ANMELDENTing!Perlahan Alena membuka ponselnya dengan lesu. Namun hanya beberapa detik kemudian...Matanya langsung membelalak.Tidak percaya.Ia bahkan menggosok matanya sendiri. Lalu membaca pesan itu sekali lagi.Jangan ikut blind date!Apa-apaan ini?Sementara itu, Alena sama sekali tidak sadar. Di sebelahnya, ada seseorang yang lehernya sudah memanjang seperti jerapah. Sisca.Wanita itu sejak tadi berusaha mengintip layar ponsel Alena. Dan sekarang, matanya juga ikut membesar.Astaga. Ini menarik.Alena masih terpaku. Jantungnya mendadak berdetak lebih cepat.Kenapa Pak Leon mengirim pesan seperti ini?Apa dia...Tidak setuju?Atau...Tidak suka?Entah kenapa, memikirkan kemungkinan kedua membuat pipinya sedikit menghangat. Tanpa sadar, jarinya mulai bergerak. Ia mengetik pelan.Bai...Belum selesai mengetik. tiba-tiba ponselnya direbut."Eh!"Alena langsung tersentak."Sisca!"Namun wanita itu sudah memegang ponselnya tinggi-tinggi."Ih... enak banget!""Kembalikan!"Sisca menatapnya ti
Beberapa saat kemudian, pintu ruang rapat terbuka. Begitu Leon keluar setelah hampir satu jam berada di dalam, seseorang langsung menghampirinya.Ibunya.Mira sudah tidak sabar."Sudah selesai?""Iya, Bu.""Bagus."Leon mengangguk pelan. Ia sudah terlalu lelah untuk bertanya kenapa ibunya masih ada di sana. Kalau dipikir-pikir, jawabannya pasti sama.Menemaninya.Atau lebih tepatnya...Mengawasinya.Mira langsung berjalan di samping putranya."Aku tadi jalan-jalan.""Hm.""Terus aku ke bawah.""Hm.""Terus aku ketemu Alena."Langkah Leon langsung melambat."Hah?"Mira sama sekali tidak menyadarinya."Aku sudah bilang, jangan ganggu Alena saat kerja.""Ibu tidak ganggu.""Lalu?""Justru Ibu bikin dia santai sejenak.""Hah?""Ibu ajak ngobrol-ngobrol.""Namanya perempuan pasti suka ngobrol.""Ibu...""Anaknya lucu ya."Leon mulai tidak tenang."Bu...""Polos.""Bu.""Dan imut.""Bu.""Malah Ibu sudah tidak heran."Leon menelan ludah."Tidak heran apa?""Kenapa kamu menganggap dia sepert
Keesokan paginya, Alena berangkat kerja dengan wajah lesu. Bahkan sejak turun dari kendaraan sampai masuk ke ruang marketing, senyum yang biasanya selalu menghiasi wajahnya sama sekali tidak terlihat.Tentu saja perubahan itu langsung ditangkap oleh seseorang.Sisca.Wanita itu langsung menggeser kursinya mendekat."Lena.""Hm?""Ayo senyum.""Hmm.""Aku kangen lesung pipimu."Alena tetap diam."Jangan pelit-pelit.""Hmm."Sisca mulai gelisah. Biasanya Alena memang gampang tersipu, gampang malu, tetapi selalu ceria dan tidak pernah semurung ini. Akhirnya Alena mengangkat sudut bibirnya sedikit.Namun... senyum itu begitu kaku.Sisca langsung memegang dada."Jangan begitu dong."Alena mengernyit."Kenapa?""Lebih baik kamu marah.""Hah?""Senyum kayak gitu bikin aku takut."Alena langsung menghela napas. Daripada berdebat dengan Sisca, lebih baik diam.Namun ternyata... diam juga tidak membuat sahabatnya berhenti bicara."Lena.""Hm?""Di dunia ini cowok banyak."Alena meliriknya."Buk
Keesokan paginya...Leon benar-benar mulai merasakan hidupnya berubah. Kalau biasanya ia bebas pergi ke mana pun, sekarang berbeda.Ke mana pun ia pergi, selalu ada satu orang yang mengikutinya.Ibunya.Pagi itu Leon baru saja mengambil kunci mobil."Sudah mau berangkat?""Iya.""Ibu ikut."Leon hanya bisa mengangguk pasrah.Begitu tiba di perusahaan...Mira langsung ikut turun dari mobil, menyapa para karyawan dengan ramah, bahkan sesekali berhenti mengobrol dengan mereka.Melihat tingkah ibunya, Leon sampai merasa wanita itu sudah naik jabatan menjadi sekretaris pribadi keduanya.Leon mulai punya firasat buruk."Bu.""Hm?""Ibu mau ke mana?""Ikut kamu."Leon menghela napas."Tapi Ibu tidak ada urusan di kantor.""Siapa bilang?""Lalu urusannya apa?""Menemani anak."Leon benar-benar kehabisan kata-kata.Sepanjang hari...Leon bahkan tidak pernah benar-benar sendirian. Saat menuju ruang rapat... Mira ikut sampai depan pintu."Mau meeting, Bu.""Iya.""Ibu tunggu."Saat Leon keluar
Sore itu...Jam kerja akhirnya usai. Sebagian besar karyawan mulai berkemas untuk pulang. Namun tidak dengan Leon. Pria itu justru menghela napas panjang begitu keluar dari ruangannya.Seharian ini... ia sama sekali tidak memiliki kesempatan mendekati Alena. Padahal sejak pagi sudah ada rencana di kepalanya.Sepulang kerja... ia ingin mengajak Alena makan malam. Bukan untuk berkencan. Setidaknya menurut pengakuannya sendiri.Ia hanya ingin menjelaskan semua kesalahpahaman yang terus menumpuk.Tentang Cynthia.Tentang ibunya.Dan tentang boneka singa yang ternyata malah membuat keadaan semakin rumit.Namun semua rencana itu langsung buyar. Karena begitu keluar dari lift... seseorang sudah berdiri sambil tersenyum manis.Ibunya."Sudah selesai?"Leon langsung memejamkan mata."Sudah, Bu.""Bagus."Mira langsung merangkul lengan putranya."Yuk pulang."Leon hanya bisa mengangguk pasrah. Sepanjang perjalanan menuju parkiran, Mira terus mengobrol.Mulai dari menu makan malam.Sampai membah
Begitu Leon dan Mira menghilang ke dalam lift...Area marketing mendadak hening.Lima detik.Sepuluh detik.Lalu..."AAAAAA!"teriak Sisca.Alena yang masih berusaha menenangkan jantungnya sampai terlonjak dari kursinya."Apa lagi sih?!"Sisca langsung menunjuk lift yang sudah tertutup."Itu!""Itu apa?""'Nanti Alena bisa resign!'"Sisca menirukan suara Leon dengan dramatis. Alena langsung memegang kepala."Tolong jangan diulang.""Tidak bisa.""Kenapa?""Karena aku merinding."Alex menghela napas."Aku juga dengar.""Nah kan!"Sisca langsung menepuk meja."Itu bukan kalimat bos biasa."Alena mendelik."Itu kalimat orang yang takut kehilangan karyawan.""Bohong.""Benar."Seperti biasa, Alena memilih diam daripada harus adu mulut dengan Sisca. Ekspresi Sisca sangat serius. Bahkan terlalu serius."Aku tahu sekarang.""Apa?""Pak Leon pasti sudah membayangkan masa depan."Alena langsung memejamkan mata."Tolong jangan mulai.""Tidak."Sisca mengangkat telunjuk."Analisis ini berdasarka
Malam itu, rumah besar milik Leon Mahardika masih terang meski waktu hampir menunjukkan pukul sebelas malam. Mansion bergaya modern yang berdiri megah di kawasan elite itu terlihat mewah dari luar, tetapi justru terasa terlalu sunyi di dalam. Setelah perceraiannya, Leon memilih tetap tinggal di rum
Pagi berikutnya, Alena datang ke kantor jauh lebih awal dari biasanya. Langit masih diselimuti cahaya lembut matahari pagi ketika ia berdiri di depan gedung Mahardika Group sambil menggenggam tasnya erat-erat. Sejak menerima pesan singkat dari Leon semalam, ia hampir tidak bisa tidur. Kalimat forma
Pagi itu Alena datang ke kantor jauh lebih awal daripada biasanya. Langit masih berwarna abu-abu pucat ketika ia tiba di depan gedung Mahardika Group. Udara pagi terasa sejuk, tetapi jantungnya sudah berdebar cepat sejak membuka pesan dari Alex semalam. Hari ini mereka akan mempresentasikan strateg
Mereka terus menuruni anak tangga hingga akhirnya tiba di lobi. Begitu pintu tangga darurat dibuka, udara malam langsung menyambut mereka dan ketiganya berjalan menuju pintu utama gedung. Udara malam menyambut mereka. Mobil hitam Leon sudah menunggu di depan gedung. Leon berhenti sejenak dan menata







