LOGINIn a world where dreams collide with destiny, Margarette Atillo finds herself torn between duty and desire. As the 'Mutya ng Probinsya,' her journey from provincial girl to corporate success is overshadowed by a tangled web of love, uncertainties, and unexpected blessings. Just when she learns to love and surrender herself in a one-night stand agreement to the billionaire man, who happens to be a best friend of her CEO and who possesses all the qualities she dislikes in a man, she then discovers that her CEO, whom she initially loved, has feelings for her. Caught between two billionaires and their tumultuous desires, Margarette struggles to make an ultimate choice between her initial plan to distance herself from the two billionaires or embracing the unexpected and following her heart's truest path. As secrets unravel and truths emerge, Margarette's world is turned upside-down by the revelation of her pregnancy, igniting a chain of events in billionaires’s family affairs. Will she choose the path that she initially planned, full of certainties, to the best of her abilities? Or will her heart lead her down a daring new road, where passion and possibility collide, even if she encounters powerful and influential families along the way?
View MoreAcara akad nikah sudah selesai dan berjalan dengan lancar. Mereka tinggal mempersiapkan acara untuk resepsi nanti malam di ballroom hotel berbintang. Reva dan Angga masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang sudah di hias layaknya kamar pengantin. Angga duduk di tepi ranjang, sedangkan Reva duduk di kursi yang berada di depan meja riasnya.
Angga melepaskan jasnya dan membuang jasnya ke tempat tidur dengan sedikit kasar. Dia sesekali menatap tajam Reva yang sedang menatap dirinya juga dari depan meja Rias. "Kita sudah menikah, dan aku harap kamu jangan merasa senang. Aku menikahimu, bukan karena aku mencintai kamu. Cinta untukmu sudah hilang sejak lama dari hatiku," ucap Angga dengan ketus di hadapan Reva. "Maksud kamu?" tanya Reva. Dia tahu, kejadian ini pasti akan terjadi saat sudah menikah dengan Angga. "Ini yang kamu inginkan, bukan? Kamu kan, yang meminta perjodohan ini terjadi?" Angga semakin murka dengan Reva. "Kalau aku yang meminta, untuk apa aku menolak saat kamu bicara dengan papa, dan menyetujui perjodohan ini," ucap Reva. "Itu karena aku mencintai wanita dan tidak bisa aku nikahi. Jadi, aku tidak mau menyia-nyiakan perjodohan ini, toh kamu juga menginginkannya. Dan ingat, satu lagi. Mulai detik ini, kamu milikku, dan terserah aku mau berbuat apa dengan kamu. Tapi, aku tidak akan pernah menyentuhmu, Reva!" ucap Angga dengan nada sarkasnya. "Apa gunanya kita menikah? Dan, siapa wanita yang kamu maksud itu?" Reva berkata dengan suara serak karena menahan tangisannya. "Kamu tidak perlu tahu, siapa wanita itu. Kalaupun tahu, aku juga tidak akan menceraikanmu, enak saja, kita belum mulai drama kita, aku harus menceraikanmu? Tidak! Aku ingin kamu merasakan apa yang aku rasakan dulu," ucap Angga dengan tegas dan kasar. "Maksud kamu yang dulu?" tanya Reva. "Pikir saja sendiri! Selamat menikmati hidup baru denganku, dan ingat, setelah resepsi nanti malam. Kita langsung menempati rumah baru kita," ucap Angga. Reva hanya terdiam dan terpaku. Dia menjatuhkan tubuhnya di lantai, dia menangis di depan Angga yang sedang mengganti bajunya. Hari ini harusnya menjadi hari bahagia untuk Reva, tapi hari ini adalah hari di mana Reva akan menjalani hidupnya bersama suami yang mencintai wanita lain, bukan dirinya. "Apa salahku di masa lalu? Hingga Angga membenciku seperti ini. Dia terang-terangan bilang tidak mencintaiku, dan terpaksa menikahiku, karena dia tidak bisa menikahi wanita pilihannya. Siapa wanita itu, Ya Allah. Tunjukkanlah pada diriku, dan apa penyebab Angga begitu membenciku?" Reva terisak di lantai dengan hati bertanya-tanya. "Ini tidak lucu Reva. Kamu harus kuat. Ingat, ini adalah hari bahagiamu, jangan biarkan orang di luar sana tahu tentang rasa ini. Tahu soal rumah tanggamu. Biar Tuhan yang menentukan jalan ke depannya. Sabar, Reva. Percayalah, hati Angga akan terbuka untukmu." Reva berkata dalam hati dam memberi semangat pada dirinya sendiri. "Jangan tampakkan wajah sendumu ini, kalau semua tamu tidak ingin tahu apa yang terjadi dengan pernikahan kita!" Angga berjongkok di hadapan Reva dengan menatapnya tajam dan berkata dengan nada marah. Reva dengan segera bangun dari lantai. Dia berusaha kuat dan tegar untuk menjalani hari-hari selanjutnya. Reva masuk ke kamar mandi, dengan membawa baju ganti, dia menghapus make-up di wajahnya, lalu mengganti bajunya. Reva memoles wajahnya dengan make-up tipis. Sebisa mungkin Reva menutup kesedihan di wajah cantiknya itu. Reva sedikit menebalkan eyeliner nya, agar matanya tidak terlihat sembab. Angga sudah memakai kemeja yang senada dengan gaun yang membalut tubuh Reva. Reva tidak berani menatap Angga. Dia bercermin lagi di meja riasnya. "Sudah jangan kelamaan, kita keluar!" tukas Angga. "Iya." Ucap Reva singkat . Reva keluar dari kamarnya bersama Angga. Angga menggandeng mesra Reva keluar dari kamarnya, layaknya pengantin yang berbahagia. "Aku akan ikuti permainan kamu, Angga. Asal kamu tidak main tangan denganku. Cukup kamu menyiksa batinku saja, asalkan tidak menyiksa ragaku ini. Karena masih banyak mimpi yang harus aku raih, bukan hanya mimpi untuk mendapat cintamu saja," gumam Reva.Xander ran a hand through his hair in frustration, confusion clearly written on his handsome face. But when their eyes met again, something shifted—and in a heartbeat, he pulled her into his broad chest. Marga gasped softly. She didn’t even try to protest. Not when her body betrayed her so easily, not when it had been craving the warmth of his arms far longer than she cared to admit. She felt the steady, powerful rhythm of his heartbeat. Even with the faint scent of alcohol and cigarettes clinging to him, his masculine cologne—so unmistakably Xander—cut through everything, instantly registering in her senses like it always did. When his skin brushed against her bare shoulder and arm, a familiar, dangerous thrill coursed through her. A sensation she had only ever felt with him. “That's not the reason why I did that, Marga,” marahan ngunit taimtim nitong wika. “I just wanted to know you. I know what I did was wrong—but that was the only way I could be close to you. You kept pushing
She heard Xander curse in frustration, his breath sharp against the line—but she remained silent, waiting for the receptionist’s response. “Ma’am, ano po ang relasyon ninyo sa owner?” magalang na tanong ng receptionist. “May consent po ba kayo mula sa kanya?” “Answer my fucking question, Babe! What on the fucking earth are you saying right now?!” Xander finally exploded, his voice rising, every word laced with outrage. “I called Jay while I was on my way here, Xan,” malamig at diretso niyang sagot. “I told him everything I already knew, and I told him to let me talk to you first. Kaya huwag mo silang babalikan—sina Jay at Joseph—dahil wala silang alam na nandito na ako sa condo mo ngayon.” “Fuck!” Xander exclaimed, shock and frustration colliding in his tone. “Ma’am?” muling tanong ng receptionist. “Ano po ang relasyon ninyo sa owner?” “Wait for me at my unit, babe,” singit ni Xander, his voice suddenly controlled. “I’ll send you my code.” “Just text it to me on this number, Xa
Napahigpit ang hawak niya sa cellphone. Mahigit tatlong oras na ang lumipas mula nang i-chat niya si Xander, ngunit wala pa ring sagot. Seen lang—walang paliwanag, walang kahit anong mensahe. Pangatlong beses na itong nangyari. Una, noong nalaman nitong kasama niya si Miguel sa mall. Pangalawa, matapos ang pribado nilang pag-uusap sa private villa ni Miguel. At ngayon—isang katahimikang mas masakit pa kaysa anumang salita. Nagpa-picture siya kay Chasty sa pagdating ng mga bisita ng kanilang amo. At gaya ng unang balita nito, totoo nga—kasama ng Boss nila ang girlfriend nitong si Pebbles. May dalawa pang lalaki at babae, mukhang nasa early fifties, at naroon din si Xander… kasama ang babaeng nakita niya sa social media noong nakaraang buwan—ang fiancée nito. Sa isang kuha, malinaw ang mukha ni Xander. Nakangiti. Masaya. Walang bahid ng alinlangan. At doon tuluyang tumibay ang pasya ni Marga. If the two best friends think they can toy with her—that she’s nothing more than a si
Nakilala agad ni Marga ang lalaking tinutukoy ni Michael. Si Jay. Hindi na bago sa kanya ang presensya nito—alam niyang bahagi pa rin iyon ng tahimik na pagprotekta sa kanya. Ngunit ang lalaking kasama nito… iyon ang hindi niya kilala. Sa pagkakaalam niya, iisa lang ang bodyguard na kinuha ni Zhavie para sa kanya. “Kilala mo pala ang isang ’to?” hindi maitago ni Michael ang pagkabigla, kasunod ang isang malalim na buntong-hininga na tila ba may tinik na biglang nabunot sa dibdib nito. Tumango si Marga, sinabayan ng isang tipid at pilit na ngiti. “So, tell me, Magz,” marahang sabi ni Michael, pero seryoso ang mga mata. “I’m not judging you, okay? I just want to understand what’s really going on between you and Boss’ best friend.” Nagsalubong ang kilay ni Marga. Muli niyang tiningnan si Michael—ngayon ay masinsin, mas maingat—bago niya ikinibit ang mga balikat at marahang iniikot ang swivel chair na inuupuan. “Ano ba’ng narinig mo na tsismis?” tanong niya, walang emosyon sa
Halos sabay silang napalingon ni Michael sa pagbukas ng pinto. Sa gilid ng kanyang paningin, nakita ni Marga ang paninigas ng katawan ni Michael—ang gulat na hindi nito naitago nang makita kung sino ang pumasok.“Go–good morning, Boss,” garalgal ang boses nitong bumati. Mula sa kinatatayuan niya a
“I’m not interested in whatever story you’re trying to sell, Ms. Pebbles,” Marga said evenly, her voice calm but firm. “Pinuntahan mo ba kami rito dahil hinahanap na kami ni Boss?” The question sounded innocent—but there was a deliberate edge beneath it. A subtle poke. A test. She wanted to see h
“Tell me, Miguel, is she the reason why we had to travel here the moment the sun rose?” Paulit-ulit na umalingawngaw sa isip ni Marga ang mga salitang iyon ni Pebbles—matatalim, puno ng galit—kahit ilang minuto na ang lumipas mula nang iwan niya ang dalawa sa loob ng opisina. Galit na galit si Pe
“Xan…” she whispered gently as she tried to wake him, softly brushing the tip of his nose with her fingers.“It’s twenty past eight, Xan. You need to wake up,” she murmured, her voice barely above a breath.She wanted to wake him, but for some reason, she found herself being careful—almost tender.












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
Ratings
reviewsMore