Se connecterSiang itu, ketika Alena masih berada di kantor, Bu Mira datang berkunjung ke rumahnya. Bu Rina yang sedang berada di ruang tengah langsung tersenyum ketika membuka pintu."Eh, Bu Mira.""Hai, Bu Rina.""Silakan masuk."Bu Mira membawa sebuah tas besar di tangannya."Maaf mengganggu.""Ah, tidak.""Kebetulan Alena masih di kantor."Bu Mira mengangguk."Tidak apa-apa."Bu Mira tertawa kecil."Aku tiba-tiba ingin ngobrol saja dengan kamu."Mereka kemudian duduk di ruang tamu. Setelah berbasa-basi sebentar, Bu Rina tiba-tiba teringat sesuatu. Sebenarnya sejak beberapa hari lalu ada satu hal yang mengganjal pikirannya. Ia ingin bertanya kepada Bu Mira, tetapi selalu mengurungkan niat. Namun kali ini kesempatan datang begitu saja."Bu Mira...""Hm?""Bu boleh tanya sesuatu?""Tentu."Bu Rina terlihat sedikit ragu."Dulu...""sebelum Leon menikah dengan Cyntia...""Leon pernah punya pacar?"Bu Mira langsung tertawa."Kenapa tiba-tiba bertanya itu?"Bu Rina ikut tersenyum."Entahlah.""Aku c
Malam itu, Leon akhirnya tiba di rumah. Begitu memasuki ruang tengah, ia melihat Bu Mira sudah menunggunya di sofa sambil menikmati secangkir teh. Bu Mira mengangkat wajah dan melirik jam di dinding."Hmm... cepat juga pulangnya.""Iya, Bu."Leon meletakkan kunci mobil di atas meja."Alena tadi kelihatannya agak lelah. Jadi aku langsung mengantarnya pulang.""Biar dia cepat istirahat."Bu Mira mengangguk pelan. Namun beberapa detik kemudian, tatapannya berubah penuh selidik."Leon.""Hm?""Sejak kapan kau mengundang Ibu datang ke perusahaanmu?"Leon yang baru hendak duduk langsung berhenti."Kenapa?""Jangan pura-pura tidak tahu."Bu Mira menyipitkan mata."Ibu datang membawa kue sebanyak itu.""Lalu memanggil Alena calon menantu di depan semua karyawanmu."Leon terdiam. Sementara Bu Mira menyandarkan tubuhnya ke sofa."Padahal setahuku kalian sepakat merahasiakan hubungan kalian di perusahaan."Leon menghela napas."Iya.""Nah."Bu Mira menunjuk putranya."Berarti memang ada sesuatu.
Setelah semua kue dibagikan, suasana kantor perlahan kembali normal. Namun bagi Alena, semuanya justru terasa semakin kacau. Beberapa orang mengucapkan selamat kepadanya. Ada yang menggoda. Bahkan ada yang terang-terangan bertanya sejak kapan dirinya dan Leon berhubungan.Alena hanya bisa tersenyum malu. Untungnya, Bu Mira tidak terlalu lama berada di kantor. Setelah berpamitan, wanita itu meninggalkan beberapa kotak kue untuk dibagikan kepada para karyawan.Begitu semuanya selesai, Alena langsung menuju ruang Leon. Ia mengetuk pintu."Masuk."Alena membuka pintu. Leon yang sedang duduk di belakang mejanya mengangkat wajah. Begitu melihat ekspresi Alena, ia langsung mengerutkan kening."Kenapa?"Alena berjalan mendekat."Om tahu tidak apa yang baru saja terjadi?"Leon tampak tenang."Apa?""Ibu Om datang ke kantor."Leon mengangguk santai."Oh.""Oh?"Alena menatapnya tidak percaya."Ibu Om datang membawa kue sebanyak itu.""Terus memanggil aku calon menantu di depan semua orang!"Leo
Jam istirahat siang membuat suasana kantor sedikit lebih ramai. Beberapa karyawan berkumpul di area pantry sambil menikmati makan siang. Namun kali ini, bukan hanya makanan yang menjadi bahan pembicaraan. Nama Alena kembali muncul."Menurut kalian, kenapa Pak Leon sampai membela Alena seperti itu?""Padahal dia memang salah.""Iya.""Kalau aku jadi Pak Leon, mungkin aku juga akan membelanya."Seorang karyawan perempuan langsung meliriknya."Kenapa?""Karena Alena cantik."Mereka tertawa kecil.Namun seorang lainnya justru menggeleng."Jangan-jangan..."Ia menurunkan suaranya."Alena memang sedang mendekati Pak Leon.""Serius?""Entahlah.""Tapi coba pikir.""Pak Leon biasanya paling tegas kalau menyangkut pekerjaan.""Kenapa sekarang ketika Alena melakukan kesalahan, dia malah sibuk mencari sisi positifnya?""Benar juga."Bisikan itu semakin berkembang."Katanya mereka sering pulang bareng.""Aku juga pernah lihat.""Pagi-pagi juga pernah diantar.""Serius?""Iya.""Kalau begitu..."S
Sejak percakapan dengan Maya pagi itu, Nadia semakin memperhatikan pekerjaan Alena. Bukan lagi sekadar karena rasa curiga. Kali ini Nadia benar-benar ingin menemukan jawabannya.Apakah Alena memang memiliki kemampuan seperti yang dikatakan Leon?Atau selama ini ia hanya terlihat menonjol karena mendapat perhatian dari atasannya?Nadia kemudian memberikan Alena sebuah tugas baru. Sebuah proyek yang cukup penting dan membutuhkan ketelitian tinggi."Alena.""Iya, Bu?""Ini data awal untuk proyek klien. Saya ingin kamu membuat analisis dan proyeksi awalnya."Alena menerima beberapa dokumen dari tangan Nadia."Baik, Bu.""Besok pagi saya ingin melihat hasilnya.""Besok pagi?"Nadia mengangguk."Apakah terlalu cepat?"Alena melihat dokumen di tangannya. Tidak sedikit. Namun ia tidak mengeluh."Baik, Bu. Saya usahakan."Maya yang kebetulan berada tidak jauh dari sana diam-diam memperhatikan. Ia bahkan sempat bertukar pandang dengan Nadia. Keduanya berharap tugas tersebut akan menunjukkan kel
Pagi itu, Alena baru saja keluar dari kamar ketika bel rumah berbunyi.Ting tong...Ia masih mengenakan pakaian rumah bergambar karakter kelinci yang lucu. Rambutnya pun belum benar-benar dirapikan, hanya diikat asal dengan karet rambut."Siapa pagi-pagi begini?"Bu Rina yang sedang berada di dapur ikut menoleh."Memangnya siapa lagi?"Alena berjalan menuju pintu sambil menguap kecil. Begitu pintu dibuka, ia langsung terdiam."Om?"Leon berdiri di depan rumah dengan senyum tenang."Selamat pagi.""Pagi."Alena menatapnya dari atas sampai bawah."Lho, kok pagi-pagi sudah datang?""Om mau tanya sesuatu.""Apa?""Boleh ikut sarapan?"Alena langsung menyipitkan mata."Kenapa minta sarapan di sini?"Leon mengangkat alis."Memangnya tidak boleh?""Boleh.""Tapi aku curiga.""Curiga apa?"Alena menyilangkan tangan di depan dada."Om mau irit, ya?"Leon terdiam sebentar. Kemudian mengangguk santai."Iya. Kok tahu?"Alena langsung terkekeh."Ih, pelit."Leon malah tertawa."Kan Om harus berhem
Sejak pagi, Alena sudah merasa tubuhnya tidak nyaman. Kepalanya terasa berat, sementara matanya sesekali berkunang setiap kali terlalu lama menatap layar komputer. Namun wanita itu tetap berusaha bekerja seperti biasa sambil sesekali meminum kopi dingin yang bahkan sudah tidak terasa efeknya.“Aduh
Hari ketiga Alena bekerja di Mahardika Group seharusnya berjalan seperti biasa. Ia sudah mulai hafal ritme divisi sales, mengenal beberapa rekan kerja, dan menyesuaikan diri dengan suasana kantor yang cepat dan kompetitif. Namun pagi itu, suasana berubah sejak sebuah pesan dari atasannya masuk ke p
Pintu ruang wawancara tertutup pelan di belakang Alena, namun detak jantungnya masih belum benar-benar stabil. Beberapa menit sebelumnya, ia baru saja bertemu kembali dengan Leon di dalam lift. Pria itu tetap sama, tampan, dingin, dan memancarkan aura yang membuat orang otomatis menjaga jarak. Dan
Lima tahun kemudian, Alena berdiri di depan cermin kamar sambil menatap pantulan dirinya dalam diam yang cukup lama. Wanita di depannya bukan lagi gadis kecil yang pernah nekat mengajak pria asing menikah demi dua mangkuk bakso dan segelas es teh. Wajahnya kini lebih dewasa, dengan garis rahang yang







