LOGINBeberapa minggu berlalu begitu cepat. Perut Alena kini semakin besar. Setiap pagi, ia membutuhkan sedikit waktu lebih lama untuk bangun dari tempat tidur. Bukan karena malas, tetapi karena tubuhnya terasa semakin berat.Leon sudah terbiasa menjadi orang pertama yang membantunya.“Pelan-pelan,” katanya setiap kali Alena mencoba bangun.“Aku masih bisa sendiri, sayang.”“Aku tahu.”“Kalau tahu, kenapa masih dibantu?”Leon tersenyum sambil mengulurkan tangan.“Karena aku suamimu.”Alena mendengus kecil, tetapi tetap menerima tangannya.“Alasan.”“Alasan yang bagus.”Alena akhirnya berdiri.Belakangan ini Leon memang semakin perhatian. Ia tidak lagi membiarkan Alena membawa barang berat. Bahkan untuk mengambil sesuatu yang hanya berjarak beberapa langkah, Leon sering kali lebih dulu bergerak.Suatu pagi, Alena sedang duduk di sofa sambil memandangi beberapa pakaian bayi yang sudah mereka siapkan.Tangannya mengusap salah satu baju kecil berwarna putih.“Sayang.”“Hm?”“Menurutmu Brandon n
Siang itu Alena sedang duduk santai di ruang keluarga ketika bel rumah berbunyi. Ia menoleh."Siapa, ya?"Leon yang sedang bekerja di meja tidak jauh darinya ikut melihat ke arah pintu. Pelayan rumah kemudian membukakan pintu. Tak lama kemudian terdengar suara yang sudah sangat dikenal Alena."Alena!"Alena langsung tersenyum."Suara itu..."Beberapa detik kemudian Sisca muncul dengan membawa sebuah tas besar. Namun ada sesuatu yang berbeda.Alena mengernyitkan dahi. Sisca tidak datang sendirian. Di belakangnya berdiri Dimas. Alena langsung membelalakkan mata."Eh?"Sisca tersenyum malu."Hai."Alena menatap Dimas. Kemudian menatap Sisca. Lalu kembali menatap Dimas."Kalian?"Dimas tersenyum."Halo, Lena."Leon yang melihat dari belakang langsung ikut tersenyum."Silakan duduk."Sisca berjalan masuk. Namun biasanya jika datang, Sisca akan langsung menguasai ruangan dengan cerita panjang dan suara yang ramai.Hari ini tidak. Ia malah duduk dengan tenang di samping Dimas. Alena semakin
Sejak pemeriksaan terakhir, ada satu perubahan kecil dalam diri Leon. Ia menjadi jauh lebih sering memperhatikan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dipikirkannya.Pagi itu, Alena baru saja selesai sarapan ketika melihat Leon duduk di sofa sambil membaca sesuatu dari ponselnya. Alena mendekat."Sayang, kamu sedang apa?"Leon langsung mematikan layar."Enggak ada."Alena menyipitkan mata."Kenapa disembunyikan?"Leon tersenyum."Bukan sesuatu yang perlu kamu lihat.""Memangnya apa?""Rahasia."Alena semakin penasaran. Ia duduk di samping Leon lalu mencoba mengambil ponselnya. Leon mengangkat tangan."Jangan.""Kenapa?""Aku sedang belajar.""Belajar apa?"Leon akhirnya menyerah. Ia menunjukkan layar ponselnya. Alena membaca judul yang tertera. Panduan Menjadi Ayah untuk Pertama Kalinya. Alena langsung tertawa."Serius?"Leon mengangguk."Serius.""Kamu baca beginian?""Iya."Alena mengambil ponselnya dan membaca beberapa bagian. Kemudian ia tertawa lagi."Ini ada bagian cara mengganti
Beberapa minggu telah berlalu sejak kecelakaan Leon. Luka kecil di dahinya sudah hampir tidak terlihat. Memarnya juga sudah menghilang. Namun sejak kejadian itu, Leon benar-benar berusaha menepati janjinya kepada Alena.Ia mengurangi pekerjaan yang tidak perlu. Jika bisa dikerjakan dari rumah, ia memilih bekerja dari rumah. Jika ada rapat yang bisa diwakilkan, ia menyerahkannya kepada orang kepercayaannya. Dan yang paling penting, ia tidak lagi membiarkan Alena merasa sendirian.Pagi itu, Leon bahkan sudah menunggu di ruang makan ketika Alena turun dari kamar."Sudah siap?"Alena mengerutkan kening."Siap apa?"Leon menunjuk tas kecil di atas meja."Hari ini kontrol."Alena baru teringat."Oh iya."Leon tersenyum."Lupa?""Sedikit.""Untung suamimu tidak."Alena tertawa kecil."Memang kamu ingat semua?""Jadwal kontrol istri harus lebih penting daripada jadwal rapat."Alena tersenyum.Ia duduk di kursi."Kalau semua suami seperti kamu, mungkin dokter kandungan penuh."Leon tertawa."M
Dua hari setelah kecelakaan itu, kondisi Leon sudah jauh lebih baik. Luka kecil di dahinya masih tertutup perban, begitu juga memar di lengannya. Namun secara keseluruhan ia sudah bisa beraktivitas seperti biasa.Tentu saja, Alena tetap mengawasinya. Terlalu mengawasi, bahkan."Jangan angkat itu."Leon yang baru saja hendak mengambil tas kerjanya langsung berhenti."Ini ringan.""Katanya dokter harus istirahat.""Aku cuma mau membawanya.""Enggak boleh."Leon menatap istrinya beberapa detik."Sayang.""Apa?""Aku CEO, bukan pasien rumah sakit lagi."Alena melipat tangan di dada."Justru karena kamu CEO, kamu harusnya bisa mengikuti aturan."Leon tertawa kecil."Baiklah."Ia meletakkan kembali tas itu. Ibu Alena yang melihat dari ruang makan langsung tertawa."Sudah, Leon. Jangan melawan. Kalau Alena sudah begitu, Ibu juga enggak berani."Leon menoleh."Ibu malah membiarkan saya dikerjai.""Siapa suruh bikin anak Ibu menangis?"Leon langsung diam. Alena menatap ibunya."Bu..."Ibu Alen
Leon masih berada di ruang observasi ketika Alena duduk di samping tempat tidurnya. Sejak tadi tangannya tidak pernah lepas dari tangan suaminya. Sesekali Alena melirik perban kecil di dahi Leon. Semakin dilihat, semakin hatinya terasa sakit."Jangan dilihat terus."Suara Leon membuat Alena menoleh."Aku cuma...""Takut?"Alena mengangguk."Iya."Leon tersenyum tipis."Aku tidak apa-apa.""Tapi kamu kecelakaan.""Namanya juga kecelakaan."Alena menunduk."Karena aku."Leon langsung menggeleng."Jangan menyalahkan dirimu.""Tapi kamu terburu-buru pulang.""Aku memang ingin cepat pulang.""Kenapa?"Leon menatapnya."Karena aku ingin bicara denganmu."Alena terdiam."Aku tidak mau kamu terus merasa sendirian."Air mata Alena kembali menggenang."Maaf."Leon mengusap punggung tangannya."Sudah.""Aku sungguh-sungguh menyesal.""Aku tahu.""Aku tidak benar-benar ingin cerai."Leon tersenyum kecil."Aku juga tahu."Alena mengangkat wajah."Bagaimana kamu tahu?""Karena kalau benar-benar ing
Lima tahun kemudian, Alena berdiri di depan cermin kamar sambil menatap pantulan dirinya dalam diam yang cukup lama. Wanita di depannya bukan lagi gadis kecil yang pernah nekat mengajak pria asing menikah demi dua mangkuk bakso dan segelas es teh. Wajahnya kini lebih dewasa, dengan garis rahang yang
Sudah seminggu. Dan Leon tidak muncul lagi. Awalnya Alena masih berpikir pria itu hanya sibuk bekerja seperti biasa, mungkin lembur, mungkin ada meeting penting, karena bukankah orang kaya memang selalu sibuk. Namun setelah beberapa hari berlalu dan mobil hitam Leon tak pernah lagi terlihat masuk k
Sejak hari itu, Alena punya kebiasaan baru: mengintip rumah Leon. Setiap sore sepulang sekolah, gadis itu akan duduk di teras rumah neneknya sambil pura-pura mengerjakan PR. Buku tulis terbuka di pangkuannya, pena sesekali bergerak, tetapi matanya lebih sering melirik rumah besar di sebelah komplek
“Berani nggak?” Alena yang sedang meniup es teh plastiknya langsung menoleh bingung ke arah teman-temannya. “Berani apa?” Tiga anak perempuan di sampingnya langsung cekikikan sambil menunjuk ke arah seberang jalan. Di depan minimarket, sebuah mobil hitam mewah baru saja berhenti. Seorang pria







