Share

Mimpi indah, Nyonya

Penulis: PwanChaa
last update Tanggal publikasi: 2026-07-03 20:22:45

“Jadi bagaimana? Kau sudah mengetahui siapa dalang dibalik kecelakaan 2 tahun lalu?”

Bambang mengernyitkan keningnya berharap ada jawaban yang keluar dari mulut lawan bicaranya. Ia sedang berada di restarauran bintang lima tengah kota, Bambang memakai setelan jas hitam dengan rambut yang sangat rapi walaupun agak menjuntai ke bagian dahinya.

“Tuan Bambang, penyebab kecelakaan ini benar-benar rumit. Aku sudah melakukan investigasi dan menanyakan beberapa kolega yang menjadi informanku, berkas tentang kecelakaan itu benar-benar dihilangkan,” jawab Pria dengan topi flat cap hitamnya.

“Maksudmu?”

“Maksudku jelas-jelas ada orang yang mempunyai nama terlibat dengan sengaja atau tanpa sengaja pada kecelakaan ini!”

Bambang menyenderkan badannya ke kursi, dia berpikir sejenak. Sejak kejadian kecelakaan saat itu, dia sudah mulai mencari tahu tentang siapa yang menjadi pelaku kecelakaan beruntun yang menyebabkan Herman koma sekarang.

Ia kira permasalahan ini sepele seperti rem blong atau micro sleep dari supir penabrak, tetapi saat dilakukan DNA test pada jenazah supir yang menabrak, ada kandungan racun yang aktif setelah jam dikonsumsi. Seakan-akan memang disengaja. Polisi memberikan dugaan bahwa keluarga korban yang melakukannya tetapi saat Bambang mencoba mewawancarai secara langsung mereka, tidak ada satupun dari mereka yang meracuninya.

“Kira-kira apa permasalahannya? Sengaja membuat kecelakaan beruntun seperti ini dan bisa menghilang. Cara yang digunakan dalang ini benar-benar bersih.”

“Aku pun berpikir demikian, Tuan Bambang. Untuk sementara waktu, sebaiknya kamu jaga baik-baik keluarga Tuan Herman,” goda Seno, laki-laki yang diketahui ternyata seorang detektif yang disewa oleh Bambang.

“Keluarga ini, benar-benar problematik.”

“Hahaha… Keluarga pembisnis itu sangat normal jika problematik, jika ada yang normal maka ada kelainan dari mereka.”

Bambang memukul kepala Seno dengan dokumen yang ada ditangannya. Mereka kemudian makan siang bersama.

***

Malam harinya, Bambang duduk termenung di ruang tengah rumahnya. Ia masih memikirkan kata-kata Seno tentang kemungkinan adanya sangkut paut dengan orang-orang yang dianggap penting bagi Negara ini.

Ia memejamkan matanya beberapa kali hingga ia memutuskan untuk membuat secangkir kopi di dapur rumahnya.

Diana yang mengintai Bambang dari kejauhan, ia menggunakan lingerie memakai warna hitam tipis. Diana menggigit bibirnya, lalu tersenyum ketika membayangkan bagaimana Bambang akan menyentuh tubuhnya.

Ia mengikuti Bambang menuju dapur, Diana memeluk Bambang tiba-tiba dari belakang membuat tubuh Bambang menegang mendadak. Diana mulai meraba-raba dada bidang Bambang dari belakang, Bambang tidak menolak ataupun menerima, ia hanya takut bahwa dokter yang ada diatas mendengar suara Bambang.

“Mas… Aku datang untuk membayar hutangku.” Diana membalikkan tubuh Bambang dan menempelkan seluruh bagian tubuhnya dengan tubuh Bambang. Bambang mengepalkan tangannya sendiri, menahan libidonya yang naik lagi saat mereka berdua bersentuhan.

“Nyonya, kumohon berhentilah menggodaku,” ujar Bambang yang membuat Diana memanyunkan bibirnya. Jawaban Bambang membuatnya kesal, dengan cepat, ia melancarkan aksi yang sudah ia rencanakan.

Diana membuka pengait lengannya, membuat lingerie hitam yang ia gunakan terlepas bebas dari tubuhnya. Spontan Bambang langsung menutup matanya, detak jantung Bambang tiba-tiba tidak karuan karena dia melihat sekilas lekuk tubuh Diana tanpa lingerienya.

“Nyonya, apa yang kamu lakukan?!”

“Jangan berteriak! Atau kamu mau dokter yang sedang memeriksa Mas Herman melihat kita seperti ini!”

Diana menjawab dengan tenang, ia mengambil paksa tangan Bambang yang kekar dan berurat. Diana menuntunnya menyentuh setiap bagian tubuh ‘empuk’ miliknya dan menikmati sentuhan dari tangan Bambang.

Bambang menengang dengan kencang, ia sangat bisa merasakan kepunelan Diana. Dia benar-benar tahu bahwa Diana sangat pro dalam memainkan tarik ulur dalam hubungan ‘khusus’ ini.

“Nyonya?!”

Diana kini benar-benar bermain dengan jari-jari Bambang yang ia gerakkan sendiri. Bambang kelimpukan, ia mencoba menarik tangannya sendiri dan mendorong pundak Diana. Membuatnya mundur beberapa langkah.

“Mas Bambang!” gertak Diana, ia mengepalkan tangannya tidak terima sudah ditolak oleh Bambang, orang yang benar-benar membuatnya obsesi sampai membuatnya tidak bisa tidur belakangan ini.

“Nyonya Diana, cepatlah gunakan bajumu kembali,” minta Bambang.

“Tidak! Aku tidak mau!”

Bambang tidak mau kehilangan akal, dia sudah berjanji untuk tidak tergoda dengan salah satu dari mereka bertiga. Bambang membuka kemejanya memperlihatkan lekuk badannya yang bidang, ini pertama kalinya bagi Diana melihat Bambang tidak mengenakan atasan.

Diana benar-benar bisa meledak, ia mencoba menyentuh potongan-potongan roti sobek milik Bambang. Tepat saat itu, Bambang mencengkeram Diana dan memakaikan kemejanya ke tubuh Diana. Diana mencoba memberontak meski hanya pemberontakan kecil, tetapi apa yang dilakukan oleh Bambang benar-benar membuat jantungnya makin kacau. Kini yang ada di kepalanya hanya bagaimana cara mendapatkan Bambang.

“Mas Bambang, kenapa kamu menolakku lagi!” Diana membalikkan badannya.

“Nyonya, aku sudah bilang posisiku di rumah ini hanyalah pengganti Tuan Herman. Tidak lebih dari itu. Aku tidak bisa bertindak sembarangan dengan Nyonya Diana.”

Diana menggelengkan kepalanya tanda tidak terima dengan penjelasan Bambang membuat Bambang memegang lembut pundaknya dan memegang wajahnya. Bambang mengamati wajah Diana yang terlihat kurang tidur. Ada lingkaran hitam di bawah matanya.

“Nyonya, kamu belakangan ini kurang tidur kah?”

“Itu bukan urusanmu, kamu bahkan menolakku.”

Bambang memutar bola matanya, dia menghela napas yang sangat panjang dan berat mencoba untuk memahami kondisi Diana. Ia menelepon dokter yang sedang memeriksa Herman.

“Dok, jika pemeriksaannya sudah selesai. Anda bisa langsung meninggalkan tempat saja, nanti semua resep obat bisa dikirim kepadaku.”

Bambang menutup ponselnya, ia langsung mengangkat tubuh Diana dan membopongnya menuju kamar Diana. Wajah Diana berubah menjadi merah karena akhirnya ia berhasil mendapatkan Bambang. Diana bersandar di dada Bambang sembari membayangkan ‘posisi’ apa yang akan mereka coba.

Bambang membuka kamar Diana yang berada di lantai dua lalu menutupnya. Ia menurunkan Diana tepat di kasurnya. Diana mulai membuat ‘pose’ aneh-aneh. Bambang menatapnya sekilas dan tiba-tiba teringat oleh kelakuan nakal Celine. Padahal mereka berdua adalah anak dan ibu tiri tetapi memiliki kesamaan yang mirip, suka menggoda pria seperti Bambang.

“Nyonya Diana, aku tidak akan menyentuhmu tetapi akan tidur bersamamu. Aku akan memastikan bahwa kamu tidur dengan nyenyak.”

Bambang merapikan bantal tidur Diana lalu menarik selimut menyelimuti tubuh Diana. Bambang juga tidur di sebelah Diana. Tanpa basa basi, ia memeluk Diana yang masih membeku dengan apa maksud Bambang.

“Mas Bambang, apa yang sebenarnya ada dipikiranmu?”

“Tidak ada, aku hanya memastikan kualitas tidurmu baik.”

Diana mengetuk dahinya ke dada Bambang, ia lalu menyamankan posisinya di pelukan Bambang, dia memejamkan matanya dengan jantung yang berdebar-debar, tapi ini bukan kecemasan melainkan ketenangan yang selama ini ia harapkan.

Tidak terlalu lama, Diana benar-benar tertidur pulas. Bambang memandang sejenak wajah Diana yang sudah tenang. Wajah cantiknya benar-benar terpancar ketika ia sedang tertidur. Bohong jika Bambang bilang bahwa ia tidak menikmatinya. Justru ia benar-benar tegang saat ini. Ia menahan dirinya sendiri untuk tidak menyentuh sembarangan istri Tuan Herman.

Sebelum Bambang melepaskan pelukannya dan meninggalkan Diana,

Cuup!

ia mendaratkan ciuman manis ke bibir tipis Diana.

“Selamat tidur Nyonya, Mimpi indah!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Menunggu

    Sudah hampir 3 hari Bambang di rumah sakit, setelah mengalami demam tinggi. Setelah Bianca meninggalkannya sendirian dan Bambang menelan obatnya. Ternyata Bambang memejamkan matanya, panasnya tidak kunjung reda malah tambah tinggi.Diana yang awalnya mau menanyakan Bambang tentang kunjungan dokter selanjutnya kepada Bambang, membuka pintu kamar Bambang dan melihat Bambang yang sudah menggigil kedingin mengigau nama seseorang.“Kakek Ron… Kakek Ron..” Diana tanpa pikir panjang langsung menelpon Bianca. Itu pertama kalinya dia menelpon anak tirinya itu.Tuuut.. tuttt..“Halo, ada apa sih?” tanya Bianca dari telepon, seperti biasa ia masih sangat judes kepada Diana.Diana tidak mengambil pusing saat ini karena dia sudah amat sangat panik dengan kondisi Bambang, “Bianca, tolong mama… Mas Bambang badannya panas banget ini loh, Mama gak tahu harus apa…” Jantung Bianca seperti tersambar petir, padahal tadi ia sudah memberikan obat penurun demam kepada Bambang, kenapa masih tak kunjung reda

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Bangun

    Setelah itu Bambang hanya mengingat dirinya dibawa ke kantor polisi dan membuat sok 1 panti. Ia juga dihajar habis-habisan oleh ayah Rusdi. Seperti kata Rosyid sebelumnya, keluarga Rusdi itu keluarga terpandang, sebaiknya tidak pernah membuat masalah dengan Rusdi.Bambang kembali dengan tubuh babak belur, penuh dengan ancaman dan hinaan. Ia menggigil, tidak menjawab dengan semua ancaman yang dilantamkan kepadanya. Sampai di panti pun ia masih dicaci maki oleh pihak panti. Ia bahkan diancam akan dibuang jika tidak menjadi anak yang penurut lagi.Bambang pun mendapatkan skorsing dari pihak sekolah selama 1 bulan full, begitu pula dengan pihak panti yang mengurungnya di asrama dan hanya diberi makan 1X sehari. Bambang hanya bisa menahan rasa lapar dan hausnya setiap hari. Ia duduk di sudut kamarnya, menunggu siapapun mengajaknya berbicara tapi tidak ada yang berani mendekat ke arah kamarnya.Bambang merasa benar-benar terjatuh. Dia hanya anak kelas 3 SMP yang masih memasuki masa puber, k

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Melawan!

    “Kamu gila, Mbang?” Rosyid membelalakkan matanya tidak percaya dengan pilihan Bambang yang segila itu. Ia menepuk pundak Bambang sekali lagi, memastikan Bambang benar-benar yakin akan melakukan hal ekstrim seperti itu. Bambang hanya menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia memang sudah memiliki niat. Ia bahkan dengan santai lanjut makan bekalnya tidak menghiraukan Rosyid yang menggelengkan kepalanya tidak percaya.“Seriuslah Mbang, yang kamu lawan itu si Rusdi. Kakak kelas kita yang dikenal rajanya tawuran. Orang tuanya itu polisi, Mbang. Udahlah mending gak usah ya,” pinta Rosyid dengan memohon kepada Bambang agar tidak mencari keributan dengan Rusdi.Bambang menepis Rosyid, “Kenapa? Kamu di pihak Rusdi atau aku?” Rosyid menggarukkan kepalanya, ia benar-benar bingung kali ini. Ia jelas memilih Bambang tapi ia tidak bisa menjamin nasib Bambang ke depannya jika berurusan dengan Rusdi.“Mbang, plis lah pikiran sekali lagi.”Bambang tidak merespon, ia malah menutup kotak bekalnya dan me

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Ngehajar!

    Kakek Ron menatap Bambang yang memohon padanya, ia lalu memegang pundak Bambang dan duduk di sebuah kursi tua yang sudah hampir ambruk. “Kenapa sebenarnya? Ini masalah percintaan atau apa?” tanya Kakek Ron, Bambang duduk di sebelah kursi yang Kakek Ron duduki. “Aku hanya ingin membuktikan bahwa diriku bukan orang yang lemah dan mudah dimanfaatkan, Kek!” ujar Bambang, ia memainkan tangannya. “Bela diri itu baik untuk dipelajari, tapi kamu hanya bisa menggunakannya untuk membela dirimu saat kamu sedang tersudut bukan untuk melawan atau membully orang yang tidak bersalah,” jelas Kakek Ron. Bambang mendangakkan kepalanya menatap Kakek Ron. “Tentu saja aku ingin membela diriku, Kek. Aku hanya ingin membuktikan bahwa diriku ini juga pantas untuk dihargai dan tidak takut meski mereka jauh lebih tua dariku.” Penjelasan itu cukup membuat Kakek Ron menganggukkan kepalanya, ia memainkan janggutnya yang panjang itu seolah sedang mempertimbangkan pemintaan Bambang. “Aku bisa saja mengajarim

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   bela diri

    Bambang dan Rosyid sama-sama terkejut, mereka bahkan tidak bisa berkata-kata.“Gila Mbang, gilaaaak!” Rosyid memukul Bambang, begitu juga dengan Bambang yang memukul balik Rosyid.“Gilaaaaakkk Syid,” ujar Bambang, meski gemetar dan jantungnya terasa seperti ditusuk jarum berulang kali tapi perbuatan Yanti benar-benar cukup berani. “Aku harus gimana, Syid?” tanya Bambang dengan suara bergetar, Rosyid menggelengkan kepalanya dengan wajah yang benar-benar kosong, ia tidak bisa memikirkan apapun.“Mending kita balik aja Syid.” Bambang menarik tangan Rosyid, ia memilih untuk mengalah daripada berjuang mempertahankan hubungan yang hanya beberapa hari.Rosyid mengangguk, mereka berbalik badan.Kreeeekk…Kaki Rosyid menginjak ranting tanaman, memecahkan keheningan yang ada membuat mereka berdua yang sedang beraktifitas di sana langsung berhenti dan cepat-cepat memakai celana.“Siapa di sana?!” teriak laki-laki itu. Ia langsung bergegas berlari ke arah sumber suara. Yanti pun mengikuti arah l

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Heran

    Bambang menarik bibir Yanti, memasukkan lidahnya ke dalam sana, Yanti kaget tetapi tidak menolak. Ia membalas ciuman Bambang yang membuat Bambang semakin ganas. Meski itu pertama kalinya untuk Bambang tapi ia sudah bergerak dengan sangat liar. Yanti adalah ciuman pertamanya.Malam dingin itu tidak lagi terasa dingin di tengah cumbuan panas mereka berdua. Benar kaya Rosyid, berciuman itu memang sangat enak sekal. Bahkan bibir Yanti benar-benar terasa sangat manis.“Mnmmnn…” desah Yanti yang sudah kehabisan napasnya. Mereka berdua menyelesaikan ciuman itu dengan tawaan yang sangat manis. Karena jam malam Yanti sudah dekat, mereka akhirnya memutuskan pulang. Bambang memanggil Rosyid yang sibuk bermain catur dengan temannya.“Berarti kita resmi pacaran, Mbang?” tanya Yanti, Bambang terdiam. Dengan malu-malu, ia mengangguk pelan.Mereka berdua saling melambaikan tangan ketika Rosyid berada di depan hadapan Bambang.“Dihh.. dihh.. siapa yang kemarin katanya gak mau pacaran sekarang malah p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status