Partager

Bab 3

Auteur: Eji
Tinggal tiga hari lagi sebelum keberangkatan.

Aku menghubungi jasa pindahan, mengemas buku-buku dan pakaian yang akan kubawa, lalu mengirimkannya ke Westoria.

Barang-barang yang tersisa tidak banyak.

Delapan tahun menikah, yang sungguh-sungguh milikku ternyata hanya cukup untuk mengisi empat kardus.

Saat aku sedang memeriksa alamat tujuan di luar negeri, Kelvano pulang.

Dia tidak menyadari bahwa sepasang sandal di dekat pintu masuk sudah tidak ada. Dua tingkat rak buku yang kini kosong pun luput dari perhatiannya.

Dia melemparkan sebuah dokumen ke atas meja.

“Tanda tangani.”

Itu adalah surat izin penggunaan gambar untuk film dokumenter.

Untuk memperingati sepuluh tahun sejak Kelvano mulai terkenal, timnya berencana membuat film dokumenter yang menceritakan perjalanannya dari masa ketika dia menutup diri dan menghancurkan dirinya sendiri hingga akhirnya mencapai panggung internasional.

Dalam proposal tersebut, ada sepuluh halaman penuh yang membahas masa-masa terpuruknya.

Namun, tidak ada satu kalimat pun yang menyebut namaku.

“Sutradara mau menggunakan rekaman lama.”

Kelvano membuka kancing manset di pergelangan tangannya.

“Semua rekaman, rekam medis, dan video latihan awal yang kamu simpan, serahkan pada Lily untuk dirapikan.”

Aku membuka halaman wawancara tokoh.

Pada kolom [Orang yang Mendampingi Selama Masa Terpuruk], tertulis nama Lily.

“Waktu itu, dia bahkan belum mengenalmu.”

“Film dokumenter nggak harus selalu terikat urutan waktu seketat itu,” jawab Kelvano dengan nada datar.

“Dia asistenku sekarang dan dialah yang paling mengerti pekerjaanku.”

“Lalu bagaimana denganku?”

Kelvano mengangkat pandangannya ke arahku.

Aku menunjuk sepuluh halaman yang membahas penderitaan, kehancuran, dan kebangkitan kembali itu.

“Setiap hari yang ada di sini, aku yang menemanimu menjalaninya.”

Ekspresi Kelvano perlahan makin tidak sabar.

“Soraya, apa kamu harus sampai memperdebatkan hal sepele begini?”

“Aku cuma bertanya.”

“Siapa yang ada di masa lalu tidaklah penting,” katanya.

“Yang penting itu siapa yang masih berada di sisiku sekarang.”

Di dekat pintu kamar tidur, koper yang sudah selesai kukemas berdiri diam.

Dia hanya perlu menoleh untuk melihatnya.

Namun, Kelvano tidak melakukannya.

Dia mengambil ponsel untuk membalas pesan. Bahkan, sudut bibirnya tersungging senyum samar.

Tanpa perlu menebak pun, aku tahu siapa yang sedang dihubunginya.

Aku mendorong surat izin itu kembali kepadanya.

“Rekaman pribadi nggak boleh digunakan.”

Wajah Kelvano langsung berubah muram.

“Lily sampai begadang beberapa malam demi dokumenter ini, masa kamu nggak mau memberikan sedikit pun bahannya?”

“Itu rekam medismu, sekaligus bagian dari hidupku.”

“Soraya.”

Dia menutup dokumen itu dengan keras.

“Berhentilah mengungkit-ungkit pengorbananmu dulu untuk mengikatku.”

Aku tertegun sesaat.

Ternyata, delapan tahun itu bukan disebut menemani.

Melainkan penyanderaan.

Semua metode pertolongan pertama yang kupelajari demi dirinya, malam-malam ketika aku berjaga di luar ruang musik hingga pukul tiga dini hari, bahkan tanganku yang terluka oleh pecahan kaca saat dia kehilangan kendali, kini menjadi bukti bahwa aku sedang memanfaatkan pengorbananku di masa lalu untuk menuntut balas budi darinya.

“Baiklah.”

Aku menyimpan dokumen itu ke dalam laci.

“Mulai sekarang, aku nggak akan melakukannya lagi.”

Kelvano tidak memahami maksudku.

Dia hanya mengira pertengkaran kami akhirnya selesai, lalu berbalik dan pergi ke ruang musik.

Sore hari berikutnya, tim film dokumenter datang ke rumah untuk mengambil gambar tambahan.

Sutradara menanyakan [Orang yang Paling Dicintai].

“Saya dengar ini karya pertama yang Anda selesaikan setelah melewati masa terpuruk, Pak Kelvano. Awalnya lagu ini ditulis untuk siapa?”

Aku berdiri di ujung koridor.

Kelvano jelas-jelas melihatku.

Namun, setelah terdiam beberapa saat, dia justru mengalihkan pandangan kepada Lily yang duduk di samping kamera.

“Begitu sebuah karya rampung, ia tak lagi menjadi milik satu orang saja.”

Lily tersenyum sambil menundukkan kepala.

Sutradara segera meminta juru kamera mengarahkan kamera kepadanya.

Kelvano tidak berusaha menghentikannya.

Malam itu, aku meletakkan dokumen penugasan ke luar negeri, surat perjanjian pisah rumah, dan kunci apartemen di ruang kerja Kelvano.

Pada saat yang sama, ponselku menerima pemberitahuan bahwa tiket pesawatku telah berhasil diterbitkan.

Tiga hari lagi, tepat dini hari, aku akan meninggalkan tempat ini.

Kelvano bahkan tidak membaca dokumen-dokumen itu.

Dia menyuruh Lily menyimpannya ke dalam laci, lalu berkata santai, “Belakangan ini emosi Soraya sedang buruk. Jangan hiraukan dia.”

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Orang yang Kucintai Tidak Berada di Valenne   Bab 10

    Tiga bulan setelah perceraian, Kelvano mengumumkan bahwa dirinya akan kembali ke panggung.Konser itu tidak menggunakan trik promosi apa pun dan tidak melibatkan tim film dokumenter.Komposisi terakhir dalam daftar pertunjukan adalah [Orang yang Paling Dicintai.]Setelah kabar itu tersebar, media ramai menebak-nebak apakah aku akan hadir.Kelvano menyisihkan satu tiket di barisan depan untukku. Kali ini, kartu nama di kursi itu dengan jelas bertuliskan Soraya. Namun, aku tidak pulang ke tanah air.Saat pertunjukan dimulai, aku sedang menyunting episode terakhir [Mereka yang Tak Dikenal.]Asistenku menjulurkan kepala ke dalam ruangan.“Kak Soraya, siaran langsungnya sudah dimulai. Kamu nggak mau menonton?”“Nggak mau.”“Benar nggak menonton? Di internet bilang, malam ini dia mau bikin gebrakan, tahu.”Aku mengenakan headphone.“Hasil akhirnya harus diserahkan besok pagi.”Asistenku mengangkat bahu, lalu menutup pintu.Belakangan, rekaman pertunjukan itu tersebar luas di internet.Setela

  • Orang yang Kucintai Tidak Berada di Valenne   Bab 9

    Pernyataan terbuka Kelvano tidak menyisakan ruang untuk membela dirinya sendiri.Dia mengakui bahwa dirinya telah membiarkan film dokumenter itu memanipulasi kronologi kejadian.Dia juga mengakui bahwa pengaturan tempat duduk keluarga dan penempatan kamera saat pemutaran perdana merupakan keputusannya.Selain itu, dia mengakui bahwa selama tiga tahun terakhir, dia hanya meluangkan sepuluh menit setiap minggu untuk istrinya.Opini publik langsung meledak.Ada yang mencacinya sebagai pria yang tidak tahu berterima kasih.Ada pula yang mengatakan bahwa citranya sebagai pria setia dan penuh cinta selama ini hanyalah lelucon belaka.Sejumlah merek pun mengakhiri kontrak dengannya.Pertunjukannya ditunda.Bahkan, tur konser yang telah dipersiapkan selama setengah tahun pun terpaksa dibatalkan.Manajernya bertanya perlukah mereka menyiapkan penanganan humas.Dia menolak. “Yang mereka katakan itu fakta.”Film dokumenter itu ditarik secara permanen dari peredaran.Pihak produksi menyampaikan pe

  • Orang yang Kucintai Tidak Berada di Valenne   Bab 8

    Pada hari kedua Kelvano dirawat di rumah sakit, aku terbang ke Kota Cigana untuk mewawancarai seorang komponis keturunan Barat yang sudah lama pensiun.Dia telah menolak lebih dari sepuluh media.Setelah kami bertemu, dia melirik sekilas daftar pertanyaan wawancara yang kubawa.“Kamu juga mengerti selo?”“Sedikit.”“Ada anggota keluargamu yang memainkannya?”Aku terdiam sejenak.“Dulu ada.”Wawancara itu berlangsung selama tiga jam.Saat wawancara berakhir, pria tua itu tiba-tiba bertanya kepadaku, “Kenapa kamu selalu bertanya tentang orang-orang di balik sebuah karya yang diabaikan?”Salju turun di luar jendela.Aku mematikan alat perekam.“Karena aku pernah menjadi orang seperti itu.”Dia menatapku cukup lama, lalu mengangguk.“Kalau begitu, liputan ini kuserahkan kepadamu.”Setelah berita eksklusif itu diterbitkan, jumlah pembacanya segera melampaui rekor perusahaan.Atasanku memanggilku ke kantornya.“Laporan utama edisi depan, kamu yang tangani.”Aku menerima dokumen itu.Di sampu

  • Orang yang Kucintai Tidak Berada di Valenne   Bab 7

    Saat Kelvano muncul di depan gedung kantor, aku baru saja menyelesaikan rapat.Dia berdiri di tengah angin dingin, hanya mengenakan mantel hitam. Matanya memerah, dipenuhi urat-urat halus yang terlihat jelas.Aku berhenti melangkah.“Kenapa kamu datang ke sini?”Seolah akhirnya bisa bernapas lega, Kelvano segera menghampiriku dan meraih pergelangan tanganku.“Kita bicarakan setelah pulang.”Aku menarik tanganku kembali.“Aku nggak akan pulang.”Tangan Kelvano terhenti kaku di udara.“Soraya, jangan buat keributan di sini.”“Aku bekerja di sini.”Aku menatapnya.“Kamu yang justru menerobos masuk ke perusahaan orang lain.”“Baiklah.”Dia berusaha menahan emosinya.“Kalau begitu, kita cari tempat untuk bicara.”Ada sebuah kafe di lantai bawah gedung kantor.Setelah kami duduk, Kelvano mendorong selembar foto dari acara pemutaran perdana ke hadapanku.Dalam foto itu, aku duduk di barisan paling belakang, dengan sorotan lampu menyapu sisi wajahku.“Aku nggak tahu juru siaran akan mengalihka

  • Orang yang Kucintai Tidak Berada di Valenne   Bab 6

    Setelah mendarat, aku tidak menyalakan ponsel pribadiku.Cabang Westoria mengirim mobil untuk menjemputku.Tempat tinggalku yang baru tidak terlalu besar, tetapi dari jendelanya terlihat sungai.Rekan kerjaku membantuku membawa kardus-kardus ke ruang tamu, lalu menunjuk dinding yang masih kosong sambil tersenyum.“Untuk sementara, tinggal di sini dulu saja. Nanti kalau ada waktu, aku antar kamu beli perabotan, ya.”“Begini sudah cukup bagus.”Aku membuka kardus.Di bagian paling atas terdapat satu set peralatan wawancara.Tidak ada kantong ramuan herbal untuk berendam.Tidak ada plester pereda nyeri.Bahkan, tidak ada sandal bersol lembut yang biasa dipakai Kelvano setiap kali selesai tampil.Ternyata, kehidupan yang benar-benar menjadi milikku sendiri tidak membutuhkan banyak ruang....Sementara itu, keadaan di tanah air sudah kacau.Pada hari pesta perayaan keberhasilan film dokumenter, sutradara tiba-tiba menerima surat resmi dari pengacara.Aku secara tegas menolak memberikan izin

  • Orang yang Kucintai Tidak Berada di Valenne   Bab 5

    Setelah pesawat memasuki ketinggian jelajah, ponselku benar-benar kehilangan sinyal.Aku menyandarkan tubuh pada kursi dan memejamkan mata....Pada saat yang sama, Kelvano baru saja mengantar Lily pulang.Lily berdiri di samping pintu mobil dengan mata yang masih memerah.“Kak Kelvano, apa Kak Soraya salah paham?”“Belakangan ini suasana hatinya memang kurang baik.”Kelvano melirik ponselnya. Pesannya belum dibalas.Dia sedikit mengernyit, lalu mengirimkan satu pesan lagi.“Dua hari lagi juga dia akan baik-baik saja.”Lily menggigit bibirnya. “Ini semua salahku. Di pemutaran perdana tadi, seharusnya aku nggak duduk di kursi keluarga.”“Tempat duduk itu diatur oleh tim.”“Tapi tadi, lampu sorot hampir saja mengenai dia.” Suara Lily semakin pelan.“Aku yang bilang ke juru siaran, aku takut kamera dan ingin siap-siap lebih awal. Mungkin dia salah paham, makanya terus menyorotku.”Jari Kelvano terhenti sejenak.“Lain kali, jangan ambil keputusan sendiri,” ucapnya dengan nada tidak keras.

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status