Share

Hati yang Gelisah

Penulis: Anny Djumadi
last update Tanggal publikasi: 2026-07-09 17:59:31

Leon masih belum menyalakan mesin mobil. Tatapannya tetap mengarah ke pintu rumah Alena.

Beberapa detik kemudian, pintu rumah terbuka. Alena sempat menoleh sekali. Begitu melihat mobil Leon masih terparkir... gadis itu melambaikan tangan kecilnya.

Dadah.

Leon tanpa sadar ikut mengangkat tangannya. Baru setelah pintu rumah itu tertutup, ia mengembuskan napas panjang.

Tangannya kembali menyentuh pipi kirinya.

Tempat yang beberapa detik lalu kembali mendapat "cap" dari Alena. Sudut bibirnya perlah
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Lanita Nissa
om dimabuk cinta
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Kangen Rumah Jadi Alasan

    Hari itu sebenarnya berjalan biasa saja.Leon sedang menghadiri pertemuan lanjutan dengan salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan Arkanza Group. Alena ikut datang karena setelah beberapa hari lebih banyak berada di rumah, ia ingin keluar sebentar.Kehamilannya sudah memasuki bulan keempat. Perutnya mulai terlihat, meski belum terlalu besar. Namun perubahan emosinya justru lebih terasa daripada perubahan fisiknya.Hari itu Alena sedang dalam suasana hati yang cukup baik. Ia bahkan sempat menggoda Leon sebelum berangkat."Jangan lama-lama."Leon menoleh."Kenapa?""Aku bosan di rumah.""Makanya ikut.""Aku ikut bukan berarti aku mau dengar pembicaraan bisnis berjam-jam."Leon tersenyum."Nanti kalau bosan, kita pulang.""Janji?""Janji."Namun setelah acara selesai, Leon masih harus berbicara dengan beberapa orang. Alena yang sudah mulai lelah akhirnya memilih menunggu di lobi. Ia duduk sambil memainkan ponselnya. Sesekali tangannya mengusap perut."Anak Mama, sebentar lagi kita

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Ketika Alena Merasa Kalah

    Beberapa minggu terakhir, Alena semakin sering merasa dirinya berbeda.Kehamilan yang sudah memasuki bulan keempat membuat tubuhnya berubah. Ia lebih cepat lelah, emosinya mudah naik turun, dan terkadang hal kecil saja bisa membuat hatinya terasa berat.Yang paling membuatnya frustrasi adalah proyek. Sejak hamil, ia terpaksa menghentikan semua pekerjaannya. Padahal sebelumnya, Alena begitu menikmati kesibukan itu.Ia suka membuat konsep, bertemu orang, mengatur berbagai hal, lalu melihat hasil pekerjaannya selesai. Sekarang sebagian besar waktunya hanya dihabiskan di rumah.Pagi itu, Alena membuka laptop lama yang masih menyimpan berbagai dokumen proyek. Ia membaca beberapa file. Tiba-tiba muncul rasa rindu."Kalau aku tidak hamil, mungkin aku masih mengerjakan proyek ini."Tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya. Ia langsung merasa bersalah."Maaf, Sayang. Mama bukan tidak bahagia punya kamu."Alena menutup laptop. Namun perasaan kehilangan itu tidak ikut tertutup.Sore harinya, Leo

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Bayangan yang Mulai Mengusik

    Sejak pertemuan Leon dengan Lilis, sebenarnya tidak ada yang berubah. Leon tetap menjadi Leon yang sama. Ia tetap pulang membawa cerita tentang pekerjaannya, tetap menanyakan apakah Alena sudah makan, tetap memastikan vitamin kehamilannya diminum, dan tetap menjadi suami yang selalu bersedia mengalah ketika istrinya tiba-tiba berubah suasana hati.Namun bagi Alena, ada satu hal yang berubah. Pikirannya. Nama Lilis yang sempat muncul dalam percakapan mereka ternyata tidak mudah hilang begitu saja. Apalagi setelah Alena tahu bahwa kerja sama perusahaan Leon dan perusahaan tempat Lilis bekerja kemungkinan berlangsung cukup lama.Pagi itu, Alena sedang duduk di meja makan ketika Leon menerima telepon."Baik. Besok saya akan datang ke kantor mereka."Alena yang sedang menyendok bubur tiba-tiba berhenti.Kantor mereka?Berarti bertemu Lilis lagi?Leon menutup telepon dan kembali mengambil cangkir kopinya."Kenapa berhenti makan?"Alena menggeleng."Enggak."Leon memperhatikannya."Rasanya t

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Masa Lalu yang Kembali

    Sudah lebih dari tiga bulan sejak Alena mengetahui bahwa ada kehidupan kecil yang sedang tumbuh di dalam tubuhnya.Sejak memasuki bulan ketiga, rasa mualnya memang perlahan berkurang. Namun, ada satu hal yang justru semakin terasa. Perasaannya. Alena menjadi jauh lebih sensitif.Hal kecil yang biasanya tidak pernah dipikirkannya bisa membuat wajahnya berubah murung. Salah bicara sedikit saja, ia bisa diam. Bahkan ketika Leon pulang terlambat karena pekerjaan, Alena terkadang langsung memasang wajah cemberut.Dan Leon? Pria itu seolah sudah memahami bahwa istrinya sedang berada dalam fase yang berbeda.Malam itu Leon baru saja masuk ke rumah ketika melihat Alena duduk di sofa sambil memeluk bantal."Sayang."Alena hanya melirik sekilas. Leon menghentikan langkah."Ada apa?""Tidak ada."Jawaban singkat itu justru membuat Leon tahu bahwa ada sesuatu. Leon meletakkan tas kerjanya, kemudian duduk di samping Alena."Kamu marah?""Enggak.""Kesal?""Enggak.""Sedih?"Alena menggeleng. Leon

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Tambah Pengawas

    Sejak mengetahui Alena hamil, kehidupan di rumah itu perlahan berubah. Bukan karena Alena merasa berbeda. Justru orang-orang di sekitarnya yang berubah. Terutama Leon.Pagi itu Alena baru saja bangun dan hendak turun dari tempat tidur.“Pelan.”Suara Leon langsung terdengar. Alena berhenti.“Aku cuma mau turun.”Leon yang sedang merapikan kemejanya segera mendekat.“Pegang tanganku.”Alena menurut, lalu turun dari tempat tidur.“Aku masih bisa turun sendiri, sayang.”“Aku tahu.”“Terus kenapa?”“Biar aku saja.”Alena menghela napas. Baru beberapa minggu hamil, tetapi rasanya dia sudah memiliki pengawal pribadi.Ketika hendak mengambil gelas air, Leon lebih dulu mengambilkannya.Ketika ingin mengambil tas di sofa, Leon sudah mengangkatnya.Ketika Alena berdiri terlalu lama, Leon bertanya,“Capek?”“Belum.”“Duduk dulu.”Alena akhirnya menatap suaminya.“Sayang.”“Hm?”“Aku hamil, bukan sakit.”Leon tersenyum.“Aku tahu.”“Terus?”“Aku cuma sedang belajar.”“Belajar apa?”“Menjaga dua o

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Dua Garis yang Mengubah Segalanya

    Pagi itu, Leon sudah siap sejak pukul tujuh. Padahal jadwal pemeriksaan Alena baru pukul sembilan. Alena yang baru keluar dari kamar justru menemukan suaminya sudah berdiri di dekat pintu dengan kunci mobil di tangan.“Sayang?”Leon menoleh.“Ayo.”Alena melihat jam.“Sekarang?”“Iya.”“Dokternya masih lama.”“Kita berangkat lebih awal.”Alena menahan tawa.“Kenapa kamu kelihatan seperti mau menghadiri rapat penting?”Leon memasukkan ponselnya ke saku.“Ini memang penting.”“Lebih penting daripada rapat direksi?”“Jauh.”Alena tersenyum.“Padahal yang hamil aku.”Leon mendekat dan mengambil tas kecil dari tangan istrinya.“Justru karena kamu yang hamil.”“Aku baru beberapa minggu.”“Aku tahu.”“Dan aku baik-baik saja.”“Aku juga tahu.”“Jadi kenapa kamu kelihatan tegang?”Leon terdiam sebentar.“Aku tidak tegang.”Alena mengangkat alis.“Benarkah?”“Benar.”“Dari tadi kamu sudah tiga kali memeriksa jam.”Leon melirik jam tangannya.“Karena takut terlambat.”“Kita bahkan bisa sampai se

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Anak Baru yang Menjadi Perhatian

    Pintu ruang wawancara tertutup pelan di belakang Alena, namun detak jantungnya masih belum benar-benar stabil. Beberapa menit sebelumnya, ia baru saja bertemu kembali dengan Leon di dalam lift. Pria itu tetap sama, tampan, dingin, dan memancarkan aura yang membuat orang otomatis menjaga jarak. Dan

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Bertemu Kembali

    Lima tahun kemudian, Alena berdiri di depan cermin kamar sambil menatap pantulan dirinya dalam diam yang cukup lama. Wanita di depannya bukan lagi gadis kecil yang pernah nekat mengajak pria asing menikah demi dua mangkuk bakso dan segelas es teh. Wajahnya kini lebih dewasa, dengan garis rahang yang

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Om Ganteng Mau Nikah

    Sudah seminggu. Dan Leon tidak muncul lagi. Awalnya Alena masih berpikir pria itu hanya sibuk bekerja seperti biasa, mungkin lembur, mungkin ada meeting penting, karena bukankah orang kaya memang selalu sibuk. Namun setelah beberapa hari berlalu dan mobil hitam Leon tak pernah lagi terlihat masuk k

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Gadis Aneh

    Sejak hari itu, Alena punya kebiasaan baru: mengintip rumah Leon. Setiap sore sepulang sekolah, gadis itu akan duduk di teras rumah neneknya sambil pura-pura mengerjakan PR. Buku tulis terbuka di pangkuannya, pena sesekali bergerak, tetapi matanya lebih sering melirik rumah besar di sebelah komplek

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status