LOGINBagi dunia luar, aku adalah istri sah Adrian Mahendra—CEO muda yang tampan, sukses, dan menjadi dambaan banyak wanita. Pernikahan kami terlihat sempurna. Tapi semua itu hanya topeng. Siang hari, aku tersenyum di sisinya. Malam hari, aku tidur sendirian. Hubungan kami dingin, seolah hanya kewajiban, bukan cinta. Hingga suatu malam, aku mencium aroma parfum wanita asing di jasnya. Aroma yang bukan milikku. Sejak saat itu, tanda-tanda pengkhianatan mulai muncul: pesan singkat yang ia sembunyikan, panggilan telepon yang dijawab di luar rumah, dan tatapan kosong setiap kali melihatku. Aku mencoba bertahan, tapi kebenaran yang kutemukan menghancurkan segalanya. Ternyata… aku bukan satu-satunya wanita dalam hidupnya. Kini aku dihadapkan pada pilihan: mempertahankan gelar istri sah demi nama baik keluarga, atau melepaskannya pada cinta terlarang yang telah lama ia simpan di balik senyumnya.
View MoreRissa made her way to the gigantic bed of the hotel suite that her husband, Liam had rented for the whole week.
A few minutes later, she felt a hand caressing her body in her dark room; she smiled inwardly as she called out to him seductively, “Babe" he kept touching her, and it felt good; Rissa dragged his face to hers, and their lips met. He kissed her hungrily, and she couldn't help but smile at how good it felt; she felt his hand move upward to her nipples as he sucked them lovingly, making her wet in her core even though she felt dizzy. She felt his hardness bulging out against her stomach; it felt good, and her nostrils were filled with the tantalizing aroma of his exquisite Cologne. " I love you, babe”, she whispered into his ears, but he didn't respond with words; instead, he pushed into her wetness, and their bodies moved in sync. Rissa felt pleasure, but she felt too weak; her eyelids were too heavy to open; she tried to look into his charming eyes, but in her sleep-wake, she could only make out his frame. She fell back into a deep sleep only to wake up when the reflection of the sun hit her skin. To her surprise, Liam was sitting stiffly on the sofa opposite the bed, staring blankly at her. It took Rissa some seconds to make sense of the situation. Liam was sitting there; Rissa jolted up, alerting the man beside her. Before she knew it, Liam stood up abruptly, threw his wedding band to her and made to leave "Liam, wait! Liam!" Rissa managed to wrap herself in a blanket She didn't care about the eyes that followed her as she ran after her husband, Liam, who painfully couldn't turn back to look at her. "I can explain, Liam; I swear I didn't”, Rissa managed to mouth. Liam's eyes glinted dangerously, he unbuttoned his well-tailored tuxedo as he walked on, Rissa caught up to him She held his shoulder tightly but he shoved her aside making her fall on her butt but Rissa didn't give up " Listen to me Liam, I can explain everyt..." She pleaded desperately but Liam still kept his gaze away from her " How did I end up with a shameless slut like you!" Liam said dangerously still shoving away her hand as she made to hold him " I have never....I am sorry I..." Rissa started but was cut off by the judgemental gaze of a couple that passed by at the moment. Liam got to the elevator and prevented her from entering with him, she quickly rushed through to the stairs and climbed vigorously. " I love you, Liam; I am sorry”, Rissa kept on blabbing endlessly to herself. By the time she got to the last staircase, Liam was already out of the doors of the hotel. He got into his Rolls Royce and sped off immediately. Rissa felt lightheaded from her hangover, and she held the rail of the stairwell for support. An idea popped up in her head, she felt uncontrollable rage towards the man Liam caught in bed with her, she quickly climbed through the gigantic stairs to make him regret ruining her To her utter shock, her one-night stand had disappeared into thin air; Rissa screamed out in her head, how was she going to defend herself? Liam would never listen to her. She busted into uncontrollable tears. She quickly picked up her phone and called Diane, her friend, who picked up almost instantly. " Before you tell me about your sweet lovemaking, last night bride, hope Liam is out of earshot," Diane asked teasingly Rissa busted into uncontrollable tears, she couldn't hold back her emotions "Baby girl what happened!" Diane asked startled, she dropped the toothbrush she was holding It took Rissa some seconds before she could muster the courage to spill out her misfortune " Liam caught me in bed with another man" Rissa blurted out dejectedly " What! How the hell did that happen?" Diane asked in awe " It is hard to explain Diane" Rissa retorted and cried more "Shuush baby girl, I will be with you in a jiffy, don't do anything till I come " Diane said in haste pulling off her night robe " What about the fling?" Diane asked carefully trying not to betray her emotion " He disappeared into thin air" Rissa responded trying to hold back her tears Diane heaved a frustrated sigh; it was supposed to be Rissa's wedding night; how did she end up in such a terrible situation? She quickly dabbed her face with water, changed into a blue flare gown and picked up her Louis Vuitton bag. Within ten minutes Diane her friend rushed down to her " How the hell did this happen!" Diane asked restlessly, feeling agitated by the unfortunate outturn of events Rissa could barely contain her tears" It wasn't my fault Diane, the alcohol got the best of me, I slept off after you left, then..then" she stuttered " It is okay Rissa" Diane patted her shoulder in consolation, “we will get through this together” " Did you see his face? I mean the.. him.." Diane said, choosing her words carefully so as not to upset her more. Rissa nodded and cried on bitterly. Diane sighed dejectedly "This isn't good Rissa, we need to convince Liam it wasn't your fault" " He wouldn't even look at me”, Rissa cried, holding up the wedding band Liam had dropped earlier. Diane pulled her closer and hugged her lovingly. Rissa held on to her and cried her eyes out. Nobody else could feel her pain as Diane does. " I will talk to Liam, we will sort it all out, don't worry" Diane assured patting her back " Thank you, Diane, you are the only one I have, " Rissa said gratefully Rissa's phone chimed and she disentangled from Diane as she saw that it was from Liam. She read the message and sank into despair. Diane wrenched the phone out of her tight grip and read out "My lawyer will mail the divorce papers to you".Rani menutup pintu mobil dengan tenaga yang tersisa, napasnya masih tercekat. Hujan malam itu sudah berhenti, tapi udara dingin tetap menempel di kulitnya. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu kota yang remang, seolah menyambut kedatangannya ke tempat yang selama ini Aurora pilih sebagai arena permainan. Setiap langkahnya terasa berat, tapi tekad yang membara di dada mendorongnya maju. Malam ini, tidak ada ruang untuk keraguan.Ia menatap ponselnya sekali lagi. Pesan Aurora masih membakar pikirannya:"Sudah kau temukan. Sekarang lihat, Rani… apakah kau cukup kuat untuk menghadapi apa yang akan terjadi?"Rani menggenggam ponsel dengan tangan gemetar. Selama berhari-hari, rasa sakit, cemburu, kekecewaan, dan kemarahan bercampur menjadi satu. Malam ini, semuanya akan ditentu
Rani menunduk di depan pintu kaca sebuah kafe kecil di pinggiran kota. Hujan semalam masih meninggalkan jejak di aspal dan atap. Tangannya gemetar saat ia menatap pesan Aurora yang terakhir. Setiap kata terasa seperti tombak: “Kebenaran yang akan kau temukan nanti… akan membunuhmu pelan-pelan.”Ia menelan ludah, mencoba menenangkan diri, tapi hatinya berdebar tak karuan. Malam demi malam, minggu demi minggu, semua teka-teki dan kebohongan akhirnya menuntunnya ke titik ini. Titik di mana ia harus memilih: tetap diam dan menerima luka, atau menghadapi kebenaran sekalipun itu menghancurkan rumah tangganya.Rani menatap sekeliling. Tak ada yang memperhatikan, hanya hujan dan lampu jalan yang redup. Ia membuka tasnya, mengeluarkan foto-foto lama yang ia temukan dari dokumen keluarga Adrian surat, foto, dan beberapa catatan yang menunjukkan kedekatan Adrian dengan Aurora, jauh sebelum Rani mengetahuinya.“Habis sudah… aku harus tahu,” gumam Rani sambil menggenggam foto itu. Matanya berkaca-
Rani melangkah cepat di trotoar yang basah oleh sisa hujan. Lampu jalan berpendar redup, memantulkan bayangan panjang di bawah kakinya. Pikirannya berputar, mencoba memahami pesan misterius yang baru saja ia terima."Jangan pulang malam ini. Bahaya menunggumu di rumah."Kata-kata itu terus menggema di benaknya, membuat jantungnya berdebar kencang. Apakah seseorang tengah memperingatkannya? Atau itu hanya permainan baru Aurora untuk mengguncang kestabilannya?Ia berhenti di depan halte kosong, menatap ponselnya lagi. Tidak ada pesan lanjutan. Tidak ada petunjuk siapa pengirimnya. Tapi entah kenapa, firasatnya berkata bahwa pesan itu bukan sekadar ancaman. Ada sesuatu yang benar-benar salah malam ini.Rani menarik napas panjang. Udara malam menusuk kulitnya, dingin dan lembap. Ia menatap ke arah jalan, mobil-mobil melintas cepat, lampu-lampunya membelah kegelapan.“Kalau aku tidak pulang… ke mana aku harus pergi?” gumamnya lirih.Matanya terarah pada satu tempat: kantor Adrian. Tempat d
Hujan akhirnya reda, menyisakan bau tanah basah yang menusuk hidung. Jalanan sepi, hanya sesekali terdengar suara tetesan air dari atap rumah atau pohon yang bergoyang tertiup angin. Rani masih berjalan tanpa arah, langkahnya berat, tapi matanya menyalakan api yang berbeda.Air mata sudah berhenti jatuh, bukan karena luka telah hilang, melainkan karena kesedihan itu telah berubah menjadi sesuatu yang lebih keras tekad.Ia menatap ke depan, wajahnya basah, rambutnya menempel di pipi. Dalam hatinya, satu kalimat terngiang: Kalau aku terus diam, aku akan habis. Kalau aku ingin bertahan, aku harus melawan.Adrian berlari menyusul, tubuhnya basah kuyup. Nafasnya memburu, tapi setiap kali ia memanggil nama Rani, perempuan itu justru mempercepat langkah. Ia tahu, kata-katanya tidak lagi
Ruang tamu rumah keluarga Wijaya malam itu dipenuhi suara tawa sosialita yang berusaha terdengar hangat, namun di balik senyum mereka tersembunyi nada lain: bisik-bisik yang menusuk lebih tajam dari pisau.“Aku dengar Adrian sering terlihat keluar masuk hotel di pusat kota,” suara seorang wanita pa
Rani – POVTanganku bergetar. Video itu terus berputar, menampilkan bibir Adrian yang menempel pada wanita asing itu, gerakannya lembut tapi… penuh keintiman.Aku memaksa mataku untuk tetap menatap layar, walau dada terasa sesak.Siapa dia?Kenapa aku belum pernah melihat wajahnya?Dan yang paling
Jantungku seolah berhenti berdetak.Bayangan itu masih di sana—tidak bergerak, tidak bersuara, hanya sepasang mata yang mengawasi dari cermin tengah.Tanganku meraih gagang pintu, tapi kemudian terhenti. Kalau aku keluar sekarang, aku akan basah kuyup dan kehilangan kesempatan mengetahui siapa dia.
Hujan masih turun sejak sore, menyelimuti kota dengan bau tanah basah dan dingin yang merayap sampai ke tulang.Aku duduk di kursi dekat jendela, memandangi jalanan yang basah oleh lampu-lampu kendaraan. Adrian belum pulang.Tidak ada pesan, tidak ada telepon.Bahkan sekadar “Aku lembur” pun tidak.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.