya permainan baru Aurora untuk mengguncang kestabilannya?Ia berhenti di depan halte kosong, menatap ponselnya lagi. Tidak ada pesan lanjutan. Tidak ada petunjuk siapa pengirimnya. Tapi entah kenapa, firasatnya berkata bahwa pesan itu bukan sekadar ancaman. Ada sesuatu yang benar-benar salah malam ini.Rani menarik napas panjang. Udara malam menusuk kulitnya, dingin dan lembap. Ia menatap ke arah jalan, mobil-mobil melintas cepat, lampu-lampunya membelah kegelapan.“Kalau aku tidak pulang… ke mana aku harus pergi?” gumamnya lirih.Matanya terarah pada satu tempat: kantor Adrian. Tempat d
Hujan akhirnya reda, menyisakan bau tanah basah yang menusuk hidung. Jalanan sepi, hanya sesekali terdengar suara tetesan air dari atap rumah atau pohon yang bergoyang tertiup angin. Rani masih berjalan tanpa arah, langkahnya berat, tapi matanya menyalakan api yang berbeda.Air mata sudah berhenti jatuh, bukan karena luka telah hilang, melainkan karena kesedihan itu telah berubah menjadi sesuatu yang lebih keras tekad.Ia menatap ke depan, wajahnya basah, rambutnya menempel di pipi. Dalam hatinya, satu kalimat terngiang: Kalau aku terus diam, aku akan habis. Kalau aku ingin bertahan, aku harus melawan.Adrian berlari menyusul, tubuhnya basah kuyup. Nafasnya memburu, tapi setiap kali ia memanggil nama Rani, perempuan itu justru mempercepat langkah. Ia tahu, kata-katanya tidak lagi
Ruang tamu rumah keluarga Wijaya malam itu dipenuhi suara tawa sosialita yang berusaha terdengar hangat, namun di balik senyum mereka tersembunyi nada lain: bisik-bisik yang menusuk lebih tajam dari pisau.“Aku dengar Adrian sering terlihat keluar masuk hotel di pusat kota,” suara seorang wanita pa
Rani – POVTanganku bergetar. Video itu terus berputar, menampilkan bibir Adrian yang menempel pada wanita asing itu, gerakannya lembut tapi… penuh keintiman.Aku memaksa mataku untuk tetap menatap layar, walau dada terasa sesak.Siapa dia?Kenapa aku belum pernah melihat wajahnya?Dan yang paling
Jantungku seolah berhenti berdetak.Bayangan itu masih di sana—tidak bergerak, tidak bersuara, hanya sepasang mata yang mengawasi dari cermin tengah.Tanganku meraih gagang pintu, tapi kemudian terhenti. Kalau aku keluar sekarang, aku akan basah kuyup dan kehilangan kesempatan mengetahui siapa dia.
Hujan masih turun sejak sore, menyelimuti kota dengan bau tanah basah dan dingin yang merayap sampai ke tulang.Aku duduk di kursi dekat jendela, memandangi jalanan yang basah oleh lampu-lampu kendaraan. Adrian belum pulang.Tidak ada pesan, tidak ada telepon.Bahkan sekadar “Aku lembur” pun tidak.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.