LOGINPagi hari setelah sesi panas sepanjang malam, adalah waktu yang sangat krusial bagi Valin. Seluruh tubuhnya remuk. Terutama area pinggang, dada juga bagian pribadinya. Meski bagian lain juga nyeri.Zen benar-benar jadi monster jika saatnya tiba. Sentuhan Zen lembut pada awalnya. Namun semua berubah kasar seiring tempo permainan yang memanas. Juga gairah yang mampu membakar Valin hingga tak bersisa.Saat bangun tadi, Valin meringis. Nyaris tak bisa bergerak. Untung hari ini dia libur. Kecuali ada panggilan darurat, Valin bisa beristirahat dengan tenang.Lagi pula tiga hari belakangan, Valin hampir tiap hari pulang terlambat. Zen tidak ada di rumah, lebih baik dia gunakan waktunya untuk bekerja.Andreas juga sedang liburan dengan teman lamanya, Vin. Mereka pergi ke negara asal istri Vin. Dan Vante, akhir-akhir ini sibuk sekali. Mereka makin jarang bertemu, meski satu rumah.Pada akhirnya mereka mengalah. Zen, Valin dan Vante kini tinggal di kediaman Archlight. Meninggalkan The Dream dan
Kiev didorong masuk ke sebuah ruangan. Sama sekali tidak diberi kesempatan untuk melarikan diri. Mereka tiba di fasilitas milik Sylus dan Zen setelah menempuh perjalanan selama enam jam.Selama itu Kiev dibuat setengah sadar. Tubuhnya lemah, tapi panca inderanya normal. Dengan begitu, pria tersebut tidak melawan apalagi kabur.Hingga di sinilah dia berada. Di sebuah kamar tertutup, siap untuk rencana selanjutnya."Dia itu sebenarnya tidak bersalah. Sayang sekali dia harus jadi tumbal rancangan kita."Sylus memandang datar pada Kiev yang masih linglung. "Mau bagaimana lagi. Kalau kita serahkan Chris Langton yang sudah gila, atau Lucio Costra yang setengah tidak waras. Mereka akan langsung dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Sia-sialah usaha kita berburu sampai ke sana.""Alah, berburu apanya. Meringkusnya sama seperti menginjak semut seekor. Jangan sok drama kamu!"Sylus mencibir ucapan dramatis Mark yang menyempatkan diri mampir untuk mematahkan tulang rusuk Lucio dua buah. Ini balasan u
Pengepungan di lakukan di sebuah hotel tak jauh dari tempat Zen dan yang lainnya menginap. "Ini sungguh di luar nalar. Kita memburunya ke tengah hutan, eh dia ternyata enak-enakan tidur di presidensial suite. Brengsek!" Maki Shane yang dua kali memeriksa senjatanya.Dia adalah salah satu dari mereka yang ingin semua cepat berakhir. Dalam hal ini, Shane tidak sendiri. Pasalnya Mark dan Zen juga punya keinginan yang sama. Mereka mau semua lekas selesai. Ada hal yang ingin mereka wujudkan usai urusan Vicenzo Kiev usai."Namanya juga Kiev, sejak jaman Lucio dia memang sialan," sambut Mark enteng.Mereka melangkah menuju satu kamar di lantai paling atas. Sebuah tempat yang sejak tadi dikunci oleh Bryan dan Vante. Begitu pintu dibuka. Mereka dikejutkan oleh sosok pria berparas Asia. Lelaki yang juga kaget melihat kedatangan Zen dan anak buahnya."Aku pikir dia satu bangsa dengan kita. Tidak tahunya, temannya Yuan. Eits, bukan bermaksud rasis. Aku hanya terkejut saja."Shane berujar denga
"Bagaimana caramu memenangkan hati mereka."Pukul delapan pagi, dua jam setelah shift Ivone selesai. Dia langsung menginterogasi Adrian. Lelaki yang secara mengejutkan muncul bersama Yander."Gampang, asal ada uang. Keluargamu akan langsung kasih lampu hijau padaku."Ivone memicing. Dia pandangi lelaki yang tampak stunning seperti biasa. Ivone mendengus. Dia masih tidak percaya kalau Adrian serius melamarnya. Adrian Hepburn ingin menikahinya.Bahkan keluarga Ivone yang notabene sangat sulit dihadapi. Kini memberi restu."Adrian Hepburn, aku beritahu. Mereka bukan orang yang tahu diri. Mereka serakah, tamak, tidak tahu malu.""Mereka akan terus mengejarmu. Mereka akan menganggapmu sebagai tambang emas. Mereka tidak akan melepaskanmu dengan mudah."Adrian menyeringai. Cukup senang ketika Ivone secara tersirat mencemaskannya."Apa kamu khawatir padaku?" Tanya Adrian dengan ekspresi godaan tergambar nyata di wajahnya."Bukan begitu, aku hanya tidak mereka melukaimu. Apalagi sampai merugik
Sofia terbelalak. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.Bahkan Shane pun syok dengan lidahnya sendiri. Bagaimana bisa dia mengucapkan kalimat tadi."Jangan bercanda tuan Finland. Aku bukan wanita yang mudah dibodohi seperti waktu itu.""Aku tidak bohong, Fia. Kali ini aku serius."Tawa Sofia terdengar. Renyah tapi penuh luka. "Sayangnya, aku sudah kebal dengan rayuan model apapun.""Aku tidak merayu. Kita baru bertemu lagi setelah lima tahun saling menghindar. Ini sungguhan."Shane membuka pintu mobil Sofia lebih lebar. Wanita itu baru saja ingin menjepit Shane. Tapi tenaga dokter cantik tersebut tentu saja kalah besar dibanding Shane yang tubuhnya maskulin habis."Siapa yang menghindar. Halo, aku selalu berada di sana. Hidup biasa tanpa terganggu oleh kehadiranmu. Sekarang aku tanya, siapa yang menghindari siapa."Shane menelan ludah. Yang dikatakan Sofia benar. Tiap kali mereka nyaris berpapasan, Shane akan mencari seribu satu cara untuk melarikan diri dari hadapan Sof
"Cinta."Pengakuan Zen membuat Vante ternganga. Sang adik tentu saja tak percaya."Bohong!" Bantah Vante segera."Terserah kalau kau tidak percaya. Yang jelas aku mencintainya.""Sejak kapan?" Desak Vante dengan mata memicing tajam."Tak tahu mulainya kapan. Yang jelas saat aku tidak sadarkan diri waktu itu, aku merasa sangat takut. Aku takut tidak bisa melihatnya lagi. Aku takut akan kehilangan dia."Zen menunduk guna mencium kening Valin yang terlelap. "Aku kemudian menyadarinya, kalau aku mungkin jatuh cinta padanya, atau bahkan lebih lama dari itu."Sejak Zen mengenal Valin kecil. Pria itu tak tertarik pada perempuan lain. Hidupnya berputar di sekitar Valin. Seolah gadis itu pusatnya.Bisa dibayangkan bagaimana hancurnya Zen, saat Valin menghilang enam belas tahun lalu. Pria itu hidup seperti mayat hidup.Zen perlahan "hidup" lagi waktu mengenal Audrey. Tapi sialnya, Audrey brengsek. Dia khianati Zen yang sudah coba membuka hati. Menerima gadis itu apa adanya.Dan kini, Zen kian
Suara pintu yang dibuka membuat Kian memalingkan wajah."Bagaimana?"Kian menunjuk Valin dengan dagunya. Sementara ponsel wanita itu berada di tangan Kian."Dia menjatuhkannya," ucapnya seraya memberikan benda pipih tadi pada Zen.Sikap Kian sangat tenang. Seolah tidak ada yang terjadi. Padahal jau
Jari Zen langsung terarah pada Lucio. Pria itu sedang mendekati Valin yang tengah memilih buah."Zen, dia Lucio Costra!" Pekik Adrian saat menyadari siapa pria itu.Netra biru Adrian memicing tajam. Sejak kapan istri baru Daniel menarik perhatian pemimpin sayap kiri."Bagaimana?" Adrian yang sejak
Jantung Valin serasa berhenti. Napasnya tercekat di tenggorokan. Keringat mendadak muncul di dahi. Dia syok, panik juga takut di waktu bersamaan. Bisa dilihat jika paras Valin perlahan kehilangan ronanya.Di hadapannya berdiri Razen Archlight, suaminya. Lelaki yang coba dia hindari dua bulan ini. P
"Jadi, jadi kemarin liburan ke mana? Honeymoonkah?"Pertanyaan itu meluncur di sela tindakan Valin memasang infus seorang pasien. Dia langsung bekerja begitu ada pasien.Valin melotot penuh peringatan pada Ivone. Si perawat yang sejak dia datang langsung menempel padanya."Aku kepo, Dokter," seru I







