Inicio / Mafia / PEREMPUAN MILIK MORETTI / Sebelum Semua Mata Tertuju

Compartir

Sebelum Semua Mata Tertuju

last update Fecha de publicación: 2026-07-14 23:00:38

Mobil berhenti di bawah beranda mansion ketika langit telah berubah gelap.

Sopir lebih dulu turun membuka pintu belakang.

Adriano keluar tanpa tergesa.

Elena menyusul.

Mereka memasuki mansion berdampingan. Suara langkah memantul di lantai marmer yang membentang sampai ke tangga utama. Seorang pelayan membungkuk memberi salam. Tak satu pun mendapat jawaban.

Di persimpangan koridor, Adriano menghentikan langkah.

"Masuk kamar dulu."

Elena menatap wajahnya.

"Hari ini masih ada pekerjaan?"

"Bukan un
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Yang Tersisa Hanya Darah

    Adriano menyusuri koridor dengan pistol masih berada di tangannya. Langkahnya tidak berubah. Marmer memantulkan bunyi sol sepatunya hingga ke foyer. Valerius masih berada di sana. Sendirian. Pria tua itu mengangkat wajah ketika Adriano mendekat. Tatapannya turun pada pistol yang menggantung di sisi tangan putranya. "Mau ke mana?" Adriano terus berjalan. Valerius mengikuti geraknya dengan mata. "Masalah sebenarnya masih di rumah ini, Adriano." Langkah Adriano tidak berhenti. Pintu utama terbuka. Udara malam menyentuh wajahnya. Ia turun melewati tangga. Pintu mansion menutup di belakang tubuhnya. Sedan hitam meninggalkan halaman. Gerbang besi terbuka sebelum mobil mendekat, kemudian menutup kembali ketika lampu belakangnya menghilang di jalan. Toko-toko di sepanjang jalan telah mematikan sebagian besar lampu. Papan nama masih menyala di beberapa tempat. Sisanya gelap. Adriano menginjak pedal gas lebih dalam. Laut terbentang di sisi kanan. Permuk

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Saat Kesempatan Terakhir Habis

    Gerbang mansion terbuka. Sedan hitam memasuki halaman dan berhenti di depan tangga utama. Adriano turun lebih dahulu. Pintu pengemudi menutup keras. Ia berjalan ke sisi penumpang, membuka pintu Elena, lalu menatapnya. "Turun." Elena melepas sabuk pengaman. Begitu kedua kakinya menyentuh marmer, tangan Adriano sudah mencengkeram lengannya. Tarikannya membuat langkah Elena goyah. Telapak tangannya sempat menyentuh sisi mobil. Adriano tidak menunggu. Mereka masuk ke mansion. Langkah Elena terdengar pendek di atas marmer. Cengkeraman Adriano tidak mengendur sampai mereka melewati foyer. Di ruang tamu utama, Valerius telah berada di kursi rodanya. Seorang pria paruh baya duduk di sofa panjang di hadapannya. Setelan gelap membungkus tubuhnya. Sebuah map tipis terletak di atas lutut. Elias berdiri tak jauh dari rak buku. Percakapan terhenti ketika mereka melewati ruangan. Tatapan Valerius terangkat. Pria di sofa ikut menoleh. "Signore—" Adriano tidak berhenti. Tangannya

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Jangan Hubungi Dia Lagi

    Ponsel masih menempel di telinga Julian. Pria di ambang pintu tidak bergerak. Jas hitamnya jatuh rapi sampai ke pinggang. Topi gelap menutupi sebagian wajah, menyisakan garis rahang dan sepasang mata yang tak menunjukkan apa-apa. "Halo." Suara dari ponsel akhirnya terdengar. Julian menegang. "Julian. Ini aku, El—" Ponsel turun dari telinganya. Pria itu masuk. Pintu menutup di belakangnya. Klik. "Julian Vane." Julian menatapnya. "Kau yang akan menjelaskan kenapa pasporku bermasalah?" "Tidak." Pria itu berhenti di tengah ruangan. "Aku datang untuk membawamu." Tatapan Julian bergeser ke pintu. "Hidup atau mati." Tangannya masuk ke balik jas. Kilatan logam muncul. Julian bergerak lebih cepat. Telapak tangannya menghantam pergelangan pria itu. Dor! Peluru menembus dinding di belakangnya. Letusan memantul di ruangan sempit. Pria itu langsung maju. Pukulan pertama menghantam rusuk Julian. Udara terlepas dari paru-parunya. Pukulan berikutnya mengenai rahang. Tubu

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Keberangkatan yang Tidak Pernah Terjadi

    Papan keberangkatan berganti angka di atas kepala Julian. Genoa. Satu tujuan yang sudah ia putuskan untuk ditinggalkan. Perban putih membungkus telapak tangannya dengan simpul seadanya. Ujung kain telah berubah merah kecokelatan. Kemeja yang dipakainya sejak meninggalkan apartemen masih melekat di tubuh. Debu menempel di bahu. Garis tipis bekas pecahan kaca terlihat dekat kerah. Ia menyusuri antrean pemeriksaan dengan tas selempang melintang di dada. Pengumuman keberangkatan dan percakapan para penumpang bercampur menjadi dengung panjang di dalam terminal. Setidaknya satu hal berjalan seperti seharusnya. Penerbangannya masih tertera di papan. Julian mengeluarkan paspor. Tiket elektronik ditunjukkan. Petugas mengambil dokumen itu. Halaman identitas dibuka. Tatapannya berhenti. Jemari yang memegang paspor tetap diam beberapa saat. Julian memperhatikan wajahnya. "Ada masalah?" Petugas mengangkat mata. "Tunggu sebentar." Paspor dibalik. Satu halaman di

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Satu Angka Terakhir

    Sedan hitam itu menghilang di balik tikungan. Elena masih memandang jalan yang kosong ketika Bianca mengambil gembor dari atas batu. "Kalau terus melihat ke sana, bunga-bungaku akan cemburu." Senyum kecil muncul di wajah Elena. "Maaf." Bianca tertawa pendek. "Ikut aku." Mereka meninggalkan gazebo, melewati rumpun lavender yang bergerak diterpa angin laut. Beberapa bunga telah mekar penuh, sementara kuncup-kuncup kecil masih bersembunyi di antara daun. "Kau suka bunga?" "Iya." "Ada yang pernah kau tanam?" Elena mengangguk. "Dulu aku menemukan bunga liar di pinggir pantai." "Di pantai?" "Di antara batu." Senyumnya tipis. "Aku membawanya pulang." "Berhasil hidup?" "Sebentar." Bianca tersenyum. "Itu sudah cukup." Langkah mereka berhenti di depan petak bunga yang lebih rimbun. Kelopak-kelopak putih dan merah muda memenuhi batang-batang yang tumbuh rapat. "Yang ini sedang banyak dicari." Elena mendekat. "Untuk apa?" "Hiasan rumah. Istri-istri

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Saat Dia Tidak Ada

    Langkah Elena berhenti di sisi mobil. Adriano turun menyusul. Pintu sedan menutup pelan di belakangnya. "Ayo." Mereka berjalan berdampingan menyusuri jalan setapak yang membelah hamparan bunga. Perempuan yang tadi memegang gembor telah meletakkannya di atas batu pipih. Celemek berkebunnya diseka singkat dengan telapak tangan sebelum ia menghampiri mereka. "Akhirnya." Senyumnya mengembang hangat. "Kau datang juga." Elena membalas dengan senyum kecil. "Baru sempat." "Aku sudah menunggu cukup lama." Nada itu terdengar lebih seperti candaan daripada keluhan. Bianca berbalik. "Ikut denganku." Jalan setapak berbelok ke sisi rumah. Semak lavender bergoyang pelan diterpa angin laut. Di balik lengkungan bunga rambat berdiri sebuah gazebo kayu yang menghadap tebing. Meja bundar telah tertata rapi. Cangkir-cangkir porselen berukiran bunga diletakkan berdampingan dengan sebuah toples kaca berisi daun teh kering dan sepiring kecil kue mentega yang baru matang. Bianca menoleh ke arah

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Jika Dia Titik Lemahmu

    Ruang kerja Valerius Moretti selalu terasa lebih dingin dari ruangan lain di rumah itu. Bukan karena udara. Karena cara pria tua itu mengatur ruang. Segalanya teratur. Terukur. Tanpa sesuatu yang tidak memiliki fungsi. Rak buku berdiri rapi di sepanjang dinding. Meja kayu besar berada d

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Tanpa Jalan Keluar

    Adriano sudah berjalan di depan. Ia tidak menunggu. Langkahnya panjang dan terukur, seolah rumah itu telah menghafal ritmenya. Sepatu kulitnya nyaris tak bersuara di atas lantai marmer, namun setiap tapak terasa seperti penanda wilayah. Elena ragu sepersekian detik. Lalu ia menyusul.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Kalimat yang Mengikat Nyawa

    Interior mansion Moretti tidak menyambut. Ia menelan. Langit-langit tinggi membuat langkah kaki Elena terdengar terlalu kecil. Lantai marmer dingin memantulkan bayangan mereka seperti air yang tak mau terusik. Tidak ada lukisan keluarga. Tidak ada foto. Tidak ada bunga. Hanya ruang luas, suny

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ketika Pengorbanan Berubah Menjadi Milik

    Interior mobil itu terasa seperti dunia lain. Bukan karena kemewahannya, melainkan karena sunyinya—sunyi yang tidak memberi ruang bagi suara untuk hidup. Jok kulit hitam menelan tubuh Elena saat ia duduk. Pintu tertutup rapat di belakangnya, memutus debu, teriakan, dan panti yang baru saja ia ti

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status