Home / Romansa / Om Bule Kekasihku / Sebuah Rencana

Share

Sebuah Rencana

Author: Sabrina dewi
last update publish date: 2026-03-14 17:35:13

Hari-hari berikutnya di Paris seharusnya menjadi waktu yang lebih tenang bagi Nadia sejak Daniel datang.

Setiap pagi mereka berjalan bersama menuju studio Nadia di Montmartre. Kadang Daniel membawa kopi dan croissant dari toko roti kecil di sudut jalan. Nadia melukis sementara Daniel duduk di dekat jendela, memantau perusahaannya, mengedit foto atau sekedar memperhatikan proses Nadia bekerja.

Untuk beberapa jam, semuanya terasa normal.

Namun bayangan yang sama masih muncul.

Adrien Laure
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Om Bule Kekasihku   Rencana Masa Depan

    Seminggu setelah Noah dan Nora pulang ke Villa Blankenese, seluruh penghuni rumah akhirnya memahami satu kenyataan yang sama. Bayi kembar memang menggemaskan. Sangat menggemaskan. Namun mereka juga mampu membuat seluruh rumah kehilangan jadwal tidur yang normal. Termasuk Daniel Charter. Pria yang selama bertahun-tahun mampu mengelola perusahaan internasional, menghadapi negosiasi bernilai miliaran euro dan menyelesaikan krisis bisnis tanpa kehilangan ketenangan. Kini terlihat kebingungan karena dua bayi berusia beberapa hari. Dan hal itu menjadi hiburan bagi seluruh keluarga. Pukul dua dini hari. Noah menangis. Daniel langsung bangun. Beberapa detik kemudian Nora ikut menangis. Daniel bangun sepenuhnya. Lalu lima menit kemudian Noah kembali menangis dan Nora menyusul. Daniel menatap langit-langit kamar. "Mereka ini kerja sama." Nadia yang sedang menyusui Nora tertawa pelan. "Mereka masih bayi" jawab Nadia. "Mereka bersekongkol" kata Daniel. "Kamu terlalu banyak mem

  • Om Bule Kekasihku   Sebuah Keluarga

    Suasana hangat yang tercipta setelah percakapan antara Margaret dan Ayu masih terasa bahkan hingga malam hari. Villa Blankenese yang besar itu dipenuhi tawa, percakapan, dan sesekali tangisan kecil Noah atau Nora yang langsung membuat setengah penghuni rumah bergerak bersamaan. Malam itu setelah makan malam selesai, sebagian besar keluarga berkumpul di ruang keluarga. Perapian memang tidak dinyalakan karena musim panas, tetapi lampu-lampu hangat dan suara ombak Sungai Elbe di kejauhan menciptakan suasana yang nyaman. Noah sedang tidur di pelukan Daniel. Sedangkan Nora tertidur di gendongan Nadia. Pemandangan yang masih membuat semua orang tersenyum. Karena beberapa bulan lalu, kamar bayi itu masih kosong. Dan sekarang ada dua penghuni kecil yang menjadi pusat dunia mereka. Di sofa panjang, Ayu duduk di samping Margaret. Kalung pemberian Margaret masih tergantung di lehernya. Beberapa kali tangannya tanpa sadar menyentuh liontin kecil itu. Margaret memperhatikannya. "Kamu men

  • Om Bule Kekasihku   Sebuah Undangan

    Beberapa hari setelah kepulangan Noah dan Nora ke Villa Blankenese, kehidupan perlahan mulai menemukan ritmenya. Meski "tenang" mungkin bukan kata yang tepat. Karena sekarang ada dua bayi yang bisa bangun bergantian sepanjang malam. Atau kadang-kadang bersamaan. Yang menurut Daniel merupakan bentuk konspirasi kecil terhadap waktu tidurnya. Pagi itu seluruh keluarga sedang menikmati sarapan di teras belakang. Udara musim panas Hamburg terasa nyaman. Noah tertidur di gendongan Nadia. Sedangkan Nora sedang berada dalam pelukan Oma Margaret yang tampak sangat menikmati perannya sebagai nenek. "Aku rasa aku akan pindah ke Hamburg" kata Margaret tiba-tiba. Thomas yang sedang minum kopi hampir tersedak. "Kita sudah membahas ini." Margaret tersenyum. "Dan aku masih menyukainya." Daniel hanya menggeleng. Sementara Elena langsung menyambut ide itu. "Oma tinggal di sini saja." Margaret tertawa. "Nanti Opa protes." "Aku tidak protes" jawab Thomas. "Kamu tidak protes?" tanya Marg

  • Om Bule Kekasihku   Kehangatan Keluarga

    Villa Blankenese yang selama beberapa bulan terakhir dipenuhi persiapan kelahiran kini memasuki babak baru. Babak yang jauh lebih ramai. Jauh lebih berisik. Dan jauh lebih melelahkan. Noah Charter dan Nora Charter akhirnya resmi menjadi penghuni termuda villa itu. Dan seluruh isi rumah mulai menyadari satu fakta penting. Dua bayi kecil bisa mengubah ritme hidup seluruh keluarga. Pukul tiga dini hari. Daniel terbangun. Bukan karena alarm. Bukan karena panggilan pekerjaan. Melainkan karena suara tangisan kecil. Ia membuka mata perlahan. Lalu mendengar suara tangisan kedua menyusul beberapa detik kemudian. Daniel langsung duduk. "Nadia." Nadia yang juga baru terbangun menghela napas pelan. "Keduanya?" tanya Nadia. "Keduanya." Mereka saling berpandangan. Lalu tertawa kecil. Karena ternyata beginilah rasanya menjadi orang tua bayi kembar. Keesokan paginya, Daniel yang biasanya selalu terlihat sempurna kini tampak sedikit berbeda. Rambutnya tidak serapi biasanya. Matany

  • Om Bule Kekasihku   Pulang Ke Rumah

    Pagi itu suasana rumah sakit terasa jauh lebih sibuk dibanding hari-hari sebelumnya.Namun kali ini bukan karena keadaan darurat. Bukan karena kontraksi mendadak. Bukan karena kepanikan. Melainkan karena satu hal sederhana, mereka akan pulang. Noah Charter dan Nora Charter akhirnya diperbolehkan meninggalkan rumah sakit bersama orang tua mereka. Setelah beberapa kali pemeriksaan terakhir, dokter memastikan kondisi Nadia sangat baik. Kedua bayi juga sehat dan berkembang sesuai harapan. Daniel bahkan meminta dokter menjelaskan semuanya dua kali. Nadia sampai menggeleng sambil tertawa. "Dokter sudah bilang mereka sehat." "Aku hanya memastikan" jawab Daniel dengan tenang. "Dan kamu memastikan lima kali." "Itu berbeda" kata Nadia. Karena tidak ada yang lebih protektif daripada Daniel ketika menyangkut keluarganya. Di sisi lain kamar, Elena sedang memperhatikan Noah yang tertidur. "Dia tidur terus." Ayu tertawa. "Itu memang pekerjaan bayi." Elena berpikir sejenak. "Tidur it

  • Om Bule Kekasihku   Noah Dan Nora Charter

    Empat hari setelah kelahiran bayi kembar, suasana di rumah sakit jauh berbeda dibanding malam penuh kepanikan ketika Nadia tiba dengan kontraksi yang datang terlalu cepat. Kini tidak ada lagi kecemasan. Tidak ada lagi wajah-wajah tegang. Yang ada hanyalah kebahagiaan. Dan sedikit kelelahan karena dua bayi kecil ternyata memiliki kemampuan luar biasa untuk membuat seluruh keluarga kurang tidur. Pagi itu kamar VIP, Daniel sedang memangku bayi laki-lakinya. Nadia menggendong bayi perempuan mereka. Elena duduk di sofa sambil memperhatikan keduanya dengan penuh rasa ingin tahu. "Aku masih tidak percaya mereka benar-benar ada" kata Elena. Daniel menatap putrinya. "Beberapa hari lalu kamu juga bilang begitu" ucap Daniel. "Iya tapi aku masih tidak percaya" kata Elena dengan nada heran. Semua tertawa. Elena memang belum bosan menjadi kakak. Bahkan sebaliknya. Ia menghabiskan hampir seluruh waktunya memperhatikan adik-adiknya. Dan seperti biasa, selalu memiliki banyak pertanyaa

  • Om Bule Kekasihku   Ketika Sunyi Menjadi Tempat Pulang

    Hari pembukaan pameran tiba dengan cara yang nyaris tidak dramatis. Tidak ada karpet merah. Tidak ada bunga berlebihan. Tidak ada keramaian kamera. Hanya sebuah galeri kecil di Altona, pintu kaca sederhana, dan papan nama putih bertuliskan nama Nadia dengan huruf yang tidak besar namun cukup bera

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Om Bule Kekasihku   Rumah Yang Tidak Minta Penjelasan

    Usulan itu datang di saat yang nyaris tanpa rencana. Pagi sebelum keberangkatan mereka ke London, Margaret berdiri di dekat jendela apartemen, menatap sungai kecil yang mengalir pelan. Ia memutar cangkir tehnya, lalu berkata seolah berbicara pada udara. “Kalian tahu,” katanya ringan, “villa kelu

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Om Bule Kekasihku   Harga Dari Kejujuran

    Pagi itu, Hamburg tidak memberi isyarat apa pun. Langit biru pucat, udara dingin bersih, kota berjalan seperti biasa seolah hidup Daniel dan Nadia tidak sedang berada di titik rawan. Nadia berdiri di dapur, menyiapkan sarapan sederhana. Tangannya bergerak otomatis, pikirannya tidak. Daniel duduk

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Om Bule Kekasihku   Orang-Orang Yang Datang Untuk Tinggal Sebentar

    Kedatangan Thomas dan Margaret kali ini tidak diumumkan jauh-jauh hari, mereka datang secara tiba-tiba seperti sebelumnya.. Daniel menerima pesan singkat dari ayahnya saat ia sedang di kantor: “Kami di Hamburg sore ini. Jangan kaget.” Daniel tersenyum kecil, senyum yang sudah lama tidak ia rasak

    last updateLast Updated : 2026-03-23
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status