Se connecterBagi dunia luar, aku adalah istri sah Adrian Mahendra—CEO muda yang tampan, sukses, dan menjadi dambaan banyak wanita. Pernikahan kami terlihat sempurna. Tapi semua itu hanya topeng. Siang hari, aku tersenyum di sisinya. Malam hari, aku tidur sendirian. Hubungan kami dingin, seolah hanya kewajiban, bukan cinta. Hingga suatu malam, aku mencium aroma parfum wanita asing di jasnya. Aroma yang bukan milikku. Sejak saat itu, tanda-tanda pengkhianatan mulai muncul: pesan singkat yang ia sembunyikan, panggilan telepon yang dijawab di luar rumah, dan tatapan kosong setiap kali melihatku. Aku mencoba bertahan, tapi kebenaran yang kutemukan menghancurkan segalanya. Ternyata… aku bukan satu-satunya wanita dalam hidupnya. Kini aku dihadapkan pada pilihan: mempertahankan gelar istri sah demi nama baik keluarga, atau melepaskannya pada cinta terlarang yang telah lama ia simpan di balik senyumnya.
Voir plusPasuray-suray na naglalakad si Iris sa hallway ng isang exclusive hotel. Hindi niya sukat akalain na ganoon pala kalakas ang epekto ng alak na ininom niya na dapat sana ay pampatanggal lang ng kaba at hiya niyang nararamdaman.
Kusang huminto ang mga paa niya sa dulo ng pasilyo, bahagya siyang nag-angat ng tingin at pilit na inaaninag ang mga numerong naka-engraved sa pín.tó Three... Zero... Eight. Napalunok-laway siya. "Ito na." Dali-dali niyang kinuha ang keycard sa bag at mabilis na ini-swipe iyon sa pín.tó. Dahan-dahan siyang pumasok sa loob. Madilim. Pagkasara niya ng píntó… May mga bisig na bigla na lang pumulupot sa baywang niya mula sa likuran. Ilang segundo siyang hindi nakagalaw… hanggang sa maramdaman na lang niya ang labi nito na dumadampi sa batok niya. “H-hey…” tutol niya. Pero nagpatuloy lang sa paghàlik ang lalaki… Napapikit siya… isang gabi lang… isang gabi lang naman. Inikot siya nito para magkaharap sila. Bahagya itong napangiti nang makita ang maskara sa mukha niya. “You don’t need to hide from me…” Mababa at husky ang boses nito. Napalunok si Iris nang marinig iyon. “I want to see all of you.” Hindi pa nagsi-sink in sa isip niya ang sinabi nito nang bigla na lang kagatin ng lalaki ang strap ng pulang dress niya at dahan-dahang hinila iyon pababa. Napasandal siya sa pader, hindi niya mapigilan ang pangangatog ng tuhod niya habang nakaluhod ang lalaki sa harapan niya at parang ice cream na dini-díla-diláan nito ang kíffy niya. “Ahhhh… Please... be gentle. It’s my first time." Hindi kumibo ang lalaki. Napakapit na lang siya sa batok nito nang bigla siyang binuhat at marahang ipinatong sa kama. “Kiss me…” utos nito. Akmang hahálikàn niya ito nang bigla nitong alisin ang suot niyang maskara… Napatakip siya ng mukha pero agad ring ibinaba ng lalaki ang mga kamay niya. "You’re beautiful... you’re mine now." Dahan-dahang lumapit ang mukha nito at masuyo siyang hinàlikàn sa labi… hanggang sa maramdaman na lang niyang tumutugon na rin siya sa bawat galaw ng labi nito. Itinulak siya nito pahiga sa kama. At mabilis na pumwesto sa ibabaw niya. Bumaba ang mga hàlík nito sa leeg niya pababa sa malulusog na súsó niya. Parang sanggol itong uhaw na uhaw sa págsíp.síp sa utóng niya. “Ummmhhh… ahhh sige pa…” Napakapit siya sa batok nito, ramdam na ramdam niya ang matígas na tí.tí nito na marahang kumíkís.kís sa kíffy niya. “Umhhhh… Idiin mo pa…sige pa…” Nababaliw na siya sa magkahalong sarap at kiliting nararamdaman niya pero bigla na lang tumigil ang lalaki at marahang hinaplos ang mukha niya. Ilang minuto silang nagkatitígan hanggang sa muling naglapat ang mga labi nila. Bumaba ang hálik nito sa leeg, pababa sa dibdib niya. Mariin siyang napakapit sa bedsheet at kinagat ang pang-ibabang labi para pigilan ang malakas na pag-ungól. “Don’t hold back,” bulong nito. “Moan for me, Sweetheart.” Dahan-dahan kínís.kís ng lalaki ang mahaba, matigas at mataba nitong arí sa kíffy niya, hanggang sa bigla siyang napaliyad nang bigla itong umulos. Nangilid ang luha niya sa sobrang hapdi, hindi siya makagalaw. Tumigil din ang lalaki at marahang pinunasan ang luha niya. “I’m sorry, Sweetheart. Tell me if you want me to stop.” Ilang minuto silang tumigil hanggang sa dahan-dahang gumalaw ang lalaki, mabagal lang sa una, hanggang sa binilisan nito ang pagkán.tót sa kanya. Dinig na dinig niya ang basang tunog sa bawat pagbaón at paghúgót ng malaking ti.tí nito sa kíffy niya. “Uggghhh… Isagad mo pa, ahhh, ang sarap!” “Ganyan nga, sweetheart… I want to hear every sound you make." “Uggghhh… Lalabasan na ako—malapit na!" Napakapit siya nang husto sa lalaki, parang mawawalan siya ng ulirat sa sobrang sarap ng pagkàn.tót nito sa kanya. “Sabay na tayo… ito na 'ko… Uggghhh… fúck!” Hingal na hingal na sabi ng lalaki. Pawis na pawis itong bumagsak sa ibabaw ng katawan niya. Mahigpit siyang niyakap nito. “Sa akin ka lang, Sweetheart… sa akin ka lang.” Mariing napapikit si Iris. Dalawampu’t limang taon niyang iningatan ang sarili. Balak niyang iregalo ang pagkabírhén niya sa lalaking mamahalin siya at pakakasalan balang araw. Hindi niya sukat akalaing magagawa niyang ipagbili ang dangal—sa isang matandang kliyente.Rani menutup pintu mobil dengan tenaga yang tersisa, napasnya masih tercekat. Hujan malam itu sudah berhenti, tapi udara dingin tetap menempel di kulitnya. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu kota yang remang, seolah menyambut kedatangannya ke tempat yang selama ini Aurora pilih sebagai arena permainan. Setiap langkahnya terasa berat, tapi tekad yang membara di dada mendorongnya maju. Malam ini, tidak ada ruang untuk keraguan.Ia menatap ponselnya sekali lagi. Pesan Aurora masih membakar pikirannya:"Sudah kau temukan. Sekarang lihat, Rani… apakah kau cukup kuat untuk menghadapi apa yang akan terjadi?"Rani menggenggam ponsel dengan tangan gemetar. Selama berhari-hari, rasa sakit, cemburu, kekecewaan, dan kemarahan bercampur menjadi satu. Malam ini, semuanya akan ditentu
Rani menunduk di depan pintu kaca sebuah kafe kecil di pinggiran kota. Hujan semalam masih meninggalkan jejak di aspal dan atap. Tangannya gemetar saat ia menatap pesan Aurora yang terakhir. Setiap kata terasa seperti tombak: “Kebenaran yang akan kau temukan nanti… akan membunuhmu pelan-pelan.”Ia menelan ludah, mencoba menenangkan diri, tapi hatinya berdebar tak karuan. Malam demi malam, minggu demi minggu, semua teka-teki dan kebohongan akhirnya menuntunnya ke titik ini. Titik di mana ia harus memilih: tetap diam dan menerima luka, atau menghadapi kebenaran sekalipun itu menghancurkan rumah tangganya.Rani menatap sekeliling. Tak ada yang memperhatikan, hanya hujan dan lampu jalan yang redup. Ia membuka tasnya, mengeluarkan foto-foto lama yang ia temukan dari dokumen keluarga Adrian surat, foto, dan beberapa catatan yang menunjukkan kedekatan Adrian dengan Aurora, jauh sebelum Rani mengetahuinya.“Habis sudah… aku harus tahu,” gumam Rani sambil menggenggam foto itu. Matanya berkaca-
Rani melangkah cepat di trotoar yang basah oleh sisa hujan. Lampu jalan berpendar redup, memantulkan bayangan panjang di bawah kakinya. Pikirannya berputar, mencoba memahami pesan misterius yang baru saja ia terima."Jangan pulang malam ini. Bahaya menunggumu di rumah."Kata-kata itu terus menggema di benaknya, membuat jantungnya berdebar kencang. Apakah seseorang tengah memperingatkannya? Atau itu hanya permainan baru Aurora untuk mengguncang kestabilannya?Ia berhenti di depan halte kosong, menatap ponselnya lagi. Tidak ada pesan lanjutan. Tidak ada petunjuk siapa pengirimnya. Tapi entah kenapa, firasatnya berkata bahwa pesan itu bukan sekadar ancaman. Ada sesuatu yang benar-benar salah malam ini.Rani menarik napas panjang. Udara malam menusuk kulitnya, dingin dan lembap. Ia menatap ke arah jalan, mobil-mobil melintas cepat, lampu-lampunya membelah kegelapan.“Kalau aku tidak pulang… ke mana aku harus pergi?” gumamnya lirih.Matanya terarah pada satu tempat: kantor Adrian. Tempat d
Hujan akhirnya reda, menyisakan bau tanah basah yang menusuk hidung. Jalanan sepi, hanya sesekali terdengar suara tetesan air dari atap rumah atau pohon yang bergoyang tertiup angin. Rani masih berjalan tanpa arah, langkahnya berat, tapi matanya menyalakan api yang berbeda.Air mata sudah berhenti jatuh, bukan karena luka telah hilang, melainkan karena kesedihan itu telah berubah menjadi sesuatu yang lebih keras tekad.Ia menatap ke depan, wajahnya basah, rambutnya menempel di pipi. Dalam hatinya, satu kalimat terngiang: Kalau aku terus diam, aku akan habis. Kalau aku ingin bertahan, aku harus melawan.Adrian berlari menyusul, tubuhnya basah kuyup. Nafasnya memburu, tapi setiap kali ia memanggil nama Rani, perempuan itu justru mempercepat langkah. Ia tahu, kata-katanya tidak lagi
Ruang tamu rumah keluarga Wijaya malam itu dipenuhi suara tawa sosialita yang berusaha terdengar hangat, namun di balik senyum mereka tersembunyi nada lain: bisik-bisik yang menusuk lebih tajam dari pisau.“Aku dengar Adrian sering terlihat keluar masuk hotel di pusat kota,” suara seorang wanita pa
Rani – POVTanganku bergetar. Video itu terus berputar, menampilkan bibir Adrian yang menempel pada wanita asing itu, gerakannya lembut tapi… penuh keintiman.Aku memaksa mataku untuk tetap menatap layar, walau dada terasa sesak.Siapa dia?Kenapa aku belum pernah melihat wajahnya?Dan yang paling
Jantungku seolah berhenti berdetak.Bayangan itu masih di sana—tidak bergerak, tidak bersuara, hanya sepasang mata yang mengawasi dari cermin tengah.Tanganku meraih gagang pintu, tapi kemudian terhenti. Kalau aku keluar sekarang, aku akan basah kuyup dan kehilangan kesempatan mengetahui siapa dia.
Hujan masih turun sejak sore, menyelimuti kota dengan bau tanah basah dan dingin yang merayap sampai ke tulang.Aku duduk di kursi dekat jendela, memandangi jalanan yang basah oleh lampu-lampu kendaraan. Adrian belum pulang.Tidak ada pesan, tidak ada telepon.Bahkan sekadar “Aku lembur” pun tidak.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.