LOGINPagi itu, setelah Alena berangkat bersama Leon, Bu Rina baru saja selesai membereskan meja makan ketika terdengar suara pagar dibuka."Bu Rina!"Bu Rina yang sedang membawa beberapa piring langsung menoleh."Bu Siti?"Bu Siti berjalan masuk sambil membawa sebuah kotak kue yang cukup besar."Ini saya bawakan kue.""Wah, terima kasih."Bu Rina menerima kotak tersebut. Namun bukannya langsung pulang, Bu Siti malah mengikuti Bu Rina masuk ke ruang tamu. Bu Rina mulai merasa ada sesuatu."Bu Siti mau minum?""Boleh."Bu Rina tersenyum. Iasudah tahu. Kalau Bu Siti hanya ingin mengantar kue, seharusnya dari tadi sudah pulang.Beberapa saat kemudian, teh sudah tersedia di meja. Bu Siti menyeruput minumannya, lalu bertanya dengan nada santai."Bu Rina.""Hm?""Itu tadi yang menjemput Alena siapa?"Bu Rina tersenyum."Leon.""Oh..."Bu Siti mengangguk-angguk."Jadi benar?""Benar apa?""Yang katanya calon suaminya itu?"Bu Rina mengangguk."Iya."Mata Bu Siti langsung berbinar."Astaga, benar-b
Pagi itu Alena akhirnya tiba di kantor setelah menyelesaikan rutinitas lari paginya bersama Leon.Sejak hubungan mereka diketahui banyak karyawan, Alena sebenarnya sudah terbiasa menjadi bahan godaan.Namun pagi ini terasa sedikit berbeda. Begitu memasuki ruangan, beberapa orang langsung menoleh kepadanya."Alena!"Alena berhenti."Iya?"Salah seorang karyawan langsung tersenyum lebar."Kapan bagi undangan?"Alena langsung mengerutkan kening."Undangan apa?""Undangan pernikahan!"Beberapa orang langsung tertawa. Alena menghela napas."Belum ada.""Belum?""Iya.""Kok lama sekali?"Alena menatap mereka satu per satu."Kalian ini kenapa sih?"Salah seorang karyawan perempuan langsung ikut menyahut."Kalau aku punya calon seperti Pak Leon, aku tidak mau lama-lama."Alena langsung tertawa."Terus?""Langsung minta dilamar!"Karyawan lain ikut tertawa."Benar!""Alena, kamu minta cepat dilamar dong!""Jangan sampai Pak Leon kelamaan mikir!""Apalagi yang harus ditunggu? Uang, rumah, mobil
Jam di dinding baru menunjukkan pukul setengah enam pagi ketika suara ketukan terdengar dari pintu rumah Alena.Tok... tok... tok...Alena yang masih berada di kamar langsung membuka mata. Ia mengerutkan kening.Siapa yang datang sepagi ini?Suara ketukan kembali terdengar.Tok... tok... tok...Dari ruang depan, terdengar suara Bu Rina."Siapa pagi-pagi begini?"Alena akhirnya bangun dari tempat tidur dan berjalan keluar dengan langkah malas. Begitu pintu dibuka, matanya langsung membesar."Om?"Leon berdiri di depan rumah dengan beberapa kantong makanan di tangannya."Pagi."Alena masih menatapnya tidak percaya."Om ada apa ini?"Leon mengangkat kantong yang dibawanya."Nyogok camer."Alena langsung melongo."Nyogok?""Iya.""Buat apa?""Biar dilancarkan."Leon tersenyum santai. Alena langsung menahan tawa."Ya ampun, Om!"Dari belakang, Bu Rina muncul sambil mengusap matanya."Leon?"Leon segera menoleh."Pagi, Bu.""Kenapa datang pagi sekali?""Saya bawa sarapan."Bu Rina menerima
Leon baru saja tiba di rumah ketika ia melihat ibunya sudah duduk menunggunya di ruang tengah. Mira bahkan tidak terlihat sedang melakukan apa-apa. Sepertinya memang sengaja menunggu kepulangannya. Leon langsung tersenyum kecil."Ibu, ada apa ke sini malam-malam?""Harusnya sudah malam seperti ini, ibu istirahat saja.""Ada yang ingin ibu bicarakan denganmu.""Kau dari mana? Tempat Alena?"Leon meletakkan kunci mobil di atas meja."Alena tadi ingin istirahat lebih cepat, jadi aku langsung mengantarnya."Mira mengangguk, tetapi wajahnya justru menunjukkan sesuatu yang lain. Leon sudah hafal ekspresi itu. Ada sesuatu yang ingin ditanyakan. Dan benar saja."Leon.""Iya, Bu?""Kenapa kamu setuju saja sih waktu Alena minta waktu sampai satu tahun?"Leon menahan senyum. Ia sudah menduga ibunya akan membahas hal itu cepat atau lambat."Memangnya kenapa, Bu?""Kenapa?"Mira langsung menatap putranya."Umurmu juga sudah tidak muda lagi."Leon mengangkat alis."Ibu sedang mengingatkan umur anak
Alena masih belum sepenuhnya percaya dengan percakapan mereka di dalam mobil tadi. Ia tidak menyangka Leon sudah tidak sabar untuk menikahinya, karena awalnya saat dia minta waktu setahun, Leon terlihat tenang-tenang saja.Dan pria itu mengatakannya dengan wajah begitu serius. Ia bahkan belum sempat memikirkan bagaimana harus menjawab jika Leon benar-benar membawa pembicaraan itu ke tahap yang lebih serius.Namun ternyata... Leon jauh lebih gercep daripada yang Alena bayangkan. Begitu mobil berhenti di depan rumah, Alena langsung menoleh."Om?""Hm?""Kenapa berhenti di sini?"Leon mematikan mesin."Kan mau mengantarkan kamu pulang.""Iya, tapi..."Alena melihat ke arah rumah."Om tidak mau langsung pulang?"Leon tersenyum."Memangnya kenapa?""Biasanya Om cuma mengantar sampai depan.""Hari ini beda.""Bedanya apa?"Leon membuka sabuk pengamannya."Om mau mampir."Alena langsung menatapnya tidak percaya."Hah?""Ayo.""Om!"Leon sudah turun dari mobil.. Alena buru-buru menyusul. Dia
Mobil melaju meninggalkan tempat mereka menghabiskan sore. Alena duduk santai di samping Leon. Wajahnya terlihat jauh lebih cerah dibandingkan beberapa jam sebelumnya. Bahkan senyum kecil masih tersisa di bibirnya.Leon sesekali melirik ke arahnya."Sudah lebih segar?"Alena mengangguk."Sudah.""Berarti jalan-jalan tadi berhasil.""Berhasil banget."Alena tersenyum."Terima kasih ya, Om.""Jangan terima kasih dulu.""Kenapa?""Kalau besok kamu kembali bekerja sampai lupa waktu, Om culik lagi."Alena tertawa."Emang Om mau culik pacar sendiri?""Kalau perlu.""Terus kalau aku berteriak?""Om tutup mulutmu.""Ih, malah serem."Leon ikut tertawa."Tapi..."Ia melirik Alena sekilas dengan senyum jahil."Om bisa tutup mulutmu dengan cara lain."Alena yang tidak menyadari maksud perkataan itu langsung bertanya polos,"Cara apa, Om?"Leon tidak menjawab. Ia hanya menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum penuh arti. Alena masih menatapnya dengan wajah bingung. Namun beberapa detik kemudian,
Hari ketiga Alena bekerja di Mahardika Group seharusnya berjalan seperti biasa. Ia sudah mulai hafal ritme divisi sales, mengenal beberapa rekan kerja, dan menyesuaikan diri dengan suasana kantor yang cepat dan kompetitif. Namun pagi itu, suasana berubah sejak sebuah pesan dari atasannya masuk ke p
Pintu ruang wawancara tertutup pelan di belakang Alena, namun detak jantungnya masih belum benar-benar stabil. Beberapa menit sebelumnya, ia baru saja bertemu kembali dengan Leon di dalam lift. Pria itu tetap sama, tampan, dingin, dan memancarkan aura yang membuat orang otomatis menjaga jarak. Dan
Lima tahun kemudian, Alena berdiri di depan cermin kamar sambil menatap pantulan dirinya dalam diam yang cukup lama. Wanita di depannya bukan lagi gadis kecil yang pernah nekat mengajak pria asing menikah demi dua mangkuk bakso dan segelas es teh. Wajahnya kini lebih dewasa, dengan garis rahang yang
Sudah seminggu. Dan Leon tidak muncul lagi. Awalnya Alena masih berpikir pria itu hanya sibuk bekerja seperti biasa, mungkin lembur, mungkin ada meeting penting, karena bukankah orang kaya memang selalu sibuk. Namun setelah beberapa hari berlalu dan mobil hitam Leon tak pernah lagi terlihat masuk k







