Mag-log inBegitu Leon dan Mira menghilang ke dalam lift...Area marketing mendadak hening.Lima detik.Sepuluh detik.Lalu..."AAAAAA!"teriak Sisca.Alena yang masih berusaha menenangkan jantungnya sampai terlonjak dari kursinya."Apa lagi sih?!"Sisca langsung menunjuk lift yang sudah tertutup."Itu!""Itu apa?""'Nanti Alena bisa resign!'"Sisca menirukan suara Leon dengan dramatis. Alena langsung memegang kepala."Tolong jangan diulang.""Tidak bisa.""Kenapa?""Karena aku merinding."Alex menghela napas."Aku juga dengar.""Nah kan!"Sisca langsung menepuk meja."Itu bukan kalimat bos biasa."Alena mendelik."Itu kalimat orang yang takut kehilangan karyawan.""Bohong.""Benar."Seperti biasa, Alena memilih diam daripada harus adu mulut dengan Sisca. Ekspresi Sisca sangat serius. Bahkan terlalu serius."Aku tahu sekarang.""Apa?""Pak Leon pasti sudah membayangkan masa depan."Alena langsung memejamkan mata."Tolong jangan mulai.""Tidak."Sisca mengangkat telunjuk."Analisis ini berdasarka
Alena sudah benar-benar hampir putus asa. Karena perasaannya sudah tidak tenang, di kepalanya sekarang hanya ada satu ketakutan.Aduh mati aku.Jangan-jangan aku mau dituduh jadi pelakor lagi.Penyebab hubungan mereka bermasalah.Dan karena terlalu panik ... tanpa sadar Alena malah menambahkan,"Aku juga tidak minta apa-apa.""Hm?""Maksud saya..."Alena langsung ingin menepuk mulutnya sendiri. Namun semuanya sudah terlambat."Aku tidak minta apa-apa."Mira mulai penasaran."Lalu?""Pak Leon sendiri yang antar boneka singa."Hening.Mira membeku."Hah?"Alena ikut membeku.Astaga.Kenapa omongan seperti itu keluar dari mulutnya?"Apa?"Mira berkedip."Boneka singa?"Alena langsung ingin menghilang dari muka bumi.Sementara di kejauhan ... Sisca yang sedang menguping hampir jatuh dari kursinya."ASTAGA!""Kali ini aku juga bakal kena masalah!"Alex buru-buru menarik lengannya."Kok bisa?""Aku kan konsultannya!""Hah?"Tapi Sisca malah berdiri dan menegakkan tubuhnya."Duduk!""Tapi in
Alena berdiri kaku di depan Mira Mahardika.Jujur saja ... ia lebih memilih menghadapi deadline mendadak daripada situasi seperti ini. Karena wanita di depannya adalah ibu Leon.Dan entah kenapa ... fakta itu saja sudah cukup membuatnya gugup."Jangan tegang begitu."Mira tersenyum kecil."Hah?""Kamu seperti sedang diwawancarai polisi.""Ti-tidak kok, Bu."Jawaban itu keluar terlalu cepat. Mira langsung tertawa.Lucu juga, anak ini benar-benar mudah dibaca.Sementara di kejauhan ... Sisca yang pura-pura bekerja sudah menggeser kursinya beberapa sentimeter lebih dekat."Astaga."gumamnya."Apa lagi?"tanya Alex."Lena sedang diinterogasi.""Itu cuma ngobrol.""Tidak."Sisca menggeleng mantap."Itu wawancara calon menantu."Alex langsung memejamkan mata.Sementara itu ... Mira kembali menatap Alena."Kamu kerja di sini sudah lama?""Belum terlalu lama, Bu.""Oh."Mira mengangguk."Betah?""Alhamdulillah betah.""Teman-temannya baik?""Iya.""Atasanmu?""Baik juga."Mira tersenyum. Jawa
Leon mulai menyadari satu kenyataan pahit. Ibunya tidak bercanda. Sama sekali tidak bercanda.Awalnya ia masih berpikir Mira hanya akan bertahan satu atau dua jam di perusahaan. Bertanya beberapa hal, lalu pulang. Namun ternyata ia terlalu naif. Karena dua jam kemudian...Mira masih ada.Tiga jam kemudian...Masih ada.Bahkan menjelang makan siang...Wanita itu masih berkeliaran di lantai direktur dengan semangat yang sama seperti pagi tadi. Leon yang baru keluar dari ruang rapat langsung memijat pelipis."Ibu.""Hm?""Ibu tidak bosan?""Tidak."Leon terdiam. Lalu mencoba cara lain."Ibu pergi belanja saja."Sambil berbicara, ia bahkan mengeluarkan sebuah kartu hitam dari dompetnya. Black card miliknya. Biasanya kartu itu cukup ampuh menyelesaikan banyak masalah.Namun tidak untuk Mira. Wanita itu hanya melirik sekilas, sama sekali tidak tertarik. Kemudian mengangkat alis."Memangnya Ibu kekurangan kartu?"Leon langsung terdiam.Benar juga.Kesalahan besar.Karena orang yang sedang
Akhirnya Alena tidak tahan lagi. Karena Sisca terus menatapnya seperti penyidik yang sedang menginterogasi tersangka."Apa lagi sih?"Sisca langsung duduk tegak."Kau menyembunyikan sesuatu.""Aku tidak menyembunyikan apa-apa.""Bohong.""Nggak.""Bohong."Alex langsung menghela napas. Sudah mulai lagi. Akhirnya Alena menyerah.Dan tanpa sadar menceritakan semua yang terjadi semalam.Tentang ibunya.Tentang wawancara Mira.Dan tentang kalimat yang terus mengganggu pikirannya sejak kemarin."Mungkin dalam waktu dekat anak saya akan rujuk dengan mantan istrinya."Begitu cerita selesai ... Sisca membeku. Kemudian perlahan berdiri. Lalu menunjuk ke arah langit-langit."BUAYA!"Beberapa staf langsung menoleh. Alex memijat pelipis."Kau bisa tidak bicara pelan?""Tidak bisa!"Sisca tampak sangat kecewa."Aku membela dia.""Iya.""Aku promosi dia.""Iya.""Aku jadi mak comblang gratis.""Iya.""Eh ternyata malah mau rujuk."Alex kembali menghela napas."Itu baru dugaan.""Tapi ibunya sendiri
Keesokan paginya.Begitu Alena masuk ke ruang marketing, ia langsung merasa ada yang aneh. Karena sejak tadi seseorang terus menatapnya.Sisca.Tatapan itu bahkan tidak berusaha disembunyikan.Alena baru meletakkan tasnya ketika Sisca langsung memutar kursi.Kemudian menatapnya.Lalu tersenyum.Kemudian menatap lagi.Lalu tersenyum lagi.Alena mulai merinding."Apa?"Sisca tetap tersenyum."Ada yang bahagia nih.""Hah?""Ada yang bahagia pastinya.""Apa sih?"Sisca langsung menusuk pinggang Alena dengan ujung pulpennya."Aduh!""Nah.""Nah apanya?""Jangan berlagak.""Aku nggak berlagak.""Bohong.""Nggak.""Bohong.""Nggak."Sisca menyipitkan mata."Yang kemarin tidur sama singa semalaman pasti bahagia."Wajah Alena langsung memerah."ENGGAK!""Bohong."Alena akhirnya mendengus kesal."Disita ibuku."Sisca membeku."Hah?""Sekarang singanya tidur di kamar ibuku."Kini giliran Sisca yang melongo."Apa?""Jadi gimana aku mau bobok bareng?"Begitu kalimat itu keluar... Alena langsung me
Akhirnya Alena menyerah, Ia tahu percuma membantah. Kalau Leon sudah memutuskan sesuatu, biasanya tidak mudah diubah."Baiklah, Pak."Leon mengangguk pelan. Mereka berjalan menuju pintu rumah. Belum sempat Alena mengetuk, pintu sudah lebih dulu terbuka. Ibunya muncul dengan senyum yang langsung be
Sejak pagi itu, Leon merasa dirinya jauh lebih sulit berkonsentrasi daripada biasanya. Beberapa kali ia mencoba fokus pada pekerjaan. Membaca laporan, menandatangani dokumen, menghadiri rapat. Namun tanpa sadar, pandangannya selalu kembali ke area kerja para karyawan.Lebih tepatnya ... Ke satu mej
Sejak pulang dari rumah ibunya, Leon merasa ada sesuatu yang berubah pada dirinya. Ia tidak tahu kapan perubahan itu dimulai. Namun setiap kali tiba di kantor, matanya selalu bergerak lebih dulu daripada pikirannya.Pagi itu, begitu keluar dari lift dan berjalan menuju ruang direktur, pandangannya
Alex sebenarnya ingin membantah. Ia ingin mengatakan kalau Sisca salah paham. Namun kata-kata itu justru tertahan di tenggorokannya. Matanya tanpa sadar mengarah ke meja Alena. Perempuan itu sedang sibuk bekerja sambil sesekali merapikan rambutnya yang jatuh ke depan wajah. Alex tersenyum kecil. S







