LOGIN“Kira-kira, Mama tidurnya nyenyak nggak k, ya?” gumam Gendis dengan nada cemas yang halus saat mereka berdua baru saja melangkah keluar dari kamar mandi, masih berbalut sisa kehangatan sisa penyatuan tadi. “Kayaknya sih nyenyak…,” sahut Rain menenangkan. Ia tersenyum lembut sembari mengecup puncak kepala Gendis, lalu melangkah menuju pakaian mereka yang masih tergeletak berserakan di atas lantai, tidak jauh dari ranjang mewah mereka. Gendis menerima pakaian tidurnya yang diulurkan oleh Rain, namun sorot matanya tidak bisa berbohong—ada kegelisahan yang tiba-tiba merayap di hatinya. Keheningan rumah malam itu terasa sedikit berbeda bagi instingnya sebagai seorang ibu dan menantu. “Aku cek Mama dulu aja ya, Mas?” tanya Gendis pelan seraya mengenakan pakaiannya. Ia menatap Rain, seolah meminta izin untuk memastikan bahwa segalanya baik-baik saja di luar kamar mereka yang kedap suara itu. Rain hanya mengangguk pelan, membiarkan istrinya mengikuti firasat tersebut, tanpa menyadari bahw
Ibu Rain mengambil langkah seribu menuju kamar cucunya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mulai menekan beberapa angka pada panel kode kunci pintu, berharap pintu itu segera terbuka. “Duh… berapa kodenya?” gumamnya pelan. Wajahnya menegang saat panel tersebut mengeluarkan bunyi peringatan tanda akses ditolak. Ia mencoba lagi dengan kombinasi berbeda, namun hasilnya tetap sama. “Apa kodenya sudah diganti? Kenapa salah terus?” bisiknya dengan nada putus asa. Napasnya mulai memburu, ada rasa sesak yang menghimpit dadanya saat menyadari bahwa ia seolah menjadi orang asing di rumah putranya sendiri. Gagal membuka kunci itu membuatnya merasa semakin terbuang dan tak berdaya. Ia terdiam sejenak, menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada orang yang melihat aksinya. Pandangannya kemudian tertuju pada sebuah pintu di ujung koridor—kamar Yuni, pengasuh Bima. “Apa aku harus tanya sama Yuni?” ucap ibu Rain bimbang. Tanpa membuang waktu lebih lama, ia melangkah cepat me
“Mama udah masuk kamar?” tanya Rain lembut pada Gendis yang baru saja melangkah masuk ke dalam kamar tidur mereka malam itu. “Udah, Mas. Bima juga udah tidur duluan pas susunya dia minum sampai habis,” sahut Gendis sembari berlalu menuju kamar mandi. Rain melirik monitor bayi di atas meja sudut, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis melihat putranya yang tertidur begitu pulas. Tak lama kemudian, Gendis kembali dari kamar mandi dengan pakaian tidur tipis yang memeluk tubuhnya dengan manis. Ia tampak lebih segar, namun ada gurat kecemasan yang tersisa di matanya. “Mas… menurut kamu, Mama nanti bakal berubah pikiran lagi nggak?” tanya Gendis pelan seraya mendekati tempat tidur. “Yang pasti Mama bakalan kayak gitu, tapi itu bukan masalah besar, Sayang,” ucap Rain menenangkan. Ia menepuk sisi ranjang di sebelahnya, memberi isyarat agar Gendis segera naik dan mendekat ke arahnya. Gendis tertawa kecil, rasa cemasnya sedikit mencair. Ia segera merangkak naik ke atas ranjan
“Enggak, Sayang. Kamu tenang aja,” ucap Rain lembut. “Biar Mama punya banyak teman lansia di sana, biar dia mikir… ternyata hidupnya selama ini enak. Ternyata dia seharusnya bisa bahagia.” Rain menghela napas pelan sebelum melanjutkan, “Di hari tuanya, Mama punya semuanya—nggak kayak banyak orang tua di luar sana. Saya bakal bayarin dua perawat khusus buat Mama selama di sana, jadi kamu nggak perlu khawatir.” Sambil bicara, Rain merangkul Gendis erat. Bima yang melihat kedua orang tuanya berpelukan mesra langsung berlari kencang, tertawa lepas, lalu menyusup masuk ke dalam pelukan itu, membuat Gendis tersenyum sambil mengusap kepala anaknya.“Oma malam ini tidur di sini, Bima,” ucap Gendis sambil memeluk tubuh kecil itu erat.“Tapi nanti Oma nggak tidur sama aku, kan?” tanya Bima polos, sambil mengusap pipinya sendiri lalu memanjat naik ke tubuh Rain.Rain berbaring santai di lantai, membiarkan putranya tengkurap di dadanya.“Nggak kok,” jawab Rain tenang. “Malam ini Oma di sini
“Kalian nggak mikirin perasaan Mama?” ucap ibu Rain lirih namun menusuk, sore itu, matanya berkaca-kaca. Rain tetap duduk santai, seolah sudah menyiapkan diri untuk pertanyaan itu sejak awal. Gendis terlihat terkejut dan refleks menegakkan tubuh, sementara Wanda dan Cipta saling pandang, sama-sama gelisah. “Mama pernah mikirin perasaan keluarga Mama yang selama ini tersakiti?” tanya Rain tenang, nadanya datar, tapi justru terdengar paling menyakitkan. Ibu Rain menegang. Rahangnya mengeras, napasnya memburu. “Kamu pikir Mama ini orang gila? Orang stres?” ucapnya tajam, suaranya naik satu oktaf, matanya menantang Rain dengan amarah yang bercampur rasa tersinggung. Tidak ada yang bilang Mama gila,” ujar Rain tenang, tetapi nadanya menusuk. “Tapi semua orang punya tingkat stres masing-masing. Dengan sikap Mama yang selalu bikin orang sakit hati—apalagi dengan ucapan Mama yang sering ngawur—menurut Mama, itu bikin orang stres atau tidak?” Ibu Rain mendengus keras. Kedua lengann
“Ma, bisa diem nggak!” bentak Rain tegas—cukup satu kali ini untuk yang terakhir namun berhasil membuat ibunya terdiam, terkejut. “Mas…” lirih Gendis, refleks menoleh cemas. “Nggak apa-apa, Sayang,” ujar Rain dingin. “Biar Mama lebih dan makin tahu, kita di sini bukan anak kecil… kayak Mama. Bukan patung, bukan lemah, bukan nggak berguna dan nggak punya akal.” Rain lalu bersandar santai di sofa, satu lengannya terentang di sandaran, sementara tangannya menopang pipi. Tatapannya tajam, tapi terkontrol. “Jadi begini,” lanjutnya pelan, namun penuh tekanan. “Kebetulan Mbak Wanda dan Cipta lagi di sini. Kita perlu dapetin solusi buat Mama dan buat kita semua disini.” Ia berhenti sejenak, lalu menghela napas pendek. “Saya kepikiran… kayaknya Mama butuh pendampingan kesehatan mental.” Kalimat itu jatuh berat di udara. Ibu Rain membeku. Bibirnya rapat, sorot matanya bergetar antara marah dan tak percaya—namun tak satu kata pun keluar. Di sisi lain, Gendis menggenggam jemarin







