LOGINPagi itu, rumah Ibu Alena terasa lebih ramai dari biasanya. Leon yang semalam ikut mengungsi akhirnya benar-benar tidur di kamar Alena. Meskipun awalnya hanya diberi tempat sedikit di ujung kasur, setidaknya ia tidak jadi tidur di ruang tamu.Pagi-pagi sekali, Leon sudah terbangun. Ia masih berbaring sambil memandangi Alena yang tidur menyamping membelakanginya. Perut istrinya yang mulai membesar membuat Leon semakin sadar bahwa beberapa bulan lagi kehidupan mereka akan berubah total.Leon tersenyum kecil. Ia baru saja hendak bangun ketika terdengar suara Alena."Sayang..."Leon langsung menoleh."Hm?""Aku mau sesuatu."Leon langsung waspada."Apaan?"Alena membalikkan tubuhnya."Aku mau bakso."Leon terdiam."Bakso?"Alena mengangguk."Iya.""Sepagi ini?""Iya.""Benar-benar mau?""Iya."Leon langsung bangkit dari tempat tidur."Baik. Tunggu di sini."Alena tersenyum."Jangan lama-lama."Leon mengangguk mantap."Suamimu akan mencarikannya."Ia keluar kamar dengan semangat. Begitu sa
Malam semakin larut setelah Leon resmi memutuskan untuk ikut "mengungsi" ke rumah Ibu Alena.Koper besarnya sudah diletakkan di dekat kamar Alena. Namun masalah berikutnya justru baru muncul."Leon tidur di mana?" tanya Ibu Alena.Leon mengangkat bahu."Saya bisa tidur di ruang tamu, Bu."Alena yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka langsung mengangguk."Nah, bagus."Leon menoleh."Kamu setuju?""Iya.""Kenapa?""Supaya aku bisa tidur tenang."Leon hampir tertawa. Namun sebelum ia menjawab, Ibu Alena langsung menggeleng."Enggak."Alena menatap ibunya."Kenapa?""Ibu tidak mau ruang tamu berubah jadi kamar tidur.""Tapi, Bu...""Terserah Leon mau tidur di sampingmu atau di lantai."Ibu Alena menunjuk ke arah kamar."Pokoknya kalian sekamar."Alena langsung membelalakkan mata."Bu!""Kenapa?""Aku sedang marah sama dia.""Ibu tahu.""Terus kenapa harus sekamar?""Karena kalian suami istri."Leon yang sejak tadi menahan senyum akhirnya menunduk. Ibu Alena kemudian menatap Leon.
Keesokan paginya, Leon benar-benar datang ke rumah Ibu Alena. Ia datang lebih awal dari biasanya. Setelah memarkir mobil, Leon membawa sebuah tas kecil dan berjalan menuju pintu rumah.Ibu Alena yang sedang berada di ruang tengah langsung menyambutnya."Leon.""Selamat pagi, Bu.""Masuk."Leon mengangguk."Alena di kamar?""Iya."Leon menarik napas pelan."Saya ingin bicara dengannya."Ibu Alena tersenyum tipis."Silakan."Leon mengetuk pintu kamar."Sayang."Tidak ada jawaban. Leon mengetuk lagi."Alena, aku masuk, ya."Kali ini terdengar suara dari dalam."Masuk."Leon membuka pintu. Alena sedang duduk di tempat tidur dengan wajah masih terlihat kesal. Begitu melihat Leon, bukannya tersenyum, Alena justru memalingkan wajah. Leon mendekat."Bagaimana keadaanmu?""Baik.""Sudah sarapan?""Sudah.""Vitamin?""Sudah."Leon duduk di tepi tempat tidur."Aku datang untuk bicara.""Aku tahu.""Maaf soal kemarin."Alena langsung menoleh."Maaf karena apa?"Leon terdiam sesaat."Karena aku ti
Sejak mengetahui Alena berada di rumah ibunya, Leon sebenarnya sudah ingin langsung datang.Namun hari berikutnya justru menjadi salah satu hari paling sibuk di Arkanza Group.Sejak pagi, rapat demi rapat berlangsung tanpa jeda. Ada pembahasan kontrak, laporan keuangan, pertemuan dengan beberapa klien, hingga rapat lanjutan mengenai kerja sama dengan perusahaan tempat Lilis bekerja.Beberapa kali Leon melihat ponselnya.Tidak ada pesan dari Alena. Ia sebenarnya ingin menelepon. Bahkan beberapa kali jarinya sudah hampir menekan nama istrinya di layar, tetapi ia selalu mengurungkan niat.Leon tahu Alena masih marah. Mungkin istrinya memang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Dan bukankah beberapa kali selama ini Alena mengatakan bahwa ketika sedang kesal, ia ingin dibiarkan sebentar?Leon memilih menghormatinya. Meskipun sebenarnya ia sendiri tidak tenang. Setiap kali rapat selesai, hal pertama yang dilakukannya adalah melihat ponsel.Tetap tidak ada pesan.Tidak ada panggilan.Tid
Hari itu sebenarnya berjalan biasa saja.Leon sedang menghadiri pertemuan lanjutan dengan salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan Arkanza Group. Alena ikut datang karena setelah beberapa hari lebih banyak berada di rumah, ia ingin keluar sebentar.Kehamilannya sudah memasuki bulan keempat. Perutnya mulai terlihat, meski belum terlalu besar. Namun perubahan emosinya justru lebih terasa daripada perubahan fisiknya.Hari itu Alena sedang dalam suasana hati yang cukup baik. Ia bahkan sempat menggoda Leon sebelum berangkat."Jangan lama-lama."Leon menoleh."Kenapa?""Aku bosan di rumah.""Makanya ikut.""Aku ikut bukan berarti aku mau dengar pembicaraan bisnis berjam-jam."Leon tersenyum."Nanti kalau bosan, kita pulang.""Janji?""Janji."Namun setelah acara selesai, Leon masih harus berbicara dengan beberapa orang. Alena yang sudah mulai lelah akhirnya memilih menunggu di lobi. Ia duduk sambil memainkan ponselnya. Sesekali tangannya mengusap perut."Anak Mama, sebentar lagi kita
Beberapa minggu terakhir, Alena semakin sering merasa dirinya berbeda.Kehamilan yang sudah memasuki bulan keempat membuat tubuhnya berubah. Ia lebih cepat lelah, emosinya mudah naik turun, dan terkadang hal kecil saja bisa membuat hatinya terasa berat.Yang paling membuatnya frustrasi adalah proyek. Sejak hamil, ia terpaksa menghentikan semua pekerjaannya. Padahal sebelumnya, Alena begitu menikmati kesibukan itu.Ia suka membuat konsep, bertemu orang, mengatur berbagai hal, lalu melihat hasil pekerjaannya selesai. Sekarang sebagian besar waktunya hanya dihabiskan di rumah.Pagi itu, Alena membuka laptop lama yang masih menyimpan berbagai dokumen proyek. Ia membaca beberapa file. Tiba-tiba muncul rasa rindu."Kalau aku tidak hamil, mungkin aku masih mengerjakan proyek ini."Tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya. Ia langsung merasa bersalah."Maaf, Sayang. Mama bukan tidak bahagia punya kamu."Alena menutup laptop. Namun perasaan kehilangan itu tidak ikut tertutup.Sore harinya, Leo
Sejak pagi, Alena sudah merasa tubuhnya tidak nyaman. Kepalanya terasa berat, sementara matanya sesekali berkunang setiap kali terlalu lama menatap layar komputer. Namun wanita itu tetap berusaha bekerja seperti biasa sambil sesekali meminum kopi dingin yang bahkan sudah tidak terasa efeknya.“Aduh
Hari ketiga Alena bekerja di Mahardika Group seharusnya berjalan seperti biasa. Ia sudah mulai hafal ritme divisi sales, mengenal beberapa rekan kerja, dan menyesuaikan diri dengan suasana kantor yang cepat dan kompetitif. Namun pagi itu, suasana berubah sejak sebuah pesan dari atasannya masuk ke p
Pintu ruang wawancara tertutup pelan di belakang Alena, namun detak jantungnya masih belum benar-benar stabil. Beberapa menit sebelumnya, ia baru saja bertemu kembali dengan Leon di dalam lift. Pria itu tetap sama, tampan, dingin, dan memancarkan aura yang membuat orang otomatis menjaga jarak. Dan
Lima tahun kemudian, Alena berdiri di depan cermin kamar sambil menatap pantulan dirinya dalam diam yang cukup lama. Wanita di depannya bukan lagi gadis kecil yang pernah nekat mengajak pria asing menikah demi dua mangkuk bakso dan segelas es teh. Wajahnya kini lebih dewasa, dengan garis rahang yang







