Se connecterBaskara baru saja pulang dari luar negeri, masih perlu beradaptasi di jalan penduduk lokal yang masih suka nyelonong aturan lalu lintas. Perkara ia tak sengaja hampir menabrak seorang gadis karena kendaraan di pinggir jalan mendadak menerobos tanpa aba-aba.
Ia sedikit bernapas lega karena gadis itu baik-baik saja. Cuma yang buat Baskara bingung, gadis itu malah ketakutan melihatnya. “Nama saya Baskara, tolong tenanglah.” “Turunkan aku sekarang! Jangan culik aku!” Dea tidak mendengarkan, malah berteriak nyaring dan mencoba berontak melepaskan seatbelt. Baskara mengernyit. “Kau mau membayar denda pelanggaran lalu lintas? Hah. Saya tidak berminat menculik anak-anak.” Dea mendengkus kesal. “Anak-anak? Umurku sudah 20 tahun.” Baskara mengalihkan pandangan dan menarik napas cukup dalam. Ia pun tak mau membalas ucapan Dea karena takut kalau gadis ini makin mengamuk dan beneran nekat keluar dari sini. Saat Baskara menambah laju kendaraannya, barulah Dea diam dan pegangan. Baskara memperhatikan gadis begitu ketakutan saat kecepatan roda empat bertambah. Mendadak wajah Dea pucat dan tak bicara lagi selain menutup mata rapat-rapat dan kedua tangan saling meremas paha. Dea makin kuat meremas celananya. Kaki wanita itu lemas dan bergetar hebat. Dea menutup mata erat-erat sambil menggigit bibir bawah agak kencang. Baskara yang menyaksikan itu semua pun perlahan merendahkan kecepatan kemudi. “Sudah sampai.” Baskara pun memarkirkan mobilnya di parkiran dekat halaman rumah sakit. Napas Dea masih memburu cepat. Sedangkan Baskara tanpa rasa bersalah segera turun dari mobil. Benturan pintu membuat kesadaran Dea pulih kembali. Pria itu membuka pintu mobil sebelahnya dan menunduk untuk menyamakan tinggi Dea, lalu menatapnya cukup intens. “Mau jalan sendiri atau saya angkat ke dalam?” Dea menahan napasnya. Tidak menyangka pria itu bisa dengan santai bicara begitu, sampai mukanya reflek memerah dan mendorong tubuh Baskara. “Jangan repot-repot! Kakiku bukan lumpuh, cuma lecet sedikit, aku bisa jalan sendiri.” Dea merapikan rambutnya yang berantakan dan segera berdiri meski kakinya masih bergetar. Hap! Baskara pun menangkap tubuh Dea yang hampir tumbang. Tangan kekarnya menyentuh pinggul Dea yang tak sengaja membentur dada bidangnya. “Bisa berdiri sendiri? Atau saya gendong kamu ke dalam?” Sikap Baskara yang melembut, sedikit bikin jantung Dea merasa tak aman dan muncul debaran aneh. Dea pun perlahan menampakkan kakinya di tanah. Meski kakinya agak lemas karena trauma muncul kala mobil itu melaju cepat, ia tak ingin terlihat rendahan pada pria yang baru saja dikenalnya tapi sudah sedekat ini bersentuhan. “Hmmm… tidak usah, Om. Aku bisa jalan sendiri. Makasih sudah menolongku.” Dea tersenyum kecut, bohong kalau ia berhasil menyembunyikan kegugupan kala pria itu cukup lama menatapnya. Kaki Dea yang masih lemas mencoba menapaki tanah. Sedikit terasa lututnya masih kurang tegak, ia hampir terjatuh untuk kedua kalinya. “Ah!” teriak Dea kaget bukan main, mendadak tubuhnya melayang. Saat dia sadar, tiba-tiba dirinya sudah berada dalam gendongan pria itu. Baskara mengangkat tubuhnya cukup pakai satu tangan saja. Ia pun tak peduli saat Dea terus berontak ingin turun. Deru napas Dea terasa dekat lehernya, gemetar dan putus-putus. Gadis itu terus memandangnya dengan tatapan penuh amarah. “Lepasin, aku bisa jalan sendiri!” pekik Dea sambil memukul dada bidang pria ini. Baskara menatapnya sekilas. Sialnya, dada Dea mendadak kembang kempis karena tatapan tajam pria matang ini terasa mengulitinya. Tatapan yang membuatnya kembali menahan napas. Dilihat dari dekat, Dea pun menyadari kalau pria ini tampan juga. Wajahnya rupawan dengan hidung mangir, dagu terbelah, rahang tegas, bulu mata hitam tebal. Ekspresi wajahnya dingin tanpa perasaan, tapi terasa membuat sekujur muka Dea menghangat. “Sudah puas memandangi saya?” Baskara yang sadar ditatap wanita itu berhasil membuat sang wanita gelagapan. “Geer baget, Om! Justru aku mau berteriak di sini ada pria mesum!” “Mesum katamu? Saya menyelamatkanmu yang hampir terjatuh, sepertinya bukan cuma lututmu cedera serius, tapi mulutmu perlu dibius.” Baskara tak peduli kata-katanya menyakiti gadis ini. Ia tetap saja melangkah gagah tanpa peduli seluruh mata tertuju padanya. Baskara memasuki lobi rumah sakit dan segera menggunakan layanan prioritas tanpa mengantre. Deg… Dea meneguk ludah yang susah payah. Suara bariton pria itu saja terdengar dalam dan begitu menggoda. Ia mengalihkan pikiran anehnya agar tak makin macam-macam memikirkan pria asing ini. Duduk di kursi prioritas tanpa menunggu ini menjadi pengalaman baru buat Dea. Selama ini, ia tak pernah masuk rumah sakit. Baru kali ini ia diantar dengan didekap dengan begitu romantis, sampai menjadi pusat perhatian seluruh mata memandang. Layanan prioritas ini hanya ada segelintir orang saja. Sudah pasti biayanya juga berbeda dengan pasien kelas lain. Dea menyadari kalau pria yang menolongnya ini dari kalangan atas. Baru menunggu sebentar, pria ini sudah membaringkannya di atas kasur rumah sakit. “Permisi, kita bantu pengecekan dulu, ya.” Seorang dokter datang menghampiri. “Aww!!” Dea menjerit kesakitan ketika dokter menekuk lututnya. Berbagai alat kesehatan dicoba untuk mengecek kadar keparahan di lututnya. “Tahan, ya! Maaf kalau sedikit sakit.” Dea mengangguk saja sambil menggigit bibir bawahnya. Sedangkan matanya yang berkaca-kaca tertuju pada Baksara yang tampak santai sambil menggulungkan tangan di dada. Drrrrtt… Ponsel berbunyi. Dea pun meraba sesuatu di saku celana. Nihil. Ponselnya tak ada panggilan masuk. “Ya, ada apa?” Baskara mengangkat teleponnya sambil melangkah sedikit menjauh. Dea mendongak ke arahnya. Ternyata nada dering ponselnya saja yang mirip. Ia menghela napas panjang. Saat mengangkat telepon, wajah pria itu tampak sedikit melembut. Ia bahkan berbicara dengan nada yang lebih halus. “Iya, saya akan datang untuk memilih baju pernikahan. Saya hanya sedikit terkendala, sebentar lagi saya ke sana.” Samar-samar Dea menangkap percakapan Baskara. Ternyata, pria itu sudah punya pacar. Dokter tersenyum kepada Dea. “Lutut Anda mengalami bengkak. Sementara saya baru diagnosis cuma bengkak saja. Untuk pastinya ini harus ronsen untuk mengecek keretakan atau bengkak.” “Baik, Dokter.” Baskara sudah kembali dari menelepon, ia menghampiri dokter yang berdiri tak jauh dari kasur. “Dokter Mira, saya harus segera pergi, mohon tagihan kirimkan ke nomor saya seperti biasa,” ucapnya tegas. Lalu ia memandang ke arah Dea dan memberikan sebuah kartu di tangannya. “Ini uang transport, pakai saja, tak usah kembalikan.” Dea menelan ludah. Entah kenapa jantungnya terasa sempit sejak mendengar ucapan Baskara di telepon. Pria itu tampak buru-buru setelah menerima panggilan itu, kemungkinan besar hendak menemui pacarnya itu. Dea meremas kartu itu di tangannya dan diam-diam memandangi punggung Baskara yang menghilang dari pintu kaca. “Dea, sudah siap saya antar ke ruang ronsen? Perawat kami akan mengantarmu ke sana,” ucap sang dokter sangat pelan. “Iya, sudah siap.” Lamunan buyar Dea pun sirna. Ia membalas senyuman sang dokter dengan senyuman tipis, berjalan meski langkah kaki agak sedikit terseok-seok untuk mengikutinya ke ruang khusus periksa. Untungnya, luka Dea tidak parah. Selesai diperiksa dan diberikan obat, karyawan di rumah sakit itu juga secara khusus membantu Dea, memanggilkan taksi untuk membawa Dea pulang ke rumah. Seperti biasa, rumah besar yang ditinggali itu sepi. Dea melangkah dengan hati-hati dan membuka pintu. Namun, tepat di sana, ia malah mendengar suara yang janggal.Baskara menatap serius kedua anak muda yang tampak canggung melihat kehadirannya. Dea menggaruk kepalanya tak gatal dan melepaskan sabuk pengaman.“Vin, aku langsung masuk, ya.”Vino mengangguk cepat dan tampak raut wajah penuh kecewa. “Oke, chat aku kalau ada apa-apa, Rapunzel.”Dea mengatur napasnya kala keluar dari mobil itu. Ia melirik pamannya yang tak ada kata-kata sepatah pun, tetapi tatapan pria dingin dan mengintimidasi jauh lebih menyeramkan.Kali ini bukan sekuriti ataupun sopir yang membukakan gerbang. Baskara sendiri. Ini yang membuat dada Dea terasa kembang kempis, apalagi baru pagi tadi pria itu menekankan jangan dekat-dekat dengan Vino.“Maaf, aku pulang kesorean, Om. Pak Sobri tadi chat kalau mobil ban mendadak kempes di jalan, jadi Vino yang mengantarku pulang.”Baskara diam saja. Di balik diamnya pria ini, Dea waspada kalau amarah pamannya akan meledak. Ia sudah wanti-wanti dan mengatur telinganya mendengarkan si mulut lantam bicara.Baskara mendorong gerbang rumah
“Ah, iya! Bos sekarang memang tampan maksimal, tapi galak banget, duh! Aku takut banget buat janji dengannya!”Tiba-tiba di sela para karyawan yang merumpi muncul wanita berpakaian glamor berwarna senada merah jambu dan kacamata hitam tebal berhenti di antara kubikel.“Kamu siapa, ya?” tanya wanita bername tag Stevani menghentikan langkah wanita itu.“Oh, iya… aku belum sempat mengenalkan diriku. Namaku Chika, calon istrinya Baskara.” Chika melepaskan kacamatanya dan disimpan dalam tas bermerk.“Ma-maaf Bu Chika, untuk bertemu Pak Baskara harus buat janji dulu,” ucap Stevani agak hati-hati.“Apa? Kamu panggil aku dengan sebutan ‘Ibu’? Bahkan perawatan kulit pun masih mahalan aku, lho. Oh, namamu Stevani, ya? Aku laporkan ke calon suamiku untuk memecat karyawan rendahan sepertimu!”Kericuhan pun terjadi. Para karyawan berdatangan dan mencoba melerai. Kebisingan ini sampai di telinga Baskara. Pria itu pun beranjak dari duduknya dan melangkah ke sumber suara.Derap langkah gagah dan be
Dea duduk bersebelahan sama Baskara. Pria dingin dan terkesan tak mempunyai perasaan fokus menatap layar laptop dipangku.Drrrttt…Dea meraba ponselnya. Ah, ia baru ingat kalau nada dering mereka sama.“Om, ponsel bunyi, tuh!” Baskara sama sekali tak mengindahkan Dea. Pria itu mengernyitkan dahi dan tangan kekar mengetik cepat. “Om…”Pria maskulin berahang tegas menoleh ke arahnya. Sedikit menggertakkan rahang. “Diam, Dea. Saya sedang ada meeting.”Dea menghela napas panjang. Ia pun mengambil headset di saku celananya. Mencoba memejamkan mata, entah mengapa setiap berkendara ia selalu ingin tidur dan berharap cepat sampai.Baru saja memejamkan mata.“Ahhh..!!!” Dea berteriak kencang, dadanya kembang kempis, matanya melirik ke kiri dan kanan.Sopir pribadi Baskara mengerem mendadak. “Maaf, Mbak Dea dan Tuan Baskara. Tadi ada lubang.”Dea meraup wajahnya. Mendadak keringat dingin mengucur pelipisnya. “Dea, bersandar saja di bahu saya.”Sedangkan Baskara langsung menutup layar cukup
Dea membuka matanya lebar-lebar. Badannya masih lemas. Dahi dikompres air hangat.Langit kamar sudah terang, Bi Inem ada di dekatnya sambil mengganti kompres di dahinya.“Bi Inem, sekarang jam berapa?”“Sudah jam delapan pagi.”“Lho, aku telat dong ke kampus.”“Hari ini Mbak Dea izin ndak masuk ke kampus. Tuan Baskara sudah menelpon dosen dan katanya hari ini cuma ada kuliah umum, itu pesan Tuan.”Dea merasakan tubuhnya masih sangat panas. Ia demam semalaman. Namun, ia tak mengingat apa pun kecuali Baskara mengantarnya ke kamar tidur saat di kamar mandi. Selebihnya, ia tak sadarkan diri.“Makan bubur dulu, Mbak, Bi Inem bantu duduk.” Inem perlahan membenarkan tubuh Dea bersandar di dipan kasur, lalu menyuapinya dengan penuh kasih sayang.“Makasih Bi Inem sudah mau merawatku,” ucap Dea tersenyum hangat sambil memperhatikan wanita itu lamat-lamat.“Mbak Dea itu sudah Bi Inem anggap sebagai anak sendiri. Jangan merasa sungkan kayak gitu.”Dea mengangguk. “Om Baskara mana, Bi?”“Sudah ber
Baskara tanpa basa-basi lagi langsung mendikte cara berpakaian Dea. Sedangkan Dea reflek melihat dirinya sendiri dan menganggap semua biasa saja.“Apa yang salah Om? Aku udah biasa pakai baju kayak gini di rumah. Benar kan, Bi Inem?”Bi Inem di antara keduanya serba salah. Perempuan paruh baya itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia lupa kalau Baskara pernah memberi tahu perihal berpakaian Dea, ia belum menyampaikan aturan itu.“A-anu, Mbak Dea, ayo segera mandi! Bi Inem bantu cek kadar airnya ya, takutnya sudah dingin.”Bi Inem serba salah. Ia takut diomelin Baskara, langsung saja menarik pergelangan tangan Dea, sambil memberi bantuan saat jalan menuju kamar.“Bi Inem, sementara kamar Dea jangan di lantai dua dulu, kakinya masih sakit,” suara Baskara terdengar lagi saat ia beranjak dari meja makan dan segera pergi meninggalkan Dea dan Bi Inem.“Baik, Tuan.”—— Dea sedikit meringis saat mengangkat kakinya masuk ke dalam bathub. “Aduh… Ngilu banget!”Perlahan rasa ngilu di lututnya
“Kamu telat lagi, Baskara! Kamu niat nikah sama aku nggak, sih?”Wanita itu melipat kedua tangannya di dada, menatap Baskara dengan wajah bersungut-sungut.Baskara hanya mendesah pelan sambil mengusap kepalanya. “Chika, ini sudah fitting baju yang kelima kali. Sampel yang kemarin juga sudah ada belasan. Semuanya sudah bagus.”“Bagus buat kamu, belum tentu pas buat aku!” bentak Chika makin menjadi. “Harusnya kamu mendampingi aku dari tadi, bukannya malah datang terlambat! Kalau kamu masih acuh begini, mending pernikahan kita batalin aja sekalian!”Baskara menatap Chika datar tanpa ada raut panik sedikit pun di matanya.“Oke. Kalau itu mau kamu, kita batalkan saja.”Chika mendadak bungkam. Matanya membelalak, sama sekali tidak menyangka ancaman gertakannya justru ditanggapi dingin tanpa ragu.Rasa gengsi dan amarahnya seketika luntur, berganti cemas. Senyum manis langsung diukirnya saat ia mendekat dan melingkarkan kedua tangannya dengan lembut di leher Baskara.“Sayang... aku kan cuma







